Kamis, 12 November 2009

Khairul Ummah (Ummat Terbaik)

Ikhtisar Khutbah Jumah Hadhrat Khalifatul Masih V Atba
6 November 2009, di Masjid Agung Baitul Futuh, London, UK.

Huzur membacakan ayat 111 Surah Al Imran,

كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَاْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ‌ؕ وَلَوْ اٰمَنَ اَهْلُ الْكِتٰبِ لَڪَانَ خَيْرًا لَّهُمْ‌ؕ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ وَاَكْثَرُهُمُ الْفٰسِقُوْنَ

yang terjemahannya sebagai berikut,‘Kamu adalah umat terbaik, yang dibangkitkan demi kebaikan umat manusia, kamu menyuruh berbuat kebaikan dan melarang berbuat keburukan, dan beriman kepada Allah. Dan, sekiranya Ahlikitab beriman, niscaya akan lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka orang-orang fasik.’ (3:111).

Huzur menyampaikan topik yang berkaitan dengan predikat 'Khairul Ummah’ (umat terbaik) sebagaimana yang tercantum di dalam Al Quran, pada Khutbah Jumah beliau ini.
Huzur bersabda, ayat ini mengingatkan kiya tentang keutamaan dan tujuan menjadi seorang Muslim. Tak diragukan lagi, menjadi seorang Muslim sungguh patut disyukuri; yakni, beriman kepada Rasulullah Saw dan kepada Syariat yang terakhir lagi sempurna; sebagaimana yang Allah Taala telah nyatakan,

اِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَاِنَّا لَهٗ لَحٰـفِظُوْنَ
‘Sesungguhnya, Kami Yang telah menurunkan Peringatan Al Quran ini, dan sesungguhnya kami baginya adalah Pemelihara.’ (15:10).
Hingga hari ini, kita menyaksikan betapa janji Allah Taala telah menzahir dengan segala keagungannya. Hanya Islam-lah yang mendapatkan kemuliaan ini, yang akan terus berlangsung hingga Hari Kiamat. Seorang mukmin sejati hendaknya mawas diri, cukupkah hanya dengan merasa bangga akan pernyataan Ilahi ini; dan juga bila dikaitkan dengan peran seorang Muslim yang terkait dengan Syariat terakhir lagi sempurna ini. ?
Jika Allah Taala telah menyatakan kaum Muslimin sebagai ‘Khairul Ummah’, maka sebaliknya, pengkhidmatan apa yang telah mereka berikan terhadap amanat Ilahi ini. Allah Taala menginginkan dan oleh karena itu memerintahkan kepada kaum mukminin agar beramal shalih segera setelah pernyataan baiatnya.
Dia pun menunjukkan beberapa konsekwensi tanggung jawab dari predikat tersebut. Bagian pertama ayat (3:111) ini menegaskan, bahwa tanggung jawab ini, dan kaitannya dengan berbagai kewajiban sebagai ‘Khairul Ummah’. Huzur menerangkan, tanggung jawab untuk memberikan pengkhidmatan ini tidak terkait kepada suatu bangsa tertentu (Arab}.
Sejarah menyaksikan, pada awal abad pertama [Islam], kaum Muslimin dapat membuktikan kepada dunia sebagai ‘Khairul Ummah’, yang sejati. Yakni, mereka unggul di atas kaum agama lainnya; pemerintahannya berdasarkan keadilan yang sempurna, serta mampu menyebar-luaskan ilmu pengetahun ke seluruh penjuru dunia. Mereka menganjurkan amal shalih nahi munkar, demi untuk kebaikan umat manusia pada umumnya.
Namun, lama kemudian, setengah kaum Muslimin yang sudah menjadi materialistis, dan niat tersembunyi datang mempengaruhi, meskipun adanya janji Ilahi untuk melindungi ajaran Al Qur’an, namun orang-orang ini menafi'kan kebaikan, sekaligus memberi pengaruh buruk kepada sebagian besar orang lainnya, yakni, menafi'kan semua hikmah kebaikan sebagai ‘Khairul Ummah’.
Janji Allah Taala untuk menjaga Al Quran tidak hanya berupa memelihara berbagai peristiwa bersejarah di dalamnya, melainkan juga, adanya suatu janji tentang akan adanya suatu kaum yang sungguh-sungguh akan mempraktekkan ajaran Al Quran tersebut. Melalui nizam pelaksanaan ajaran Syariat oleh kaum akhirin itulah agama Islam dihidupkan kembali; missi pertablighannya disebarkan-luaskan ke seluruh pelosok dunia, sekaligus dengan pengkhidmatan kepada sesama umat manusia dalam skala yang besar [yakni, melalui Humanity First]. Untuk maksud inilah, sesuai dengan janji-Nya, Allah mengutus seorang hamba dan pecinta Rasulullah Saw yang sejati, ialah Hadhrat Masih Mau'ud a.s., yang telah berhasil membumikan kembali iman yang telah terbang jauh ke Bintang Tsuraya. Sehingga, julukan istimewa Khairul Ummah dapat dihidupkan kembali.
Kini, hanya Jamaat Imam Mahdi inilah yang mampu mempertahankan keistimewaan predikat ini. Memang ada pula berbagai jamaah Muslim lainnya yang beramal shalih dan tentu saja melarang keburukan. Namun, mereka itu tak dapat mencapai hasil yang baik sebelum bersatu di dalam satu genggaman Jamaah. Berbagai negara Muslim memiliki ulama dan pemimpinnya sendiri-sendiri, beserta akidah mereka masing-masing. Namun seberapa banyak di antara mereka yang bersatu-padu untuk pertablighan Islam ? Siapakah kini yang memiliki waktu untuk menyebarkan keelokan ajaran Islam ke seluruh dunia ?
Huzur bersabda, beberapa hari yang lalu saya sempat menyaksikan penghujung acara diskusi di suatu stasion TV-Muslim, yang melibatkan ulama Sunni dengan ulama Syiah. Keduanya saling bertukar pandangan terhadap Hadhrat Masih Mau'ud a.s., Namun, bila pihak Sunni menyampaikan pendapatnya, pihak Syiah segera menyergah. Begitupun sebaliknya. Acara diskusi itu memang bertujuan untuk mendiskreditkan kita, namun sebagai akibatnya, mereka sendiri yang akhirnya terjebak ke dalam kerancuan berpikir di antara mereka dan memberikan citra yang buruk kepada publik. Contoh tersebut menunjukkan gambaran kaum Muslimin yang papa; yang hanya suka membangga-banggakan ke-Islaman mereka; maka dapatkah yang demikian itu disebut ‘Khairul Ummah’?
Solusinya adalah sebagaimana Rasulullah Saw telah nubuatkan; yakni, manakala kondisi Islam telah menjadi saling silang, maka Allah Taala pun mengutus Hadhrat Masih Mau'ud a.s.; ambillah baiatnya, meskipun kamu harus merangkak di atas padang salju. Temuilah dia, dan sampaikanlah salamku kepadanya.
Hanya beliaulah yang diberi kemampuan untuk memenangkan Islam atas semua agama. Inilah yang hendaknya kaum ghair-Jamaat merenungkannya dalam-dalam; namun untuk menjujung tinggi predikat ‘Khairul Ummah ini memerlukan tanggung jawab yang besar. Dan Hadhrat Masih Mau'ud a.s. ditugaskan Allah Taala untuk mempersatukan seluruh umat manusia dalam Islam.
Tak akan ada lagi agama baru. Wujud Imam Zaman yang telah datang adalah seorang pecinta dan abdi Rasulullah Saw yang sejati. Beliau diutus Allah Taala sebagai Hakaman Adalan; yang dikaruniai ilmu tafsir dan hikmah Al Qur’an yang paling tepat. Berbagai tafsir dan buah pikiran dari semua ahli fuqaha maupun para Mujaddid selama 13 Abad sebelum beliau, hanya dapat dibenarkan setelah mendapat verifikasi pengesahan dari beliau a.s.; Khatamul-Khulafa.
Hadhrat Masih Mau'ud a.s. memutuskan segala perkara hanya setelah mendapat perintah dari Allah Swt, oleh karena itu tak akan ada lagi kerancuan dalam hal ilmu fiqih, dlsb. Aqidah yang beliau ajarkan tiada lain adalah aqidah yang sama sebagaimana yang telah diajarkan oleh Rasulullah Saw. Nasib kehidupan seluruh umat Islam kini berada dalam genggaman tangan beliau. Kaum Ahmadi inilah ‘Khairul Ummah’ yang sesungguhnya karena telah berada di dalam jangkauan tangan beliau a.s..
Maka untuk mencapai berbagai tujuannya yang lebih afdhol, perlu banyak pengorbanan, yang salah satu di antaranya adalah pengorbanan harta benda. Di dalam syariat Islam mensucikan harta benda sangat ditekankan, sebagaimana firman Allah Taala ini,

ٱلَّذِينَ إِن مَّكَّنَّـٰهُمۡ فِى ٱلۡأَرۡضِ أَقَامُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَوُاْ ٱلزَّڪَوٰةَ وَأَمَرُواْ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَنَهَوۡاْ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ‌ۗ وَلِلَّهِ عَـٰقِبَةُ ٱلۡأُمُورِ


yang artinya, ‘Orag-orang yang, jika Kami teguhkan mereka di bumi, mereka mendirikan shalat dan membayar zakat dan menyuruh berbuat kebaikan dan melarang keburukan. Dan kepada Allah kembali segala urusan.’ (22:42).
Ayat Al Quran ini menyatakan, golongan orang-orang yang [mendirikan Salat, membayar pengorbanan harta benda dan menganjurkan amar ma'ruf nahi munkar] yang akan dimuliakan di bumi, diteguhkan dan dilindungi kerohaniannya.
Jika ayat ini dibaca dengan rujukan ayat 24:56 atau yang disebut juga Ayat Istikhlaf, maka kita menyadari bahwa Allah Taala telah menjanjikan akan menegakkan Khilafat bagi mereka yang beriman dan beramal shalih, namun di sini pun Allah Taala memfirmankan akan memuliakan dan meneguhkan jamaah yang mendirikan Salat dan membayar Zakat, menganjurkan amar ma'ruf nahi munkar.
Keutamaan kaum Ahmadi adalah mereka menerima keberkatan bai’at dan Nizam Khilafat yang membuat mereka menjadi ‘Khairul Ummah’. Namun, ayat Al Quran tersebut juga menuntut syarat, ialah jika kaum Ahmadi benar-benar menyiapkan diri mereka untuk melaksanakan berbagai macam pengorbanan ini dengan segenap hati dan pikirannya, maka Allah Taala pun akan mengaruniai mereka dengan berbagai sumber daya dan kemampuan untuk itu. Inilah sunnah Ilahi yang telah terbukti kebenarannya dalam sejarah. Yakni, bila kaum Muslimin mengabaikan berbagai macam kewajiban mereka, maka mereka pun dimahrumkan dari keberkatan tersebut, sebagaimana dinyatakan oleh ayat Al Quran ini,

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوۡمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُو اْ مَا بِأَنفُسِہِمۡ‌ۗ


‘… Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka…’ (13:12).
Dengan menyebut kaum Muslimin sebagai ‘Khairul Ummah’, berarti ada suatu kewajiban bagi mereka untuk bekerja sama. Tidak semua orang memiliki ilmu agama yang mencukupi. Ada yang berilmu cukup namun terikat dengan profesi pekerjaannya sehingga tak memiliki waktu untuk memenuhi panggilan syiar agama. Cukup sulit untuk ikut terjun langsung menganjurkan amar ma'ruf dan menyampaikan tabligh Islam kepada orang lain. Demikianlah selalu kondisinya, terlebih lagi di zaman sekarang ini. Oleh karena itulah disediakan fasilitas pengorbanan harta benda untuk melaksanakan pekerjaan tabligh ini. Yakni, bagi mereka yang tak mungkin ikut terjun secara langsung, dapat memberikan pengorbanan harta mereka. Inilah perencanaan yang ditetapkan di zaman kehidupan semua Rasul Allah, dan juga zaman Khilafat mereka sesudahnya. Di zaman Khilafat Rasyidah, banyak jenis dana pengorbanan harta dicanangkan, yang diikuti oleh umat pada waktu itu. Di zaman Hadhrat Masih Mau'ud a.s., sunnah ini pun dijalankan. Sepeninggal beliau, pada tiap periode Khalifahnya, Jamaat senantiasa menunjukkan semangat pengorbanan harta benda mereka. Sunnah ini akan terus berlangsung hingga Hari Kiamat.
Setengah Ahmadi boleh jadi berpikir, suatu saat Jamaat akan memiliki cukup dana-dana yang diperlukan, sehingga para anggota tak perlu lagi membayar Chandah. Hal ini tidaklah benar, karena Allah Taala telah memfirmankan di dalam Al Qur’an Karim, tujuan pengorbanan sebagian harta adalah untuk mensucikan harta benda itu sendiri dan juga untuk mensucikan diri pribadi.
Tahrik Jadid pun merupakan salah satu gerakan pengorbanan harta di dalam Jamaat Imam Mahdi a.s. ini.. Dicanangkan pertama kali oleh Hadhrat Muslih Mau'ud r.a., yang tujuan utamanya ketika itu adalah untuk menyebarkan syiar Islam di luar anak benua India. Dan hasilnya luar biasa. Yakni, hingga hari ini Jamaat telah dapat berdiri di 193 negara. Dengan demikian, kaum Ahmadi di 193 negara dapat merasakan keberkatan menjadi Ummatan Wahidah yang sejati.
Pengorbanan harta sudah menjadi bagian hidup dan merupakan suatu hadiah bingkisan dari Jamaat di seluruh dunia di manapun mereka berada. Tingkat percepatan pengorbanan ini demikian cepatnya di beberapa negara, namun di sebagian lainnya lambat, tetapi secara keseluruhan jumlahnya meningkat.
Pada beberapa dekade tahun yang lampau, Sekolah Tinggi Jamiah Ahmadiyah hanya ada di Rabwah, yang diikuti oleh hanya 35 orang mahasiswa. Namun sekarang, seiring dengan telah meningkatnya usia anak-anak Waqfi Nau, jumlah mahasiswa Jamiah Rabwah mencapai 200 orang setiap tahunnya. Tentu saja hal ini berkonsekwensi meningkatnya pembiayaan. Namun Jamaat Pakistan dapat memenuhinya. Begitupun Jamaat UK, Canada dan Jamaat Indonesia mampu berdikari untuk menutupi kebutuhan dana pendidikan Jamiah ini. Tetapi di sejumlah negara seperti Bangladesh, Kenya dan Ghana, Markaz masih harus membantu mereka. Juga pembangunan sejumlah masjid di beberapa negara berkembang.
Gerakan Tahrik Jadid ini pun sangat berperan penting dalam pengiriman para mubaligh Jamaat ke seluruh dunia. Dengan demikian, setiap Ahmadi yang ikut berpartisipasi dalam Pengorbanan Tahrik Jadid dapat dimasukkan ke dalam golongan jamaah yang menganjurkan amar ma'ruf nahi munkar. Tambahan lagi, bukan hal yang berlebihan bila dikatakan, orang yang ikut berkorban dengan rendah hati di negara-negara maju seperti Inggris, atau Germany, Amerika Serikat, Canada, ataupun di Australia dan di berbagai bagian Benua Europa lainnya, sama-sama berperan sebagaii sumber pendanaan sebagaimana mereka yang mendapat karunia untuk ikut berkorban di daerah-daerah terpencil pedalaman Afrika.
Selanjutnya Huzur mengumumkan perolehan pengorbanan Tahrik Jadid, sekaligus sebagai pencanangan tahun pengorbanan tahun berikutnya. Kalbu mukminin sejati senantiasa dipenuhi oleh puji syukur kepada Allah Swt, yakni meskipun tahun lalu dilanda oleh krisis ekonomi yang menyebabkan banyaknya usaha bisnis menjadi bangkrut dan PHK, inflasi meningkat tajam, sementara itu kebutuhan biaya rumah tangga meningkat, maka dari kacamata duniawi, jumlah pengorbanan Tahrik Jadid pun seharusnya mengalami kemerosotan. Akan tetapi, inilah Jamaat Imam Mahdi sejati, yang telah berhasil menunjukkan dirinya sebagai ‘Khairul Ummah’. Hal ini menjadikan qalbu kita dipenuhi rasa syukur dan puji Allah yang karunia-Nya tak pernah surut kepada kita. Grakan Tahrik Jadid yang telah mencapai usianya yang ke-75, dengan karunia Allah Taala pada tahun ini jumlah pengorbanannya mencapai £ 4,905,380 poudnsterling (atau Rp. 769.951.386.630), meningkat 800,000 pound (Rp. 12.556.847.977) dibandingkan dengan tahun yang lalu.
Pada tahun ini, Jamaat Pakistan meskipun negaranya diterpa oleh kemiskinan, tetap menduduki peringkat pertama di seluruh dunia. Kedua (2) Jamaat Amerika Serikat, (3) Germany, (4)UK, (5) Canada, dan (6) Jamaat Indonesia.
Selanjutnya yang ke (7) adalah Jamaat India, (8) Australia, (9) Belgium dan (10) Jamaat Switzerland.
Huzur menambahkan, selisih jumlah pengorbanan Jamaat Germany dengan Jamaat UK hanya sedikit saja, ialah, £1,500 pound. Huzur semula berpikir Jamaat UK boleh jadi akan menduduki peringkat ke-3, namun ternyata Jamaat Germany telah menunjukkan kerja keras mereka.
Jika ditinjau dari segi mata uangnya (yakni, jika tidak dikonversi ke dalam poundsterling) Jamaat India menunjukkan peningkatan yang paling besar dibandingkan pengorbanan mereka pada tahun yang lalu. Termasuk juga Jamaat Germany.
Jumlah seluruh peserta Tahrik Jadid pada tahun ini 90,000 orang. Yang terbanyak berasal dari Jamaat India. Dari segi Jamaat-nya, di Jamaat Pakistan, tiga besarnya adalah Jamaat Lahore, Rabwah dan Karachi. Sedangkan di Jamaat USA empat peringkat besarnya adalah, Jamaat Silicon Valley, Jamaat Los Angeles West, Detroit dan Jamaat Chicago West. Di Jamaat USA ini, 80% Ahmadi usia balita telah ikut dalam gerakan pengorbanan Tahrik Jadid ini. Di Canada urutan peringkatnya adalah, Jamaat Calgary North West, Jamaat Peace Village East, Peace Village Centre, Surrey East dan Jamaat Vancouver.
Di UK, urutan 10 besarnya adalah, Jamaat London Mosque [Baitul Fazl, tempat Hadhrat Khalifah berdomisili], Jamaat Surbiton, Cambridge, Gillingham, New Malden, Birmingham West, Worcester Park, Purley, S.E. London dan Jamaat Oxford.
Huzur bersabda, pada beberapa tahun lalu ketika program Al Wasiyyat dikampanyekan, setengah Ahmadi berpikir, jenis pengorbanan lainnya akan terkena dampaknya. Namun, Alhamdulillah, pemikiran tersebut terbukti keliru. Kaum Ahmadi sejati senantiasa dipenuhi puji syukur kehadirat Allah Taala, yang memperlihatkan fakta, bahwa Dia tengah memperluas dan meningkatkan berbagai tugas kita, oleh karena itu menyeru kita untuk meningkatkan pengorbanan harta benda. Berbagai tugas kewajiban kita semakin meningkat. Meskipun krisis ekonomi dunia tidak berkurang, kita tetap dituntut untuk melaksanakan berbagai rencana kerja kita. Semoga pula kita semakin meningkat dalam keimanan, meningkat dalam hal pengorbanan harta, langkah kemajuan kita pun meningkat, dan semoga pula kita dikaruniai untuk mengalami kemenangan itu.
Hadhrat Muslih Mau'ud r.a. menyebut gerakan Tahrik Jadid sebagai dasar fondasi untuk ikut dalam program Wasiyyat. Kini, anak keturunan kita pun sudah mulai melatih diri untuk ikut dalam pengorbanan Tahrik Jadid. Yakni, nantinya mereka akan mendapat kemudahan untuk ikut dalam ber-Wasiyyat.
Para ahli ekonomi berpendapat, krisis ekonomi sekarang ini dapat menjadi penyebab timbulnya mala petaka 'angin puyuh raksasa' yang menakutkan. Namun, bagi golongan ‘Khairul Ummah’ justru mampu memperlihatkan pengorbanan harta benda mereka. Allah Ar Rahman senantasa melindungi kita dengan sifat Rahimiyyat-Nya. Selama kita terus menerus meningkatkan derajat ketakwaan kita, maka kita pun tetap menjadi ‘Khairul Ummah’. Orang mukmin sederhana yang ikut berkorban dengan jumlah ala kadarnya sesuai dengan kemampuannya, dan anak-anak mereka yang ikut melatih diri dengan pembayaran yang hanya beberapa ratus rupiah saja, tetap akan dimasukkan ke dalam gerakan pengorbanan yang berberkat ini.
Semoga Allah Taala senantiasa menjaga api semangat pengorbanan kita dan juga bagi generasi yang akan datang. Semoga pula kita senantiasa menjadi pewaris berbagai rahmat dan karunia-Nya. Amin !
o o O o o

modifiedByMMA / JamaatLAWest, 11/10/09

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Terimakasih untuk komentar anda yang bertanggung jawab.

Related Post

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...