Tampilkan postingan dengan label Konspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Konspirasi. Tampilkan semua postingan

Senin, 25 Mei 2009

Buku Hidden Agenda PKS "Ilusi Negara Islam" Beredar di Internet


Buku "Ilusi Negara Islam" menghilang dari toko-toko buku. Padahal baru saja diluncurkan. Beberapa toko buku menolak menjual buku tersebut karena diteror. (Lihat detiknews.com Jumat, 22/05/2009)
Hal ini tentu saja menimbulkan tanda tanya besar. Siapa pihak meneror para penjual buku hingga mereka enggan menjual buku tersebut?? Pihak mana lagi yang paling berkepentingan dengan isi buku tersebut dan memang menjadi topik bahasan utama.

Apa saja isi buku tersebut hingga menuai kontroversi? Apakah anda penasaran seperti saya? Memang siapapun akan merasa tertarik atau tertantang membaca buku yang sangat aktual dan fenomenal seperti itu. Sayang kita mungkin akan harus mengurungkan niat membacanya berhubung adanya upaya untuk menghilangkan buku tersebut dari pasaran.

Tapi, tidak ada kata menyerah dalam kamus hidup seorang pejuang.. Setelah mencari dengan susah payah.. (seolah-olah..) akhirnya kutemukan juga orang baik yang mau berbagi bukunya dengan semua orang. Buku langka ini ternyata tersedia gratis di internet dalam bentuk PDF. Nah jika anda penasaran silahkan ikuti saja URL berikut ini:

http://www.bhinnekatunggalika.org/downloads/ilusi-negara-islam.pdf

Saya sangat bersyukur karena akhirnya dapat membaca buku tersebut. Dan semoga saja dapat bermanfaat bagi semua..

Bila anda agak malas atau belum sempat baca, anda dapat juga baca resensi singkatnya di blog ajaran

Jumat, 13 Maret 2009

Diplomasi Munafik ala Yahudi

KLAIM-KLAIM ISRAEL ATAS PALESTINA

Israel mendasarkan klaim-klaimnya untuk mendirikan sebuah negara di Palestina atas tiga sumber utama: warisan Perjanjian Lama dari Kitab Injil,1 Deklarasi Balfour yang diumumkan Inggris Raya pada 1917, dan pembagian Palestina menjadi negara Arab dan negara Yahudi yang direkomendasikan oleh Majelis Umum PBB pada 1947.

OMONG KOSONG

"Atas dasar hak alamiah dan hak kesejarahan kita... dengan ini [kami] memproklamasikan berdirinya sebuah Negara Yahudi di Tanah Israel-Negara Israel." --Deklarasi Kemerdekaan Israel, 19482

FAKTA

Menurut sejarah, bangsa Yahudi bukanlah penduduk pertama Palestina, pun mereka tidak memerintah di sana selama masa pemerintahan bangsa-bangsa lain. Para ahli arkeologi modern kini secara umum sepakat bahwa bangsa Mesir dan bangsa Kanaan telah mendiami Palestina sejak masa-masa paling kuno yang dapat dicatat, sekitar 3000 SM hingga sekitar 1700 SM.3 Selanjutnya datanglah penguasa-penguasa lain seperti bangsa-bangsa Hyokos, Hittit, dan Filistin. Periode pemerintahan Yahudi baru dimulai pada 1020 SM dan berlangsung hingga 587 SM. Orang-orang Israel kemudian diserbu oleh bangsa-bangsa Assyria, Babylonia, Yunani, Mesir, dan Syria hingga Hebrew Maccabeans meraih kembali sebagian kendali pemerintahan pada 164 SM. Tetapi, pada 63 SM Kekaisaran Romawi menaklukkan Jerusalem dan pada 70 M menghancurkan Kuil Kedua dan menyebarkan orang-orang Yahudi ke negeri-negeri lain. Ringkasnya, bangsa Yahudi kuno menguasai Palestina atau sebagian besar darinya selama kurang dari enam ratus tahun dalam kurun waktu lima ribu tahun sejarah Palestina yang dapat dicatat --lebih singkat dibanding bangsa-bangsa Kanaan, Mesir, Muslim, atau Romawi.4 Komisi King-Crane AS menyimpulkan pada 1919 bahwa suatu klaim "yang didasarkan atas pendudukan pada masa dua ribu tahun yang lalu tidak dapat dipertimbangkan secara serius."5

Pada 14 Mei 1948, sekitar tiga puluh tujuh orang menghadiri pertemuan Tel Aviv di mana kemerdekaan Israel dinyatakan sebagai "hak alamiah dan historis." Namun para kritikus menuduh bahwa aksi mereka tidak mempunyai kekuatan yang mengikat dalam hukum internasional sebab mereka tidak mewakili mayoritas penduduk pada waktu itu. Sesungguhnya, hanya satu orang di antara mereka yang dilahirkan di Palestina; tiga puluh lima orang berasal dari Eropa dan seorang dari Yaman. Tegas sarjana Palestina Issa Nakhleh: "Minoritas Yahudi tidak berhak untuk menyatakan kemerdekaan suatu negara di atas wilayah yang dimiliki oleh bangsa Arab Palestina."6

OMONG KOSONG

"'Sertifikat kelahiran' internasional Israel disahkan oleh janji dalam Kitab Injil." --AIPAC,*) 19927

FAKTA

Klaim-klaim tentang dukungan ilahiah atas ambisi-ambisi kesukuan maupun kebangsaan sangat lazim ditemukan di masa kuno. Bangsa-bangsa Sumeria, Mesir, Yunani, dan Romawi semuanya menyitir wahyu-wahyu ilahi untuk penaklukan-penaklukan mereka. Sebagaimana dicatat oleh ahli sejarah Frank Epp: "Setiap fenomena dan proses kehidupan dianggap sebagai hasil campur tangan dewa atau dewa-dewa... bahwa sebuah negeri yang baik telah dijanjikan kepada bangsa yang lebih baik oleh dewa-dewa yang lebih tinggi."8 Tidak ada pengadilan atau badan dunia di masa sekarang ini yang akan menganggap sah suatu hak pemilikan yang didasarkan atas klaim yang dinyatakan berasal dari Tuhan.9 Bahkan bagi mereka yang mengartikan restu Injil secara harfiah sebagai restu dari Tuhan, para ahli Injil seperti Dr. Dewey Beegle dari Wesley Theological Seminary menyatakan bahwa bangsa Yahudi kuno tidak berhasil mematuhi perintah-perintah Tuhan dan karenanya kehilangan janji itu.10

OMONG KOSONG

"Hak [bangsa Yahudi untuk melakukan restorasi nasional di Palestina diakui oleh Deklarasi Balfour." --Deklarasi Kemerdekaan Israel, 194811

FAKTA

Deklarasi Balfour secara sengaja tidak mendukung pendirian suatu bangsa Yahudi. Deklarasi itu termuat dalam sebuah surat yang dikirimkan oleh Menteri Luar Negeri Inggris Arthur James Balfour kepada Lord Rothschild, presiden Federasi Zionis Inggris, pada 2 November 1917. Deklarasi itu telah disetujui oleh kabinet Inggris dan dikatakan: "Pemerintah menyetujui didirikannya sebuah tanah air bagi bangsa Yahudi di Palestina, dan berusaha sebaik-baiknya untuk melancarkan pencapaian tujuan ini, setelah dipahami secara jelas bahwa tidak akan dilakukan sesuatu yang dapat merugikan hak-hak sipil dan hak-hak keagamaan komunitas non-Yahudi yang ada di Palestina, atau hak-hak dan status politik yang dinikmati oleh bangsa Yahudi di setiap negeri lain."12 Pada 1939 British White Paper secara khusus menyatakan bahwa Inggris "tidak bermaksud mengubah Palestina menjadi sebuah Negara Yahudi yang bertentangan dengan kehendak penduduk Arab di negeri itu."13

OMONG KOSONG

"[Palestina adalah] tanah air tanpa rakyat bagi rakyat [Yahudi) yang tidak bertanah air." --Israel Zangwill, Zionis senior, c. 189714

FAKTA

Ketika Deklarasi Balfour diumumkan pada 1917 ada kira-kira 600.000 orang Arab di Palestina dan kira-kira 60.000 orang Yahudi.15 Lebih dari tiga puluh tahun selanjutnya rasio itu menyempit ketika imigrasi Yahudi bertambah, terutama akibat adanya kebijaksanaan anti-Semit Adolf Hitler. Namun, menjelang akhir 1947 ketika PBB berencana untuk membagi Palestina, bangsa Arab masih merupakan penduduk mayoritas, dengan jumlah orang Yahudi mencapai hanya sepertiganya --608.225 orang Yahudi berbanding 1.237.332 orang Arab.16 Ketika Max Nordau, seorang Zionis senior dan sahabat Zangwill, mengetahui pada 1897 bahwa ada penduduk asli Arab di Palestina, dia berseru: "Aku tidak tahu itu! Kita tengah melakukan suatu kezaliman!"17

Penduduk Palestina bukan hanya sudah ada di sana, mereka bahkan telah menjadi masyarakat mapan yang diakui oleh bangsa-bangsa Arab lainnya sebagai "bangsa Palestina." Bangsa itu terdiri atas golongan-golongan intelektual dan profesional terhormat, organisasi-organisasi politik, dengan ekonomi agraria yang tengah tumbuh dan berkembang menjadi cikal bakal industri modern.18 Kata ilmuwan John Quigley: "Penduduk Arab telah mapan selama beratus-ratus tahun. Tidak ada migrasi masuk yang berarti dalam abad kesembilan belas."19

OMONG KOSONG

"Atas dasar... resolusi Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa dengan ini [kami] memproklamasikan berdirinya sebuah Negara Yahudi di Tanah Israel --Negara Israel." --Deklarasi Kemerdekaan Israel, 194820

FAKTA

Hanya karena tekanan kuat dari pemerintahan Truman sajalah maka Rencana Pembagian PBB diluluskan oleh Majelis Umum pada 29 November 1947, dengan perolehan suara 33 lawan 13 dan dengan 10 abstain dan 1 absen. Di antara bangsa-bangsa yang mengalah pada tekanan AS adalah Prancis, Ethiopia, Haiti, Liberia, Luksemburg, Paraguay, dan Filipina.21 Mantan Wakil Menteri Luar Negeri Sumner Welles menulis: "Melalui perintah langsung dari Gedung Putih setiap bentuk tekanan, langsung maupun tak langsung, dibawa untuk disampaikan oleh para pejabat Amerika kepada negara-negara di luar dunia Muslim yang diketahui belum menentukan sikap atau menentang pembagian itu. Para wakil dan perantara dikerahkan oleh Gedung Putih untuk memastikan bahwa suara mayoritas akan terus dipertahankan."22

Rencana pembagian, yang dinamakan Resolusi 181, membagi Palestina antara "negara-negara Arab dan Yahudi yang merdeka dan Rezim Internasional Istimewa untuk Kota Jerusalem."23 Calon Menteri Luar Negeri Israel Moshe Sharett mengatakan bahwa resolusi itu mempunyai "kekuatan mengikat," dan Deklarasi Kemerdekaan Israel mengutipnya tiga kali sebagai dasar kebenaran yang sah bagi berdirinya negara itu.24 Namun Majelis Umum, tidak seperti Dewan Keamanan, tidak mempunyai kuasa lebih dari membuat rekomendasi. Ia tidak dapat mendesakkan rekomendasi-rekomendasinya, pun rekomendasi-rekomendasi itu tidak mengikat secara hukum kecuali untuk masalah-masalah internal PBB.25

Bangsa Palestina, yang memang berhak, menolak rencana pembagian itu sebab rencana tersebut memberikan pada bangsa Yahudi lebih dari separuh Palestina, meskipun dalam kenyataannya mereka itu hanyalah sepertiga penduduk dan hanya memiliki 6,59 persen tanah.26 Di samping itu, bangsa Palestina berkeras bahwa Perserikatan Bangsa-Bangsa tidak mempunyai hak yang sah untuk merekomendasikan pembagian jika mayoritas penduduk Palestina menantangnya. Sekalipun demikian, dengan menolak pembagian tidak berarti bangsa Palestina menolak klaim mereka sendiri sebagai suatu bangsa merdeka. Yang mereka tentang adalah negara Yahudi yang didirikan di atas tanah Palestina, bukan hak orang-orang Yahudi sebagai suatu bangsa.

Pemimpin Yahudi David Ben-Gurion menasihati para koleganya untuk menerima pembagian itu sebab, katanya pada mereka, "dalam sejarah tidak pernah ada suatu persetujuan final --baik yang berkaitan dengan rezim, dengan perbatasan-perbatasan, dan dengan persetujuan-persetujuan internasional."27

Salah seorang perintis Zionis besar, Nahum Goldmann, mengungkapkan sikap pragmatis dengan cara berbeda: "Tidak ada harapan bagi sebuah negara Yahudi yang harus menghadapi 50 tahun lagi untuk berjuang melawan musuh-musuh Arab."28

OMONG KOSONG

"Aslinya Palestina mencakup Yordania." Ariel Sharon, Menteri Perdagangan Israel, 198929

FAKTA

Dalam sejarah panjang Imperium Islam/Usmaniah, Palestina tidak pernah berdiri sebagai suatu unit geopolitik atau administratif yang terpisah. Ketika daerah di Laut Tengah bagian timur antara Lebanon dan Mesir diambil alih oleh Inggris Raya dari Turki pada akhir Perang Dunia I, bagian-bagian tertentu dari apa yang disebut Palestina berada di bawah wilayah administrasi Beirut sementara Jerusalem menjadi sanjak, sebuah distrik otonom.30 Daerah di sebelah timur sungai Yordan --Transyordan-- adalah, dalam kata-kata sarjana Universitas Tel Aviv Aaron Klieman, "sesungguhnya merupakan terra nullius di bawah kekuasaan bangsa Turki dan dibiarkan tanpa kepastian dalam pembagian Imperium Usmaniah."31

Dalam memulai mandat di Palestina atas nama Liga Bangsa-bangsa pada 1922, Inggris mendapatkan Palestina dan Transyordan ke arah timur hingga Mesopotamia, yang menjadi Irak. Sekarang wilayah yang sama berarti mencakup Israel, Yordania, Tepi Barat, Jalur Gaza, dan Jerusalem. Pada Desember 1922, Inggris menyatakan pengakuannya atas "eksistensi suatu Pemerintahan konstitusional yang merdeka di Transyordan." Dan pada 1928 dinyatakan secara khusus bahwa Palestina adalah daerah di sebelah barat sungai Yordan.32 Hanya di Palestina sajalah Inggris beranggapan bahwa janjinya dalam Deklarasi Balfour dapat diterapkan untuk membantu mendirikan suatu tanah air Yahudi.

Catatan kaki:

1 Lihat, misalnya, Kitab Kejadian 15:18, 'Pada hari itu Tuhan membuat perjanjian dengan Ibrahim melalui firman, 'Untuk keturunanmu Aku berikan tanah ini, dari sungai Mesir hingga sungai besar, sungai Efrat.'"

2 Ben-Gurion, Israel, 80. Teks deklarasi itu dicetak kembali di hlm. 79-81.

3 Bright, A History of Israel, 17-18. Lihat juga Nakhleh, Encyclopedia of the Palestine Problem, 953-70.

4 Epp, Whose land is Palestine?, 39-40. Juga lihat The New Oxford Annotated Bible, 1549-50; Beatty, Arab and Jew in the Land of Canaan, 85.

5 Grose, Israel in the Mind of America, 88-89. Kutipan-kutipan dari laporan Komisi King-Crane terdapat dalam Khalidi, From Haven to Conquest, 213-18, dan Laqueur dan Rubin, The Israel-Arab Reader, 34-42.

6 Nakhleh, Encyclopedia of the Palestine Problem, 4.

*) AIPAC adalah American Israel Public Affairs Committe, lobi utama yang mendukung Israel di Amerika Serikat

7 Bard dan Himelfarb, Myths and Facts, 1.

8 Epp, Whose Land Is Palestine?, 38, 41.

9 Guillaume, Zionists and the Bible, 25-30, dicetak ulang dalam Khalidi, From Haven to Conquest. Lihat juga Nakhleh, Encyclopedia of the Palestine Problem, 953-70.

10 Dewey Beegle, wawancara dengan penulis, 12 Januari 1984.

11 Ben-Gurion, Israel, 80.

12 Sanders, The High Walls of Jerusalem, 612-13.

13 Sachar, A History of Israel, 222.

14 Dikutip dalam Elon, The Israelis, 149.

15 Palestine: Blue Book, 1937 (Jerusalem: Government Printer, 1937), dikutip dalam Epp, Whose Land Is Palestine?, 144. Lihat juga Khalidi, From Haven to Conquest, Lampiran 1.

16 Perserikatan Bangsa-Bangsa, laporan subkomite kepada Komite Khusus untuk Palestina, A/AC al/32, dicetak ulang dalam Khalidi, From Haven to Conquest, 675.

17 Sachar, A History of Israel,163.

18 Said et al., "A Profile of the Palestinian People," dalam Said dan Hitchens, Blaming the Victimis,135-37.

19 Quigley, Palestine and Israel, 73. Lihat juga Khalidi, Before Their Diaspora; Nakhleh, Encyclopedia of the Palestine Problem, terutama Bab 1 dan Bab 2.

20 Ben-Gurion, Israel, 80.

21 Sheldon L. Richman, "'Ancient History': U.S. Conduct in the Middle East since World War II and the Folly of intervention," pamflet Cato Institute, 16 Agustus 1991.

22 Welles, We Need Not Fail, dikutip dalam ibid. Lihat juga Muhammad Zafrulla Khan, "Thanksgiving Day at Lake Success, November 17, 1947;" Carlos P. Romulo, "The Philippines Changes Its Vote;" dan Kermit Roosevelt, "The Partition of Palestine: A Lesson in Pressure Politics," semuanya dalam Khalidi, From Haven to Conquest, 709-22, 723-26, 727-30, secara berturut- turut.

23 Teks Resolusi 181 (II) terdapat dalam Tomeh, United Nations Resolutions on Palestine and the Arab-Israeli Conflict, 1: 4-14.

24 Mallison dan Mallison, The Palestine Problem in International Law and World Order, 171.

25 Quigley, Palestine and Israel, 47.

26 Cattan, Palestine, the Arabs, and Israel, 29; John Ruedy, "Dinamics of Land Alienation," dalam Abu-Lughod, Transformation of Palestine, 125, 134; Said, The Question of Palestine, 98.

27 David Ben-Gurion, War Diaries, dikutip dalam Flapan, The Birth of Israel, 13.

28 Findley, They Dare to Speak Out, 273.

29 Sharon, Warrior, 246.

30 Ibrahim Abu-Lughod, "Territorially-based Nationalism and the Politics of Negation" dalam Said dan Hitchens, Blaming the Victims, 195.

31 Klieman, Foundations of British Policy in the Arab World, 68.

32 Ibid., 234-35. Lihat juga Fromkin, A Peace to End All Peace, 560.

________________________

Diplomasi Munafik ala Yahudi -
Mengungkap Fakta Hubungan AS-Israel oleh Paul Findley

Judul Asli: Deliberate Deceptions:
Facing the Facts about the U.S. - Israeli Relationship by Paul Findley

Terbitan Lawrence Hill Brooks, Brooklyn, New York 1993
Penterjemah: Rahmani Astuti, Penyunting: Yuliani L.
Penerbit Mizan, Jln. Yodkali No. 16, Bandung 40124


Sumber: http://media.isnet.org/v01/index.html


Selasa, 25 Desember 2007

Dimana batas kemanusiaan.... ??

Koran Tempo – Rabu, 19 Desember 2007
Jemaah Ahmadiyah Kembali diserang


Kuningan – Tindakan kekerasn kembali dialami oleh jemaah Ahmadiyah di Desa Manis Lor, Kecamatan Jalaksana, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Massa yang menamakan diri Koalisi Muslim Kabupaten Kuningan (Kompak) kemarin menyerbu rumah dan tempat ibadah mereka. Sedikitnya 14 rumah dan dua musala milik jemaah Ahmadiyah rusak dalam insiden ini. Hingga kemarin siang, empat penyerang cedera akibat bentrokan dengan jemaah Ahmadiyah yang melawan.
"Jemaah Ahmadiyah memiliki tujuh rumah ibadah di Manis Lor ini," tutur Miftah Hidayat, seorang perwakilan dari Kompak, "Sedangkan yang disegel saat itu baru tiga buah saja."
Karena itu, ia melanjutkan, massa meminta agar seluruh mesjid milik jemaah Ahmadiyah disegel dan para penganut Ahmadiyah kembali ke syariat agama Islam yang benar.
Seperti diketahui, pada Rabu pekan lalu, tiga rumah ibadah milik warga penganut Ahmadiyah telah disegel Pemerintah Kabupaten Kuningan. Penyegelan dilakukan karena mereka dianggap melanggar Surat Keputusan Bersama antara Bupati Kuningan, dan Kepala Departemen Agama Kuningan pada 2004, yang melarang seluruh keegiatan jemaah Ahmadiyah di Kabupaten Kuningan.
Aksi penyerangan kemarin dimulai sekitar pukul 11.30 WIB. Namun, tak lama kemudian aksi tersebut sempat terhenti ketika aparat kepolisian dari Brigade Mobil melemparkan dua gas air mata. Para penyerbu kemudian menggelar salat zuhur berjamaah.
Seusai salat, sekitar pukul 13.00 WIB, mereka memasuki jalan-jalan tikus atau jalan-jalan kecil di samping rumah penduduk. Mereka kemudian melakukan perusakan terhadap sedikitnya 14 rumah milik jemaah Ahmadiyah. Massa juga membakar karpet yang ada di musala Al-Hidayah. Kubah mesjid diambil dan dirusak. Sedangkan di musala At-Taqwa, massa merusak dan mengambil pengeras suara.
Tidak terima dengan semua itu, jemaah Ahmadiyah pun melakukan perlawanan. Tercatat empat penyerang terluka terkena bacokan. Mereka kemudian dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah Kuningan dan Rumah Sakit Wijaya.
Camat Jalaksana Maman Hermansyah menyatakan telah terjadi kesepakatan lagi, yang antara lain berisi penyerangan dihentikan dan jemaah Ahmadiyah diberi waktu sepekan untuk tidak menggunakan mesjid yang telah disegel untuk ibadah. "Jika memang masih digunakan, ormas Islam dipersilahkan untuk merusak rumah ibadah tersebut," tutur Maman.
Tokoh Ahmadiyah Desa Manis Lor, Kulman, saat ditemui sebelum penyerangan, membantah jika dikatakan mesjid yang disegel itu digunakan lagi untuk beibadah. Bahkan ia memohon agar jemaah Ahmadiyah tak diserang lagi. "Kok kami mau beribadah saja susah sekali. Mesjid disegel, diteror tiap malam dan pagi."

* IVANSYAH

Senin, 17 Desember 2007

dari Manislor (pics inculded)



Radar Cirebon – 15 Desember 2007
GERAH TETAP NGOTOT DENGAN PENDIRIANNYA
KUNINGAN – Penyegelan tempat ibadah warga Ahmadiyah di desa Manislor, Jalaksana ternyata tidak membuat komponen umat Islam Kuningan puas. Mereka tetap bersikukuh untuk melakukan pembongkaran terhadap seluruh tempat ibadah warga Ahmadiyah.


Ketua Gerakan Anti Ahmadiyah (Gerah) Kuningan, H Moch Nasrudin menegaskan, meski Pemkab Kuningan telah menyegel tiga tempat ibadah, upaya komponen umat Islam akan jalan terus. Targetnya, kata dia, adalah membongkar seluruh tempat ibadah warga Ahmadiyah.
"Komponen muslim bakal jalan terus sampai targetnya tercapai yakni pembongkaran. Terlepas apakah Pemkab sendiri yang melakukannya ataukah oleh kita. Ahmadiyah harus dimusnahkan kerena sudah dinyatakan MUI dalam fatwanya sebagai aliran sesat dan menyesatkan," jelas Moch Nasrudin kepada Radar, kemarin (14/12).
Menyikapi surat pernyataan antara Satpol PP dengan pihak Ahmadiyah yang berbunyi akan menurunkan spanduk seruan jihad, dia mengatakan, itu merupakan kesalahan satpol PP. Sebab, spanduk tersebut punya komponen umat Islam bukan lantas dijaminkan satpol PP ke Ahmadiyah melalui surat pernyataan.
Di tempat terpisah, ketua MUI Kuningan, KH Hafidzin Ahmad menyatakan, soal penyegelan itu sebetulnya telah dilakukan beberapa tahun silam. Karena segel tersebut dibuka kembali oleh warga Ahmadiyah, maka umat Islam meminta dilakukan kembali. (ded)



====================================================================


Ini beberapa photo hasil dokumentasi lapangan seorang kru mta indonesia..
Secara acak mulai dari atas:

  • Anak-anak sedang menjaga sekolah mereka di Manislor agar tidak dibongkar.
  • Pa Ketua berusaha memberi pengertian kepada ibu-ibu agar memberi jalan kepada satpol PP yang akan menjalankan tugasnya..
  • Ibu-ibu bersedih ketika pada akhirnya mesjid mereka harus disegel kembali.
  • Mesjid Alhidayah-pun dsiegel.
  • Giliran Mesjid Attaqwa tak ketinggalan.



Related Post

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...