Senin, 01 Februari 2010
Uang Bunga dan Bencana
Rabu, 28 Oktober 2009
BENCANA ALAM ATAU HUKUMAN ILAHI?
(Bagian 4)
Ciri-Ciri Khas Hukuman (Azab) Ilahi
Pertanyaan yang kini timbul adalah bahwa jika para penentang Adam(a.s.) disapu dari permukaan bumi; jika tak ada tanda keberadaan dari semua orang yang menolak Nuh(as.); jika orang-orang yang mengejar Musa(a.s.) ditenggelamkan oleh air sungai Nil; jika para penentang Daud(a.s.) dimusnahkan; dan jika orang-orang yang beriman kepada Isa(a.s.) unggul atas orang-orang yang menolak beliau sedemikian rupa hingga yang sedikit menjadi banyak; yang diperintah menjadi yang memerintah dan yang teraniaya, majikan – maka mengapa hukuman dari langit yang bekerja dengan mukjizat sedemikian rupa dalam mendukung nabi-nabi terdahulu hal semacam itu tak ada dalam mendukung Nabi Suci Muhammad(s.a.w.) yang merupakan Penghulu Para Nabi dan yang paling sempurna dari para rasul? Mengapa keunggulan lahiriah yang didapatkan oleh yang terakhir ini atas para penentangnya adalah jauh lebih singkat dari pada hasil yang didapatkan oleh orang-orang yang mengimani Nabi Isa(a.s.) dalam beberapa abad pertamanya sesudah peristiwa penyaliban atas orang-orang yang menolak Nabi Isa(a.s.)?
Jumat, 02 Oktober 2009
Gempa Bumi: Untuk Kita Renungkan
Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barangsiapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan meng'azab sebelum Kami mengutus seorang rasul.(QS. Bani Israil 17:16)
Gempa bumi yang terjadi belakangan ini rasanya terlalu beruntun dan bertubi-tubi menimpa kita. Belum habis kesedihan saudara kita yang di Jawa Barat, sekarang Sumatera Barat pun ditimpa musibah serupa. Padahal sebelum ini pun beberapa tahun ke belakang bangsa ini telah ditimpa musibah serupa. Entah sudah berapa korban jiwa yang melayang. Jumlah pastinya tidak pernah dapat disebut hanya perkiraan saja yang menembus angka hingga ratusan ribu jiwa. Hanya dalam tempo beberapa tahun saja bangsa ini sudah dirundung kemalangan yang tidak boleh tidak sangat patut untuk direnungkan.
Kamis, 28 Agustus 2008
Hikmah Ajaran Menutup Aurat dalam Islam
Diakui maupun tidak, kebanyakan kaum pria tentu senang melihat keindahan fisik lawan jenis. Namun apakah anda pernah memikirkan dampaknya pada kesehatan anda? Bagaimana jika kebiasan anda menikmati pose-pose seksi kaum hawa ternyata justru membawa bencana pada kesehatan reproduksi anda sendiri??Senin, 25 Agustus 2008
Di Balik Perayaan 63 tahun HUT RI
Pesta Rakyat dan Penderitaan Warga AhmadiyahJika para korban lapindo bisa menulis surat cinta kepada Aa Gym dan Arifin Ilham, sebetulnya masih ada lagi sekelompok lain yang juga hingga saat ini masih menderita dan belum mendapat keadilan, para pengikut Ahmadiyah. Mengingat apa yang sedang menimpa mereka, merekapun seharusnya menulis surat serupa itu kepada tokoh-tokoh seperti Arifin Ilham dan Aa Gym.
Seperti halnya korban lapindo yang hingga kini nasibnya terkatung-katung, pengikut Ahmadiyah juga bernasib sama. Hanya saja korban lapindo masih bernasib lebih baik karena tidak ada yang mengotak-atik hak hidupnya di bumi Indonesia ini. Mereka masih bebas menentukan kemana pun mereka akan melangkah dan apa pun yang akan mereka lakukan. Kemalangan itu adalah karena 'kelalaian' (jika memang susah untuk disebut bencana) dan bukan karena kezhaliman saudara sesama anak bangsa.
Ahmadiyah, sebagaimana kita ketahui, telah dikenai stigma sesat oleh ulama pengayom umat. Dan karenanya penjelasan apapun yang diberikan oleh Ahmadiyah tentang keyakinannya, meskipun itu berasal dari Quran dan Hadits, tetap tidak akan diterima.
Padahal dari 10 kriteria sesat yang ditetapkan oleh MUI, tidak satupun yang dapat dikenakan pada Ahmadiyah. lihat penjelasan ahmadiyah tentang 10 kriteria sesat MUI>>
Sekarang ini sebagai hasil dari stigma sesat Ulama, warga Ahmadiyah terus mengalami berbagai penderitaan. Salah satu kasus adalah yang terjadi di Pancor, Lombok Barat beberapa waktu silam. Akibat kekerasan warga masyarakat yang terprovokasi, warga ahmadiyah disana kehilangan hak hidup mereka. Mereka terusir dari tempat tinggalnya dan harus meninggalkan segalanya tanpa ampun hanya karena beda keyakinan. Anda mungkin percaya-tidak percaya. Namun itulah yang terjadi.
Hingga sekarang warga Ahmadiyah ini masih harus tetap tinggal di pengungsian di Asrama Transito, Mataram, NTB. Dengan kondisi seadanya harus tabah menghadapi cobaan demi memegang keyakinan mereka.
Melihat berbagai kemeriahan yang diadakan oleh warga masyarakat di berbagai tempat, saya malah teringat akan penderitaan saudara-saudara kita yang hingga saat ini masih dalam penderitaan mereka. Salah satunya adalah warga Ahmadiyah yang hingga saat ini terus didera masalah di berbagai daerah.. Haruskah ahmadiyah hilang dari bumi Indonesia ini hanya karena masalah keyakinan?? Seberapa parahkah kebencian anda yang tidak suka dengan ahmadiyah hingga tidak mengenal kata lain selain anarkis!!!??
Jika anda dapat menjawabnya, alangkah baiknya sayapun diberitahukan agar lebih mengerti kecarut-marutan ini..
Salaamun 'alaa manit taba'al huda.
lihat laporan resmi wartawan RNW tentang Ahmadiyah di transito >>>
Kamis, 08 Mei 2008
Mohon Maaf, Ahmadiyah
Mahasiswa Pascasarjana Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta
Mohon maaf, Ahmadiyah. Kami memasukkan keyakinan dan keberadaan Anda sebagai persoalan besar yang mengancam negeri ini. Daripada kemiskinan, kelaparan, kenaikan harga bahan pokok, serta biaya pendidikan yang makin mahal, kami lebih suka memilih Anda sebagai sasaran pekerjaan. Keseriusan kami semata-mata karena ini menyangkut keyakinan; sesuatu yang sangat prinsipil bagi setiap umat manusia.
Bertahun-tahun kami dikondisikan untuk selalu curiga terhadap lain keyakinan. Ibarat musuh dalam selimut, ia lebih berbahaya karena bisa menyerang siapa saja dan kapan saja. Kami tidak terbiasa untuk terbuka dan mempelajari dengan serius sistem keyakinan lain tanpa harus takut terpengaruh karenanya. Sebagai mayoritas, justru yang kami lakukan adalah membuat Anda merasa tidak aman, tidak nyaman dan tidak bebas menjalankan ibadah serta kegiatan sehari-hari.
Memangnya kenapa kalau kebebasan Anda untuk beribadah kami ambil alih? Kami ini sangat sensitif terhadap agama di luar agama resmi sehingga selalu berusaha untuk melarang dan menutup tempat ibadah Anda. Kami merasa berhak untuk menentukan status keyakinan Anda. Apa yang kami hakimi sebagai sesat, itu berarti kami boleh menghilangkan hak sebagai warga dalam mendapatkan perlindungan di negeri ini.
Kami menutup mata terhadap sumbangan Anda kepada kemanusiaan (humanity first). Jaringan yang sangat luas tersebar di belahan bumi membuat Anda mampu menyalurkan bantuan terhadap kemiskinan, pendidikan, dan korban bencana. Di Indonesia, jumlah anggota organisasi Anda yang hanya lima ratus ribu sanggup mengumpulkan puluhan miliar setiap tahun. Anda juga punya televisi yang berpusat di Inggris sehingga dunia dapat melihat bahwa Indonesia adalah negeri yang damai, terbuka dan kondusif untuk investasi.
Tetapi inilah kami. Kesepakatan kita bahwa di negara ini tidak ada yang boleh didiskriminasi tiba-tiba kami ingkari. Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 yang menjamin kebebasan beragama dan berkeyakinan tidak lagi kami jadikan sabuk pengaman bagi integrasi bangsa. Negara sebagai penjamin atas hak-hak bagi setiap warga, termasuk Anda, lalai dan sengaja membiarkan saat Anda menjadi sasaran kesewenang-wenangan .
Mohon maaf, Ahmadiyah. Kami tidak bisa menerima perbedaan. Kami tidak menganut pluralisme karena paham itu datang dari luar. Kami punya keyakinan sendiri yang sesuai dengan ajaran kami. Kami bisa melakukan larangan dan melakukan tindakan kekerasan jika tidak sesuai dengan keyakinan kami. Tuhan pasti berada di pihak kami karena kami yang paling benar. Kami adalah khalifah Tuhan yang diperintah untuk meluruskan keyakinan Anda.
Tidak bisa kami menghentikan perhatian terhadap masalah perbedaan keyakinan karena hal itu menjadi faktor yang membuat bangsa ini dalam bahaya. Kami lupa bahwa negeri ini adalah salah satu negeri paling plural di dunia sehingga kesatuan akan tumbuh jika masing-masing keyakinan dihormati. Persatuan Indonesia yang menuntut bahwa setiap orang berhak beragama dan menjalankan ibadah sesuai dengan keyakinannya, entah itu sesuai atau tidak dengan keyakinan yang lain, tiba-tiba kami singkirkan.
Itulah kenapa kami menyerang masjid-masjid tempat Anda beribadah. Padahal ajaran kami mengatakan, kami tidak boleh menyakiti orang lain tanpa alasan apa pun. Tidak boleh menyerang orang lain kecuali sekadar mempertahankan diri. Bahkan ketika orang lain menyerang kami tiba-tiba meminta perlindungan, wajib hukumnya bagi kami untuk melindunginya.
Perlindungan terhadap orang lain tanpa memandang keyakinan sering kali kami temui dalam ajaran kami. Kami masih ingat saat Rasulullah Muhammad menerima para tamu yang datang dari kelompok yang berkeyakinan lain di masjid Madinah. Saat rombongan tersebut meminta izin keluar untuk melakukan kebaktian justru Rasulullah mempersilakan untuk beribadah di Masjid Nabawi. Masjid justru digunakan untuk menerima dan membangun toleransi antaragama.
Bahkan dengan sangat tegas Rasulullah menjamin jiwa, harta, dan agama para penganut keyakinan di luar keyakinannya. Ia mendeklarasikan Piagam Madinah sebagai undang-undang bersama untuk hidup berdampingan secara damai dan toleran. Kami tahu, di dalam piagam tersebut dijelaskan bahwa masyarakat yang hidup di Madinah saat itu, yaitu Islam, Yahudi, dan Kristen, disebut sebagai satu umat (ummatan wahidah). Isi piagam tersebut juga memuat untuk mengemban tanggung jawab yang sama dalam menghadapi tantangan dari luar. Tidak boleh ada diskriminasi, siapa pun yang berada di Madinah harus dilindungi serta tidak boleh ada yang terluka, apa pun keyakinannya, bagaimanapun latar belakangnya.
Di negeri tercinta ini, kami juga mengerti bahwa Undang-Undang Dasar 1945 kita menegaskan bahwa jaminan konstitusional tentang hak untuk hidup, untuk tidak disiksa, untuk kemerdekaan pikiran dan hati nurani, untuk beragama, untuk tidak diperbudak, dan untuk diakui sebagai pribadi di hadapan hukum adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apa pun.
Demikian pula, kami tahu bahwa bangsa ini telah menjadi bagian dari masyarakat internasional yang meratifikasi Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia lewat Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999. Bahkan bangsa ini juga sudah mengesahkan Kovenan Internasional tentang Hak-hak Sipil dan Politik melalui UU Nomor 12 Tahun 2005. Kedua ketentuan tersebut menegaskan jaminan negara atas kebebasan beragama dan berkeyakinan.
Namun, ajaran dan teladan Rasulullah begitu jauh dari kami. Tidak perlu ada kesesuaian ajaran dan undang-undang dengan tindakan sehari-hari. Juga kesepakatan kita dalam menjalankan roda kehidupan bangsa ini tiba-tiba seperti angin lalu. Tugas kami sebagai pengayom seluruh anak bangsa tanpa diskriminasi kami abaikan. Kami diam saja, bahkan ikut menyuburkan praktek diskriminasi dan penafian atas hak-hak kebebasan berkeyakinan. Padahal, itu hak paling asasi yang dianugerahkan Tuhan. Semangat kebangsaan kami memang sedang defisit. Kami gampang terpengaruh oleh isu-isu murahan dan sentimental.
Mohon maaf, Ahmadiyah. Kami tidak mampu melindungi Anda. Kami tidak bisa menjamin jika suatu saat rumah atau masjid Anda akan diserang. Sekali lagi, mohon maaf.
sumber : korantempo tanggal 22 April 2008
Rabu, 27 Februari 2008
Opini: Tidak Setuju? OK, Tetapi Kenapa Harus Menyerang dan
==========================================================
Tidak Setuju? OK, Tetapi Kenapa Harus Menyerang dan
Merusak?
Dalam hidup kita sering terpaksa melihat yang sangat tidak ingin kita lihat atau mendengar yang sangat tidak ingin kita dengar atau mengetahui bahwa apa yang dikhawatirkan terjadi kemudian terjadi, yang menyebabkan kita menjadi sangat sedih dan gusar.
Itulah yang saya rasakan ketika menyaksikan berita seputar serangan bom teroris di London yang menewaskan banyak orang tidak bersalah pekan lalu, dan kemudian sebuah peristiwa yang diberitakan Liputan 6 SCTV pagi dan Nuansa Pagi hari Minggu yang lalu, yaitu ketika segerombolan orang yang mengaku dari Lembaga Penelitian dan Pengkajian (LPPI) dan Front Pembela Islam (FPI), sebagian masih belia menyerang, merusak dan berusaha membubarkan 'Jalsah Salanah' (pertemuan tahunan) ke 46 Jemaah Ahmadiah Indonesia di kampus gerakan tersebut di Parung, Bogor, hari Jumat lalu, dengan alasan "bertentangan dengan ajaran Islam". Terdengar jelas ada yang berpekik: "Bakar…….bakar!"
"Mereka tidak mengakui Nabi Muhammad dan tidak berkitabkan Al-Quran," demikian kurang lebih ucapan salah seorang penyerang seperti dikutip SCTV.
Memang seperti itu anggapan mayoritas kaum muslimin tentang Jemaah Ahmadiah. Dan seperti itu pula anggapan saya dulu, ketika ikut mengusulkan untuk "mengusir" Nadri Saadudin alias Wan Nadri, seorang mubalih Jemaah Ahmadiah---yang rajin mendakwahkan doktrin-doktrin mereka di sejumlah milis---dari Palanta sekitar 5 tahun yang lalu.
Dan setelah itu saya masih sempat "menyerang" Wan Nadri dan Ahmadiah di Milis FID. Namun setelah masuk ke Prol dan menyaksikan kegigihan dan ketangguhan intelektual Ahmadiah MA Suryawan dan Febrina dalam menangkis distorsi terhadap Islam dan serangan kepada pribadi Nabi, saya secara brangsur menyadari kekeliruan pandangan saya kepada Jemaah Ahmadiah selama ini.
Sekitar satu setengah tahun yang lalu Wan Nadri yang rupanya tidak dendam kepada saya, menjapri saya memberi tahu bahwa beliau dan isterinya merencanakan untuk menunaikan ibadah haji pada musim haji 2004, dan minta dikirimi catatan lengkap perjalanan haji yang saya kirimkan secara bersambung ke sejumlah milis beberapa bulan sebelumnya, karena catatan yang dikoleksinya tidak lengkap. Permintaannya tersebut segera saya penuhi disertai catatan, semoga Wan Nadri dan isteri mendapat haji mabrur.
Tadinya saya akan mengucapkan selamat di milis-milis Wan Nadri biasa mangkal, tetapi saya urungkan. Kenapa? Karena saya khawatir Wan Nadri nanti kenapa-kenapa di Tanah Suci, karena saya tahu para Ulama dan Pemerintah KSA, tidak membenarkan Jemaah Ahmadiah Qadiani untuk menunaikan ibadah haji, dengan kata lain, memasuki teritori KSA [1]
Memang, kebanyakan ulama, termasuk ulama-ulama besar, termasuk Dr Yusuf Qaradhawi yang sangat berpengaruh dan dihormati kaum muslimin 'mainstream' termasuk saya, berpendapat bahwa Jemaah Ahmadiah Qadiani sudah menyimpang dari ajaran Islam, karena mereka mengimani Mirza Gulam Ahmad (MGA) sebagai Nabi, walaupun menurut Jemaah Ahmadiah sendiri Nabi yang tidak membawa syariat sendiri tetapi meneruskan syariat Nabi Muhammad SAW, dan ini berdasarkan penfasiran mereka terhadap Al-Quran bahwa Nabi yang tidak membawa syariat sendiri tidak berakhir sesudah Nabi Muhammad SAW.
Sebagian lain---nampaknya waktu ini minoritas--- termasuk saya, tidak berpendapat mereka bukan Islam, karena pada kenyataannya mereka salat, berpuasa, berzakat dan berhaji tidak berbeda berbeda dengan kaum muslimin lainnya, yang secara eksplisit menyatakan bahwa mereka menjalankan syariat---dengan kata lain mengakui dan mencintai--- Nabi Muhammad SAW, tidak berbeda dengan kaum muslimin lainnya. Demikian pula Al-Quran yang mereka gunakan sebagai sumber keimanan dan amalan mereka, juga tidak berbeda dengan Al-Quran kaum muslimin lainnya, yaitu Al-Quran Rashm Usmani. Soal apakah paham mereka yang mengimani MGA itu seorang Nabi itu diterima Allah SWT atau tidak, tentunya hanya Allah Yang Maha Bijaksana sendiri yang mengetahuinya.
Selain itu itu Jemaah Ahmadiah juga dikenal antikekerasan dan sangat giat melakukan dakwah Islam ke segenap penjuru dunia. Baitul Futuh, masjid megah yang terletak di jantung Kota London berkapsitas 10 ribu jemaah, terbesar di Eropah, yang diresmikan tahun 2003 lalu, dibangun oleh Jemaah Ahmadiah. Tentu saja kiblatnya menghadap ke arah Ka'bah di Makkah Al-Mukarramah. Dengan kapsitas sebesar itu, mustahil kalau yang salat berjamaah di sana, termasuk Salat Jumat, terbatas hanya dari kalangan kaum muslimin Jemaah Ahmadiah saja.
Persoalannya sebenarnya sederhana saja. Kelompok pertama cenderung mengemukakan perbedaan, sedangkan kelompok kedua cenderung melihat persamaannya. Namun seperti saya kemukakan di atas, di kalangan kelompok pertama jelas tidak sedikit memiliki pandangan yang terdistorsi terhadap Ahmadiah.
Dengan demikian bagi kelompok pertama yang tetap berpendapat bahwa Jemaah Ahmadiah menyimpang tentunya sah-sah saja. Apalagi pendapat ini didukung jumhur ulama termasuk MUI, walaupun boleh ikut bangga bahwa ada orang Islam yang memperoleh hadiah Nobel untuk fisika, yaitu Prof Abusalam yang notabene seorang muslim Ahmadiah. Kalau mau disanggah, seyogyanya sanggah saja penfasirannya.
Persoalannya, mengapa harus melakukan serangan fisik, merusak dan berusaha membubarkan acara yang telah mendapat izin aparat keamanan? Tindakan premanisme dan main hakim sendiri ini tidak saja harus dikutuk, tetapi harus ditindak tegas dan tuntas oleh aparat penegak hukum, dan para pelaku, utamanya mereka-mereka yang bertanggung jawab harus dihukum sesuai dengan peraturan yang berlaku. Sekali ini dibiarkan, maka jangan terkejut nanti akan ada korban-korban tindakan anarkis berikutnya dengan dalih yang mereka ditetapkan sendiri.
Karena itu sikap Jemaah Ahmadiah Indonesia untuk tidak menyerah dan melakukan perlawanan hukum terhadap tindakan main hakim sendiri ini sangat tepat dan patut didukung. Apalagi penzaliman terhadap Jemaah Ahmadiah di Republik tercinta ini bukan yang pertama kalinya.
Namun yang lebih gawat, tindakan-tindakan seperti ini hanya akan semakin mencoreng wajah Islam dari sudut pandang orang-orang di luar Islam sebagai agama yang cuma mengemukakan violent, ketidakrukunan dan kebencian, bahkan sesama muslim sendiri. Belum kering rasanya tinta Koran menulis konflik berdarah antara kelompok Sunni dan Syiah di Pakistan muncul pula hal seperti di atas di Indonesia. Sepertinya bencana tsunami dan berbegai kemelut dan derita tak tertahankan yang dihadapi bangsa ini masih dianggap kurang apa?
Karena itu tidak mengherankan, ketika terjadi tragedi pemboman di London, banyak orang---termasuk saya---yang secara otomatis berfikir, ini pasti ulah jaringan Al-Qaidah.
Lalu akbibatnya tidak sulit diduga. Walaupun tudingan keterlibatan Al-Qaidah masih harus diuji kebenarannya, mayoritas kaum muslimin di Inggris atau di negara-negara barat lainnya yang tidak tidak punya sangkut paut dengan terorisme dan berusaha untuk hidup damai sesuai dengan tuntunan Islam yang bersumber dari---meminjam seorang netter di milis Apakabar---'authentic teaching of the Alquran' akan kena getahnya. Dan memang ternyata demikian seperti pemebakaran masjid di Inggris dan serangan terhadap pusat-pusat Islam di Selandia Baru. Belum tahu lagi serangan seperti apa yang akan terjadi di hari-hari berikutnya.
Dan ini hendaknya menjadi perhatian sungguh-sungguh dari seluruh umat Islam utamanya para ulama dan tokoh-tokoh umat, terutama Bapak-Bapak di MUI agar lebih mengemukakan kebersamaan serta bersikap tegas terhadap tindakan-tindakan premanisme atas nama Islam yang justru mencemongi Islam.
Akhirnya saya berharap pendapat saya di atas tidak dijadikan polemik ---dan kalau ada nilainya---menjadi refleksi kita bersama.
Ya, apalah awak ini.
Wassalam, Darwin
Kamis, 27 Desember 2007
JIKA SEANDAINYA AHMADIYAH DIBUBARKAN
Senin, 26 November 2007
Timbulnya Berbagai Musibah Bencana dan Kesusahan
Dari Sudut Pandang Kedatangan Imam Zaman
23 November 2007, di Masjid Agung Baitul Futuh, London, UK
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------
Huzur menerangkan sebab akibat terjadinya berbagai bencana yang kini tengah melanda seluruh dunia, dari sudut pandang kedatangan Hadhrat Masih Mau'ud / Imam Mahdi a.s.
Huzur bersabda, saat ini di seluruh dunia, baik di Barat maupun di Timur, ataupun di negara-negara maju maupun negara berkembang, semuanya tengah dilanda berbagai musibah. Sebagian mengkhawatirkan banyaknya gangguan di dalam negeri. Sebagian lagi mengalami ketakutan yang sangat akan ancaman terorisme internasional yang ditimbulkan oleh sikap politik ataupun yang mereka istilahkan berdasarkan agama – karena sesungguhnya tak ada satu pun agama yang sejati yang mengajarkan terrorism; khususnya lagi agama Islam. Sebab, di dalam Islam sangat diharamkan bagi seorang warganya untuk melakukan perbuatan makar. Namun, memang sangat disesalkan apabila ada pihak tertentu yang melakukan kekerasan atas nama agama.
Kemudian, banyak lagi negara yang tengah bergelut mengatasi berbagai bencana alam mereka. Pendek kata, setiap orang yang bersimpati kepada perikemanusiaan dan takut kepada Allah namun tidak berdaya, akan berkesimpulan, bahwa kini seolah tak ada lagi rasa tenteram hidup di dunia ini. Akan tetapi, pada situasi seperti sekarang ini, justru kaum Ahmadi-lah yang merasakan nikmat ketenteraman hati. Huzur bersabda, beliau banyak mendapat infomasi, baik dari dalam [Jemaat] maupun dari berbagai sumber lainnya, sebagian besar orang Ahmadi memprihatinkan situasi global maupun dalam negeri mereka saat ini. Sikap keprihatinan ini timbul sebagai dampak positif inqillabi-haqiqi keimanan mereka berkat ajaran Hadhrat Masih Mau'ud a.s.. Karena sesungguhnyalah salah satu tujuan kedatangan beliau adalah untuk menguatkan iman manusia sekaligus menunjukkan keberadaan Tuhan. Sebaliknya, keadaan manusia yang mengalami berbagai kecemasan ini dikarenakan mereka hanya mengandalkan berbagai hal kepada material-duniawi. Terputus hubungan mereka dengan Tuhan. Maka sabda beliau a.s., beliau adalah diutus untuk memperbaiki hubungan manusia dengan Tuhan yang menciptakan mereka, dan juga untuk membatalkan kekerasan atas nama agama. Huzur bersabda, dua hal utama perintah di dalam Alqur'an adalah berkaitan dengan cinta kepada tauhid Ilahi dan sikap simpati kepada sesama manusia.
Huzur bersabda, kita beruntung sudah menerima kebenaran Imam Zaman, yang diutus untuk memperbaiki dunia yang kini tengah dilanda sikap mementingkan diri sendiri. Dia menunjukkan jalan untuk menghindari diri dari keburukan tersebut. Maka tugas setiap orang Ahmadi-lah untuk menunjukkan tauhid-Ilahi, menunjukkan hubungan pribadi mereka dengan Allah Swt, sekaligus bersimpati kepada sesama manusia. Huzur bersabda, sudah sejak lebih dari seratus tahun yang lalu Jemaat ini sudah berkhidmat, memperlihatkan hal itu semua dengan sebaik-baiknya.
Kita harus senantiasa berusaha dan menjelaskan kepada dunia, latar belakang sebab-musabab timbulnya berbagai bencana alam maupun gangguan keamanan yang kini tengah terjadi di sekeliling kita. Lakukanlah sesuai kemampuan yang ada. Melalui surat kabar ataupun media massa lainnya, serta berbagai cara yang lain. Sampaikanlah pesan tabligh, bahwa berbagai macam ketidak-nyamanan ini tidak akan berakhir, dan ketenteraman akan sulit didapat apabila pelecehan dan kekerasan terhadap seorang yang diutus Tuhan masih terus dilakukan. Badai taufan, berbagai musibah, bencana alam ataupun cuaca ekstrim akibat perubahan iklim global dlsb, akan terus mendera. Hendaklah direnungkan; sudah lebih dari seratus tahun yang lalu seseorang telah mengingatkan, jika manusia tidak peduli terhadap pesan Ilahi ini, maka Dia pun akan menujukkan [hukuman-Nya] melalui berbagai bencana alam. Beliau pun sudah mengingatkan akan adanya berbagai macam gempa bumi, yang tingkat dan macam penggenapannya sungguh menakjubkan selama periode seratus tahun belakangan ini.
Merujuk kepada badai taufan dan banjir di Bangladesh, Huzur bersabda, mereka mengatakan hal itu merupakan badai taufan terbesar selama 47 tahun terakhir ini, yang menyebabkan 600,000 orang telah kehilangan tempat tinggalnya. Ditambah dengan berbagai kerugian material lainnya. Namun dengan karunia Allah Swt, meskipun sejauh ini tidak ada kaum Ahmadi yang dilaporkan mengalami sesuatu kerugian yang fatal. Huzur bersabda, sejumlah pekerja sukarela dari Humanity First UK (Jemaat Inggris) dan [Jemaat] Canada sudah berangkat ke Bangladesh membawa berbagai bantuan yang diperlukan. Nyatalah, Jemaat [Ahmadiyah] senantiasa siap sedia menolong penderitaan orang lain di manapun berada, sebagaimana telah dilakukan di berbagai belahan dunia. Padahal, selama tak kurang dari 2 (dua) tahun terakhir ini kaum Ahmadi di Bangladesh mengalami penganiayaan berat. Massa yang awam dan kurang berpendidikan dipengaruhi sedemikian rupa untuk merusak harta benda milik kaum Ahmadi; Akan tetapi, Jemaat Ahmadiyah senantiasa siap memberi bantuan manakala diperlukan. Inilah yang membedakan Jemaat Imam Mahdi a.s. yang sejati, karena beliau sendiri telah menyampaikan, bahwa salah satu tugas beliau adalah untuk bersimpati kepada sesama manusia.
Selanjutnya Huzur menyinggung keadaan di negara Pakistan. Di sana, selama ini kaum Ahmadi dilarang mengucapkan Allahu Akbar; dilarang mengucapkan Shalawat kepada Rasulullah Muhammad Saw. Mereka mengatakan amal shalih tersebut adalah perbuatan kriminal yang harus dikenai hukuman penjara selama beberapa tahun. Mereka tidak sadar, bahwa mereka tidak akan berhasil merampas kecintaan kepada Allah dan kepada Rasulullah Saw dari qalbu setiap orang Ahmadi.
Masih segar dalam ingatan ketika 2 (dua) tahun lalu gempa bumi kuat mengguncang wilayah Pakistan. Ratusan ribu orang menjadi korban. Namun, meskipun berbagai penganiayaan berat - yang didukung pemerintah Pakistan melalui pemberlakuan Undang-undangnya yang buruk - dilakukan terhadap kaum Ahmadi, Jemaat ini tetap memberikan bantuan dalam jumlah besar. Kita mendirikan sejumlah tenda bantuan darurat yang berlangsung selama beberapa bulan. Salah satu tenda bantuan kesehatan dicoba dibakar oleh mereka yang anti, agar ditutup. Namun kita tetap melanjutkan bantuan. Pasca gempa bumi kuat tersebut, sebagian besar masyarakat di sana masih mengalami gangguan psikologis. Maka Jemaat mendirikan pusat rehabilitasi khusus untuk pasien tersebut di Kashmir dengan biaya besar. Huzur bersabda, Hadhrat Masih Mau'ud a.s. telah menanamkan sikap untuk mengkhidmati manusia dengan ikhlas di dalam diri kita. Menyoroti situasi terakhir di Pakistan, keletihan, akibat berbagai gangguan, pembunuhan dan kekacauan tengah berlangsung. Pihak pemerintah dan pegawainya saling menantang, kaum politisi berusaha menarik keuntungan untuk kepentingan mereka sendiri. Pihak judikatif, dan penegak hukum pun demikian. Sebelum ini pun, ada pemerintahan dalam pemerintah di Islamabad. Kini, terjadilah pemberontakan di Sawat (suatu wilayah di Pakistan). Satu surat kabar melaporkan, kaum bersenjata tersebut dulunya membantu pemerintah, tetapi sekarang mereka berbalik melawan. Tak ada ancaman dari luar, tetapi jika tentara harus memerangi musuh dalam selimut, justru lebih berbahaya.
Huzur bersabda, pada tahun 1974 ketika pemerintah Pakistan menyatakan kaum Ahmadi sebagai non-Muslim mereka menuduh bahwa Rabwah dibangun untuk mendirikan pemerintahan sendiri. Tak sadarkah mereka kini: Adakah pemerintahan di Rabwah ? Ataukah contoh makar yang nyata di Sawat itu ? Kaum Ahmadi senantiasa menghormati hukum, bahkan meskipun tanah hak milik mereka dirampas pihak lain. Alih-alih melawannya dengan kekerasan, kaum Ahmadi menempuh jalur hukum. Akan tetapi, setelah berlangsung selama 30 (tiga puluh) tahun, Pengadilan Tinggi masih belum memberikan keputusan. Sementara itu, berbagai bangunan ilegal dibiarkan berdiri di atasnya. Ketika mereka diberi tahu masalah ini melanggar hukum dan pelecehan terhadap Pengadilan Tinggi, mereka menjawab, apa pedulimu. Ini tanggung jawab kami.
Huzur bersabda, karena situasinya demikian, hal terburuk yang dapat terjadi adalah merajalelanya korupsi di setiap departemen di negara tersebut. Ini dikarenakan iman mereka sudah memudar, dan peringatan akan adanya Hari Pengadilan (Yaumid-Din) dianggap cerita belaka. Jika direnungkan, semua kekacauan, musibah dan gangguan yang tengah dialami negara tersebut dikarenakan mereka telah menolak Imam Zaman.
Huzur bersabda, dalam situasi negara diberlakukan dalam keadaan darurat, Undang-undang dan Peraturan Negara dibatalkan. Namun, Undang-undang yang sangat buruk, yakni yang menyatakan kaum Ahmadi non-Muslim tetap dinyatakan berlaku. Huzur bersabda, ketakutan mereka terhadap pihak yang dapat menyebarkan terror atas nama agama melebihi rasa takut mereka kepada Tuhan.
Huzur menghimbau kita semua untuk mendoakan negara Pakistan dan kaum Ahmadi di Pakistan, agar jangan sampai dijadikan sasaran. Adalah tanggung jawab kita dengan berbagai cara untuk mengingatkan mereka, bahwa hal tersebut sama halnya dengan mencampuri Undang-undang Ilahi. Huzur bersabda, sebagian orang yang berpikiran waras mulai menyuarakan pendapat mereka, bahwa semua hal yang kini membahayakan situasi negara Pakistan adalah dikarenakan Allah Taala sudah murka. Namun agaknya masih kurang jelas bagi mereka, mengapa Tuhan murka terhadap mereka. Padahal sudah jelas dinyatakan, bahwa Allah Taala akan memperlihatkan tanda-tanda dukungan-Nya atas setiap pendakwaan beliau [Hadhrat Masih Mau'ud a.s.]. Perhatikanlah hal ini !
Mereka tidak hanya memberlakukan berbagai Undang-undang yang aniaya, bahkan membiarkan kaum Ahmadi disyahidkan hanya dikarenakan mereka orang Islam-Ahmadiyah. Meskipun satu atau dua pengadilan telah digelar untuk kasus kriminal ini, namun selama Undang-undang tersebut masih diberlakukan, maka setiap pemerintahan yang berdiri, akan berpartisipasi dalam keaniayaan ini.
Huzur bersabda, hubbul wathon minal iman, cinta tanah air adalah sebagian dari iman. Oleh karena itu, kita sampaikan kepada pemerintah Pakistan dan bangsanya, bahwa jika mereka ingin menghindari hukuman Tuhan, berlakulah adil. Ambilah pelajaran dari situasi yang kini tengah terjadi di Afghanistan. Dulu, 2 (dua) orang Ahmadi terkemuka disyahidkan di negara tersebut – dan sudah dikhabar-gaibkan kepada Hadhrat Masih Mau'ud a.s. bahwa di tempat dimana 2 (dua) orang tersebut disyahidkan, Allah Swt akan menjadikan bangsa-bangsa tersebut menjadi jamaah beliau. Kini, ada kaum Ahmadi di Afghanistan, meskipun tidak banyak, namun sudah menunjukkan kebenaran janji Ilahi tersebut. Peringatan Hadhrat Masih Mau'ud a.s. kepada negeri Kabul telah sempurna, sehingga orang yang merenungkannya akan berkesimpulan, bahwa semua ini memang berasal dari Allah Swt.
Huzur bersabda, satu hal yang ingin beliau ingatkan kepada seluruh anak bangsa [Pakistan] ini adalah gunakanlah akal sehat. Dan jangan mendewakan manusia. Negara Pakistan didirikan dengan maksud untuk memberikan kebebasan kepada kaum Muslimin. Qaid Azam / Pemimpin Besar (Muhammad Ali Jinnah) telah membawa kaum Muslimin dari keaniayaan, dan memberi mereka negara yang di dalamnya ajaran Islam dapat dipraktekkan. Demikian pun berbagai agama lainnya. Kebebasan beragama dan hak-hak azasi setiap warga negaranya dijamin. Akan tetapi sayang, berbagai pemerintahan yang datang silih berganti telah ikut campur dalam urusan agama. Bertindak tidak adil. Dan tidak menegakkan amanat keadilan dalam pemerintahan mereka. Malah melakukan penganiayaan sedemikian rupa terhadap golongan yang beriman.
Huzur bersabda, kami kaum Ahmadi demikian cintanya kepada negara Pakistan. Dalam perjuangan merebut kemerdekaannya, kami banyak memberikan pengorbanan, demikian pun berbagai peperangan sesudahnya. Kini pun kita memberikan berbagai sumber daya yang kita miliki untuk membantu mereka, ketika dibutuhkan. Huzur bersabda, beliau berharap para Ahmadi Pakistani dimanapun mereka berada, senantiasa mencintai negaranya, yang untuk itu mereka mendoakan. Demikian besarnya jumlah orang Ahmadi di Pakistan, dan berkat doa-doa merekalah Pakistan terselamatkan. Sebaliknya, berbagai aksi mereka yang menamakan diri kaum patriot justru membawa [negara itu] ke jurang kehancuran.
Huzur kemudian mengomentari pernyataan seorang Anggota Parlemen Eropa, yang mengatakan agar jangan menghentikan bantuan untuk negara Pakistan karena akan berdampak buruk terhadap kaum miskin. Namun sebaliknya, sabda Huzur, seorang pemimpin di sana [ Benazir Bhutto] dan lainnya mengatakan, bantuan dari Uni Eropa harus dihentikan, agar rezim yang sedang memerintah mengalami tekanan. Nyatanya, berbagai pihak di Pakistan praktis telah mengundang pihak luar untuk ikut campur di dalam negeri mereka. Dan dengan bangga menyatakan, bahwa mereka telah dapat mengatasi masalah yang telah berlangsung selama 90 tahun.
Semoga Allah memberi karunia kepada negara ini. Bila pun ada beberapa pemimpin yang tidak berperasaan tidak dapat diperbaiki lagi, semoga Allah memberi negarawan yang baik, yang berkenan di hati; untuk itulah hendaknya setiap Ahmadi, khususnya Ahmadi Pakistani, baik yang tinggal di Pakistan maupun di luar negeri, agar mendokan hal ini.
Selanjutnya Huzur menyinggung situasi di Indonesia. Saat ini gerakan anti-Ahmadiyyah lainnya tampak merebak lagi. Di berbagai daerah, beberapa rumah dan masjid milik orang-orang Ahmadi diserang, dan orang-orangnya diancam. Beberapa instansi / departemen pemerintah tampak berdiri menyokong di belakang situasi tersebut untuk menciptakan kesan salah, bahwa negara menjadi tidak stabil dan membahayakan, sehingga dapat melapangkan jalan mereka untuk membuat pelarangan terhadap Jemaat Ahmadiyah. Akan tetapi Allah akan menggagalkan rencana buruk mereka. Mereka pikir mereka dapat menghabisi Jemaat dengan cara itu. Mereka sudah merencanakan dan mengupayakannya hal semacam itu sejak seratus tahun ini. Kalaulah Jemaat ini buatan manusia, tentu sudah habis sejak lama. Akan tetapi, Hadhrat Masih Mau'ud a.s. telah dijanjikan oleh Allah Taala, bahwa Jemaat ini akan berhasil dan terus tumbuh berkembang. Oleh karena itu kita tidak khawatir bahwa mereka akan berhasil menghabisi Jemaat Ahmadiyyah, ataupun memasung perkembangannya di Indonesia. Dengan karunia Allah Taala, kaum Ahmadi Jamaat Indonesia dikenal baik semangat pengorbanannya; Bila pun ada satu dua orang yang menjadi lemah imannya, Allah Taala menggantinya dengan lebih banyak lagi orang-orang yang kuat keimanan dan keyakinannya.
Huzur bersabda, kita menyaksikan kebenaran wahyu yang diterima Hadhrat Masih Mau'ud a.s.: "Aku akan sampaikan tablighmu ke seluruh pelosok dunia"; yang penggenapannya senantiasa lebih mulia dan bertambah-tambah lagi pada setiap harinya. Kita tidak perlu mengkhawatirkan Jemaat. Yang perlu diprihatinkan adalah semoga Allah melindungi orang-orang Ahmadi dari segala keburukan. Huzur bersabda, kaum Ahmadi di seluruh dunia harus senantiasa ingat, agar jangan main hakim sendiri. Akan tetapi juga jangan sampai lekang mengkhidmati manusia karena berbagai penentangan terhadap mereka. Dan tidak pula mengendurkan upaya pertablighan Dai Ilallah.
Huzur bersabda, beberapa tahun yang lalu ketika gempa tsunami menyapu Indonesia, pada sat itu tengah terjadi gerakan anti-Ahmadiyah yang sengit. Namun, kita tetap membantu mereka, karena dengan karunia Allah Swt qalbu kita senantiasa dipenuhi rasa simpati terhadap penderitaan manusia. Adalah kewajiban kita untuk membantu mereka meskipun mereka akan berusaha menyengat kita kembali. Karena ganjaran pahala kita tidak tergantung kepada mereka. Hanya Allah-lah yang memberikan karunia-Nya. Tugas kita hanyalah menebar kebaikan demi untuk menarik keridhaan-Nya. Untuk itu, setiap Ahmadi hendaknya bekerja keras disertai dengan doa dan sabar istiqamah. Jangan merasa lelah karena penganiayaan, karena kewajiban harus tetap dilaksanakan.
Membacakan ayat 2 dan 154 Surah Al Baqarah, Huzur bersabda, ayat-ayat ini memerintahkan kita agar kembali kepada Allah dengan penuh kerendahan hati (tawadhu); karena berbagai penganiayaan ini hanya cobaan, yang memerlukan kesabaran dan istiqamah agar dapat terus merambah maju bergerak. Menghadapi berbagai cobaan ini kita tidak perlu meminta bantuan kekuatan duniawi, melainkan hanya kepada Allah Swt saja. Melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi keburukan. Pertolongan Ilahi segera datang dengan segala kebesarannya. Kemenangan nyata Jemaat ini adalah penggenapan kebenaran janji Ilahi, bahwa pada akhirnya Jemaat Ahmadiyah, Islam yang sejati inilah, yang akan unggul.
Membacakan ayat 48 Surah Ibrahim (14:48), Huzur bersabda, setiap Ahmadi hendaknya yakin, bahwa sesuai dengan janji Ilahi ini, pertolongan Allah senantiasa menyertai Jemaat yang dikasihi-Nya ini. Huzur mendoakan, semoga para penentang kita tidak menjadi mangsa hukuman Allah Swt – sebagaimana dikemukakan oleh ayat ini – disebabkan oleh kedunguan mereka. Semoga mereka menyadari peringatan Ilahi ini.
Huzur bersabda, boleh jadi mereka dapat menyusahkan kita untuk sementara waktu. Akan tetapi mereka sekali-kali tidak akan berhasil merampas ketenteraman hati dan ketenangan pikiran sebagai buah karunia keimanan kita. Kita senantiasa memohon bantuan Allah dan berdoa, "ihdinaa shiratal mustaqiim", tunjukilah kami jalan yang lurus. Tidak menunjukkan ketergesa-gesaan. Karena tugas kita-lah untuk memperlihatkan sikap sabar yang tinggi, sehingga kita menjadi pewaris berbagai karunia Allah Swt.
Setelah membacakan ikhtisar berbagai tulisan Hadhrat Masih Mau'ud a.s., Huzur mengakhiri Khutbah dengan doa, semoga Allah memudahkan setiap diri kita untuk tetap melangkah di jalan ketakwaan, dan senantiasa memahami missi Ahmadiyyah, Islam yang sejati, sesuai dengan ajaran dan harapan Hadhrat Masih Mau'ud a.s..
transltByMMA/LA112507; Edited byMP.BudiR/MarkazJAI
Please note: Department of Tarbiyyat, Majlis Ansarullah USA takes full responsibility of anything that is not communicated properly in this message.
Jumat, 19 Januari 2007
Ktbh 19 Januari 07
Sifat Al-Rahman Allah Taala
(Ikhtisar Khutbah Jumah Hadhrat Khalifatul Masih V, Atba
19 January, 2007 di Masjid Baitul Futuh, London, UK)
Huzur Atba menerangkan Sifat Al-Rahman (Maha Pemurah) Allah Swt pada Khutbah Jumah beliau kali ini. Mengingatkan kembali topik masalah ini yang telah beliau khutbahkan pada beberapa kali Jumah lalu, Huzur merujuk kepada ayat 12 Surah Yasin (36:12): "Innama tunjiru manittaba'adzikra wa hasiyarrahmaa bilghaib, fabassirhu bimaghfiratiwwa-ajrin kariim"; yang artinya:"…………………………………………………………………………………………….
yakni sifat Rahman yang mencakup Rahmaniyyat, senantiasa terwujud melalui berkat dan karunia Ilahi. Keuniversalan dan keberkatanNya melingkupi semua makhluk.
Hadhrat Masih Mau'ud a.s. menjelaskan bahwa dikarenakan sifat Rahman-Nya inilah Allah memenuhi segala kebutuhan makhluk sesuai dengan kebutuhannya masing-masing. Bahkan menyediakan segala kebutuhan untuk keberlangsungan kehidupan mereka.
Langit dan bumi telah diciptakan ribuan tahun lalu sebelum makhluk hidup diciptakan. Kemudian manusia menerima karunia sifat Rahmaniyyat-Nya yang terbesar, berupa segala sesuatu ditundukkan-Nya bagi kebutuhan mereka.
Maka dikarenakan karunia-Nya inilah – sebagai tanda rasa syukur – manusia hendaknya peduli dan dekat dengan Tuhan. Namun sangat disayangkan, pada kenyataannya sebagian besar manusia tidak menyadari akan hal ini. Mereka sudah demikian banyak menerima karunia Ilahi, namun tidak bersyukur.
Dikarenakan sifat Rahmaniyyat-Nya inilah Dia pun mengirimkan para Utusan-Nya, untuk menuntun umat manusia ke arah kebaikan dan mengingatkan mereka agar menjauhi keburukan. Tetapi kebanyakan manusia tidak berkehendak untuk memperbaiki dirinya. Sebaliknya, justru para Utusan-Nya inilah yang menderita karena ulah kaumnya itu. Dan tak ada Utusan-Nya yang demikian menderitanya selain Rasulullah Muhammad Saw. demi kebaikan seluruh umat manusia, sebagaimana tercantum di dalam Al-Quran Surah 18, ayat 7 dan Surah 26, ayat 4.
Huzur bersabda, adalah sangat penting bagi kemajuan rohani untuk senantiasa lekat dengan Tuhan Yang Maha Pemurah; inilah sebabnya mengapa ayat Alquran 36:12 ini diturunkan kepada Rasulullah Saw, "Engkau hanya akan berhasil memberi ingat kepada mereka yang berkehendak untuk mengikuti Sang Pemberi Ingat, dan hati mereka diliputi rasa takut kepada Tuhan. Maka, berilah khabar suka kepada meeka tentang pengampunan dan ganjaran pahala yang besar."
Bertabligh dan Bertablighlah Untuk Menyelamatkan Dunia
Allah Ar-Rahman senantiasa memberi semua jenis karunia-Nya bagi manusia ciptaan-Nya. Dia telah mengirimkan kesempurnaan ajaran-Nya (Islam) namun sekaligus dikatakan tiada paksaan di dalamnya. Jika keimanan anda sejati, meskipun hanya di dalam hati, maka anda pun akan diberkati dan akan memperoleh kedekatan lebih lanjut kepada Tuhan. Melalui Rasulullah Saw, kita dinasehati, bahwa salah satu cara untuk mensyukuri hal ini, adalah dengan bertabligh. Inilah cara untuk membuktikan kebenaran Rasulullah Saw dan abdinya yang sejati, ialah Hadhrat Masih Mau'ud a.s.; Maka tugas kita sekarang untuk menyampaikan pesan tabligh ini kepada orang lain; jangan pernah berkecil hati bila hasilnya minim. Yakinlah, kita akan memperolehnya seberapapun kecil jumlah mereka yang menerima. Hal ini akan mendatangkan Keridhaan-Nya kepada kita, dan juga bagi mereka.
Huzur menasehati, hendaknya kita pun mengadakan perubahan-perubahan suci di dalam diri kita terlebih dahulu, barulah kemudian bertabligh dengan niat suci semata-mata untuk mencari Keridhaan-Nya. Laksanakanlah apapun rintangannya. Satu-satunya cara untuk menyelematkan dunia dari kehancurannya adalah apabila mereka dapat memahami dan mengindahkan Allah Ar-Rahman. Jika tidak, maka berbagai bentuk bencana pun akan menimpa mereka. Tugas kewajiban kita hanyalah menyampaikan amanat-Nya, setelah itu serahkan kepada Allah, terserah kepada-Nya untuk menghidupkan mereka yang telah mati [rohaninya]. Sebagai orang Ahmadi, tugas menyampaikan risalah tabligh ini demikian wajibnya. Sampaikanlah kepada setiap orang disertai contoh baik perilaku diri kita, dan dengan menggunakan berbagai sumber daya yang ada.
Membacakan ayat 45 dan 46 Surah Maryam (19:45-46):"Yaa abati laata'budisysyaithaan, inna syaithaana kana lirrahmaani adziim" , yang artinya:"……………………………………………………………………; Huzur menerangkan dengan perumpamaan Hadhrat Ibrahim a.s. yang telah memperingati "ayahnya" agar melepaskan diri dari segala urusan syaithani, yang pada masa sekarang ini pun penyembahan berhala sedunia telah mewujud dalam segala bentuknya dan manusia telah tenggelam di dalamnya. Hampir tak ada seorang pun yang tertarik untuk bersyukur kepada Tuhan-nya Yang Maha Pemurah. Bahkan mereka yang mengaku sebagai kaum Muslimin pun memutuskan tali hubungan dengan Allah Ar-Rahman mereka, disebabkan mereka meniru-niru cara hidup kaum lain.
Gambaran keadaan "akhir zaman" sebagaimana tercantum di dalam Surah Al-Jummah (62:12): "Wa idza ro-awtijaratan awlahwa infaddu ilaiha wa tarakuuka qooimaa, qul maa-indallaahi khairumminallahwi wa minattijaarati, wallaahu khairurrazikiin" , yang artinya "………………". Nyatalah, zaman sekarang inilah yang dimaksud dengan akhir zaman itu. Huzur mengingatkan [agar jangan sampai terkecoh] oleh apa-apa yang tampaknya baik tidaklah sebaik yang diduga, sebab senyatanya mereka itu mengarahkan manusia kepada kerusakan.
Berantaslah Berhala Akhir Zaman Sekarang Ini
Menolak Imam Zaman saja sudah berarti tenggelam jauh ke dalam ajakan syaithan, dan mereka yang telah terjebak ke dalamnya tak dapat berhubungan dengan Allah Ar-Rahman. Dikarenakan, mengikuti jalan Syaithan sudah berarti menyembahnya.
Huzur bersabda, kita perlu bermawas-diri dan mengoreksi diri dengan seksama, jangan sampai berkata-kata atau berperilaku yang dapat mengundang ketidak-ridhaan Allah Taala. Membacakan sebuah Hadith Qudsi, Huzur menerangkan, bahwa Allah akan memelihara hubungan dengan mereka yang memelihara tali silaturahmi dengan keluarga dan sanak saudara mereka. Dan sebaliknya akan memutuskan hubungan-Nya bagi siapa yang memutuskan tali silaturahmi mereka. Hadith ini menggunakan istilah Rahim (kandungan) yang akar katanya berasal dari Rahman juga, yang artinya hubungan dekat.
Huzur bersabda, setiap hari kita perlu mawas diri terhadap kelemahan sekecil apapun, dan berusaha untuk meninggalkannya. Jika tidak, manusia yang tampaknya menyembah Tuhan namun kenyataannya tidak menyembah Tuhan Ar-Rahman, melainkan jatuh ke dalam jebakan syaithan. Perumpamaan dilestarikannya ayat-ayat Quran mengenai Hadhrat Ibrahim a.s. menasehati "ayahnya", berlaku terus hingga Akhir Zaman bagi umat manusia sekarang ini.
Sebagai akibat kejahilan massal inilah berbagai bencana menerpa dunia. Selain memiliki sifat Rahman, Allah pun sekaligus bersifat Al-Jabbar (Maha Penakluk) dan Al-Qahhar (Maha Kuasa) yang memberikan hukuman. Sifat Pemberi Hukuman-Nya ini menerpa apabila mekipun manusia sudah diberi karunia dan keridhaan-Nya namun mereka terus melakukan pelanggaran. Huzur menerangkan, sifat Rahmaniyyat Allah Taala ini tidak berarti menjadi batal dikarenakan [ada sifat Hukuman]-Nya. Sebab, akibat perbuatan jahiliyah manusia yang terus meneruslah sehingga mereka dihukum.
Huzur mengingatkan, inilah sebabnya kita harus senantiasa ber-Istighfar, sebab, sesuatu hukuman hanya akan menimpa mereka yang terus menerus melakukan pelanggaran. Al-Qur'an dipenuhi dengan ayat-ayat yang menerangkan bahwa perbuatan dosa dapat diampuni dengan cara taubatan-nasuha.
Huzur kemudian membacakan beberapa Hadith untuk lebih memperjelas topik masalah ini.
Huzur bersabda, kita perlu mengkomunikasikan kepada dunia, bahwa Kristen menolak Tuhan Yang Maha Pemurah, dan tidak memiliki konsep Tuhan yang benar dikarenakan mempercayai seorang anak manusia mengorbankan dirinya untuk menebus dosa umat manusia. Al-Qur'an menegaskan di dalam Surah Maryam ayat 89 – 94, bahwa menyandangkan seseorang anak manusia sebagai anak-Nya, demikian celakanya hingga niscaya langit dan bumi terguncang sebagai akibatnya. Maka di zaman puncak kemusyrikan sekarang inilah, Allah mengutus "Massiah Muhammadi" membatalkan konsep yang keliru ini.
Huzur bersabda, diutusnya Hadhrat Masih Mau'ud a.s. merupakan salah satu perwujudan dari sifat Ar-Rahman Allah Taala. Maka sebagai ungkapan rasa syukurnya, kita harus berupaya lebih keras lagi untuk menyampaikan pesan risalah tabligh ini ke seluruh dunia. Kita perlu melaksanakan tugas mulia ini dengan gigih sehingga berhak untuk lebih banyak lagi menerima Keridhaan-Nya. Semoga Allah mempermudah pekerjaan ini.
Selanjutnya Huzur bersabda, setelah beliau mengumumkan peran aktif Lajnah Imaillah Jerman [pada Jumah lalu] dalam hal pengumpulan dana pembangunan Masjid Jamaat Berlin, berbagai Badan Lajnah Imaillah lainnya pun menyatakan keinginan mereka untuk ikut berpartisipasi. Mereka mengutarakan hal ini mengingat semangat pengorbanan harta benda Lajnah Imaillah Qadian untuk pembangunan Masjid ini sejak beberapa puluh tahun lalu. Keluarga keturunan mereka di mana-mana menyatakan ingin menghidupkan kembali semangat pengorbanan harta generasi awal mereka, dan juga atas nama mereka sendiri. Huzur bersabda, beliau tidak akan mengumumkan sesuatu Gerakan [Pengumpulan Dana] yang khusus untuk keperluan ini, namun apabila berbagai Lajnah dan Nasirat/Banat lain ingin berpartispasi, dipersilakan; Lajnah Jemaat Jerman tidak akan berkeberatan karenanya. Huzur selanjutnya menyerukan doa untuk kelancaran dan keberhasilan pembangunan Masjid tersebut, mengingat adanya sikap kontra dari sekelompok masyarakat.
