Tampilkan postingan dengan label Berita pilihan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita pilihan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 27 Februari 2011

Quraish Shihab: Pelaku Penganiayaan Ahmadiyah Sesat

... siapapun yang melakukan penganiayaan terhadap jamaah Ahmadiyah, karena ajaran itu sesat maka orang itu lah yang sebenarnya sesat. Karena Islam tidak mengajarkan penganiayaan maupun kekerasan terhadap jamaah lain.



Baca selengkapnya di Okezone.com

Minggu, 13 Februari 2011

Ahmadiyah Disayang, Ahmadiyah Ditendang

Tahun 1907, seorang wanita dari kalangan elite Jerman, Carolyn, masuk Islam. Putri keluarga turunan bangsawan Prusia ini tertarik Islam setelah membaca buku-buku agama Islam yang bagus dan berstandar Eropa.

Masuk Islamnya Carolyn sangat menggemparkan orang Jerman saat itu. Maklumlah, awal abad ke- 20, wajah Islam di Eropa masih terlihat prengus dan kotor. Propaganda politik dan media massa di Eropa terhadap wajah Islam yang bengis dan menakutkan masih menghantui bangsa Jerman. Masuk Islamnya Carolyn barangkali adalah momentum penting dari “perkenalan” Islam di Jerman— negara termaju dan terbesar di dunia saat itu setelah Inggris Raya. Islamnya Carolyn pun membawa dampak besar: orang Eropa, khususnya Jerman, mulai sedikit mengurangi “alergi”-nya pada Islam. Keterkejutan berikutnya terjadi lagi pada 1982. Sebuah masjid besar berdiri di Kota Pedro Abad, kota kecil di Provinsi Cordova, Spanyol.

Masyarakat Spanyol ramai membincangkan berdirinya Masjid Basyarah yang megah itu karena inilah masjid pertama yang dibangun di Spanyol dalam kurun 750 tahun setelah musnahnya kejayaan Islam di Eropa yang berpusat di Negeri Matador itu. Bagi bangsa Eropa Barat yang pernah diduduki imperium Islam selama 750 tahun, kehadiran masjid tersebut membangkitkan kembali kenangan kekalahan Eropa yang Kristen di tangan Imperium Turki Osmani yang Islam. Lalu, 21 tahun kemudian, tepatnya tahun 2003, masyarakat Eropa kembali dikejutkan oleh berita dibangunnya masjid Islam termegah dan terbesar di Eropa Barat, yaitu Masjid Baitul Futuh, di Distrik Morden, Kota London, Inggris.

Majalah berkala di Inggris The Informer menyebutkan bahwa Masjid Baitul Futuh merupakan salah satu bangunan dari 50 bangunan terkenal dan terbaik di dunia. Pada 2003, masyarakat Eropa juga dibuat tercengang dan kagum ketika media-media Eropa memberitakan bahwa umat Islam di Jerman dalam kurun waktu 50 tahun ke depan akan membangun 100 buah masjid di seluruh Jerman. Salah satunya yang telah sangat menggemparkan masyarakat Jerman, khususnya masyarakat Kota Berlin, ialah pembangunan Masjid Khadijah di Kota Berlin pada akhir 2008. Setelah itu, peresmian Masjid Mubarak di Distrik Saint Prix, Paris, Prancis.

Orang Eropa yang menghargai kebebasan dan hak asasi manusia tampaknya menyokong pembangunan tempat-tempat ibadah Islam tersebut. Ini terjadi karena ajaran Islam yang disebarkan di masjid-masjid itu mengusung tema love for all, hatred for none (cinta kepada siapa pun, tidak benci kepada siapa pun). Saat ini, sudah ribuan, bahkan jutaan, buku diterbitkan di Amerika, Eropa, Asia, dan Australia oleh umat Islam yang membangun masjid-masjid megah di Eropa tersebut. Jutaan orang telah diajak memahami Islam yang agung, mulia, dan penuh kasih melalui buku-buku itu.

Kebanggaan

Di pihak lain, nun jauh dari Eropa, dalam sebuah pengajian akbar yang dihadiri ribuan umat Islam di Yogyakarta, awal tahun 1980-an, seorang dai terkenal KH Ir HA Syahirul Alim, MSc, dosen kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) UGM, dengan bangga menyatakan bahwa akhir abad ke-20 merupakan momentum kembalinya Islam di pentas ilmu pengetahuan tingkat dunia. Saat itu, umat Islam di seluruh dunia sedang menikmati euforia “Nobel Fisika” yang diterima Prof Dr Abdus Salam dari Pakistan pada 1979.

Prof Dr Ahmad Baiquni, ahli fisika nuklir, yang bersahabat baik dengan Abdus Salam diundang berceramah di mana-mana di Indonesia untuk menjelaskan kesesuaian ayat-ayat Alquran dengan ilmu pengetahuan alam yang telah mengantarkan Abdus Salam meraih Nobel Fisika yang amat bergengsi itu. Penerbit Pustaka Bandung secara khusus menerbitkan buku kecil berjudul Islam dan Ilmu Pengetahuan karya Prof Baiquni yang di dalamnya menjelaskan penemuan sang nobelis Abdus Salam tersebut. Salam menjadi penerang sains Islam dan menjadi penggugah kaum muslimin untuk kembali meraih kejayaan di bidang sains yang pernah digenggamnya pada abad ke ketujuh sampai ke-15, tulis Republika.

Harian Islam terbesar di Indonesia ini juga memuji Salam sebagai saintis Islam terbesar dan ilmuwan muslim pertama yang mendapatkan hadiah Nobel paling bergengsi di bidang fisika atom di tengah terpuruknya sains Islam dalam lima abad terakhir. Abdus Salam kelahiran Pakistan, 29 Januari 1926 itu meraih gelar doktor fisika dalam usia 26 tahun dari Cambridge University, Inggris. Abdus Salam dalam penelitiannya berhasil menemukan fakta bahwa sesungguhnya semua gaya yang ada di jagat raya—yaitu gaya gravitasi, elektromagnet, nuklir kuat, dan gaya nuklir lemah–– hakikatnya merupakan satu kesatuan. Ide penelitian Abdus Salam ini, menurut pengakuannya, terinspirasi dari pernyataan Alquran dalam Surah Al-Mulk ayat 3 tentang keseimbangan ciptaan Allah.

Abdus Salam meninggal tahun 1996. Dunia Islam berbelasungkawa amat dalam atas kepergiannya. Dua pemimpin Pakistan yang amat bermusuhan, Benazir Bhuto dan Ziaul Haq, bersatu memberikan gelar pahlawan Pakistan sejati untuknya. Kerajaan Arab Saudi yang menggelar karpet merah ketika Abdus Salam datang ke Tanah Suci ikut belasungkawa atas wafatnya Salam. Mereka sayang kepada Abdus Salam karena beliau telah mengharumkan nama Islam di pentas internasional. Lalu, siapakah Prof Abdus Salam yang punya energi luar biasa untuk mencari titik temu ayat-ayat Alquran dengan ilmu pengetahuan alam itu? Umat Islam yang mana yang membangun masjid megah di Spanyol setelah 750 tahun nama Islam terkubur di Negeri Real Madrid itu?

Buku karya siapakah yang berhasil mengislamkan Carolyn, wanita bangsawan Prusia yang kemudian membalikkan citra Islam di Jerman itu? Ternyata, mereka semua adalah orang-orang Ahmadiyah. Abdus Salam adalah orang Ahmadiyah. Yang membangun masjid di Spanyol juga orang Ahmadiyah. Buku yang dibaca Carolyn juga karya orang Ahmadiyah. Orang-orang Ahmadiyah punya banyak prestasi luar biasa karena punya prinsip mendahulukan cinta dan karya dalam beragama. Salah satu tafsir Alquran yang fenomenal di dunia, The Holy Quran, karya Maulana Muhammad Ali, intelektual Ahmadiyah, menjadi bacaan yang menginspirasi tokoh-tokoh pejuang Indonesia seperti Bung Karno dan HOS Cokroaminoto. Di dunia, The Holy Quran juga menjadi rujukan kajian Islam di Eropa dan Amerika.

Tapi bagaimana kini di Indonesia? Orang Ahmadiyah yang telah mengharumkan nama Islam di dunia internasional itu kini ditendang. Rumahnya dihancurkan. Mereka dicerca, mereka disiksa. Negeri dengan 200 juta umat Islam itu lupa bahwa sumbangan Ahmadiyah terhadap syiar Islam itu luar biasa. Orang Ahmadiyah yang jumlahnya jutaan di dunia tampaknya hanya bisa bersabar menunggu redanya amarah masyarakat Indonesia yang, katanya, cinta Rasul Muhammad itu.

Seandainya umat Islam bertanya kepada Jalaluddin Rumi dan Ibnu Arabi, apa bedanya antara jamaah Ahmadiyah dan jamaah Islam Ahli Sunnah, jawabannya niscaya seperti ini: kedua jamaah ini sama-sama mencintai Allah dan Rasul-Nya, Muhammad. Sampai titik ini, marilah kita merenung: Rasulullah diutus ke dunia untuk menyempurnakan akhlak manusia, agar sesama manusia saling mengasihi dan saling mencintai. Bukan sebaliknya, menyerang dan menyiksa manusia hanya karena perbedaan paham seperti di Pandeglang dan Bogor.(*)

M Bambang Pranowo
Guru Besar UIN Jakarta, Direktur Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian


sumber: Okezone

Selasa, 08 Februari 2011

Imam Jamaah Muslim Ahmadiyah menanggapi “Pembunuhan secara Brutal Jemaah Muslim Ahmadiyah Indonesia”

PRESS RELEASE

Imam Jamaah Muslim Ahmadiyah menanggapi “Pembunuhan secara Brutal Jemaah Muslim Ahmadiyah Indonesia”

Pelaku akan bertanggung jawab kepada Tuhan Yang Maha Esa

Dengan sangat sedih bahwa Jamaah Muslim Ahmadiyah kemarin menegaskan bahwa pada tanggal 6 Februari 2011, 3 anggota jemaahnya telah disyahidkan di Indonesia dalam suatu serangan yang benar-benar barbar dan brutal.

Serangan itu terjadi di Cikeusik, Banten Selatan di Indonesia dan dilakukan oleh sekelompok besar orang berjumlah antara 700 dan 1.000. Serangan itu terjadi meskipun polisi telah diperingatkan
beberapa hari sebelumnya tentang segera terjadinya serangan terhadap Muslim Ahmadi setempat. Meskipun telah ada peringatan, polisi tetap gagal untuk mengambil tindakan atau langkah-langkah untuk mencegah serangan.

Dilaporkan bahwa para penyerang datang ke pusat Jamaat
Muslim Ahmadiyah setempat dengan mengacungkan parang, tombak, pisau dan senjata lainnya. Akibatnya 3 orang Ahmadi disyahidkan didepan umum dan 5 lainnya terluka berat. 2 buah mobil, 1 rumah dan 1 sepeda motor milik Jemaah Ahmadiyah juga dibakar. Sejauh ini belum ada yang ditangkap oleh polisi sehubungan dengan insiden ini.

Berbicara dari London dalam respon terhadap pembunuhan brutal ini, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Imam Jamaat Ahmadiyah Internasional berkata:

"Serangan mengerikan ini telah menyebabkan kesedihan dan rasa sakit bagi semua Muslim Ahmadi seluruh dunia dan tentunya untuk semua orang yang cinta damai. Kebiadaban pelaku tidak mengenal batas; bahkan orang yang menonton pembantaian kejam itu sambil bertepuk tangan dan bersorak-sorai. Polisi setempat dan yang berwenang gagal melindungi Muslim Ahmadi dan membiarkan mereka diserang secara kejam dan brutal.

Setiap kali serangan seperti
terjadi, Jamaat Muslim Ahmadiyah baik di Indonesia dan di seluruh dunia selalu menampilkan kesabaran dan mencari ketenangan diri tidak dengan balas dendam atau kekerasan tetapi melalui doa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan hal ini akan selalu tetap terjadi. Meskipun demikian dipastikan bahwa mereka yang telah menimbulkan kekejaman ini akan bertanggung jawab kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dan akan menghadapi hukuman-Nya. Sementara itu, Jamaah Muslim Ahmadiyah akan terus untuk sujud di depan Tuhan Yang Maha Kuasa dan memohon Perlindungan dan Pertolongan-Nya."

Jamaah Muslim Ahmadiyah mendesak Pemerintah Indonesia untuk memenuhi mandatnya untuk melindungi semua warga negaranya, tanpa memandang agama. Dengan ini juga menjelaskan bahwa tidak ada Muslim Ahmadi terlibat dalam segala bentuk provokasi apapun dan bahwa serangan ini termotivasi hanya karena fakta bahwa korban adalah anggota Jamaat
Muslim Ahmadiyah . Ini adalah tragedi bahwa Muslim Ahmadi mati syahid dalam cara yang paling barbar karena mereka memilih untuk menjalani hidup mereka dengan motto Ahmadiyah 'Love for All, Hatred for None (Cinta untuk Semua, Kebencian Tidak untuk Siapapun)'.

Sebuah Siaran Pers lebih
lanjut dengan perincian rincian almarhum dan selanjutnya akan segera diterbitkan. 



Sumber: http://www.alislam.org/

Rabu, 14 Januari 2009

Darah Untuk Palestina

SEGERA
Siaran Pers
Rabu, 14 Januari 2009

PMI Kembali Buka Rekening untuk Bantu Penduduk Gaza-Palestina


Palang Merah Indonesia (PMI) kembali membuka rekening bank untuk menggalang dana kemanusiaan untuk membantu penduduk Gaza-Palestina. Aksi penggalangan dana PMI yang kedua ini adalah melalui rekening Bank Central Asia (BCA) Kantor Cabang Utama Thamrin dengan nomor rekening 206 300 6688 atas nama Palang Merah Indonesia.

“Tujuan kami membuka kembali rekening penggalangan dana untuk Gaza-Palestina ini adalah untuk lebih memudahkan masyarakat yang ingin menyalurkan bantuan mereka, sehingga akan lebih banyak bantuan dana yang bisa disalurkan,” kata Ketua Umum PMI Mar’ie Muhammad di Markas Pusat PMI, pada Selasa (13/1). “Dengan adanya rekening yang kedua ini, maka masyarakat yang ingin membantu bisa mengirimkan bantuan dananya ke BRI atau BCA,” tambah Mar’ie.

Sebelumnya pada Senin (3/1), PMI telah membuka rekening penggalangan dana untuk penduduk Gaza-Palestina melalui rekening Bank Rakyat Indonesia (BRI) Kantor Cabang Pancoran dengan Nomor Rekening 0390-01-000030-30-3 atas nama Palang Merah Indonesia. Hingga hari ini, bantuan dana yang telah terkumpul dari masyarakat melalui rekening BRI adalah sejumlah Rp. 102.453.758.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada masyarakat yang telah menyalurkan bantuannya. Kita berharap bersama agar malapetaka kemanusiaan yang dialami warga Gaza-Palestina bisa segera selesai,” kata Mar’ie Muhammad.

Direncanakan seluruh bantuan dana yang terkumpul melalui kedua rekening ini akan disalurkan melalui Bulan Sabit Merah Palestina (PRCS) bekerjasama dengan Komite Internasional Palang Merah (ICRC).

Aksi kemanusiaan ini sebagai bagian dari simpati seluruh jajaran PMI bagi masyarakat di Gaza yang meninggal, terluka, kehilangan harta benda, serta keluarganya, termasuk para korban di kalangan anak-anak.

“Bantuan ini semata-mata adalah untuk kemanusiaan. Dan selama untuk kemanusiaan, PMI akan membantu masyarakat yang menderita, baik di luar maupun di dalam negeri,” tegas Mar’ie Muhammad.


Untuk informasi lebih lanjut, dapat menghubungi: MR. Aswi Reksaningtyas, Kepala Divisi Komunikasi Markas Pusat PMI, Tlp. 021-799 2325, ext. 222 atau Ria Thahir, Kepala Sub Divisi Humas Markas Pusat PMI, Tlp. 021-799 2325, ext. 201. Kontak Media: Aulia Arriani, Hp. 0816 795 379. E-mail. pmi@palangmerah.org

Senin, 17 November 2008

PIdato Kemenangan Obama -- Menyentuh dan Inspiratif


Teman-teman. ..silahkan baca Pidato Kemenangan Obama President-elect di Chicago, menyentuh dan memberikan inspirasi.



PRESIDENT ELECT BARRACK OBAMMA'S VICTORY SPEECH TRANSCRIPT

Hello, Chicago.
If there is anyone out there who still doubts that America is a place where all things are possible, who still wonders if the dream of our founders is alive in our time, who still questions the power of our democracy, tonight is your answer.

It's the answer told by lines that stretched around schools and churches in numbers this nation has never seen, by people who waited three hours and four hours, many for the first time in their lives, because they believed that this time must be different, that their voices could be that difference.It's the answer spoken by young and old, rich and poor, Democrat and Republican, black, white, Hispanic, Asian, Native American, gay, straight, disabled and not disabled.

Americans who sent a message to the world that we have never been just a collection of individuals or a collection of red states and blue states.
We are, and always will be, the United States of America.

It's the answer that led those who've been told for so long by so many to be cynical and fearful and doubtful about what we can achieve to put their hands on the arc of history and bend it once more toward the hope of a better day.It's been a long time coming, but tonight, because of what we did on this date in this election at this defining moment change has come to America.


A little bit earlier this evening, I received an extraordinarily gracious call from Senator McCain.Senator McCain fought long and hard in this campaign. And he's fought even longer and harder for the country that he loves. He has endured sacrifices for America that most of us cannot begin to imagine. We are better off for the service rendered by this brave and selfless leader.

I congratulate him; I congratulate Governor Palin for all that they've achieved. And I look forward to working with them to renew this nation's promise in the months ahead.

I want to thank my partner in this journey, a man who campaigned from his heart, and spoke for the men and women he grew up with on the streets of Scranton... and rode with on the train home to Delaware, the vice president-elect of the United States, Joe Biden.

And I would not be standing here tonight without the unyielding support of my best friend for the last 16 years ... the rock of our family, the love of my life, the nation's next first lady ... Michelle Obama. Sasha and Malia ... I love you both more than you can imagine. And you have earned the new puppy that's coming with us ... to the new White House.

And while she's no longer with us, I know my grandmother' s watching, along with the family that made me who I am. I miss them tonight. I know that my debt to them is beyond measure.To my sister Maya (Maya Soetoro -Ng - kakak tirinya), my sister Alma, all my other brothers and sisters, thank you so much for all the support that you've given me. I am grateful to them.

And to my campaign manager, David Plouffe ... the unsung hero of this campaign, who built the best -- the best political campaign, I think, in the history of the United States of America.

To my chief strategist David Axelrod ... who's been a partner with me every step of the way.To the best campaign team ever assembled in the history of politics ... you made this happen, and I am forever grateful for what you've sacrificed to get it done.

But above all, I will never forget who this victory truly belongs to. It belongs to you. It belongs to you.

I was never the likeliest candidate for this office. We didn't start with much money or many endorsements. Our campaign was not hatched in the halls of Washington. It began in the backyards of Des Moines and the living rooms of Concord and the front porches of Charleston. It was built by working men and women who dug into what little savings they had to give $5 and $10 and $20 to the cause.

It grew strength from the young people who rejected the myth of their generation's apathy ... who left their homes and their families for jobs that offered little pay and less sleep.

It drew strength from the not-so-young people who braved the bitter cold and scorching heat to knock on doors of perfect strangers, and from the millions of Americans who volunteered and organized and proved that more than two centuries later a government of the people, by the people, and for the people has not perished from the Earth.This is your victory.

And I know you didn't do this just to win an election. And I know you didn't do it for me.You did it because you understand the enormity of the task that lies ahead. For even as we celebrate tonight, we know the challenges that tomorrow will bring are the greatest of our lifetime -- two wars, a planet in peril, the worst financial crisis in a century.

Even as we stand here tonight, we know there are brave Americans waking up in the deserts of Iraq and the mountains of Afghanistan to risk their lives for us.There are mothers and fathers who will lie awake after the children fall asleep and wonder how they'll make the mortgage or pay their doctors' bills or save enough for their child's college education.

There's new energy to harness, new jobs to be created, new schools to build, and threats to meet, alliances to repair.The road ahead will be long. Our climb will be steep. We may not get there in one year or even in one term. But, America, I have never been more hopeful than I am tonight that we will get there.

I promise you, we as a people will get there.
AUDIENCE: Yes we can! Yes we can! Yes we can!

There will be setbacks and false starts. There are many who won't agree with every decision or policy I make as president. And we know the government can't solve every problem.

But I will always be honest with you about the challenges we face. I will listen to you, especially when we disagree. And, above all, I will ask you to join in the work of remaking this nation, the only way it's been done in America for 221 years -- block by block, brick by brick, calloused hand by calloused hand.

What began 21 months ago in the depths of winter cannot end on this autumn night.This victory alone is not the change we seek. It is only the chance for us to make that change. And that cannot happen if we go back to the way things were.

It can't happen without you, without a new spirit of service, a new spirit of sacrifice.So let us summon a new spirit of patriotism, of responsibility, where each of us resolves to pitch in and work harder and look after not only ourselves but each other.

Let us remember that, if this financial crisis taught us anything, it's that we cannot have a thriving Wall Street while Main Street suffers.

In this country, we rise or fall as one nation, as one people. Let's resist the temptation to fall back on the same partisanship and pettiness and immaturity that has poisoned our politics for so long.

Let's remember that it was a man from this state who first carried the banner of the Republican Party to the White House, a party founded on the values of self-reliance and individual liberty and national unity.Those are values that we all share. And while the Democratic Party has won a great victory tonight, we do so with a measure of humility and determination to heal the divides that have held back our progress.

As Lincoln said to a nation far more divided than ours, we are not enemies but friends. Though passion may have strained, it must not break our bonds of affection.

And to those Americans whose support I have yet to earn, I may not have won your vote tonight, but I hear your voices. I need your help. And I will be your president, too.

And to all those watching tonight from beyond our shores, from parliaments and palaces, to those who are huddled around radios in the forgotten corners of the world, our stories are singular, but our destiny is shared, and a new dawn of American leadership is at hand.

To those -- to those who would tear the world down: We will defeat you. To those who seek peace and security: We support you. And to all those who have wondered if America's beacon still burns as bright: Tonight we proved once more that the true strength of our nation comes not from the might of our arms or the scale of our wealth, but from the enduring power of our ideals: democracy, liberty, opportunity and unyielding hope.That's the true genius of America: that America can change. Our union can be perfected. What we've already achieved gives us hope for what we can and must achieve tomorrow.

This election had many firsts and many stories that will be told for generations. But one that's on my mind tonight's about a woman who cast her ballot in Atlanta. She's a lot like the millions of others who stood in line to make their voice heard in this election except for one thing: Ann Nixon Cooper is 106 years old.

She was born just a generation past slavery; a time when there were no cars on the road or planes in the sky; when someone like her couldn't vote for two reasons -- because she was a woman and because of the color of her skin. And tonight, I think about all that she's seen throughout her century in America -- the heartache and the hope; the struggle and the progress; the times we were told that we can't, and the people who pressed on with that American creed: Yes we can.

At a time when women's voices were silenced and their hopes dismissed, she lived to see them stand up and speak out and reach for the ballot. Yes we can.

When there was despair in the dust bowl and depression across the land, she saw a nation conquer fear itself with a New Deal, new jobs, a new sense of common purpose. Yes we can.

AUDIENCE: Yes we can.

When the bombs fell on our harbor and tyranny threatened the world, she was there to witness a generation rise to greatness and a democracy was saved. Yes we can.

AUDIENCE: Yes we can.

She was there for the buses in Montgomery, the hoses in Birmingham, a bridge in Selma, and a preacher from Atlanta who told a people that "We Shall Overcome." Yes we can.

AUDIENCE: Yes we can.

A man touched down on the moon, a wall came down in Berlin, a world was connected by our own science and imagination. And this year, in this election, she touched her finger to a screen, and cast her vote, because after 106 years in America, through the best of times and the darkest of hours, she knows how America can change.Yes we can.

AUDIENCE: Yes we can.

America, we have come so far. We have seen so much. But there is so much more to do. So tonight, let us ask ourselves -- if our children should live to see the next century; if my daughters should be so lucky to live as long as Ann Nixon Cooper, what change will they see? What progress will we have made?This is our chance to answer that call. This is our moment.This is our time, to put our people back to work and open doors of opportunity for our kids; to restore prosperity and promote the cause of peace; to reclaim the American dream and reaffirm that fundamental truth, that, out of many, we are one; that while we breathe, we hope. And where we are met with cynicism and doubts and those who tell us that we can't, we will respond with that timeless creed that sums up the spirit of a people: Yes, we can.

Thank you.
God bless you. And may God bless the United States of America.

Jumat, 05 September 2008

Ahmadiyah di Sumsel Ternyata Tidak Dilarang

Setelah dikaji dengan lebih mendalam, ternyata yang dilarang itu hanya aktivitas ibadah yang bertentangan dengan ajaran Islam saja. Bukan aktivitas secara keseluruhan seperti yang dilansir berbagai media selama ini.

Hal ini terungkap dari pernyataan Mendagri, Mardiyanto usai bertemu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Kantor Presiden, Jakarta, Rabu (3/9).


"Kalau saya baca secara utuh dari keputusan-keputusan itu, sebetulnya keputusan ini menjabarkan dari SKB. Jadi larangannya adalah dalam menjalankan ibadah-ibadah yang tidak sesuai dengan ajaran Islam". Demikian pernyataan Mendagri.


Jika memang demikian, judul "Pelarangan" itu sebenarnya sudah merupakan kebohongan publik. Pemerintah seolah berusaha berkelit-kelit dengan memberikan pernyataan sekenanya untuk menghindari tekanan. Ahmadiyah sebagai kelompok minor yang tidak pernah melawan pemerintah akhirnya menjadi pilihan empuk untuk dikorbankan. Coba anda bayangkan jika yang dikorbankan adalah kelompok semacam FPI, apa kiranya yang akan terjadi??

Yaa.. memang sih masalahnya tidak sesederhana itu. Terlalu rumit benang kusut yang harus diurai. Pilihannya ada pada kita sendiri, apakah kita mau terjerat dalam lilitan benang kusut tersebut, atau kita mau keluar dari kekalutan dan melihat semuanya dari ketinggian dengan perspektif yang benar-benar luas dan jernih. Semuanya ada pada pilihan kita...

Baca berita selengkpnya di halaman asli di kompas.com >>>

Momentum 1 Ramadhan di Sumatera Selatan

Ahmadiyah kembali diusik. Tepat di permulaan bulan suci Ramadhan sebuah langkah "berani" telah diambil oleh Pemprov Sumsel terkait masalah Ahmadiyah. Atas desakan berbagai pihak, pemerintah Provinsi Sumatra Selatan (Sumsel), hari Senin (1/9), secara resmi melarang aktivitas Ahmadiyah di provinsi itu. Banyak pihak yang melayangkan protes atas langkah tersebut. Salah satunya adalah anggota Wantimpres yang juga merupakan salah seorang ahli hukum senior di Indonesia, Adnan Buyung Nasution, SH.


Buyung Protes Pelarangan Ahmadiyah di Sumsel


Jakarta - Pemprov Sumsel melarang aktivitas Ahmadiyah. Alasannya hal ini terkait tuntutan masyarakat. Tapi protes keras datang dari Adnan Buyung Nasution.

"Keputusan gubernur itu harus dibatalkan karena melampaui kewenangan yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang tertinggi dan semangat pluralisme," tulis Adnan Buyung dalam siaran pers yang diterima detikcom, Selasa (2/9/2008).

Anggota Wantimpres ini menilai keputusan Gubernur Sumsel Mahyudin MS nomor 563/KPTS/BAN.Kesbangpol & Linmas tentang larang terhadap aktivitas ahmdiyah jelas-jelas kebablasan dan bertentangan dengan semangat otonomi.

"Gubernur melampaui kewenangan yuridisnya, semestinya tidak mengatur di bidang agama. Dan aparat penegak hukum dalam menjalankan tugasnya harus berpedoman pada peraturan perundang-undangan, tidak boleh mengikuti pejabat yang sewenang-wenang," jelas Adnan Buyung.

Selain itu, keputusan itu juga bertentangan dengan SKB 3 Menteri yang tidak berisi pembubaran Ahmadiyah. Dan secara substansial bertentangan dengan pasal 29 UUD 1945.

"Setiap warga negara wajib mematuhi hukum dengan tidak melakukan upaya main hakim sendiri, apalagi melakukan aksi-aksi kekerasan," tandasnya.(ndr/crn)

Baca artikel di halaman asli di detiknews>>>


Kamis, 28 Agustus 2008

Hikmah Ajaran Menutup Aurat dalam Islam

Diakui maupun tidak, kebanyakan kaum pria tentu senang melihat keindahan fisik lawan jenis. Namun apakah anda pernah memikirkan dampaknya pada kesehatan anda? Bagaimana jika kebiasan anda menikmati pose-pose seksi kaum hawa ternyata justru membawa bencana pada kesehatan reproduksi anda sendiri??



Rabu, 27 Agustus 2008

Raja Abdullah Serukan Umat Beragama Jauhi Ekstremisme


Madrid,18/7 (Pinmas)--Raja Abdullah dari Arab Saudi menyerukan kepada umat beragama agar menjauhi ekstremisme dan mengadakan rekonsiliasi. Raja Abdullah juga menyerukan dialog konstruktif untuk membuka halaman baru rekonsiliasi setelah begitu banyaknya perselisihan.


Pertemuan di Madrid pada 16-18 Juli yang disponsori Arab Saudi dimaksudkan untuk mendekatkan umat Muslim, Kristen, dan Yahudi serta mengisolasi orang-orang yang memanfaatkan agama untuk membenarkan kekerasan dan intoleransi. Madrid dipilih karena kota ini menjadi rumah bagi berkembangnya ketiga agama besar itu dalam harmoni selama berabad-abad.


Raja Abdullah mengatakan, upaya sebelumnya untuk menggelar dialog antaragama gagal karena hanya terfokus pada perbedaan agama. "Jika ingin berhasil dalam pertemuan historis ini, kita harus menekankan persamaan yang kita miliki, yaitu kepercayaan dan iman kepada Tuhan,"ujarnya Kamis (17/7).


Selain umat ketiga agama, Raja Abdullah juga mengundang perwakilan umat Buddha, Hindu, dan Sikh. Peserta yang hadir antara lain mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair dan pendeta asal AS, Jesse Jackson.


Setelah upacara pembukaan, Rabu, dialog dilanjutkan dengan pertemuan tertutup. Sebuah komunike akhir akan dikeluarkan hari Jumat ini.


"Jika pertemuan ini bergerak maju dan ada pertemuan dengan perwakilan resmi Israel di Arab Saudi, ini akan menjadi permulaan bagus dalam sebuah proses historis. Jika tidak, ini hanya satu lagi kesempatan foto bersama," kata Rabi David Rosen dari Komite Yahudi Amerika.


Presiden Kongres Yahudi Sedunia Ronald Lauder menyebut pertemuan itu signifikan. Kardinal Jean-Louis Tauran dari Vatikan menggambarkan dialog antaragama itu sebagai langkah yang penuh semangat. "Ini adalah tugas pemimpin agama untuk bekerja bersama memperbaiki penghormatan nilai-nilai etis dan menghindari benturan peradaban," kata Lauder.


Isu yang dibicarakan dalam pertemuan mencakup etika, keluarga, dan lingkungan. (kcm/ts)

>>Berikut ini terjemahan sambutan dimaksud>>


Konferensi Dunia
Sambutan Raja Abdullah bin Abdulaziz dalam Konferensi Dunia tentang Dialog

Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Segala puji bagi Allah Yang Maha Kuasa, yang telah mewahyukan dalam Kitab Suci-Nya: "Wahai seluruh manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (terdiri) dari lelaki dan perempuan, dan Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu adalah yang paling bertakwa."

Damai dan rahmat atas Nabi Muhammad dan atas seluruh nabi dan rasul.

Yang Mulia, sahabatku, Juan Carlos, Raja Spanyol, Sahabat-sahabat yang terhormat:

Selamat datang, dan saya ucapkan terima kasih kepada Anda yang telah menjawab undangan kami dan hadir dalam dialog ini. Saya menghargai segala upaya yang anda lakukan dalam melayani kemanusiaan. Saya haturkan penghargaan setinggi-tingginya kepada sahabat-sahabat saya, Yang Mulia Raja Juan Carlos dan Kerajaan Spanyol, serta rakyatnya yang penuh keramahan menyambut berkumpulnya kita dalam konferensi ini di tanah air mereka, sebuah wilayah yang memiliki warisan bersejarah dan peradaban di antara umat-umat beragama, dan yang telah menjadi saksi koeksistensi antara rakyat dari berbagai suku bangsa, agama, dan kebudayaan, dan yang memberi sumbangan, bersama peradaban-peradaban lain, bagi kemajuan umat manusia.

Sahabat-sahabatku yang terhormat: saya datang kepada Anda dari tempat yang dekat dengan hati semua Muslim, tanah tempat Dua Masjid Suci, membawa sebuah pesan dari dunia Islam, yang mewakili para sarjana dan pemikirnya yang belum lama ini bertemu dalam lingkup baitullah.

Pesan ini menyatakan bahwa Islam merupakan sebuah agama yang tidak berlebih-lebihan dan bertenggang rasa; sebuah pesan yang menyerukan bagi dialog konstruktif di antara umat beragama; sebuah pesan yang berjanji membuka sebuah halaman baru bagi umat manusia yang di dalamnya – Insya Allah – musyawarah akan menggantikan konflik.

Sahabat-sahabatku yang terhormat: Kita semua percaya pada Tuhan yang Maha Esa, yang mengirimkan para utusan-Nya demi kebaikan umat manusia di dunia ini dan akhirat nanti. Sudah kehendak-Nya, Maha Besar Allah, bahwa manusia harus berbeda dalam keyakinan. Jika Allah Yang Maha Kuasa berkehendak, semua manusia akan memiliki agama yang sama. Kita bertemu hari ini untuk menegaskan bahwa agama-agama yang dikehendaki Allah Yang Maha Kuasa demi kebahagiaan umat seharusnya menjadi sarana untuk memastikan terwujudnya kebahagiaan itu.

Karena itu wajib hukumnya bagi kita untuk menyatakan kepada dunia bahwa perbedaan tidak harus menyebabkan konflik dan konfrontasi, dan untuk menyatakan bahwa tragedi-tragedi yang telah terjadi dalam sejarah manusia tidak ada hubungannya dengan agama, tetapi merupakan akibat dari ekstremisme yang sebagian umat dari setiap agama ilahiah, dan dari setiap ideologi politik, telah pernah mengalaminya.

Umat manusia dewasa ini sedang menderita akibat hilangnya nilai-nilai dan kerancuan konseptual, dan sedang melalui sebuah tahapan kritis di mana, terlepas dari segala kemajuan ilmu pengetahuan yang ada, kita sedang menyaksikan berkembang biaknya kejahatan, meningkatnya terorisme, terpecahnya keluarga, pemberontakan pikiran-pikiran kaum muda akibat penyalahgunaan obat-obatan, pemerasan yang lemah oleh yang kuat, dan kecenderungan-kecenderungan rasis penuh kebencian. Ini semua merupakan akibat dari kekosongan spiritual yang diderita orang karena mereka melupakan Tuhan, dan Tuhan menyebabkan mereka melupakan diri mereka sendiri. Tidak ada penyelesaian bagi kita selain menyepakati sebuah kesatuan pendekatan, melalui dialog di antara agama dan peradaban.

Sahabat-sahabatku yang terhormat: Kebanyakan dialog di masa lalu gagal karena mereka telah terpuruk menjadi tempat saling menuding yang memusatkan perhatiannya pada perbedaan-perbedaan yang ada dan melebih-lebihkannya; dengan upaya-upaya mandul yang justru semakin memperburuk dan bukannya meredakan ketegangan, atau karena mereka mencoba untuk mencampurkan agama dan keyakinan dengan alasan untuk mempererat persatuan mereka.

Ini adalah sebuah upaya yang sama-sama tidak akan membuahkan hasil karena umat tiap-tiap agama memiliki iman yang teguh terhadap keyakinan mereka masing-masing, dan tidak akan menerima pilihan lain yang ditawarkan. Jika kita ingin pertemuan bersejarah ini berhasil,
kita harus memusatkan perhatian pada persamaan-persamaan yang menyatukan kita, yaitu iman yang kuat kepada Tuhan, prinsip-prinsip yang mulia, dan nilai-nilai moral yang tinggi, yang merupakan intisari agama.

Sahabat-sahabatku yang terhormat: Manusia dapat menjadi penyebab kehancuran planet ini dan semua yang ada di dalamnya. Tapi manusia juga mampu mengubahnya menjadi sebuah oasis perdamaian dan ketenangan tempat para umat berbagai agama, keyakinan, dan filosofi dapat hidup berdampingan, dan orang dapat bekerja sama satu dengan yang lain dalam sikap saling menghormati, dan mengatasi berbagai permasalahan melalui dialog, bukan kekerasan.
Manusia juga mampu – dengan rahmat Allah – memusnahkan kebencian dengan cinta, dan kemunafikan dengan toleransi, yang dengan demikian memungkinkan semua umat manusia menikmati martabat yang telah dianugerahkan Yang Maha Kuasa kepada mereka semua.

Sahabat-sahabatku yang terhormat: Marilah kita jadikan dialog kita sebagai sebuah kemenangan keyakinan atas ketidakyakinan, kebajikan atas kejahatan, keadilan atas ketidakadilan, perdamaian atas konflik dan perang, dan persaudaraan manusia atas rasisme.
Karena itu, bersama Tuhan kita memulai, dan kepada-Nya kita memohon pertolongan. Saya mengulurkan sambutan dan menghaturkan penghargaan tulus saya kepada Anda semua.
Terima kasih dan damai bagi kita.

* Raja Abdullah bin Abdulaziz adalah Raja Kerajaan Arab Saudi.
Konferensi Dunia tentang Dialog berlangsung di Madrid pada 16-18 Juli 2008.

Senin, 25 Agustus 2008

Korban Lapindo Kritik Aa Gym dan Arifin Ilham


Jakarta - Korban lumpur Lapindo mengirim 'surat cinta' untuk dai kondang Abdullah Gymnastiar atau Aa Gym dan Arifin Ilham yang mengisi acara 'Indonesia Berzikir'. Mereka menyesalkan Aa Gym dan Arifin yang dinilai melupakan korban Lapindo.


'Surat cinta' yang meluapkan kekecewaan itu dituangkan para korban Lapindo melalui blog resmi mereka, berantaslapindo.wordpress.com yang diposting Senin (25/8/2008).

Para korban ini merujuk pada keikutsertaan kedua dai kondang itu pada acara 'Indonesia Berzikir' yang digelar Minggu 24 Agustus 2008 di Masjid Istiqlal, Jakarta. Acara yang digelar Majelis Az-Zikra bekerjasama dengan forum Al Bakrie pimpinan anak Menko Kesra Aburizal Bakrie, Anindya Bakrie.

Lihat berita selengkapnya di detiknews.com >>
Lihat Surat Cinta dari korban lapindo >>

Senin, 11 Agustus 2008

Lagi! Mesjid Ahmadiyah Dirusak

Sukabumi, Jum'at (8/8) di kaki Gunung Salak yang sejuk dan asri dengan kehijauan perkebunan teh yang menghampar bak permadani, sebuah tindakan anarkis kembali terjadi terhadap Ahmadiyah. Kali ini dua mesjid sekaligus rusak parah setelah diserbu massa di desa Lebaksari, Kecamatan Parakansalak. Sebelumnya sebuah mesjid di desa yang berdekatan (Parakansalak) juga habis dibakar massa setelah sehari sebelumnya memberi ultimatum yang dketahui oleh aparat.

Pangkalnya adalah masalah keyakinan. Masyarakat yang selama bertahun-tahun hidup rukun bersama-sama warga ahmadiyah disana, tiba-tiba saja menjadi benci. Ahmadiyah tidak merubah keyakinannya sedari awal, namun entah bagaimana paradigma warga menjadi berubah.

Diketahui bahwa upaya-upaya provokasi dan penghasutan memang kerap terjadi, terlebih sekarang ini. Namun demikian hal ini tidak disikapi oleh pihak berwajib sebagaimana mestinya. Malah yang terjadi adalah warga ahmadiyah yang ditekan agar memenuhi kehendak massa, dengan alasan untuk menjaga stabilitas keamanan.

Rabu, 18 Juni 2008

Pendapat Para Tokoh Indonesia Tentang "Peristiwa Monas"


SBY, Presiden:

* “Pemerintah akan menindak tegas ormas yang bersikap anarkistis.”

Sonny T Danaparamita, Sekjen Presidium GMNI:

* “Ormas-ormas yang dimaksud itu adalah ormas-ormas berlabel agama seperti Front Pembela Islam (FPI), Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) dan Forum Betawi Rempug (FBR).”

Widodo AS, Menko Polhukam:

* “Pemerintah tidak akan membiarkan atau memberi toleransi sedikit pun terhadap tindakan anarkis yang dilakukan individu maupun kelompok. Proses hukum akan dilakukan tanpa pandang bulu”
* “Tindakan-tindakan anarkis, tindakan-tindakan kekerasan, termasuk di dalam kualifikasi tindak pidana yang harus diproses secara hukum dalam sistem peradilan pidana,”


Ramli Hubarat, Staf Ahli MenkumHam:
* “Sesuai UU Nomor 8 Tahun 1985 tentang Organisasi Massa, pemerintah dapat membekukan pengurus organisasi termasuk organisasinya, jika organisasi tersebut melakukan tindakan-tindakan yang mengganggu ketertiban umum secara terus-menerus.”

Jusuf Kalla, Wapres:
* “Ormas apa saja selama tindakannya merusak akan ditindak tegas. “
* “Semua cara radikal yang merusak, itu kita larang karena melanggar hukum. Jadi, ini persoalannya, melanggar hukum. Mau berpikiran yang keras silakan asal, jangan melanggar hukum”
* “Orang yang bakar-bakar, lempar-lempar, itu semua terlarang berdasarkan hukum karena kita negara hukum”

Agung Laksono, Ketua DPR:
* “Sejumlah organisasi kemasyarakatan (Ormas) sudah ‘kebablasan’.”
* “Bangsa ini tidak menghendaki adanya ormas ekstrim.”

Maftuh Basuni, Menteri Agama:
* “Kalau ormas Islam kemudian anarkis itu perlu dipertanyakan. Itu jelas orang yang tidak mengerti Islam.”
* “Ormas mana saja yang berbuat tidak benar harus ditindak.”

Gus Dur, Mantan Presiden:
* “Tindakan anarkis merugikan semua pihak, karena itu akan lebih baik jika dibubarkan.”
* “Ormas tidak memiliki kewenangan menertibkan tempat-tempat yang menurut mereka melanggar norma agama.”
* “Ternyata ini dibiarkan saja oleh aparat. Heran saya.”

Tarwanto, Kapuspen Depdagri:
* “Ormas maupun LSM yang mengancam integritas bangsa dan menumbuhkan permusuhan berbau SARA, dapat dibubarkan oleh kepala daerah.”

KH Maman Imanullah, pengasuh Pondok Pesantren Al Mizan, Majalengka:
* “FPI, MMI maupun HTI tidak memperlihatkan wajah islam yang sebenarnya. Wajah Islam adalah wajah yang damai. Bukan wajah yang mereka perlihatkan sekarang ini, seperti wajah wuka-wuka.”

Habibie, Mantan Presiden:
* “Kehadiran Islam di dunia adalah untuk memberikan kesejukan. Sayangnya, banyak umat Islam yang terpancing dalam aksi kekerasan.”

Arbi Sanit, Pengamat Politik UI:
* “Apabila negara ingin berfungsi sesuai koridor hukum, maka ormas Islam garis keras yang ada di Indonesia harus segera dibubarkan.”
* “SBY harus secepatnya mengeluarkan Keppres untuk membubarkan mereka”

Sumber-sumber: Rakyat Merdeka, Kompas, Media Indonesia, Detik.com, Harian SIB, Sriwijaya Pos, dll

Selasa, 17 Juni 2008

Paska SKB Ahmadiyah, Kekerasan tidak kunjung reda..

SKB yang diterbitkan pemerintah menyusul maraknya desakan kelompok-kelompok anti ahmadiyah, diklaim sebagai upaya solusi damai atas konflik horizontal yang tengah berkembang. Di satu sisi tuntutan konstitusi atas kebebasan berkumpul dan berserikat begitu tegasnya dan mutlak tanpa dapat ditawar. Di pihak lain massa yang mengatas-namakan mayoritas umat islam, dengan mengusung isu agama diperkuat dengan UU PNPS 1965 tentang penodaan agama, tidak kurang desakannya kepada pemerintah untuk segera membubarkan Ahmadiyah. Bukan hanya mendesak, bahkan juga sampai mengancam.



Isyu kekerasan dikesampingkan begitu saja. Ancaman hukum pidana dianggap sepi. Bahkan mereka balik menuding pihak lain, ahmadiyah, juga telah melakukan kekerasan. Fakta berbicara sebaliknya, ahmadiyah adalah justru korban kekerasan, bukan pelaku. Hingga hari ini pun warga Ahmadiyah masih kerap mengalami intimidasi dan ancaman dari pihak-pihak yang benci. Salah satu kasus adalah seperti yang menimpa warga ahmadiyah di Parakansalak-Sukabumi. Setelah mesjidnya dibakar, hingga kini warga ahmadiyah disana belum lagi mendapatkan kembali ketenangan hidupnya. Teror masih kerap diterima. Berikut ini saya kutip berita dari kompas online. Kasus yang lain, tentunya masih sangat banyak, bahkan terlalu banyak untuk dimuat di surat kabar..


Rabu, 11 Juni 2008 | 17:53 WIB

SUKABUMI, RABU - Bupati Sukabumi, Jawa Barat, Sukmawijaya, memerintahkan jajarannya dan masyarakat Desa Parakansalak untuk mencopot stiker 'Non Ahmadiyah'. Menurut Bupati, penempelan stiker tersebut akan memperkeruh suasana di Parakansalak. "Stiker itu harus secepatnya dilepas. Di tengah kondisi seperti ini, pengkotak-kotakan harus dihindari," kata Sukmawijaya, Rabu (11/6).

Stiker berbunyi 'Keluarga besar Muslim Ahlu Sunah Wal Jamaah, Non Ahmadiyah' tertempel di seluruh rumah penduduk Parakansalak yang bukan merupakan anggota Jamaah Ahmadiyah Indoensia (JAI) usai keluarnya surat keputusan bersama. "Stiker itu ternyata tidak jelas dari mana sumbernya. Kita takut, jangan-jangan orang lain yang memasang dengan mengatasnamakan warga, tetapi tujuannya untuk memperkeruh suasana," kata Sukmawijaya.

Warga Ahmadiyah dan bukan Ahmadiyah hidup membaur dalam satu kompleks di pemukiman Parakansalak. Selama ini, mereka hidup bersama tanpa ada masalah.

Agustinus Handoko
Sent from my BlackBerry © Wireless device from XL GPRS/EDGE/3G Network

Source: www.kompas.com

Jumat, 09 Mei 2008

DPR Tuding MUI Main Belakang

Rabu, 7 Mei 2008 - 18:41 wib

Anggi Kusumadewi - Okezone

JAKARTA - DPR menuding MUI berada di balik ormas-ormas Islam yang menuntut digantinya dasar negara Pancasila menjadi syariah Islam.

"MUI itu seperti organisasi masyarakat yang menggunakan duit APBN, tapi membusukkan dari dalam. MUI bahkan menggalakkan kampanye dengan ormas Islam untuk mengganti Pancasila dengan syariah Islam," kata anggota Komisi III DPR dari Fraksi PDIP Eva Sundari usai mendampingi Ketua DPR Agung Laksono, menerima sejumlah kiai yang menyampaikan sikap terhadap Ahmadiyah di Gedung DPR, Jalan Gatot Subroto, Rabu (7/5/2008).

Hal ini menurut Eva sangat keterlaluan. MUI juga mengampanyekan khilafah. Jika MUI berada dalam negara RI, maka MUI harus menggunakan UU RI, bukan produk hukum luar. Dengan cara seperti itu, sudah selayaknya MUI harus segera diluruskan.

"Saya risau dengan MUI. Karena MUI sama sekali tidak menggunakan perundang-undangan dalam hidup di negara ini. Konstitusi dinegasikan," tudingnya.(hri)

Minggu, 27 April 2008

PENYERANGAN TERHADAP AHMADIYAH



Tadi malam (27/04/08) telah terjadi penyerangan terhadap mesjid Ahmadiyyah, di Desa Parakansalak, Kecamatan Parakansalak, Kab. Sukabumi, Jawa Barat. Massa terorganisir merusak dan menghancurkan mesjid tempat warga ahmadiyah biasa melakukan shalat berjamaah. Mesjid tersebut hanya berjarak kurang lebih 300 meter dari kantor polsek setempat. Ancaman serta rencana penyerangan tersebut sudah diketahui betul oleh aparat jauh-jauh hari sebelumnya. Namun, lagi-lagi aparat sepertinya KECOLONGAN.
Saya tidak pandai membuat review ataupun komentar.. tapi berikut ini ada tulisan bagus dari anggota milis ahmadina terkait peristiwa tersebut.
Kang Barik mohon izin ngambil idenya ya... thanks a lot.


=========================================================

Parakan Salak berada didaerah sebelah kanan jalan menuju Sukabumi setelah Cibadak dibawah kaki Gunung Salak.

SMS yang saya terima mengenai kejadian penyerangan terhadap warga masyarakat Ahmadiyah di desa Parakan Salak itu segera saja saya forward kebeberapa teman, diantaranya Eva Sundari anggota Komisi III DPRRI dari FPDIP.

Eva bereaksi cepat dengan memforward SMS saya itu keberbagai Pejabat Pemerintah terkait termasuk Intelpam Polri. Setelah itu beliau langsung menghubungi saya via HP.
Yang menanggapi cuma satu karena mungkin masih dipagi buta, yaitu Dirjen Kesbang Depdagri yang langsung kontak Polri, saya pikir bagus sekali tindakan pak Dirjen yang cepat dan tanggap ini.
Cuma SMS berikutnya terdengar sangat aneh dan lucu walaupun gak ada lucu3nya duhh...
Dengan nada marah dan prihatin mba Eva cepat menjawab SMS beliau yang kedua tersebut:

"jwbku: Hr ini laporan dr bondowoso HT bersama MUI setempat bikin seminar propaganda syariat islam dan kilafah. memaki Pancasila, ternyata dihadiahi SKB. bsk mrk lanjut kampanye di Situbondo (atas biaya APBN via MUI ~ Depag? ini tragedi) manusiawi harus perspektif korban, bukan perpetrators dong pak,,, bisa dianggap genocide, canada-UK sdh mengecam RI soal ahmadiyah, selain sidang HR council tahun lalu di Jenewa soal serangan thd gereja2. hati nuraninya siapa pak? Ditaruh mana konstitusi, UU 12/2005 ttg hak sipil- 39/99 ttg HAM?"

Teman2, beberapa parpol seperti PBB, PKS dan PPP malah melalui Ketuanya, Suryadharma Ali sudah mendesak SBY kemarin agar sesegera mungkin menerbitkan SKB pelarangan terhadap Ahmadiyah. Tadi malam sekitar pk.11.30 saya mendengar langsung dari yang berkompeten bahwa positif hari Senin ini SKB mengenai pelarangan terhadap Ahmadiyah resmi akan dikeluarkan oleh Pemerintah.

Dalam kesempatan "Ngopy bareng Jimly Asshiddiqie: Jumat kemarin dikantornya di Medan Merdeka Barat, beliau mengatakan jika hak2 konstitusi orang, lembaga atau organisasi hiang karena UU, maka UU tersebut dapat dimintakan Judicial Review ke MK. Seperti diketahui lewat pemberitaan surat kabar, SKB pelarangan ini bakal memuat pasal2 didalam UU No.1/PNPS/1965 dan dikatakan oleh Hendarman Supandji Jaksa Agung, jika tidak ingin ada SKB itu maka cabut terlebih dahulu UU No.1/PNPS1965.

Ini sangat serius sekali, karena UU No.1/PNPS/1965 dan pasal 156a secara tegas menyebutkan ancaman hukuman maksimal 5 tahun penjara bagi para pelanggarnya. Apakah nanti kaum wanita Ahmadi tidak lagi mengenakan jilbab karena takut dihukum penjara 5 tahun dan dianggap menghina Islam dan melanggar UU No.1/PNPS/1965? Apakah nanti saya berhenti mengucapkan salam karena takut dianggap menghina Islam? Apakah nanti kami tidak boleh lagi sholat menghadap Ka'bah, membaca Al Quranul Karim, mengikuti sunah suci Kanjeng Nabi Muhammad SAW karena nanti semua itu akan dianggap menghina dan melecehkan Islam? Jika Ahmadiyah 'dijadikan' agama baru oleh Pemerintah atau MUI nanti, siapakah yang mengajari kaum wanita Ahmadiyah berpakaian? Kemana sholat kami akan hadapkan? Adakah Kitab lain yang lebih baik bagi kami dari Al Quran untuk kami jadikan pedoman hidup?

Sudah lama sekali saya berupaya dan berpegang teguh dengan ayat "Kuu anfusikum waahliikum naaar".
Sejak muda dulu terlebih setelah menikah saya usahakan agar senantiasa membaca Al Quranul Karim setiap pagi seperti yang dianjurkan. Dulu walaupun masih dalam balutan 'Bedong" anak lelaki saya yang masih bayi, dengan hati2 saya letakkan disebelah kanan saya diajak dan dibiasakan untuk menunaikan sholat berjamaah. Sering saya terbangun ditengah malam, kadang menangis karena mengingat sepanjang siang tadi begitu banyak melakukan kesalahan yang dapat menimbulkan amarahNya. Segera saja saya berwudhu, bersujud didalam tahajjud, menangis memohon ampunan dan bimbinganNya agar hari esok lebih baik dari hari kemarin. Sebisa mungkin saya berjuang dalam menafkahi keluarga dengan nafkah yang halal dan thayiban dengan harapan agar nanti anak2 saya tumbuh menjadi insan2 yang dicintai Allah dan dicintai sesama umatNya.

Sahabatku pak Djohan yang saya cintai, saya memang belum menjadi muslim yang baik seperti yang diharapkan oleh Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Untuk itu saya akan tetap berjuang setiap harinya agar setiap helaan nafas saya mendatangkan ridhaNya seraya dengan segala kerendahan hati memohon bantuanNya untuk dapat mencontoh peri kehidupan sang kekasihNya, Muhammad Mustafa Rasulullah SAW. Jika ini dianggap oleh sebagian orang sebagai sesat, biarlah ya Allah, biarlah saya menjadi sesat yang sesesat-sesatnya.

Pak Djohan, apakah kita cukup hanya mengucapkan Inna lillahi wa inna ilayhi rajiun?
Bapak memiliki pengetahuan dan jaringan yang jauh lebih luas dari saya, mohon bimbingannya selalu dan harap maklum serta sabar dengan 'kelakuan' saya selama ini. Dalam hati saya menangis membaca postingan bapak, memang saya penuh dengan segala kelemahan dan kekuarangan. Saya amat membutuhkan bantuan dari seluruh sahabat.
Kalau bapak berputus asa dalam membantu, bagaimana dengan kami dan saudara2 kami yang kini bertambah rasa takutnya dengan kejadian penyerangan malam tadi di desa Parakan Salak Sukabumi?

Ma'afkan saya pak Djohan.

Was, Mubarik

Jumat, 25 Januari 2008

Ahmadiyah Tidak Termasuk Aliran Sesat

Tanggapan Atas Sepuluh Kriteria Aliran Sesat dari MUI


Rapat Kerja Nasional (Rakernas) 4-6 November 2007 lalu di Hotel Sari Pan Pacifik, Majlis Ulama Indonesia (MUI) telah menetapkan sepuluh kriteria aliran sesat.

Dalam dialog yang diprakarsai Balitbang Departemen Agama November 2007, pihak Ahmadiyah telah mengemukakan tanggapan atas kesepuluh kriteria MUI tersebut. Pada kesempatan itu Amir Jemaat Ahmadiyah Indonesia mengemukakan satu persatu tanggapan atas kesepuluh kriteria tersebut dan membuktikan bahwa Ahmadiyah tidak tergolong aliran sesat sesuai dengan sepuluh kriteria yang ditetapkan MUI tersebut. Dibawah ini tanggapan yang dikemukakan pihak Ahmadiyah.

1. Mengingkari salah satu rukun Iman dan rukun Islam,

Tanggapan: Ahmadiyah berpegang teguh kepada rukun Iman dan rukun Islam sebagaimana pernyataan pendiri Jemaat Ahmadiyah, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, “Sesungguhnya kami orang-orang Islam yang beriman kepada Allah yang Tunggal, yang segala sesuatu bergantung pada-Nya, yang MahaEsa, dengan pengakuan ‘tidak ada Tuhan kecuali Dia’; kami beriman kepada kitabullah Al Qur’an dan Rasul-Nya, paduka kita Muhammad Khataamun Nabiyyin; kami beriman kepada Malaikat, Hari Kebangkitan, Surga dan Neraka . . . dan kami menerima setiap yang dibawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik kami mengerti maupun kami tidak mengerti rahasianya serta kami tidak mengerti hakikatnya; dan berkat karunia Allah, aku termasuk orang-orang mukmin yang meng-esakan Tuhan dan berserah diri.” (Nurul Haq, Juz I, halaman 5)

2. Meyakini atau mengikuti akidah yang tidak sesuai dengan dalil syar’i (Al Qur’an dan As Sunnah),

Tanggapan: Ahmadiyah tidak meyakini atau mengikuti akidah yang tidak sesuai dengan Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW. Pendiri Ahmadiyah menyatakan dengan tegas: “Tidak masuk kedalam Jemaat kami kecuali orang yang telah masuk ke dalam Islam dan mengikuti Kitab Allah dan Sunnah-sunnah pemimpin kita sebaik-baik manusia (Muhammad Rasulullah SAW) dan beriman kepada Allah, Rasul-Nya yang MahaMulia yang Maha Pengasih dan beriman kepada khasyr dan nasyr, surga dan neraka jahiim; dan berjanji dan berikrar bahwa ia tidak akan memilih agama selain agama Islam dan akan mati diatas agama ini, agama fitrah, dengan berpegang teguh kepada kitab Allah yang Maha Tahu; dan mengamalkan setiap yang telah ditetapkan dari Sunnah, Al Qur’an dan Ijma’ para sahabat yang mulia; siapa yang mengabaikan tiga perkara ini sungguh ia telah membiarkan jiwanya dalam api neraka. (Lihat buku Ruhani Khazain jilid XIX, hal.315 dan Mawahibur-Rahman, hal 96).

3. Meyakini turunnya wahyu sesudah Al Qur’an,

Tanggapan: Ahmadiyah meyakini Al Qur’an itu wahyu Allah yang mengandung syariat yang lengkap dan terakhir, karena itu tidak akan turun lagi wahyu sesudah Nabi Muhammad SAW yang mengandung syariat yang mengganti atau merubah syariat Al Qur’an.

Keyakinan Ahmadiyah tentang wahyu didasarkan pada surah Asy Syura, 42:52 yang artinya, “Dan tidaklah mungkin bagi manusia agar Allah berfirman kepadanya, kecuali dengan wahyu langsung atau dari belakang tabir atau dengan mengirimkan seorang Rasul guna mewahyukan apa yang dikehendaki-Nya dengan izin-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Luhur, Maha Bijaksana.”

Kalimat ‘yukallimahullahu’ dalam ayat ini berbentuk fi’il mudhori yang menunjukkan waktu sekarang, dan akan datang. Ini menunjukkan bahwa adanya wahyu adalah kekal sebagaimana kekalnya Dzat Allah Taala sebab ia terbit dari sifat mutakallim Allah Yang Maha Kekal.

Sedangkan wahyu yang diturunkan hanya untuk menjelaskan dan menjunjung tinggi Al Qur’an akan tetap ada dan tetap diperlukan sampai kiamat dan wahyu-wahyu semacam itu pernah diterima para Sahabat Nabi Muhammad SAW. Sesudah Rasulullah Muhammad SAW wafat, para sahabat yang akan memandikan jenazah nabi Muhammad SAW menerima wahyu tentang bagaimana hendaknya jenazah Rasulullah Muhammad SAW , “Mandikanlah Nabi SAW sedang padanya ada pakaiannya.” (Hadits Al Baihaqi dari Siti Aisyah r.a. dalam Tarikhul Kamil jil. 2 halaman 16 dan Misykatus Syarif, jil. 3 babul Kiromat hal. 196-197). Imam Syafi’i, Imam Ahmad bin Hambal, Muhyiddin Ibnu Arabi dan lain-lain, juga pernah menerima wahyu jenis ini. (tentang hal ini dapat dibaca pada buku Muzhatul-Majalis, jil. 1 hal. 107, babul-khilmi washfchi; Al Mathalibul Jamaliyah, Cetakan Mesir tahun 1344 halaman 23; dan Al futuhatul Makiyyah, jilid III, halaman 35).

Pendapat yang mengatakan bahwa sama sekali tidak ada wahyu dalam bentuk apapun setelah kewafatan Rasulullah Muhammad SAW sama saja dengan mengatakan bahwa sifat mutakallim Allah Taala telah terhenti, dengan kata lain Allah telah mengalami pengurangan dalam sifat-sifat-Nya. Bila salah satu sifatnya dinyatakan telah tidak berlaku lagi maka tidak tertutup kemungkinan bagi sifat-sifat-Nya yang lain akan berkurang dan ini akhirnya merusak keimanan seseorang kepada Allah.

4. Mengingkari autentisitas dan kebenaran Al Qur’an,

Tanggapan: Ahmadiyah meyakini Al Qur’an yang kita warisi sekarang ini asli sebagaimana diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dulu, dan Ahmadiyah menerimanya secara utuh. Pendiri Ahmadiyah menyatakan: “Siapa yang menambah atau menguranginya maka mereka itu tergolong setan.” (lihat, Mawahibur Rahman, halaman 285) ”…. Kami tidak menambah sesuatu dan tidak pula mengurangi sesuatu dari Al Qur’an dan diatasnya kami hidup dan mati. Siapa yang menambah pada syariat Al Qur’an ini seberat dzarroh (atom) atau menguranginya atau menolak akidah ijma’iyah. Maka baginya kutukan Allah, malaikat dan manusia semuanya.” (Anjami Atham, halaman 144) ; “…Al Qur’an itu sesudah Rasulullah SAW (wafat) terpelihara dari perubahan orang-orang yang merubah dan kesalahan dari orang-orang yang menyalahkan; dan Al Qur’an itu tidak akan dimanshukhkan dan tidak akan bertambah dan berkurang sesudah Rasulullah (wafat).” (lihat, Ainah Kamalati Islam, halaman 21).

5. Menafsirkan Al Qur’an yang tidak berdasar kaidah-kaidah tafsir,

Tanggapan: Ahmadiyah menafsirkan Al Qur’an berdasarkan 7 kaidah penafsiran yang satu dengan lainnya tidak boleh saling bertentangan, yaitu:

(A) Dengan Al Qur’an sendiri. Tafsir suatu ayat tidak boleh bertentangan dengan ayat yang lain,

(B) Dengan tafsir Rasulullah SAW. Jika satu arti dari ayat Al Quran terbukti telah diartikan oleh Rasulullah SAW maka kewajiban seluruh orang Islam untuk menerima itu tanpa keraguan dan keseganan sedikitpun,

(C) Dengan tafsir para Sahabat Rasulullah SAW. Sebab mereka adalah pewaris utama dan pertama dari nur ilmu-ilmu nubuwat Rasulullah SAW,

(D) Dengan merenungkan isi Al Quran dengan jiwa yang disucikan,

(E) Dengan Bahasa Arab,

(F). Dengan hukum Alam, sebab tidak ada pertentangan antara tatanan rohani dengan tatanan alam semesta,

(G) Dengan tafsir yang diperoleh melalui bimbingan langsung dari Allah seperti wahyu, mimpi, dan kasyaf. (disarikan dari buku ‘Barakatud do’a’, karya Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad).

6. Mengingkari kedudukan hadist Nabi sebagai sumber ajaran Islam,

Tanggapan: Ahmadiyah tidak pernah mengingkari kedudukan Hadits sebagai sumber ajaran Islam. Pendiri Jemaat Ahmadiyah menegaskan, “Sarana petunjuk ketiga adalah Hadits, sebab banyak sekali soal-soal yang berhubungan dengan sejarah Islam, budi pekerti, fiqh dengan jelas dibentangkan di dalamnya. Faedah besar daripada Hadits selain itu ialah, Hadits merupakan khadim (abdi) Al Qur’an.” (Bahtera Nuh, bahasa Indonesia, edisi kelima, halaman 87-8 8)

7. Menghina, melecehkan dan atau merendahkan Nabi dan Rasul,

Tanggapan: Ahmadiyah tidak pernah menghina, melecehkan atau merendahkan Nabi dan Rasul. Ahmadiyah menghormati dan mengimani semua Nabi dan Rasul Allah sebagaimana Al Qur’an mengajarkan kepada kaum Muslim, “Kami tidak membeda-bedakan di antara seorangpun dari Rasul-Rasul-Nya yang satu terhadap yang lain.” (Al Baqarah: 286).

8. Mengingkari Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rasul terakhir,

Tanggapan: Ahmadiyah tidak mengingkari Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rasul terakhir yang membawa syari’at. Nabi Muhammad SAW sendiri memberitakan bahwa di akhir zaman akan turun Isa Ibnu Maryam yang kedudukannya adalah Nabi, (Hadits Bukhari, Kitabul Anbiya’, bab Nuzul Isa Ibnu Maryam), namun tidak membawa syari’at baru melainkan menegakkan syari’at Islam.

9. Mengubah, menambah, dan mengurangi pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan syariat,

Tanggapan: Ahmadiyah tidak pernah mengubah, menambah dan atau mengurangi pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan syariat, bahkan Ahmadiyah berupaya melaksanakan semua sunnah Rasulullah SAW dan Ijma’ sahabatnya Yang Mulia. Pendiri Ahmadiyah menyatakan : “Kami berlepas diri dari semua kenyataan yang tidak disaksikan syariat Islam.” (Tuhfah Baghdad, halaman 35)

10. Mengafirkan sesama Muslim tanpa dalil syar’i,

Tanggapan: Ahmadiyah tidak pernah dan tidak akan mengafirkan seorangpun yang mengaku Islam atau mengucapkan dua Kalimah Syahadah.

Perlu diingat dan dipedomani bahwa Nabi Besar Muhammad SAW telah membuat definisi seorang dikatakan Muslim yang didasarkan atas amal seseorang dan bukan atas niat atau pikiran yang ada dalam benaknya. Misalnya, “Siapa saja yang shalat sebagaimana shalat kami, menghadap kepada kiblat kami dan memakan sesembelihan kurban kami, maka itu petunjuk bagimu (bahwa ia adalah) seorang muslim. Ia menjadi tanggungan Allah dan Rasul-Nya. Oleh karena itu, janganlah kamu merusak tentang tanggungan Allah itu.” (Bukhari dan An Nasaai dan Kanzul Umal juz 1/398).

Dengan demikian Ahmadiyah sama sekali tidak termasuk kedalam aliran sesat. (Jakarta, 8 November 2007, P.B. Jemaat Ahmadiyah Indonesia) []


Selasa, 25 Desember 2007

dari detikcom

http://www.detiknew s.com/index. php/detik. read/tahun/ 2007/bulan/ 12/tgl/25/ time/145529/ idnews/870509/ idkanal/10

25/12/2007 14:55 WIB
Ba'asyir: Bubarkan Ahmadiyah!
Ramdhan Muhaimin - detikcom

Jakarta - Pemerintah diminta bersikap tegas membubarkan organisasi
Ahmadiyah, karena dinilai telah merusak Islam lewat ajaran-ajarannya.
Bila tidak, masyarakat akan semakin membabi buta lewat perusakan rumah
ibadah milik organisasi tersebut.

"Ahmadiyah itu sesat. Itu harus dibubarkan. Karena itu merusak Islam,"
kata Amir Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) Abu Bakar Ba'asyir, usai
tabligh akbar di Masjid Baituraahman, Jl Kampung Pulo, Pinang Ranti,
Makassar, Jakarta Timur, Selasa (25/12/2007) .

Menurut Ba'asyir, tekanan dan kekerasan itu dinilai belum cukup untuk
menggusur Ahmadiyah jika pemerintah belum membubarkan organisasi
tersebut. Warga akan semakin emosional karena tiadanya sikap tegas
pemerintah.

"Pemerintah harus membubarkan, atau warga bertindak sendiri-sendiri, "
seloroh ulama yang sempat dituding sebagai teroris itu.

Disinggung soal tabligh akbar yang ia lakukan bertepatan di hari
Natal, ia mengelak berkomentar. Hanya saja ia menegaskan kembali umat
Muslim dilarang memberi ucapan selamat Natal kepada umat Kristiani.

"Ucapan Natal tidak boleh. Juga tidak boleh mengganggu perayaan
mereka. Kita bisa menghormati keyakinan masing-masing tapi jangan
ucapkan Natal," tegas Baasyir. ( Ari / fay )

__._,_.___

Related Post

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...