Tampilkan postingan dengan label pluralisme. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pluralisme. Tampilkan semua postingan

Rabu, 16 April 2014

MENCARI SOSOK PEMIMPIN YANG WARAS

Daoed Joesoef dalam Koran Kompas terbitan 19 Maret 2014 dengan judul “Bapak Bangsa” menulis; Suatu negara besar tidak mungkin diurus secara amatiran. Gambaran tersebut sangat sesuai dengan kondisi Indonesia saat ini, dengan berbagai perbuatan korupsi, tindakan kekerasan, ketidakadilan, kerusakan lingkungan dan lain-lain yang menggambarkan terjadinya salah urus dalam pengelolaan negara. Kejadian salah urus negara ini jelas-jelas tidak dapat dipisahkan dari kerja para pemimpin yang ada di tingkat mana pun.

Lantas, sosok pemimpin seperti apa yang dapat diharapkan untuk tidak lagi mengulangi salah urus mengelola negara sebesar Indonesia ini? Mahfud MD dalam Sarasehan Kebangsaan NU Menjelang Pemilu di PW NU Jawa Tengah, Minggu 23 Maret 2014 menyampaikan; Pemilu Jangan Lahirkan Pemimpin Tidak Sehat. Suatu pemikiran yang sederhana tetapi sungguh memiliki perspektif yang sangat jelas, yaitu hanya melalui pemimpin-pemimpin yang sehat, Indonesia baru akan mampu untuk tampil sebagai negara dan bangsa yang besar, sejajar dengan bangsa-bangsa maju yang lain.

Senin, 28 Februari 2011

Gus Nuril: Ahmadiyah adalah Islam

"Ahmadiyah sudah menegaskan bersahadat.maka haram darahnya dan haram dia aniaya.maka kalau ada orang yang meminta Ahmadiyah keluar dari Islam sesungguhnya dia tidak mengenal agama,atau malah sengaja meminta orang yang sudah muslim untuk menjadi kafir.Karena persoalan sahadat adalah persoalan syariat,tidak menyangkut bathinnnya,siapa yang tahu batin seseorang ?" Demikian tertulis di wall facebook DR. KH Nuril Arifin Husein, MBA atau lebih akrab dipanggil Gus Nuril.  

Gus Nuril Pimpinan Ponpes Soko Tunggal Abdurahman Wahid, Jakarta dan Semarang , mengusung konsep Bhinika Tunggal Ika untuk mengasuh Pondok Pesantren MULTI AGAMA. 


Baca statement diatas pada laman aseli >>

Selasa, 08 Februari 2011

Pernyataan Sikap Masyarakat Yogyakarta Cinta Perdamaian


Indonesia sebagai Negara yang beradab dengan falsafah Pancasilanya tidak bisa terlepas dari fakta keberagaman Agama, Keyakinan, Keimanan, Budaya, Suku, dan Etnisitas.Rakyat sebagai pemegang kedaulatan telah memberikan mandat kepada pemerintah untuk menjadi penyelenggara Negara yang wajib melindungi semua warga negaranya, memberikan rasa aman dan menjamin hak asasi manusia  tanpa memandang latarbelakang mereka dengan tanpa diskriminasi.

Kami atas nama sebagian masyarakat Yogyakarta yang mencintai perdamaian tanpa kekerasan sangat sedih atas kembali terjadinya kekerasan yang secara nyata telah menusuk dan melukai hati nurani kami dengan diserangnya saudara-saudara kami warga jemaat Ahmadiyah di Cikeusik, Pandeglang, Banten.

Penggunaan kekerasan yang terjadi tersebut telah secara nyata melanggar nilai-nilai universal Hak Asasi Manusia, Nilai-Nilai hakiki ajaran semua agama dan keimanan, serta telah secara nyata melanggar hukum. Sehubungan dengan hal tersebut, dengan ini kami menyatakan sikap:

1.     Kejadian penyerangan warga jemaat Ahmadiyah di Cikeusik, Pandeglang, Banten tanggal 6 Februari 2011 merupakan kejahatan kemanusiaan (crime against humanity) yang harus diselesaikan oleh Institusi Kepolisian dan Penegak Hukum terkait melalui penegakkan hukum dengan menindak secara adil kepada semua pelakunya.
2.     Negara wajib memberikan perlindungan kepada semua warga negaranya termasuk segenap anggota jaringan Ahmadiyah di Seluruh Indonesia.
3.     Menyerukan kepada semua tokoh agama, tokoh masyarakat, serta semua lapisan masyarakat untuk melakukan konsolidasi dan memperkuat jaringan lintas agama dalam upaya mencegah keberlanjutan penggunaan kekerasan yang mengatas namakan agama.

Demikianlah seruan moral kami, sebagai bagian dari keprihatinan dan landasan sikap kami atas berulangnya kembali sebuah tragedi kemanusiaan di Negara kita tercinta ini.

Yogyakarta, 7 Februari 2011

Forum Persaudaraan Umat Beriman Yogyakarta dan seluruh elemennya, Komite Kemanusiaan Yogyakarta, Sapta Dharma, Komunitas Sunda Wiwitan, Perkumpulan Rumpun, Interfidei,  PSIK Yogyakarta, Jaringan GUS DUR-ian, Kawula Ngayogyakarta.

Minggu, 08 November 2009

Umat dan Perbedaan

Oleh: A. Mustofa Bisri
www.Gusmus.net

Mula-mula adalah dua sejoli ”imigran” dari sorga, Adam dan Hawa, yang diserahi Tuhan mengelola bumi ini. Kemudian, mereka menurunkan keturunan yang disebut manusia. Manusia berkembang semakin lama semakin banyak meramaikan planet ini. Ketentuan-ketentuan Tuhan yang dibawa dan diajarkan Adam a.s. sebagai panduan untuk mengelola bumi dan wasilah untuk kembali ke sorga, menuju kepada-Nya, semula dipatuhi dan ditaati oleh semua anak-cucunya. Namun dengan perjalanan waktu, kian lama ketentuan-ketentuan itu dilupakan dan diabaikan oleh cicit-cicit Adam yang datang belakangan.



Related Post

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...