Tampilkan postingan dengan label Pernyataan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pernyataan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 09 Februari 2011

Kronologis Cikeusik Menurut Saksi Mata

Jika anda ingin mengetahui kronologis peristiwa Cikeusik yang lebih lugas berdasarkan penuturan langsung para korban dan saksi mata, silahkan simak tulisan berikut ini yang saya ambil dari salah satu blog sahabat.
________________________________

Kisah Heroik Para Ahmadi di Cikeusik
http://isamujahidislam.wordpress.com
Cikeusik, 6 Pebruari 2011 beberapa saudara-saudara ruhani kami pergi ke sana untuk mempertahankan rumah missi milik Jemaat Muslim Ahmadiyah karena beberapa hari sebelumnya sudah ada ancaman massa yang akan menyerang. Penyerangan sudah diprediksikan 99% akan terjadi. Namun mereka sudah siap mental apapun yang terjadi.

Sebelumnya, Mln. Ismail Suparman dan keluarga dipanggil pihak kepolisian untuk meminta perlindungan karena sudah mengetahui akan adanya penyerangan. Jadi tidak berdasar, jika dikatakan bahwa kedatangan para Ahmadi yang akan mempertahankan rumah missi itu yang memprovokasi massa untuk datang menyerbu. Massa berjumlah ribuan tidak bisa dikumpulkan dalam waktu singkat.

Para Ahmadi memahami sabda yang Mulia Rasulullah saw bahwa mempertahankan harta benda dan jiwa raga adalah merupakan salah satu bagian Jihad yang hadiahnya adalah tunai, yaitu Surga.

Para pemuda Ahmadi telah Sampai di lokasi, 07.00 WIB. Awalnya, mereka bersantai, bercanda dan berfoto bersama. Datanglah sarapan pagi, langsung saja disambut dengan gembira.

Dalam keadaan santai itu, mereka dikejutkan dengan kedatangan aparat kepolisian yang jumlahnya cukup banyak. Itu terjadi pukul sembilan atau setengah sepuluh pagi. Anehnya, para polisi yang tadinya terlihat banyak, raib entah kemana. Mereka hanya sedikit bersisa.

Pukul sepuluh pagi, massa yang sangat banyak itu tiba-tiba menyerobot sisa aparat yang jumlahnya tidak seberapa. Tiba-tiba mereka menyerang! Tidak ada mediasi terlebih dahulu! Seakan-akan mereka tidak punya mulut untuk berbicara.


Selasa, 08 Februari 2011

Menjawab Berbagai Tuduhan Teologis

اَشْهَدُ اَنْ لاَّ اِلهَ اِلّا الله  وَاَشْهَدُ  اَنّ مُحَمّدًا رَسُوْلُ الله اَمّا بَعْدُ  فَاَ عُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشّيْطَانِ الرّجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الرّحْمنِ الرّحِيْم

Yth. Bp. Pimpinan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)
Yth. Bp. Kepada Puslit Kemasyarakatan & Kebudayaan (PMB) – LIPI

Hadirin Hadirat peserta seminar yang saya muliakan.
Alhamdulillah, dengan karunia Nya semata-mata kita diberikan taufiq untuk bersama-sama dalam seminar ini.  Shalawat dan Salam semoga di anugerahkan kepada yang Mulia Nabi Besar Muhammad Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi Wasallam dan para Sahabat (Radhiallahu ‘anhum).  Terimakasih  kami haturkan kepada Pimpinan LIPI dan Panitia yang telah memberi kesempatan kepada kami untuk menyampaikan makalah kami dengan judul “Menjawab Berbagai Tuduhan Theologis”.

Jika kita menyimak literatur-literatur yang diterbitkan oleh pihak luar Ahmadiyah, literatur yang berisikan tuduhan,  dapat kita klasifikasi menjadi dua bentuk.  Bentuk pertama berupa tuduhan yang semata-mata opini dari pihak tertentu. Bentuk kedua berupa rekayasa dan pemutarbalikan pemahaman Ahmadiyah dengan cara mengutip literatur Ahmadiyah lalu memberi komentar sendiri dan dinisbahkan kepada Ahmadiyah. Tuduhan-tuduhan dan fitnah-fitnah tersebut telah dimulai sekitar seabad yang lalu dengan terus-menerus diulangi oleh generasi-generasi penentang dari masa-kemasa.

Pengulangan tuduhan-tuduhan tersebut disajikan kemasyarakat dalam berbagai tulisan dengan judul yang berbeda atau tata letak yang berbeda, atau juga demikian, yakni pada penerbitan  pertama pengulangan mengutip sebagian tuduhan/fitnah yang belum dikutip sebelumnya sehingga nampak seolah ada ilmu baru yang muncul.  Pengulangan dengan penambahan atau perubahan tata letak, judul dan materi, memberi kesempatan munculnya buku-buku terbitan baru, menciptakan pasar buku yang diharapkan laris di masyarakat.

Yang kami sayangkan ialah pemutarbalikan fakta dengan rekayasa arti, atau pun mengenyampingkan  pemahaman yang semestinya disampaikan ke masyarakat itu dengan mengatasnamakan Islam, bahkan membawa nama Allah Yang Maha Qudduus.  Padahal Islam sangat melarang penyebaran fitnah dan tuduhan palsu, apalagi dengan membawa nama Allah.
Jawaban spesifik terhadap tuduhan dan fitnah tersebut telah diterbitkan baik dalam bentuk tulisan, maupun video dan CD.  Bahkan dapat di akses melalui website http://www.alislam.org/.  Waktu yang singkat dan terbatas seperti ini tidak cukup untuk menjawab satu persatu tuduhan-tuduhan tersebut secara spesifik.

Oleh karena itu pada kesempatan ini kami memilih untuk menyampaikan penjelasan akidah Islam yang kami-Jemaat Ahmadiyah-yakini.  Dengan penyampaian penjelasan ini, kami menyatakan bahwa pernyataan segelintir orang tentang Jemaat Ahmadiyah, yang tidak sesuai dengan penjelasan kami, atau provokasi yang dilontarkan pihak tertentu tentang Ahmadiyah adalah dusta belaka dan menjadi tanggung jawabnya di depan hukum dan terutama dihadapan Allah Yang Maha Mengetahui, Maha Perkasa, dan Maha Pemberi Balasan.  Sejarah Ahmadiyah sedunia yang lebih dari 100 tahun, menjadi saksi tak terbantahkan atas nasib orang-orang yang memfitnah dan menimpakan keaniayaan terhadap orang-orang Ahmadiyah yang tidak berdosa. Penjelasan kami ini sekaligus merupakan harapan kami kepada masyarakat agar tidak terprovokasi oleh sekelompok orang yang akan membawa mereka kepada langkah yang dapat mengundang kemurkaan Allah, sebab Allah Taala berfirman yg terjemahannya : “Sesungguhnya orang-orang yang memfitnah/menganiaya orang-orang mukmin laki-laki dan mukmin perempuan lalu mereka tidak bertobat, niscaya bagi mereka ada adzab neraka jahanam dan bagi mereka ada adzab yang membakar.” (QS. Al-Buruj / 85 : 11).
            Semoga Allah yang Maha Pengasih, melindungi umat Islam dan Bangsa Indonesia dari terpengaruh oleh provokasi yang hanya akan merugikan diri sendiri, aamiin.
            Adapun penjelasan Aqidah Islam yang diyakini oleh Jemaat Ahmadiyah, dapat kami uraikan satu demi satu Rukun Iman dan Rukun Islam, sebagaimana yang diajarkan oleh Yang Mulia Nabi Suci Muhammad Rasulullah Shallallaaahu ‘alaihi wasallam yang penjelasannya kami kutip dari wejangan Pendiri Jemaat Ahmadiyah, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad ‘alaihis salaam dan para Khalifah beliau –Imam  International Jemaat Ahmadiyah.

  1. I.      Rukun Iman
  2. II.   Rukun Islam
    1. Mengucapkan Dua Kalimah Syahadat
  1. Beriman kepada Allah
  2. Beriman kepada Malaikat-malaikat-Nya
  3. Beriman kepada Kitab-kitab-Nya
  4. Beriman kepada Rasul-rasul-Nya
  5. Beriman kepada Hari Akhir
  6. Beriman kepada Qadha & Qadar, baik dan buruknya.
  1. Melaksanakan/Menegakan Shalat
  2. Berpuasa di bulan Ramadhan
  3. Membayar Zakat
  4. Menunaikan Ibadah Haji ke Baitullah (Mekkah).
Penjelasan :
  1. I.      Rukun Iman
I.1. Beriman kepada Allah

Pendiri Jemaat Ahmadiyah, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as. menjelaskan:
“Untuk mengikuti ajaranku seseksama-seksamanya dikehendaki, bahwa mereka harus berkeyakinan, bahwa mereka mempunyai satu Tuhan yang Qadir (Maha Kuasa), Qayyum (Yang Berdiri Sendiri) dan Khaaliqul Kul (Pencipta segala sesuatu yang ada), yang sifat-sifat-Nya tak kunjung berubah, serta kekal dan abadi. Ia tidak mempunyai anak. Ia Suci-Murni dari jejak penderitaan, dari dinaikkan ke tiang salib dan dari mengalami suatu kematian. Ia sedemikian rupa, bahwa meskipun dekat namun jauh. Walaupun Tunggal, tapi penjelmaan-Nya nampak dalam bermacam ragam corak. Manakala ada terjadi suatu perobahan di dalam diri seorang manusia, bagi orang itu Dia menjadi Tuhan yang baru, dan Dia memperlakukannya dengan penjelmaan-Nya yang baru. Orang itu melihat suatu perubahan di dalam wujud Tuhan menurut proporsi dari perubahan yang ada pada dirinya – tetapi, hal ini bukanlah seakan-akan terjadi suatu perobahan di dalam Wujud Tuhan, karena sesungguhnya Dia tidak akan sekali-kali mengalami perobahan, dan Wujud-Nya memang paripurna; tetapi dengan tiap-tiap perobahan yang berlaku di dalam diri manusia yang menjurus kearah kebaikan, Tuhan pun menjelmakan diri-Nya terhadap manusia itu di dalam bentuk penjelmaan baru. Dengan tiap-tiap usaha kemajuan pada diri manusia, Tuhan pun memperlihatkan diri-Nya dengan penjelmaan yang lebih agung lagi perkasa. Ia menampakkan sesuatu penjelmaan dari kodrat-Nya yang luar biasa, hanya apabila manusia memperlihatkan suatu perubahan di dalam dirinya secara luar biasa pula; inilah akar dan landasan dari keajaiban dan mu’jizat-mu’jizat yang dipersaksikan oleh sekalian hamba-hamba Allah. Beriman kepada Allah swt., serta kepada segala kekuatan-kekuatan itu, merupakan syarat yang penting bagi Jema’at kita. Resapkanlah keimanan ini ke dalam kalbumu. Berikanlah tempat yang utama kepada keimanan itu lebih daripada kepada urusan pribadi, kesenangan-kesenganmu dan segala hubungan-hubunganmu. Dengan perbuatan-perbuatan nyata disertai keberanian yang tak kenal menyerah, perlihatkanlah kesetiaan dengan sejujur-jujurnya.

Orang-orang lain di dunia ini, tidak menganggap Tuhan sebagai suatu Zat yang lebih penting dari harta benda mereka dan sanak saudara serta karib kerabat mereka. Akan tetapi kamu harus memberikan kepada-Nya tempat yang paling utama, agar supaya di Langit kamu dituliskan di dalam daftar Jema’at-Nya.” (Ajaranku, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, hal. 1-3, Penerbit Yayasan Wisma Damai, Bogor, 1993)

Pernyataan Sikap Masyarakat Yogyakarta Cinta Perdamaian


Indonesia sebagai Negara yang beradab dengan falsafah Pancasilanya tidak bisa terlepas dari fakta keberagaman Agama, Keyakinan, Keimanan, Budaya, Suku, dan Etnisitas.Rakyat sebagai pemegang kedaulatan telah memberikan mandat kepada pemerintah untuk menjadi penyelenggara Negara yang wajib melindungi semua warga negaranya, memberikan rasa aman dan menjamin hak asasi manusia  tanpa memandang latarbelakang mereka dengan tanpa diskriminasi.

Kami atas nama sebagian masyarakat Yogyakarta yang mencintai perdamaian tanpa kekerasan sangat sedih atas kembali terjadinya kekerasan yang secara nyata telah menusuk dan melukai hati nurani kami dengan diserangnya saudara-saudara kami warga jemaat Ahmadiyah di Cikeusik, Pandeglang, Banten.

Penggunaan kekerasan yang terjadi tersebut telah secara nyata melanggar nilai-nilai universal Hak Asasi Manusia, Nilai-Nilai hakiki ajaran semua agama dan keimanan, serta telah secara nyata melanggar hukum. Sehubungan dengan hal tersebut, dengan ini kami menyatakan sikap:

1.     Kejadian penyerangan warga jemaat Ahmadiyah di Cikeusik, Pandeglang, Banten tanggal 6 Februari 2011 merupakan kejahatan kemanusiaan (crime against humanity) yang harus diselesaikan oleh Institusi Kepolisian dan Penegak Hukum terkait melalui penegakkan hukum dengan menindak secara adil kepada semua pelakunya.
2.     Negara wajib memberikan perlindungan kepada semua warga negaranya termasuk segenap anggota jaringan Ahmadiyah di Seluruh Indonesia.
3.     Menyerukan kepada semua tokoh agama, tokoh masyarakat, serta semua lapisan masyarakat untuk melakukan konsolidasi dan memperkuat jaringan lintas agama dalam upaya mencegah keberlanjutan penggunaan kekerasan yang mengatas namakan agama.

Demikianlah seruan moral kami, sebagai bagian dari keprihatinan dan landasan sikap kami atas berulangnya kembali sebuah tragedi kemanusiaan di Negara kita tercinta ini.

Yogyakarta, 7 Februari 2011

Forum Persaudaraan Umat Beriman Yogyakarta dan seluruh elemennya, Komite Kemanusiaan Yogyakarta, Sapta Dharma, Komunitas Sunda Wiwitan, Perkumpulan Rumpun, Interfidei,  PSIK Yogyakarta, Jaringan GUS DUR-ian, Kawula Ngayogyakarta.

Imam Jamaah Muslim Ahmadiyah menanggapi “Pembunuhan secara Brutal Jemaah Muslim Ahmadiyah Indonesia”

PRESS RELEASE

Imam Jamaah Muslim Ahmadiyah menanggapi “Pembunuhan secara Brutal Jemaah Muslim Ahmadiyah Indonesia”

Pelaku akan bertanggung jawab kepada Tuhan Yang Maha Esa

Dengan sangat sedih bahwa Jamaah Muslim Ahmadiyah kemarin menegaskan bahwa pada tanggal 6 Februari 2011, 3 anggota jemaahnya telah disyahidkan di Indonesia dalam suatu serangan yang benar-benar barbar dan brutal.

Serangan itu terjadi di Cikeusik, Banten Selatan di Indonesia dan dilakukan oleh sekelompok besar orang berjumlah antara 700 dan 1.000. Serangan itu terjadi meskipun polisi telah diperingatkan
beberapa hari sebelumnya tentang segera terjadinya serangan terhadap Muslim Ahmadi setempat. Meskipun telah ada peringatan, polisi tetap gagal untuk mengambil tindakan atau langkah-langkah untuk mencegah serangan.

Dilaporkan bahwa para penyerang datang ke pusat Jamaat
Muslim Ahmadiyah setempat dengan mengacungkan parang, tombak, pisau dan senjata lainnya. Akibatnya 3 orang Ahmadi disyahidkan didepan umum dan 5 lainnya terluka berat. 2 buah mobil, 1 rumah dan 1 sepeda motor milik Jemaah Ahmadiyah juga dibakar. Sejauh ini belum ada yang ditangkap oleh polisi sehubungan dengan insiden ini.

Berbicara dari London dalam respon terhadap pembunuhan brutal ini, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Imam Jamaat Ahmadiyah Internasional berkata:

"Serangan mengerikan ini telah menyebabkan kesedihan dan rasa sakit bagi semua Muslim Ahmadi seluruh dunia dan tentunya untuk semua orang yang cinta damai. Kebiadaban pelaku tidak mengenal batas; bahkan orang yang menonton pembantaian kejam itu sambil bertepuk tangan dan bersorak-sorai. Polisi setempat dan yang berwenang gagal melindungi Muslim Ahmadi dan membiarkan mereka diserang secara kejam dan brutal.

Setiap kali serangan seperti
terjadi, Jamaat Muslim Ahmadiyah baik di Indonesia dan di seluruh dunia selalu menampilkan kesabaran dan mencari ketenangan diri tidak dengan balas dendam atau kekerasan tetapi melalui doa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan hal ini akan selalu tetap terjadi. Meskipun demikian dipastikan bahwa mereka yang telah menimbulkan kekejaman ini akan bertanggung jawab kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dan akan menghadapi hukuman-Nya. Sementara itu, Jamaah Muslim Ahmadiyah akan terus untuk sujud di depan Tuhan Yang Maha Kuasa dan memohon Perlindungan dan Pertolongan-Nya."

Jamaah Muslim Ahmadiyah mendesak Pemerintah Indonesia untuk memenuhi mandatnya untuk melindungi semua warga negaranya, tanpa memandang agama. Dengan ini juga menjelaskan bahwa tidak ada Muslim Ahmadi terlibat dalam segala bentuk provokasi apapun dan bahwa serangan ini termotivasi hanya karena fakta bahwa korban adalah anggota Jamaat
Muslim Ahmadiyah . Ini adalah tragedi bahwa Muslim Ahmadi mati syahid dalam cara yang paling barbar karena mereka memilih untuk menjalani hidup mereka dengan motto Ahmadiyah 'Love for All, Hatred for None (Cinta untuk Semua, Kebencian Tidak untuk Siapapun)'.

Sebuah Siaran Pers lebih
lanjut dengan perincian rincian almarhum dan selanjutnya akan segera diterbitkan. 



Sumber: http://www.alislam.org/

Rabu, 28 Mei 2008

PRESS RELEASE: MUSLIM SECT CELEBRATES 100 YEARS OF SPIRITUAL LEADERSHIP

In the Name of Allah, Most Gracious, Ever Merciful
International Press and Media Desk

AHMADIYYA MUSLIM COMMUNITY

22 Deer Park, London, SW19 3TL
Tel / Fax (44) 020 8544 7613 Mobile (44) 07795460318
Email: press@ahmadiyya.org.uk

Web: Alislam.org

27 May 2008

PRESS RELEASE

MUSLIM SECT CELEBRATES 100 YEARS OF SPIRITUAL LEADERSHIP

Up to 15,000 Ahmadi Muslims to gather at Excel Centre in London

Members of the Ahmadiyya Muslim Community, an organisation with members in 189 countries, are today celebrating the 100th anniversary of the system of spiritual leadership known as ‘Khilafat’. This system has existed since the passing of the Founder of the Community in 1908.

Under this system Ahmadi Muslims throughout the world are united under the leadership and guidance of the ‘Khalifa’ who is the Head of the Community worldwide. The total unity of the Ahmadiyya Community makes it unique amongst all Muslim groups.

The current Khalifa is Hadhrat Mirza Masroor Ahmad who was elected to lead the Community in April 2003. Although based in London he is accessible to all Ahmadis worldwide and in this respect he is marking this Centenary Year with a number of foreign tours.

Hadhrat Mirza Masroor Ahmad is the fifth Khalifa and he continues to deliver the same message as his four predecessors. That is to urge Ahmadis worldwide to become closer to God Almighty, through their prayers and good acts and to serve mankind irrespective of creed, caste or colour.

The Centenary of Khilafat is being marked by a number of events both in the UK and elsewhere. Today up to 15,000 Ahmadi Muslims from around the UK are expected at the Excel Centre in East London where Hadhrat Mirza Masroor Ahmad will address members of the Community worldwide via the Community’s international satellite channel ‘MTA International’.

END OF RELEASE

Further information:

Abid Khan (UK) 07795460318






Selasa, 13 Mei 2008



Akar Djati

Celebrating Diversity, Strengthening Solidarity: A Message From Cirebon

PERNYATAAN SIKAP

Negara Seharusnya Bersikap Tegas, Adil dan Netral Terhadap Semua Penganut Agama, Aliran Kepercayaan dan Sekte

Kekerasan berbasis agama semakin marak terjadi hampir di tiap daerah di Indonesia, khususnya Jawa Barat. Kekerasan yang diikuti dengan diskriminasi, subordinasi, stigmatisasi bahkan kriminalisasi terhadap beberapa keyakinan ini sama sekali tidak mendapat tindakan tegas dari pemerintah. Pemerintah dinilai telah lalai dalam melindungi, menghormati dan memenuhi hak-hak warga negara minoritas, khususnya minoritas agama. Serta tidak adanya pengusutan hukum secara tuntas terhadap para pelaku pelanggaran, termasuk pelanggaran yang menimpa Jemaat Ahmadiyah Indonesia.


Menyikapi soal rencana pembubaran Ahmadiyah oleh pemerintah, menurut hasil pertemuan intensif antara Depag dan Kejari, kami menilai negara telah melakukan pelanggaran terhadap konstitusi NKRI yang tertuang dalam UUD 1945 dan UU No.39 Tahun 1999 serta UU No.12 Tahun 2005 mengenai kebebasan memeluk agama dan keyakinan serta mendapat perlakuan yang sama didepan hukum.

Rencana pembubaran ini berpotensi pada pecahnya persatuan dan kesatuan NKRI, memperluas konflik horisontal, serta dapat menurunkan harkat dan martabat bangsa dimata internasional sebagai salah satu negara yang ikut serta meratifikasi kovenan hak sipil dan politik.

Oleh karenanya, kami mendesak pemerintah, aparat negara, elemen negara, organisasi keagamaan, dan elemen masyarakat lainnya sebagai berikut:

  • Konstitusi Negara Kesatuan Republik Indonesia menjamin hak asasi bagi setiap warga Negara Republik Indonesia, sebagaimana tertuang dalam UUD 1945 Pasal 28 E dan UU No.39 Tahun 1999 Mengenai Jaminan Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan;
  • Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah bangsa yang majemuk dalam agama, keyakinan, etnis, budaya, jenis kelamin, dan lain-lain;
  • Ajaran semua agama, nilai-nilai adat Nusantara yang mengajarkan dan mewajibkan kepada penganut dan pemeluknya untuk selalu bersatu, bertindak adil, saling menghormati dan menyayangi kepada sesama manusia;
  • Bangsa Indonesia membutuhkan situasi yang kondusif untuk membangun Negara Kesatuan Republik Indonesia yang adil, makmur, sejahtera, aman, demokratis, patuh terhatap hukum dan konstitusi yang berlaku
  1. Menyerukan kepada seluruh masyarakat wilayah III Cirebon untuk menghormati, bertoleransi, berdamai pada tiap-tiap perbedaan yang ada di masyarakat dan bertindak berdasarkan hukum dan ketentuan yang berlaku;
  2. Menuntut kepada para aparat negara untuk mengusut segala tindak kekerasan yang terjadi di wilayah III Cirebon ini dengan adil dan beradab sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku;
  3. Menuntut kepada para aparat Negara untuk berbuat adil dan beradab kepada setiap warga negara tanpa melihat latar belakang agama, keyakinan, etnis, golongan, adat, budaya, jenis kelamin, dan lain-lain;
  4. Menuntut kepada aparat negara untuk menegakkan hukum, melindungi setiap warga negara Indonesia secara adil, beradab, aman dan nyaman tanpa melihat latar belakang agama, keyakinan, etnis, golongan, adat, budaya, jenis kelamin, dan lain-lain;
  5. Menyerukan kepada seluruh masyarakat wilayah III Cirebon agar tidak mengeksploitasi SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan) untuk kepentingan apapun.

Cirebon April 2008,

Ttd.

AKAR DJATI

PP. Lakpesdam NU Jakarta, PC Lakpesdam NU Cirebon, PC Lakpesdam NU Majalengka, PC Lakpesdam NU Indramayu, PC LDNU Majalengka, Fahmina Institute, Forum Lintas Iman Cirebon (Forum Sabtuan), Budha Sasana, LBH Bandung, PMII Kabupaten Cirebon, MKAI, Gereja Kristen Pasundan (GKP) Bandung, PGIS, Desantara Depok, JIMM (Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah) , PBHI Jabar,

Jaringan Kerja Pemantauan dan Advokasi Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (PAKB2), Pesantren Al-Mizan Majalengka.

Sekretariat: PP. Al-Mizan Majalengka

Jln. Raya Timur No.456/2

Cibolerang, Jatiwangi 45454

Majalengka Jawa Barat



Rabu, 27 Februari 2008

PRESS RELEASE (terjemahan bebas) - 27 February 2008

In the Name of Allah, Most Gracious, Ever Merciful.

International Press and Media Desk.

AHMADIYYA MUSLIM ASSOCIATION.

22 Deer Park, London, SW19 3TL.

Tel / Fax (44) 020 8544 7613, Mobile (44) 07795460318

Email: press@ahmadiyya.org.uk

Web: www.alislam.org

27 February 2008

PRESS RELEASE (terjemahan bebas)

Seorang Muslim Ahmadi Dibunuh di Pakistan

Basharat Ahmed Mughal telah dibunuh karena menjadi anggota dari Jamaah Muslim Ahmadiyah

Pada 24 Pebryari 2008 Mr Basharat Ahmed Mughal, 25 thn, anggota Jama'at Karachi telah menjadi ahmadi ke-88 yang syahid di Pkistan sejak 1984. 'Inna lillahi wa inna ilaihi raaji'uun'.

Basharat Mughal adalah ketua Halqa (ranting/kelompok) Manzoor Colony di Karachi, Pakistan. Beliau ditembak mati ketika di perjalanan untuk shalat Subuh. Beliau ditembak berkali-kali di punggung, leher, dan tangan. Menurut surat kabar 'The Dawn' beliau tewas ditempat. Lebih lanjut suratkabar tersebut meyebutkan bahwa kasus tersebut telah dicatat oleh polisi di Kantor Polisi Mehmoodabad dengan tersangka yang tidak diketahui.


Mr Athar Akram Chattha, sahabat almarhum menyatakan:

"Sungguh Basyarat Sahib telah dianugrahi derajat ini (syahid) adalah karena kualitas [akhlaq]nya – sedemikian rupa bahkan orang non-ahmadipun sampai menitikkan air mata haru di atas makamnya. Mereka tak percaya bahwa orang yang begitu lembut, baik hati, selalu siap mengulurkan tangan, penghibur hati dan luar biasa positif secara alami, telah menjadi sasaran kebrutalan semacam itu."

Almahum dimakamkan di Mesjid Bait-ul-Huda yang dibangun atas upaya dan doa yang luar biasa dari almarhum. Belakangan ketika mesjid hampir selesai dibangun, beliau sering terdengar berdo'a bahwa sekarang mesjid sudah dibangun, semoga Allah memenuhinya dengan orang-orang yang beribadah. Selain itu almarhum juga sering terlihat pergi pagi sekali untuk dapat membangunkan yang lain untuk shalat Subuh.

Menanggapi tragedi ini jurubicara Jamaah Ahmadiyah Abid Khan menyatakan:

"Pembunuhan atas Mr Basharat Mugal adalah benar-benar tragedy. Beliau adalah anggota kami yang kami sangat kami kasihi.

Kematiannya adalah hanya karena menjadi anggota yang cinta damai dari Jamaah Ahmadiyah dan ini adalah contoh yang lain dari berbagai kekejaman dan ketidakadilan yang harus dihadapi para anggota jamaah di beberapa Negara seperti Pakistan. Do,a dari setiap ahmadi di seluruh dunia untuk keluarga Basharat Mugal. Semoga Allah memberikan kesabaran dan ketabahan dalam menghadapi cobaan ini.

Di Pakistan para extrimis religious telah terus menerus diceramahi kebencian terhadap Jamaah Ahmadiyah dan kebencian keagamaan inilah yang jadi penyebab terjadinya insiden mengerikan seperti itu terus terjadi.

End of Release

Further Information:

Press Secretary: Abid Khan (07795460318)

Kamis, 14 Februari 2008

Muslim Community condemns reprint of Danish cartoons

Berikut ini adalah press release Jemaat Ahmadiyah Internasional terkait dimuatnya kembali karikatur Nabi SAW. di media massa Denmark beberapa waktu lalu. Please consider how deep is our love to our holy prophet Muhammad saw.
-----------------------------------------------------------------------------
In the Name of Allah, Most Gracious, Ever Merciful
International Press and Media Desk
AHMADIYYA MUSLIM ASSOCIATION
22 Deer Park, London, SW19 3TL.
Tel / Fax: +44 020 8544 7613
Mobile: +44 07795460318
Email: press@ahmadiyya.org.uk

13 February 2008

PRESS RELEASE

MUSLIM COMMUNITY CONDEMNS REPRINTING OF DANISH CARTOONS

The Ahmadiyya Muslim Community strongly condemns news from Denmark that a series of caricatures which caused a great deal of controversy two years ago have been reprinted. Such caricatures are extremely hurtful to all peace loving Muslims and not just those fanatical extremists who have tarnished the image of Islam.

Let there be no doubt that such caricatures are extremely provocative and inflammatory.

The Danish newspapers have allegedly justified their actions on the basis of defending their right to 'freedom of speech'. However such vulgarity regarding any sacred person of any religion can never be justified. Freedom of expression is not a licence to forget about the heartfelt sentiments of people.

Those who have allowed these cartoons to be published ought to be in no doubt that there actions will cause anguish to millions of people around the world.

The Press Secretary of the Ahmadiyya Muslim Community, Abid Khan said:

"Muslims regard the Holy Prophet Muhammad (peace be upon him) as the most excellent model of virtue and dignity in the history of mankind. And thus these images are utterly offensive to any Muslim and indeed to any person who cares for the feelings of others.

The journalists involved know very well the reaction these cartoons caused two years ago. And thus by reprinting them they know that they are likely to cause severe distress to many millions of people around the world. What then can be the benefit of displaying such vulgar images?

It is reported that the Danish authorities have apprehended three persons in respect of a plot to harm one of the journalists involved with the original cartoons. If the Danish authorities are correct then we wholly condemn the motives of those three people as their actions can never be justified. However neither can the subsequent response of those Danish news editors who have allowed these hurtful repellent images to be publicly displayed once again."

The Ahmadiyya Muslim Community has spread throughout the world by adhering to its message of "Love for All, Hatred for None". It is hoped that this message is taken to heart by all people no matter what their colour, creed or religion. By printing these cartoons certainly those responsible have not followed this message of love but have in fact taken the opposite path.

It is further hoped that this sad episode does not result in the violent reaction that was witnessed two years ago. As Muslims we defend the honour of the Holy Prophet Muhammad (peace be upon him) through our words and through our prayers and not through senseless violence that is never justified.

End of Release

Abid Khan (Press Secretary, Ahmadiyya Muslim Community) For further information please contact as above.

Related Post

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...