Tampilkan postingan dengan label akidah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label akidah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 19 Februari 2011

Ahmadiyah, Surga-Neraka, Urusan Allah

Rais Syuriah PBNU Masdar F.Masudi: Ahmadiyah, Surga-Neraka, Urusan Allah

Jumat, 11 Februari 2011 16:30 Wawancara

JAKARTA- Rais Syuriah PBNU KH Masdar Farid Mas'udi di kantornya di Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat memberikan wawancara seputar penyerangan, kekerasan, dan pembunuhan jemaat Ahmadiyah di Cikeusik, Pandeglang, Banten, seperti yang diungkapkan detikcom sebagai berikut:

Bagaimana tanggapan anda soal penyerangan terhadap jamaah Ahmadiyah di Cikeusik, Pandeglang, Banten?
Pertama-tama yang ingin saya tegaskan, negara itu wajib melindungi rasa aman dari seluruh rakyat Indonesia tanpa membedakan agama, keyakinan maupun suku dan sebagainya. Itu pertama yang harus betul-betul ditunaikan tanpa tawar-menawar lagi. Dan untuk itu, negara sudah memiliki segala persyaratan yang dibutuhkan, ada aparat kepolisian dengan perangkatnya termasuk untuk penindakan sampai intelijennya. Kalau polisi tidak sanggup, bisa menggunakan aparat lainya seperti militer.


Jumat, 18 Februari 2011

PBNU: Sesat atau Tidak Allah yang Menentukan

Jakarta - Majelis Ulama Indonesia secara tegas menyatakan bahwa Ahmadiyah sesat karena ajarannya menyimpang dari akidah Islam. Namun tidak demikian dengan Nahdatul Ulama (NU).

Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Masdar Farid Mas'udi menyatakan bahwa Ahmadiyah belum tentu sesat. Sesat atau tidak, menurut Masdar bukan manusia yang menentukan.

"Sesat atau tidak, yang paling tahu itu adalah Allah," ujar  Masdar saat rapat dengar pendapat antara Komisi VIII DPR dengan para pemuka Agama di gedung DPR, Senayan, Jakarta, Jumat (17/2/2011) dini hari.

Menurut Masdar, agama seharusnya dijadikan landasan untuk kehidupan yang lebih damai. Untuk bisa mewujudkan hal tersebut diperlukan peran dan tugas tokoh serta pemimpin umat beragama untuk menjaga kerukunan.

"Kerukunan adalah tanggung jawab pemimpin umat beragama. Yang menentukan wajah umatnya adalah pemimpinnya," terangnya.

Terkait kekerasan dan aksi main hakim sendiri yang berbalut busana agama, Masdar mendesak pemerintah mengusut para pelakuknya. Ia pun mengusulkan agar pelaku dihukum lebih berat.

"Kekerasan atas nama agama, saya kira layak diberi hukuman dua kali lipat, yaitu untuk kezaliman dan atas penodaan agama yang diklaimnya," imbuhnya.

(her/anw)

Sumber: detiknews

Kamis, 17 Februari 2011

Sikap Nabi Terhadap Nabi Palsu

Bilapun benar bahwa Mirza Ghulam Ahmad nabi palsu, apakah benar menyerang dan membunuhi pengikutnya adalah ajar Nabi Muhammad saw? Lalu apa yang membuat para penyerang pengikut ahmadiyah menghalalkan perbuatan anarkis mereka? Simak artikel berikut yang ditulis oleh kader muda NU yang setidaknya memberi kita wawasan lebih dalam mengembangkan toleransi yang hampir punah dari negeri ini.


www.tempointeraktif.com
Nabi Palsu, Sikap Nabi, dan Ahmadiyah)*

Rabu, 16 Februari 2011 | 07:12 WIB

TEMPO Interaktif, Pada tahun kesepuluh Hijriah, Nabi Muhammad SAW menerima surat dari seseorang yang mengaku jadi nabi. Namanya Musailamah bin Habib, petinggi Bani Hanifah, salah satu suku Arab yang menguasai hampir seluruh kawasan Yamamah (sekarang sekitar Al-Riyad). Dalam suratnya, Musailamah berujar: “Dari Musailamah, utusan Allah, untuk Muhammad, utusan Allah. Saya adalah partner Anda dalam kenabian. Separuh bumi semestinya menjadi wilayah kekuasaanku, dan separuhnya yang lain kekuasaanmu….”


Jumat, 11 Februari 2011

Inilah Jihad Kami

Inilah Jihad Kami

Jika semua yang kami lakukan dalam membela hak kami ini lantas membuat mereka berang, maka kami katakan kami tidak akan mundur. Jika semua yang kami lakukan dalam mempertahankan keyakinan kami membuat mereka beringas, maka kami katakan pada mereka bahwa kami tidak akan takut. Meskipun nyawa taruhannya, kami tidak akan surut.

Inilah perjuangan kami, inilah JIHAD kami.


Yang mulia Rasulullah saw. Mengajarkan kepada kami bahwa mati membela hak dan kebenaran adalah mati syahid yang ganjarannya adalah syurga. Sebagaimana diriwayatkan dari Abdullah bin Amr ra. : Aku pernah mendengar Nabi Muhammad Saw bersabda, "Orang yang mati karena mempertahankan harta miliknya adalah syahid" (HR. Bukhari).

Inilah jihad kami. Tidak dengan menyerang dan merusak rumah orang lain, tempat ibadah orang lain, menganiaya orang lain atau bahkan menghilangkan nyawanya. Meskipun mereka adalah musuh sekalipun. Itulah yang diajarkan oleh Junjungan kami yang mulia nabi Muhammad saw.. Jihad kami adalah memperjuangkan islam yang damai dan tanpa kekerasan yang telah memikat jutaan hati manusia dari masa ke masa semenjak kedatangan manusia terbaik, Nabi Muhammad Mustafa saw.

Anda katakan agar kami kembali ke jalan yang benar. Lalu jalan mana yang anda maksud? Islam seperti apa yang harus kami ikuti? Apakah kami harus ikut seperti mereka para penyerang itu? Kami jelas menolak. Moto kami “Love for all, hatred for none” yakni “Cinta untuk semua, tiada kebencian untuk seorang pun.” Sungguh sangat mustahil bagi kami menukarkannya dengan jalan kekerasan yang mereka tunjukkan, yang membuat wajah islam beserta pendirinya menjadi sasaran ejekan dan cemooh dari umat-umat lain. Sungguh mustahil meskipun harus dibayar dengan nyawa kami sendiri.

Anda katakan kami telah menistakan agama, menodai agama. Lalu bagaimana dengan para penyerang yang dikatakan oleh semua orang sebagai tidak sesuai dengan ajaran islam? Tidakkah mereka jauh lebih menodai kesucian ajaran agama ini? Tidakkah mereka telah menistakan agama ini dihadapan semua pengikut agama lain? Tidakkah mereka jauh lebih perlu untuk diluruskan?

Akidah kami adalah “Love for all, hatred for none.” Dan sungguh kami tidak keberatan jika kami dikatakan kafir dan murtad karena berpegang teguh kepada ajaran Islam yang damai seperti itu. Anda tidak perlu khawatir akan aksi balas dendam dari kami. Bukan karena kami minoritas, karena jumlah kami tidak pula sedikit, melainkan karena prinsip cinta damai kami yang sangat teguh kami pegang. Kami akan membalas semua kekejian dan kezaliman hanya dengan jalan kesabaran dan do’a. Jika kalian para penyerang hendak takut, maka takutlah dengan do’a kami yang terzalimi!

Keyakinan kami adalah mengikuti petunjuk yang mulia nabi Muhammad saw. bahwa di akhir zaman akan datang nabi Isa dan Imam Mahdi yang wajib diikuti oleh semua umat. Jika kami dikatakan kafir dan murtad karena mengikuti petunjuk baginda nabi saw. tersebut, sungguh kami ikhlas dan ridlo. Dan akan kami pertahankan jalan yang telah kami pilih ini, meskipun nyawa kami menjadi taruhannya.

Inilah jihad kami, inilah perjuangan kami.

Bogor, 11 Februari 2011

Catatan:Tulisan diatas merupakan sebuah manifesto pribadi dari seorang muslim Ahmadiyah berkenaan dengan insiden berdarah “Tragedi Cikeusik”.

Rabu, 09 Februari 2011

Kronologis Cikeusik Menurut Saksi Mata

Jika anda ingin mengetahui kronologis peristiwa Cikeusik yang lebih lugas berdasarkan penuturan langsung para korban dan saksi mata, silahkan simak tulisan berikut ini yang saya ambil dari salah satu blog sahabat.
________________________________

Kisah Heroik Para Ahmadi di Cikeusik
http://isamujahidislam.wordpress.com
Cikeusik, 6 Pebruari 2011 beberapa saudara-saudara ruhani kami pergi ke sana untuk mempertahankan rumah missi milik Jemaat Muslim Ahmadiyah karena beberapa hari sebelumnya sudah ada ancaman massa yang akan menyerang. Penyerangan sudah diprediksikan 99% akan terjadi. Namun mereka sudah siap mental apapun yang terjadi.

Sebelumnya, Mln. Ismail Suparman dan keluarga dipanggil pihak kepolisian untuk meminta perlindungan karena sudah mengetahui akan adanya penyerangan. Jadi tidak berdasar, jika dikatakan bahwa kedatangan para Ahmadi yang akan mempertahankan rumah missi itu yang memprovokasi massa untuk datang menyerbu. Massa berjumlah ribuan tidak bisa dikumpulkan dalam waktu singkat.

Para Ahmadi memahami sabda yang Mulia Rasulullah saw bahwa mempertahankan harta benda dan jiwa raga adalah merupakan salah satu bagian Jihad yang hadiahnya adalah tunai, yaitu Surga.

Para pemuda Ahmadi telah Sampai di lokasi, 07.00 WIB. Awalnya, mereka bersantai, bercanda dan berfoto bersama. Datanglah sarapan pagi, langsung saja disambut dengan gembira.

Dalam keadaan santai itu, mereka dikejutkan dengan kedatangan aparat kepolisian yang jumlahnya cukup banyak. Itu terjadi pukul sembilan atau setengah sepuluh pagi. Anehnya, para polisi yang tadinya terlihat banyak, raib entah kemana. Mereka hanya sedikit bersisa.

Pukul sepuluh pagi, massa yang sangat banyak itu tiba-tiba menyerobot sisa aparat yang jumlahnya tidak seberapa. Tiba-tiba mereka menyerang! Tidak ada mediasi terlebih dahulu! Seakan-akan mereka tidak punya mulut untuk berbicara.


Selasa, 08 Februari 2011

Menjawab Berbagai Tuduhan Teologis

اَشْهَدُ اَنْ لاَّ اِلهَ اِلّا الله  وَاَشْهَدُ  اَنّ مُحَمّدًا رَسُوْلُ الله اَمّا بَعْدُ  فَاَ عُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشّيْطَانِ الرّجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الرّحْمنِ الرّحِيْم

Yth. Bp. Pimpinan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)
Yth. Bp. Kepada Puslit Kemasyarakatan & Kebudayaan (PMB) – LIPI

Hadirin Hadirat peserta seminar yang saya muliakan.
Alhamdulillah, dengan karunia Nya semata-mata kita diberikan taufiq untuk bersama-sama dalam seminar ini.  Shalawat dan Salam semoga di anugerahkan kepada yang Mulia Nabi Besar Muhammad Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi Wasallam dan para Sahabat (Radhiallahu ‘anhum).  Terimakasih  kami haturkan kepada Pimpinan LIPI dan Panitia yang telah memberi kesempatan kepada kami untuk menyampaikan makalah kami dengan judul “Menjawab Berbagai Tuduhan Theologis”.

Jika kita menyimak literatur-literatur yang diterbitkan oleh pihak luar Ahmadiyah, literatur yang berisikan tuduhan,  dapat kita klasifikasi menjadi dua bentuk.  Bentuk pertama berupa tuduhan yang semata-mata opini dari pihak tertentu. Bentuk kedua berupa rekayasa dan pemutarbalikan pemahaman Ahmadiyah dengan cara mengutip literatur Ahmadiyah lalu memberi komentar sendiri dan dinisbahkan kepada Ahmadiyah. Tuduhan-tuduhan dan fitnah-fitnah tersebut telah dimulai sekitar seabad yang lalu dengan terus-menerus diulangi oleh generasi-generasi penentang dari masa-kemasa.

Pengulangan tuduhan-tuduhan tersebut disajikan kemasyarakat dalam berbagai tulisan dengan judul yang berbeda atau tata letak yang berbeda, atau juga demikian, yakni pada penerbitan  pertama pengulangan mengutip sebagian tuduhan/fitnah yang belum dikutip sebelumnya sehingga nampak seolah ada ilmu baru yang muncul.  Pengulangan dengan penambahan atau perubahan tata letak, judul dan materi, memberi kesempatan munculnya buku-buku terbitan baru, menciptakan pasar buku yang diharapkan laris di masyarakat.

Yang kami sayangkan ialah pemutarbalikan fakta dengan rekayasa arti, atau pun mengenyampingkan  pemahaman yang semestinya disampaikan ke masyarakat itu dengan mengatasnamakan Islam, bahkan membawa nama Allah Yang Maha Qudduus.  Padahal Islam sangat melarang penyebaran fitnah dan tuduhan palsu, apalagi dengan membawa nama Allah.
Jawaban spesifik terhadap tuduhan dan fitnah tersebut telah diterbitkan baik dalam bentuk tulisan, maupun video dan CD.  Bahkan dapat di akses melalui website http://www.alislam.org/.  Waktu yang singkat dan terbatas seperti ini tidak cukup untuk menjawab satu persatu tuduhan-tuduhan tersebut secara spesifik.

Oleh karena itu pada kesempatan ini kami memilih untuk menyampaikan penjelasan akidah Islam yang kami-Jemaat Ahmadiyah-yakini.  Dengan penyampaian penjelasan ini, kami menyatakan bahwa pernyataan segelintir orang tentang Jemaat Ahmadiyah, yang tidak sesuai dengan penjelasan kami, atau provokasi yang dilontarkan pihak tertentu tentang Ahmadiyah adalah dusta belaka dan menjadi tanggung jawabnya di depan hukum dan terutama dihadapan Allah Yang Maha Mengetahui, Maha Perkasa, dan Maha Pemberi Balasan.  Sejarah Ahmadiyah sedunia yang lebih dari 100 tahun, menjadi saksi tak terbantahkan atas nasib orang-orang yang memfitnah dan menimpakan keaniayaan terhadap orang-orang Ahmadiyah yang tidak berdosa. Penjelasan kami ini sekaligus merupakan harapan kami kepada masyarakat agar tidak terprovokasi oleh sekelompok orang yang akan membawa mereka kepada langkah yang dapat mengundang kemurkaan Allah, sebab Allah Taala berfirman yg terjemahannya : “Sesungguhnya orang-orang yang memfitnah/menganiaya orang-orang mukmin laki-laki dan mukmin perempuan lalu mereka tidak bertobat, niscaya bagi mereka ada adzab neraka jahanam dan bagi mereka ada adzab yang membakar.” (QS. Al-Buruj / 85 : 11).
            Semoga Allah yang Maha Pengasih, melindungi umat Islam dan Bangsa Indonesia dari terpengaruh oleh provokasi yang hanya akan merugikan diri sendiri, aamiin.
            Adapun penjelasan Aqidah Islam yang diyakini oleh Jemaat Ahmadiyah, dapat kami uraikan satu demi satu Rukun Iman dan Rukun Islam, sebagaimana yang diajarkan oleh Yang Mulia Nabi Suci Muhammad Rasulullah Shallallaaahu ‘alaihi wasallam yang penjelasannya kami kutip dari wejangan Pendiri Jemaat Ahmadiyah, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad ‘alaihis salaam dan para Khalifah beliau –Imam  International Jemaat Ahmadiyah.

  1. I.      Rukun Iman
  2. II.   Rukun Islam
    1. Mengucapkan Dua Kalimah Syahadat
  1. Beriman kepada Allah
  2. Beriman kepada Malaikat-malaikat-Nya
  3. Beriman kepada Kitab-kitab-Nya
  4. Beriman kepada Rasul-rasul-Nya
  5. Beriman kepada Hari Akhir
  6. Beriman kepada Qadha & Qadar, baik dan buruknya.
  1. Melaksanakan/Menegakan Shalat
  2. Berpuasa di bulan Ramadhan
  3. Membayar Zakat
  4. Menunaikan Ibadah Haji ke Baitullah (Mekkah).
Penjelasan :
  1. I.      Rukun Iman
I.1. Beriman kepada Allah

Pendiri Jemaat Ahmadiyah, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as. menjelaskan:
“Untuk mengikuti ajaranku seseksama-seksamanya dikehendaki, bahwa mereka harus berkeyakinan, bahwa mereka mempunyai satu Tuhan yang Qadir (Maha Kuasa), Qayyum (Yang Berdiri Sendiri) dan Khaaliqul Kul (Pencipta segala sesuatu yang ada), yang sifat-sifat-Nya tak kunjung berubah, serta kekal dan abadi. Ia tidak mempunyai anak. Ia Suci-Murni dari jejak penderitaan, dari dinaikkan ke tiang salib dan dari mengalami suatu kematian. Ia sedemikian rupa, bahwa meskipun dekat namun jauh. Walaupun Tunggal, tapi penjelmaan-Nya nampak dalam bermacam ragam corak. Manakala ada terjadi suatu perobahan di dalam diri seorang manusia, bagi orang itu Dia menjadi Tuhan yang baru, dan Dia memperlakukannya dengan penjelmaan-Nya yang baru. Orang itu melihat suatu perubahan di dalam wujud Tuhan menurut proporsi dari perubahan yang ada pada dirinya – tetapi, hal ini bukanlah seakan-akan terjadi suatu perobahan di dalam Wujud Tuhan, karena sesungguhnya Dia tidak akan sekali-kali mengalami perobahan, dan Wujud-Nya memang paripurna; tetapi dengan tiap-tiap perobahan yang berlaku di dalam diri manusia yang menjurus kearah kebaikan, Tuhan pun menjelmakan diri-Nya terhadap manusia itu di dalam bentuk penjelmaan baru. Dengan tiap-tiap usaha kemajuan pada diri manusia, Tuhan pun memperlihatkan diri-Nya dengan penjelmaan yang lebih agung lagi perkasa. Ia menampakkan sesuatu penjelmaan dari kodrat-Nya yang luar biasa, hanya apabila manusia memperlihatkan suatu perubahan di dalam dirinya secara luar biasa pula; inilah akar dan landasan dari keajaiban dan mu’jizat-mu’jizat yang dipersaksikan oleh sekalian hamba-hamba Allah. Beriman kepada Allah swt., serta kepada segala kekuatan-kekuatan itu, merupakan syarat yang penting bagi Jema’at kita. Resapkanlah keimanan ini ke dalam kalbumu. Berikanlah tempat yang utama kepada keimanan itu lebih daripada kepada urusan pribadi, kesenangan-kesenganmu dan segala hubungan-hubunganmu. Dengan perbuatan-perbuatan nyata disertai keberanian yang tak kenal menyerah, perlihatkanlah kesetiaan dengan sejujur-jujurnya.

Orang-orang lain di dunia ini, tidak menganggap Tuhan sebagai suatu Zat yang lebih penting dari harta benda mereka dan sanak saudara serta karib kerabat mereka. Akan tetapi kamu harus memberikan kepada-Nya tempat yang paling utama, agar supaya di Langit kamu dituliskan di dalam daftar Jema’at-Nya.” (Ajaranku, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, hal. 1-3, Penerbit Yayasan Wisma Damai, Bogor, 1993)

Selasa, 17 Agustus 2010

Bukankah Ahmadiyah Islam?

Belakangan ini berkembang opini kafir mengkafirkan di kalangan umat islam. Semua merasa benar dan bahkan paling benar. Dengan tanpa menggali dan mengkaji lebih dalam, semua diputuskan dengan tidak merujuk kepada sumber ajaran yang utama, Quran dan Sunnah.

Kelompok muslim minoritas seperti Ahmadiyah misalnya, adalah salah satu korbannya. Hanya karena berbeda penafsiran dengan mayoritas, mereka lantas dicap keluar dari islam dan bahkan dilarang menyatakan diri sebagai islam. Gilanya, bahkan semua kegiatan peribadahannya pun dapat dianggap sebagai penodaan Agama!! Membuat agama baru adalah pilihannya. Jika tidak, maka kelompok-kelompok radikal dan suka berbuat anarkhis siap untuk berbuat huru-hara. Dan jika hal seperti itu sampai terjadi, maka justru kesalahan ditimpakan kepada kelompok minoritas. Karena merekalah masyarakat menjadi resah. Pemerintah lalu didesak untuk menindak kelompok yang dianggap telah meresahkan tersebut. Sungguh sebuah ironi. Bagaimanapun juga hal tersebut sangat bertentangan dengan logika akal serta hati nurani.

Padahal berkenaan dengan keislaman seseorang, tidak ada hak bagi siapapun untuk mengaturnya. Seseorang yang mengaku dirinya sebagai orang islam dan mengamalkan semua rukun iman serta rukun islam, maka tiada hak bagi siapapun untuk mengeluarkannya dari islam. Berikut ini adalah salah satu dalil yang menerangkan bagaimana Yang Mulia Rasulullah saw memberi batasan yang terang dan tanpa perlu perumusan yang berbelit-belit dari para ulama mengenai ke-muslim-an seseorang:

Rabu, 31 Maret 2010

SEBUAH WAWANCARA

SEBUAH WAWANCARA DENGAN REKTOR UNIVERSITAS AL-AZHAR TENTANG ITIKAD AHMADIYAH

Oleh: Abdus salam Madsen

Denmark


==========
Tentang Syeh Mahmud Syaltut seluruh dunia islam pada umumnya mengenal namanya, bahkan juga bangsa Indonesia, yang telah mendapat kehormata dengan kunjungan beliau ke negeri ini beberapa waktu silam.
Di bawah ini termasuk tulisan Tuan Abdus Salam Madsen dari Denmark, nukilan dari majalah “Review of Religion” bulan Oktober 1962, yang merupakan wawancara antara si penulis dengan Syeh besar tersebut. Wawancara itu direproduksi ke dalam tulisan atas dasar catatan si penulis yang dibuatnya hari itu juga secermat-cematnya, demikian catatan A.S. Madsen. Penulis adalah seorang bangsa Denmark yang juga baru masuk islam dengan perantaraan Ahmadiyah yang bertugas di negeri tersebut.

Penterjemah: R. Ahmad Anwar

==========


Pada tanggal 24 Juli 1962 jam 11 pagi saya diterima oleh Rektor Dr. Mahmud Syaltut, yang masyhur dengan fatwanya tentang wafatnya Yesus (Isa ibnu Maryam), di ruang depan kantornya. Saya ditemani oleh Wakil kepala Jawatan Hubungan-hubungan kebudayaan dengan luar negeri dari departemen perguruan Tinggi RPA, Tuan Muhammad Bayoumi Ibrahim. Akan tetapi beliau ini tidak dapat menemani saya sampai ke hadapan Syeh tersebut, oleh sebab itu seorang anggota dari fakultas itu, yang dapat berbicara Inggris, mungkin bernama Dr. Beha’i menyertai saya dan bertindak sebagai jurubahasa. Syeh tersebut mengetahui bahasa Inggris hanya sedikit.
Mula-mula Dr. Beha’i bertanya waktu di ruang muka kantor, bahwa apa yang menjadi pokok untuk didiskusikan dengan yang mulia itu. Saya belum lagi memikirkan tentang pokok pembicaraan tertentu, tetapi atas permintaannya saya menulis di atas secarik kertas: Rafa’ Isa as.
Kemudian kami pergi ke suatu ruang yang besar, di mana Syeh tersebut duduk di atas kursi besar, dikelilingi oleh lima atau enam Syeh yang lain. Dr Mahmud Syaltut datang ke Universitas hanya dua kali dalam seminggu semenjak beliau sakit payah kira-kira setahun yang lalu.

Selasa, 16 Maret 2010

Penyebab Terorisme serta Obatnya

Islam hari ini dipandang oleh banyak orang di Barat sebagai agama yang agresif yang mempromosikan terorisme. Sayangnya, hal yang sering terjadi bahwa pembunuhan orang-orang yang tidak berdosa, bom bunuh diri, dan kegiatan teroris ini dilakukan oleh orang-orang yang mengklaim dirinya sebagai Muslim, namun pada kenyataannya, tanggung jawab untuk tindakan-tindakan berbahaya seperti itu benar-benar bersandar dengan apa yang diajarkan para pemuka agama Islam, yang sungguh-sungguh keliru dalam pemahaman mereka tentang masalah jihad. Mereka menganggap pembunuhan manusia 'oleh pedang' sebagai kewajiban agama. Para ulama ini sengaja menyalahtafsirkan beberapa ayat-ayat Al Qur'an Mutashabihat (bermakna rumit dan beraneka segi) dan mempersamakan Jihad Islam sejati dengan pemberontakan untuk keuntungan mereka sendiri.

Related Post

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...