Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan
Selasa, 16 Maret 2010
Penyebab Terorisme serta Obatnya
Rabu, 16 Desember 2009
Perbedaan Antara Azab dan Cobaan
Antara azab dan cobaan terdapat perbedaan besar. Tapi karena kebodohan, orang-orang tidak memperhatikan perbedaan itu dan menganggap bahwa kesulitan yang dihadapi di jalan Tuhan itu sebagai penyebab kehancuran mereka. Padahal itulah yang akan menyebabkan kemajuan bagi mereka.
Salah satu perbedaan antara cobaan dan azab adalah, ketika manusia berusaha untuk menjauhkan azab, maka dia selalu tersandung. Tapi kepada siapa ujian turun, hal itu akan menimbulkan pemahaman (pelajaran) baru baginya. Kemudian dia mulai memahami masalahnya dengan baik.
Salah satu perbedaan antara cobaan dan azab adalah, ketika manusia berusaha untuk menjauhkan azab, maka dia selalu tersandung. Tapi kepada siapa ujian turun, hal itu akan menimbulkan pemahaman (pelajaran) baru baginya. Kemudian dia mulai memahami masalahnya dengan baik.
Sabtu, 12 Desember 2009
“PARDAH” ATAU HIJAB DALAM ISLAM
Oleh karena banyak sekali kesalah-pahaman dan kurangnya pengetahuan yang tepat mengenai apa yang dimaksud dengan pardah yang terdapat dalam Islam, bahkan kesalahpahaman di kalangan umat Islam sendiri, maka kiranya pada tempatnya membuat suatu catatan yang agak terperinci mengenai masalah yang dirasakan sebagai gangguan itu. Ayat-ayat berikut membahas segala segi "pardah".
Rabu, 25 November 2009
Sifat Al Wali Allah Taala (Bagian 4)*
Allah Taala berfirman dalam ayat 42 Surah Al Ankabut,
Artinya: “Permisalan orang-orang yang mengambil selain Allah sebagai penolong-penolong adalah seperti permisalan laba-laba yang membuat rumahnya. Dan sesungguhnya, selemah-lemahnya rumah adalah rumah laba-laba, seandainya mereka itu mengetahui!” (QS. 29:42)
Sudah jelas dari pernyataan ayat ini, yakni, betapa malangnya bangsa tersebut yang telah meninggalkan khazanah dan sifat Al Wali Allah Swt lalu mencari-cari sumber bantuan lain. Mata mereka nanar demi melihat keuntungan yang bersifat sementara, dan merendahkan faedah [bantuan Ilahi] yang bersifat permanen. Berbagai sumber dan atribut dunia tersebut membuat mereka mengabaikan Keridhaan Allah Taala. Alih-alih menjadi waliullah, yakni sahabat Allah, mereka bersahabat dengan tuhan-tuhan lain selain Allah. Alih-alih masuk ke dalam kuatnya pertahanan perlindungan Ilahi, mereka mengandalkan jalinan perlindungan duniawi semisal jejaring laba-laba.
مَثَلُ الَّذِينَ اتَّخَذُوا مِن دُونِ اللَّهِ أَوْلِيَاء كَمَثَلِ
الْعَنكَبُوتِ اتَّخَذَتْ بَيْتاً وَإِنَّ أَوْهَنَ الْبُيُوتِ
لَبَيْتُ الْعَنكَبُوتِ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ
Artinya: “Permisalan orang-orang yang mengambil selain Allah sebagai penolong-penolong adalah seperti permisalan laba-laba yang membuat rumahnya. Dan sesungguhnya, selemah-lemahnya rumah adalah rumah laba-laba, seandainya mereka itu mengetahui!” (QS. 29:42)
Sudah jelas dari pernyataan ayat ini, yakni, betapa malangnya bangsa tersebut yang telah meninggalkan khazanah dan sifat Al Wali Allah Swt lalu mencari-cari sumber bantuan lain. Mata mereka nanar demi melihat keuntungan yang bersifat sementara, dan merendahkan faedah [bantuan Ilahi] yang bersifat permanen. Berbagai sumber dan atribut dunia tersebut membuat mereka mengabaikan Keridhaan Allah Taala. Alih-alih menjadi waliullah, yakni sahabat Allah, mereka bersahabat dengan tuhan-tuhan lain selain Allah. Alih-alih masuk ke dalam kuatnya pertahanan perlindungan Ilahi, mereka mengandalkan jalinan perlindungan duniawi semisal jejaring laba-laba.
Senin, 23 November 2009
Ajaran Islam Tentang Korupsi & Suap Menyuap
Quran surah 2 ayat 189 menyatakan dengan tegas berkenaan dengan segala bentuk suap menyuap:
“Dan, janganlah makan hartamu di antara kamu dengan jalan batil, dan jangan pula kamu serahkan harta itu sebagai suapan kepada para penguasa supaya kamu dapat memakan sebagian harta dengan cara berbuat dosa, padahal kamu mengetahui.”
“Dan, janganlah makan hartamu di antara kamu dengan jalan batil, dan jangan pula kamu serahkan harta itu sebagai suapan kepada para penguasa supaya kamu dapat memakan sebagian harta dengan cara berbuat dosa, padahal kamu mengetahui.”
Minggu, 15 November 2009
Sifat Al Wali Allah Taala (Bagian 3)*
Firman Allah:
اَلَاۤ اِنَّ اَوْلِيَآءَ اللّٰهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْ() الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَكَانُوْا يَتَّقُوْنَؕ () لَهُمُ الْبُشْرٰى فِىْ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَفِىْ الْاٰخِرَةِؕ () لَا تَبْدِيْلَ لِـكَلِمٰتِ اللّٰهِؕ () ذٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُؕؕ
yang artinya, Ingatlah ! Sesungguhnya, bagi para Auwliya Allah itu tidak ada hauf, ketakutan atas mereka dan tidak pula mereka yahjanun, bersedih — Yaitu orang-orang yang beriman dan bertakwa — Bagi mereka ada kabar suka dalam kehidupan di dunia ini dan di akhirat nanti — Tidak ada perubahan pada firman-firman Allah; Itulah sungguh suatu kemenangan yang besar. [10:63-65]
Para Auwliya telah mendapat jaminan dari Allah Taala, bahwa mereka tak akan pernah takut maupun berduka cita selama mereka tetap meningkatkan derajat keimanan dan Taqwa mereka kepada Allah Swt. Bagi para mukminin sejati seperti itu, ada suatu janji bahwa Allah Taala akan menjadi Sahabat dan Penolong mereka. Mereka itulah pewaris berbagai rahmat dan karunia Ilahi, baik di dunia ini maupun di Akhirat nanti.
Ciri-ciri khas seorang mukmin sejati adalah, ia yang tetap teguh dalam keimanan mereka meskipun bila ia harus menghadapi kehilangan duniawi, karena ia yakin akan memperoleh ganjaran pahalanya di akhirat nanti sebagaimana telah dijanjikan Allah Swt. Namun, prasyarat pertama dan paling utama untuk itu adalah harus terlebih dahulu memenuhi beberapa kewajiban mereka sebagai Auwliya.
اَلَاۤ اِنَّ اَوْلِيَآءَ اللّٰهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْ() الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَكَانُوْا يَتَّقُوْنَؕ () لَهُمُ الْبُشْرٰى فِىْ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَفِىْ الْاٰخِرَةِؕ () لَا تَبْدِيْلَ لِـكَلِمٰتِ اللّٰهِؕ () ذٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُؕؕ
Para Auwliya telah mendapat jaminan dari Allah Taala, bahwa mereka tak akan pernah takut maupun berduka cita selama mereka tetap meningkatkan derajat keimanan dan Taqwa mereka kepada Allah Swt. Bagi para mukminin sejati seperti itu, ada suatu janji bahwa Allah Taala akan menjadi Sahabat dan Penolong mereka. Mereka itulah pewaris berbagai rahmat dan karunia Ilahi, baik di dunia ini maupun di Akhirat nanti.
Ciri-ciri khas seorang mukmin sejati adalah, ia yang tetap teguh dalam keimanan mereka meskipun bila ia harus menghadapi kehilangan duniawi, karena ia yakin akan memperoleh ganjaran pahalanya di akhirat nanti sebagaimana telah dijanjikan Allah Swt. Namun, prasyarat pertama dan paling utama untuk itu adalah harus terlebih dahulu memenuhi beberapa kewajiban mereka sebagai Auwliya.
Kamis, 12 November 2009
Khairul Ummah (Ummat Terbaik)
Ikhtisar Khutbah Jumah Hadhrat Khalifatul Masih V Atba
6 November 2009, di Masjid Agung Baitul Futuh, London, UK.
Huzur membacakan ayat 111 Surah Al Imran,
yang terjemahannya sebagai berikut,‘Kamu adalah umat terbaik, yang dibangkitkan demi kebaikan umat manusia, kamu menyuruh berbuat kebaikan dan melarang berbuat keburukan, dan beriman kepada Allah. Dan, sekiranya Ahlikitab beriman, niscaya akan lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka orang-orang fasik.’ (3:111).
6 November 2009, di Masjid Agung Baitul Futuh, London, UK.
Huzur membacakan ayat 111 Surah Al Imran,
كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَاْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِؕ وَلَوْ اٰمَنَ اَهْلُ الْكِتٰبِ لَڪَانَ خَيْرًا لَّهُمْؕ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ وَاَكْثَرُهُمُ الْفٰسِقُوْنَ
yang terjemahannya sebagai berikut,‘Kamu adalah umat terbaik, yang dibangkitkan demi kebaikan umat manusia, kamu menyuruh berbuat kebaikan dan melarang berbuat keburukan, dan beriman kepada Allah. Dan, sekiranya Ahlikitab beriman, niscaya akan lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka orang-orang fasik.’ (3:111).
Minggu, 08 November 2009
Umat dan Perbedaan
Oleh: A. Mustofa Bisri
www.Gusmus.net
Mula-mula adalah dua sejoli ”imigran” dari sorga, Adam dan Hawa, yang diserahi Tuhan mengelola bumi ini. Kemudian, mereka menurunkan keturunan yang disebut manusia. Manusia berkembang semakin lama semakin banyak meramaikan planet ini. Ketentuan-ketentuan Tuhan yang dibawa dan diajarkan Adam a.s. sebagai panduan untuk mengelola bumi dan wasilah untuk kembali ke sorga, menuju kepada-Nya, semula dipatuhi dan ditaati oleh semua anak-cucunya. Namun dengan perjalanan waktu, kian lama ketentuan-ketentuan itu dilupakan dan diabaikan oleh cicit-cicit Adam yang datang belakangan.
www.Gusmus.net
Mula-mula adalah dua sejoli ”imigran” dari sorga, Adam dan Hawa, yang diserahi Tuhan mengelola bumi ini. Kemudian, mereka menurunkan keturunan yang disebut manusia. Manusia berkembang semakin lama semakin banyak meramaikan planet ini. Ketentuan-ketentuan Tuhan yang dibawa dan diajarkan Adam a.s. sebagai panduan untuk mengelola bumi dan wasilah untuk kembali ke sorga, menuju kepada-Nya, semula dipatuhi dan ditaati oleh semua anak-cucunya. Namun dengan perjalanan waktu, kian lama ketentuan-ketentuan itu dilupakan dan diabaikan oleh cicit-cicit Adam yang datang belakangan.
Rabu, 04 November 2009
Sifat Al-Wali Allah Taala (bagian 2)
Allah Taala mengingatkan kaum mukminin, kaum kafirin maupun musyrikin di dalam Al Qur’an Karim dengan firman-Nya sebagai berikut(*):
لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِّن بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللّهِ إِنَّ اللّهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنْفُسِهِمْ وَإِذَا أَرَادَ اللّهُ بِقَوْمٍ سُوءاً فَلاَ مَرَدَّ لَهُ وَمَا لَهُم مِّن دُونِهِ مِن وَالٍ
yang artinya, ‘Untuk dia, rasul itu, ada pergiliran malaikat-malaikat di hadapannya dan di belakangnya; mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya, Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka. Dan apabila Allah telah berkehendak untuk menghukum suatu kaum, maka tiada yang dapat menghindarkannya, dan tiada bagi mereka penolong selain dari Dia.’ (Surah 13 / Ar Rad : ayat 12)
لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِّن بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللّهِ إِنَّ اللّهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنْفُسِهِمْ وَإِذَا أَرَادَ اللّهُ بِقَوْمٍ سُوءاً فَلاَ مَرَدَّ لَهُ وَمَا لَهُم مِّن دُونِهِ مِن وَالٍ
yang artinya, ‘Untuk dia, rasul itu, ada pergiliran malaikat-malaikat di hadapannya dan di belakangnya; mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya, Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka. Dan apabila Allah telah berkehendak untuk menghukum suatu kaum, maka tiada yang dapat menghindarkannya, dan tiada bagi mereka penolong selain dari Dia.’ (Surah 13 / Ar Rad : ayat 12)
Label:
Islam,
Khutbah Jumat,
rasulullah,
Sifat Allah
Selasa, 03 November 2009
Tiga syarat pengabulan doa
Terkadang kita merasa sudah sedemikian banyak berdo'a, namun setelah sedemikian lama belum juga ada tanda-tanda do'a kita dikabulkan. Apakah yang salah? Mungkinkah Tuhan tidak mendengar do'a kita sedangkan Dia adalah Maha Mendengar. Atau ada hal-hal yang menjadi syarat dalam berdo'a yang belum kita penuhi sehingga do'a menjadi tertolak tanpa kita tahu. Lalu, kalau memang ada, apakah syarat-syarat agar do'a yang dipanjatkan dikabulkan oleh Allah.
Pengabulan Do'a Merupakan Pengakuan Tuhan
Sebagaimana telah dikemukakan, umat Muslim selalu dianjurkan dalam Surat Al-Fatihah untuk menyibukkan diri mereka dalam berdoa dan mereka diajari doa yang berbunyi:
"Tuntunlah kami pada jalan yang lurus." (S.1 Al-Fatihah:6).
Sudah merupakan ketetapan bahwa doa ini harus dipanjatkan dalam lima shalat setiap harinya. Karena itu salah sekali jika kalian menyangkal sifat spiritualitas daripada doa. Ketentuan Al-Quran menyatakan bahwa doa ini berkaitan dengan keruhanian dan sebagai hasil dari doa tersebut akan turun rahmat berupa keberhasilan dalam berbagai bentuk.
"Tuntunlah kami pada jalan yang lurus." (S.1 Al-Fatihah:6).
Sudah merupakan ketetapan bahwa doa ini harus dipanjatkan dalam lima shalat setiap harinya. Karena itu salah sekali jika kalian menyangkal sifat spiritualitas daripada doa. Ketentuan Al-Quran menyatakan bahwa doa ini berkaitan dengan keruhanian dan sebagai hasil dari doa tersebut akan turun rahmat berupa keberhasilan dalam berbagai bentuk.
Jumat, 29 Mei 2009
Kondisi Toleransi Beragama di Malaysia Ternyata Lebih Parah...
Kondisi toleransi beragama di negeri jiran ternyata lebih parah.
Bagia pertama:
Bagian kedua:
Bagia pertama:
Bagian kedua:
Label:
Ahmadiyah,
Berita pilihan,
Islam,
Opini
Senin, 25 Mei 2009
Buku Hidden Agenda PKS "Ilusi Negara Islam" Beredar di Internet

Buku "Ilusi Negara Islam" menghilang dari toko-toko buku. Padahal baru saja diluncurkan. Beberapa toko buku menolak menjual buku tersebut karena diteror. (Lihat detiknews.com Jumat, 22/05/2009)
Hal ini tentu saja menimbulkan tanda tanya besar. Siapa pihak meneror para penjual buku hingga mereka enggan menjual buku tersebut?? Pihak mana lagi yang paling berkepentingan dengan isi buku tersebut dan memang menjadi topik bahasan utama.
Apa saja isi buku tersebut hingga menuai kontroversi? Apakah anda penasaran seperti saya? Memang siapapun akan merasa tertarik atau tertantang membaca buku yang sangat aktual dan fenomenal seperti itu. Sayang kita mungkin akan harus mengurungkan niat membacanya berhubung adanya upaya untuk menghilangkan buku tersebut dari pasaran.
Tapi, tidak ada kata menyerah dalam kamus hidup seorang pejuang.. Setelah mencari dengan susah payah.. (seolah-olah..) akhirnya kutemukan juga orang baik yang mau berbagi bukunya dengan semua orang. Buku langka ini ternyata tersedia gratis di internet dalam bentuk PDF. Nah jika anda penasaran silahkan ikuti saja URL berikut ini:
http://www.bhinnekatunggalika.org/downloads/ilusi-negara-islam.pdf
Saya sangat bersyukur karena akhirnya dapat membaca buku tersebut. Dan semoga saja dapat bermanfaat bagi semua..
Bila anda agak malas atau belum sempat baca, anda dapat juga baca resensi singkatnya di blog ajaran
Rabu, 14 Januari 2009
KUTUKAN TANAH SUCI

Dentuman suara ledakan bergema di seluruh penjuru kota. Darah mengalir, mayat bergelimpangan. Air mata terurai, kepiluan tak terelakkan. Melihat Gaza sekarang ini, tak ubahnya seperti masa ribuan tahun yang lalu dimana peradaban manusia belum seperti sekarang. Tidak ada batasan kemanusiaan, rasa keadilan, ataupun belas kasihan laksana binatang buas yang sedang menerkam mangsanya. Bedanya kini menggunakan peralatan yang lebih canggih sehingga kebrutalan tidak akan terlalu terlihat secara vulgar seperti di masa lalu.
Hingga kini hari ke-20 invasi israel ke Palestina, jumlah korban tewas akibat kekejaman Israel sudah hampir 1000 orang. Sebagian besar adalah anak-anak dan kaum wanita. Angka ini akan terus bertambah mengingat besarnya jumlah korban luka-luka yang parah sedangkan sarana prasarana perawatan medis sangat minim akibat blokade Israel.
Israel menjadikan Hamas sebagai alasan mereka membantai seluruh Palestina. Hamas pun tidak mau mengalah dengan terus mengirimkan roket-roket ke wilayah israel. Hasilnya, 4 orang terluka di pihak Israel dan ribuan terbunuh di Palestina. Hamas yang sudah terbakar kebencian yang mendalam semenjak lama sepertinya sudah tidak dapat bertindak rasional lagi. Tidak lagi memikirkan korban di pihak saudara mereka sendiri yang terus berjatuhan. Israel pun nampaknya tidak berniat memberi ampun kepada Hamas ataupun kepada Palestina seumumnya yang sedari awal menjadi duri dalam renacananya menguasai kembali Tanah Yang Dijanjikan Tuhan (The Promised Land). Sehingga pemandangannya sekarang persis seperti seekor kucing yang sedang mempermainkan tikus yang sudah tidak berdaya.
Jika ini terjadi ribuan tahun yang lalu, kita akan faham karena waktu itu belum ada hukum internasional yang mengikat semua bangsa-bangsa di dunia. Belum ada Perserikatan Bangsa Bangsa seperti sekarang ini yang bertujuan menjaga perdamaian dunia. Lalu apa yang salah?? Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Kenapa kekejian seperti ini masih saja berlangsung.
Masalah politik dan permainan kotornya dari dulu memang bukan termasuk hal yang dapat ku cerna. Mungkin aku terlalu naif untuk bisa mengerti hal seperti itu. Tapi setidaknya semua setuju dengan azas kemanusiaan. Agama manapun di dunia ini pasti memberikan perhatian pada kemanusiaan ini tanpa terkecuali. Manusia harusnya memang banyak belajar tentang kemanusiaan dari pengalaman sejarah berabad-abad. Cukup sudah peperangan, pertumpahan darah, kekerasan, dan ketidakadilan.
Namun mungkin kehendak Tuhan lain. Selalu kita memikirkan apa yang menjadi kehendak kita tanpa memperhatikan kehendak Tuhan. Tuhan selalu memberikan jalan untuk kebaikan umat manusia. Namun semikian manusia tanpa malu menolak semua yang terbaik itu dan memilih jalannya sendiri. Kebaikan hanyalah bila manusia kembali ke jalan Tuhan. Namun kebanyakan manusia tidak lagi memperhatikan jalan hidup yang sedang dilaluinya. Terlalu asyik dengan ambisi dirinya serta mengabaikan seruan Tuhan untuk kembali ke jalan-Nya.
Masing-masing merasa benar dengan arah yang sedang dituju tanpa mau memeriksa dengan benar navigasi Ilahi yang diberikan. Tanda-tanda diabaikan dan dianggap tidak dijadikan panduan untuk mencari arah. Semakin lama manusia makin kehilangan arah dan tujuan hidupnya. Hingga langit baru dan dunia baru akan mustahil terwujud tanpa adanya revolusi mendasar dalam kehidupan setiap orang yang dapat membangkitkan kembali kesadaran akan adanya keinginan Tuhan yang sebenarnya.
Mungkin banyak yang belum menyadari betapa genting keadaan dunia sekarang ini. Diawali dengan turun naiknya harga minyak dunia, lalu jatuhnya ekonomi Amerika dalam krisis yang mengakibatkan krisis global, lalu kini tiba-tiba Israel menyerang Gaza membabi buta. Dengan alasan untuk memberangus Hamas. Aku sama sekali tidak pernah mengharapkan PD-3 (Perang Dunia 3) akan terjadi. Tapi melihat gelagat dinamika politik dan ekonomi dunia saat ini semuanya jadi terasa semakin dekat. Gaza mungkin hanyalah sebuah momentum awal. Selanjutnya entah apa yang akan terjadi.. wallahu a’lam.
Abunaweed, Jakarta 15 Jan '09
Kamis, 18 Desember 2008
Kebenaran Lia Eden

Lia Eden kembali menuai kontroversi. Kali ini wahyu yang disampaikan oleh yang mengaku dirinya jibril itu menyatakan pembubaran agama islam. Selain itu, pemerintahan SBY juga menjadi pokok bahasan.
Saya sempat berbahas dengan teman-teman mengenai Lia Eden. Di luar statementnya tentang pemerintahan Indonesia (politik banget), apakah mungkin bahwa Lia dan kerajaannya ini benar?
Bagi sebagian orang (termasuk saya), pertanyaan di atas bisa saja timbul, apalagi dengan kondisi islam sekarang ini yang umatnya terus-menerus mencoreng moreng wajahnya dengan berbagai perbuatan yang melanggar nurani (baca: terorisme).
Saya sempat heran dan sekaigus merasa lucu melihat tingkah beberapa pihak yang merasa diri paling islam (baca: FPI dkk.) yang sempat diberitakan akan menyerang markas kerajaan Eden terkait selebarannya itu. Kenapa heran?? Ini terkait dengan jawaban atas pertanyaan diatas mengenai kebenaran Lia Eden.
Ketika saya berbahas dengan beberapa teman, saya sempat agak bimbang untuk memberi tanggapan. Bimbang karena memang fakta yang nyata bahwa umat islam banyak bertindak yang melanggar kebenaran. Pembunuhan orang yang tidak berdosa meski dengan alasan apapun sungguh tidak pernah ada dalam agama ini. Mengganggu ketertiban dan keamanan serta kepentingan umum sungguh merupakan perbuatan tercela menurut kitab suci manapun. Dan itu semua dilakukan oleh orang yang mengaku islam itu.
Namun kemudian saya sadar bahwa mereka itu bukanlah islam. Islam tidaklah sebagaimana yang mereka fahami dan amalkan sehingga sedemikian layak untuk dibubarkan seperti kata wahyu Lia. “Aku tidak setuju!” sanggahku dengan bersemangat. Sebagai orang islam kita harus yakin bahwa agama ini benar dan paripurna. Tidak ada lagi agama setelah islam. Hanya karena ulah segelintir orang yang kurang pengetahuan tidak menjadikan islam menjadi agama yang harus dibubarkan.
Yang kedua, menurut agama kita, tidak ada utusan Tuhan seorang perempuan. Atau seseorang dapat mengaku menjadi penjelmaan malaikat jibril. Cobalah anda perhatikan dengan seksama betapa kacaunya pendakwaan Lia Aminudin alias Lia Eden ini.
Oleh karena itulah saya menjadi heran dan geli. Mengapa orang-orang itu begitu belingsatan dengan selebaran Lia Eden? Toh seharusnya sebagai orang islam yang yakin dengan kebenaran islam kita tidak perlu terganggu dengan selebaran seperti itu. Sama halnya anda merasa tersinggung karena dikata-katai tidak benar oleh orang yang tidak sehat pikirannya lalu anda marah dan naik pitam.
Menurut saya Lia Eden dan komunitasnya tidak perlu diurusi. Yang perlu diurusi justru adalah orang-orang yang selama ini terus menerus mencoreng wajah keindahan islam dengan prilaku barbariannya itu. Tidak akan ada yang tertarik dengan Lia Eden atau apapun jika seseorang sudah melihat keindahan islam yang hakiki.
Permasalahan selanjutnya adalah dimana dan bagaimana kita dapat melihat keindahan islam yang hakiki?? Tentu perlu upaya dan kegigihan. Seperti halnya orang yang mendulang emas dan intan, anda jangan cepat menyerah hanya karena terus menemukan lumpur dan kerikil saja. Tapi selama anda yakin sudah berada di sungai yang benar, pada akhirnya upaya pencaharian anda pasti akan menemukan hasilnya. InsyaALLah.
=================
Berikut Wahyu Lia Eden yang ditampilkan dalam situs resminya, seperti dikutip INILAH.COM, Senin (15/12).
Wahyu Tuhan untuk Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono
Atas Nama Tuhan Yang Maha Perkasa
Wahyu Tuhan:
Sedapat-dapatnya Aku memberitahukan kepadamu tentang Keinginan-Ku memberdaulatkan Kerajaan Eden dan Surga Eden di negaramu ini. Namun telah kauabaikan semua Surat-surat-Ku yang Kutujukan kepadamu. Sampailah Aku pada kesimpulan bahwa Anda benar-benar tak bersedia mematuhi-Ku. Maka Aku pun telah sampai pada batas waktu yang patut Kuberikan kepadamu.
Inilah Surat-Ku yang berisi fatwa penghapusan kedaulatanmu sebagai pemimpin negara Indonesia. Aku takkan memberimu peluang untuk terpilih kembali, dan pemerintahanmu ini akan berakhir chaos, dan negaramu Kubuat tak berdaya, karena Aku menundukkanmu, dan Aku akan mendirikan Kerajaan-Ku dengan segala cara!
Perubahan drastis akan segera terjadi seusai Surat-Ku ini sampai kepadamu.
Demikian Wahyu Tuhan telah kami sampaikan. Terima kasih atas perhatiannya.
Jakarta, 23 November 2008
ruhul kudus
Jibril Ruhul Kudus
Sumber: Inilah.com
Selasa, 16 Desember 2008
Etika Perniagaan Dalam Islam
Islam tidak berseberangan dengan kapitalisme dan tidak juga sepenuhnya menentang komunisme, malah memiliki sikap dan pandangan-pandangan terbaik dari keduanya.
Berikut ini beberapa contoh dimana 1400 tahun yang lalu, Islam telah memberikan norma-norma komersial sehat yang baru disadari secara susah payah oleh manusia modern:
Singkat kata, Islam memilih strategi untuk memperkecil jurang antara yang kaya dengan yang miskin melalui:
Tujuan daripada hal-hal di atas adalah agar manusia lebih peka terhadap perasaan sesamanya dan mengekang dorongan-dorongan hewaniah dan sadistis dalam dirinya. Perang Jihad yang haqiqi adalah melawan kesombongan, kemunafikan, sifat snobis, keangkuhan, kekasaran dan ketololan. Semua yang luhur di dalam pikiran manusia dicoba ditarik keluar dan ia dibuat sedemikian peka terhadap penderitaan sesamanya sehingga ia menganggapnya sebagai kejahatan jika ia hidup dalam kemewahan dan kesenangan sedangkan yang lainnya masih menderita dan harus mengais untuk hidup.
Tentu saja orang-orang beradab tinggi yang jadi pemuka dengan nilai-nilai adab yang luhur, selalu merupakan minoritas kecil. Tetapi dengan adanya mereka, kesadaran masyarakat secara menyeluruh atas kesejahteraan sesamanya akan terangkat, sehingga kecil kemungkinan mereka hanya akan memperhatikan kebutuhan dan kesenangan dirinya sendiri dengan menghiraukan kesengsaraan bagian lain dari masyarakat. Perhatian mereka terhadap kehidupan tidak akan terfokus ke dirinya sendiri. Mereka belajar hidup dengan kesadaran yang lebih luas akan kehidupan di sekitar mereka. Mereka merasa kurang senang kalau mereka tidak berpartisipasi secara material guna mengurangi kemiskinan dan meningkatkan standar hidup yang lainnya.
Karakteristik masyarakat muminin demikian dikemukakan di salah satu ayat-ayat awal Al-Quran:
. . . dan menafkahkan segala sesuatu dari apa yang telah Kami rezekikan kepada mereka. (S.2 Al-Baqarah: 4)
Berikut ini beberapa contoh dimana 1400 tahun yang lalu, Islam telah memberikan norma-norma komersial sehat yang baru disadari secara susah payah oleh manusia modern:
- Hubungan komersial menurut Islam didasarkan pada kepercayaan dan kejujuran mutlak (Al-Baqarah: 283 - 284).
- Islam melarang pedagang menipu timbangan dan mengurangi takaran (At-Tathfif: 2-4).
- Para pedagang dilarang menjual barang yang cacat, busuk atau rusak. Seorang pedagang tidak boleh mencoba menutupi cacat barang yang ditawarkannya (Hadith Muslim). Kalau barang seperti itu terjual tanpa diketahui oleh pembeli maka ia berhak mengembalikan barang tersebut dan memperoleh uangnya kembali (Hadith).
- Seorang pedagang tidak diizinkan memberikan harga yang berbeda untuk suatu barang kepada konsumen yang berbeda walaupun ia boleh saja menawarkan diskon kepada siapa pun. Ia bebas boleh menetapkan sendiri prosentasenya (Bukhari dan Muslim).
- Islam melarang persaingan atau kartel buatan yang menghasilkan persaingan bohong-bohongan. Agama juga melarang mengatrol harga pada suatu lelang dengan cara memberikan penawaran palsu untuk mengelabui calon pembeli (Bukhari dan Muslim).
- Islam menyarankan jual beli barang dilakukan secara terbuka dan sebaiknya di hadapan saksi-saksi dan mengingatkan pembeli agar berhati-hati dalam membeli barang (Al Baqarah: 283 - 284; Muslim).
Singkat kata, Islam memilih strategi untuk memperkecil jurang antara yang kaya dengan yang miskin melalui:
- Menetapkan beberapa tegahan sebagaimana dikemukakan di muka seperti larangan judi, minum minuman keras dan lain-lain.
- Melarang penimbunan harta dan akumulasi kekayaan melalui bunga uang.
- Mendorong usaha privat.
- Mendorong sirkulasi kekayaan yang cepat.
- Berulangkali memerintahkan, mengingatkan dan membujuk rasa citra manusia yang luhur agar menganut gaya hidup sederhana dan merendah yang tidak jauh berbeda dengan fakir miskin.
Tujuan daripada hal-hal di atas adalah agar manusia lebih peka terhadap perasaan sesamanya dan mengekang dorongan-dorongan hewaniah dan sadistis dalam dirinya. Perang Jihad yang haqiqi adalah melawan kesombongan, kemunafikan, sifat snobis, keangkuhan, kekasaran dan ketololan. Semua yang luhur di dalam pikiran manusia dicoba ditarik keluar dan ia dibuat sedemikian peka terhadap penderitaan sesamanya sehingga ia menganggapnya sebagai kejahatan jika ia hidup dalam kemewahan dan kesenangan sedangkan yang lainnya masih menderita dan harus mengais untuk hidup.
Tentu saja orang-orang beradab tinggi yang jadi pemuka dengan nilai-nilai adab yang luhur, selalu merupakan minoritas kecil. Tetapi dengan adanya mereka, kesadaran masyarakat secara menyeluruh atas kesejahteraan sesamanya akan terangkat, sehingga kecil kemungkinan mereka hanya akan memperhatikan kebutuhan dan kesenangan dirinya sendiri dengan menghiraukan kesengsaraan bagian lain dari masyarakat. Perhatian mereka terhadap kehidupan tidak akan terfokus ke dirinya sendiri. Mereka belajar hidup dengan kesadaran yang lebih luas akan kehidupan di sekitar mereka. Mereka merasa kurang senang kalau mereka tidak berpartisipasi secara material guna mengurangi kemiskinan dan meningkatkan standar hidup yang lainnya.
Karakteristik masyarakat muminin demikian dikemukakan di salah satu ayat-ayat awal Al-Quran:
. . . dan menafkahkan segala sesuatu dari apa yang telah Kami rezekikan kepada mereka. (S.2 Al-Baqarah: 4)
Selasa, 02 Desember 2008
Hikmah Basmalah
Ada sesuatu hadis yang diriwayatkan oleh Ibn Abbas yang maksudnya, bila sesuatu Surah-baru diwahyukan, biasanya dimulai dengan Bismillah, dan tanpa bismillah, Rasulullah saw. tidak mengetahui bahwa Surah baru saja dimulai (Daud). Hadis ini menampakkan bahwa (1) bismillah itu bagian dari Alquran bukan suatu tambahan, (2) bahwa Surah Bara'ah itu, bukan Surah yang berdiri sendiri. Hadis itu menolak pula kepercayaan yang dikemukakan oleh sementara orang bahwa, bismillah hanya merupakan bagian surat Al-Fatihah saja dan bukan bagian semua Surah Alquran.
Rabu, 19 November 2008
KIAT KELUARGA SAKINAH
Allah taala telah mengajari kita berbagai macam doa yang merujuk kepada sifat Al Wahab-Nya. Kaum mukmin hendaknya memperhatikan kewajiban mereka terhadap anak keturunan mereka, mendoakan pasangan hidup mereka dan anak cucu mereka, sehingga akhlakul karimah dan amalan shalihan mereka dapat berlanjut terus dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Firman Allah dalam Surah Al Furqan ayat 75 (15:75),
وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَاماً
“Dan mereka yang berkata, 'Ya Tuhan kami, anugerahilah kami istri-istri dan anak keturunan yang dapat menjadi penyejuk mata kami; dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang muttaqin.”
Doa ini merupakan suatu doa yang lengkap bagi mereka yang mendambakan pasangan hidup mereka ataupun anak keturunan mereka menjadi penyejuk mata (qurrata ayunin) mereka. Ruang lingkup doa ini tak terbatas, jauh di luar jangkauan manusia. Makbuliyat doa bagi kebaikan suami istri maupun anak keturunan ini tidak hanya dapat menyejukkan pandangan mereka pada kehidupan di dunia ini, namun juga akan terus berlanjut pada kehidupan nanti setelah mati. Ialah dikarenakan anak keturunan mereka akan terus mensyukuri dan mendoakan orang tua panutan mereka yang telah mendahului.
Firman Allah dalam Surah As-Sajdah ayat 18 (32:18):
فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَّا أُخْفِيَ لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاء بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Maka tiada sesatu jiwa mengetahui apa yang tersembunyi bagi mereka dari penyejuk mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.”
Yakni, mereka yang dikaruniai nikmat kehidupan rohaniah ini adalah mereka yang bertaqwa, sehingga memudahkan diri mereka untuk beribadat kepada Allah, membelanjakan harta benda semata-mata lillahi Taala, dan melakukan berbagai amal shalih lainnya.
Mereka bangun tengah malam [untuk bertahajud] memohon kepada Allah agar senantiasa berjalan di atas jalan sirathal mustaqim; begitupun untuk anak keturunan mereka; serta memohon segala hal yang qurrata ayunin (menyejukkan mata) mereka semua, yang rahasia ilmunya berada di tangan Allah Swt.
Inilah corak doa yang dipanjatkan oleh para abdi Allah yang sejati, yang senantiasa berusaha mewariskan anak keturunan yang teguh ketaqwaannya. Allah Taala mengajari kita dengan doa ini suatu aspek yang sangat penting, ialah jangan hanya memohon untuk kebaikan diri sendiri saja, melainkan juga untuk beberapa generasi berikutnya.
Namun, setiap diri kita hendaknya memeriksa diri, apakah ketika memanjatkan doa ini sudah memenuhi hak-hak orang lain ? Apakah sudah memenuhi hak-hak anak keturunan kita yang mengarahkan mereka ke jalan taqwa ? Jika suami istri tidak berusaha menjalani hidup taqwa betapakah mungkin mereka dapat mengharapkan anak keturunan mereka bertaqwa ? Betapakah mungkin mereka dapat memahami manfaat rohaniah dari hidup mutaqin, termasuk keberkatan Khilafat.
Sesungguhnya, perolehan manfaat keberkatan adanya Khilafat berprasyarat kepada Amalan Shalihan masing-masing. Jika tidak ada ketaqwaan tentulah tidak akan ada qurrata ayunin bagi kedua belah pihak (orang tua maupun keturunan).
Rasulullah Saw bersabda, ''Allah memberkati seorang suami yang bangun di tengah malam [untuk bertahajud] lalu membangunkan pula istrinya, yang jika bermalas-malasan ia akan mencipratinya dengan air ke wajah istrinya itu. Dan Allah Taala memberkati seorang istri yang bangun di tengah malam [untuk bertahajud] lalu membangunkan pula suaminya, yang jika bermalas-malasan ia pun menciprati air ke wajah suaminya itu.'' Lihatlah betapa usaha untuk memperoleh berkat ini berlaku untuk kedua-belah pihak.
Dikutip dari ikhtisar khutbah Huzur tgl. 14 November 2008 di Baitul Futuh
Firman Allah dalam Surah Al Furqan ayat 75 (15:75),
وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَاماً
“Dan mereka yang berkata, 'Ya Tuhan kami, anugerahilah kami istri-istri dan anak keturunan yang dapat menjadi penyejuk mata kami; dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang muttaqin.”
Doa ini merupakan suatu doa yang lengkap bagi mereka yang mendambakan pasangan hidup mereka ataupun anak keturunan mereka menjadi penyejuk mata (qurrata ayunin) mereka. Ruang lingkup doa ini tak terbatas, jauh di luar jangkauan manusia. Makbuliyat doa bagi kebaikan suami istri maupun anak keturunan ini tidak hanya dapat menyejukkan pandangan mereka pada kehidupan di dunia ini, namun juga akan terus berlanjut pada kehidupan nanti setelah mati. Ialah dikarenakan anak keturunan mereka akan terus mensyukuri dan mendoakan orang tua panutan mereka yang telah mendahului.
Firman Allah dalam Surah As-Sajdah ayat 18 (32:18):
فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَّا أُخْفِيَ لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاء بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Maka tiada sesatu jiwa mengetahui apa yang tersembunyi bagi mereka dari penyejuk mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.”
Yakni, mereka yang dikaruniai nikmat kehidupan rohaniah ini adalah mereka yang bertaqwa, sehingga memudahkan diri mereka untuk beribadat kepada Allah, membelanjakan harta benda semata-mata lillahi Taala, dan melakukan berbagai amal shalih lainnya.
Mereka bangun tengah malam [untuk bertahajud] memohon kepada Allah agar senantiasa berjalan di atas jalan sirathal mustaqim; begitupun untuk anak keturunan mereka; serta memohon segala hal yang qurrata ayunin (menyejukkan mata) mereka semua, yang rahasia ilmunya berada di tangan Allah Swt.
Inilah corak doa yang dipanjatkan oleh para abdi Allah yang sejati, yang senantiasa berusaha mewariskan anak keturunan yang teguh ketaqwaannya. Allah Taala mengajari kita dengan doa ini suatu aspek yang sangat penting, ialah jangan hanya memohon untuk kebaikan diri sendiri saja, melainkan juga untuk beberapa generasi berikutnya.
Namun, setiap diri kita hendaknya memeriksa diri, apakah ketika memanjatkan doa ini sudah memenuhi hak-hak orang lain ? Apakah sudah memenuhi hak-hak anak keturunan kita yang mengarahkan mereka ke jalan taqwa ? Jika suami istri tidak berusaha menjalani hidup taqwa betapakah mungkin mereka dapat mengharapkan anak keturunan mereka bertaqwa ? Betapakah mungkin mereka dapat memahami manfaat rohaniah dari hidup mutaqin, termasuk keberkatan Khilafat.
Sesungguhnya, perolehan manfaat keberkatan adanya Khilafat berprasyarat kepada Amalan Shalihan masing-masing. Jika tidak ada ketaqwaan tentulah tidak akan ada qurrata ayunin bagi kedua belah pihak (orang tua maupun keturunan).
Rasulullah Saw bersabda, ''Allah memberkati seorang suami yang bangun di tengah malam [untuk bertahajud] lalu membangunkan pula istrinya, yang jika bermalas-malasan ia akan mencipratinya dengan air ke wajah istrinya itu. Dan Allah Taala memberkati seorang istri yang bangun di tengah malam [untuk bertahajud] lalu membangunkan pula suaminya, yang jika bermalas-malasan ia pun menciprati air ke wajah suaminya itu.'' Lihatlah betapa usaha untuk memperoleh berkat ini berlaku untuk kedua-belah pihak.
Dikutip dari ikhtisar khutbah Huzur tgl. 14 November 2008 di Baitul Futuh
Langganan:
Postingan (Atom)

