Tampilkan postingan dengan label Palestina. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Palestina. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 Maret 2009

Diplomasi Munafik ala Yahudi

KLAIM-KLAIM ISRAEL ATAS PALESTINA

Israel mendasarkan klaim-klaimnya untuk mendirikan sebuah negara di Palestina atas tiga sumber utama: warisan Perjanjian Lama dari Kitab Injil,1 Deklarasi Balfour yang diumumkan Inggris Raya pada 1917, dan pembagian Palestina menjadi negara Arab dan negara Yahudi yang direkomendasikan oleh Majelis Umum PBB pada 1947.

OMONG KOSONG

"Atas dasar hak alamiah dan hak kesejarahan kita... dengan ini [kami] memproklamasikan berdirinya sebuah Negara Yahudi di Tanah Israel-Negara Israel." --Deklarasi Kemerdekaan Israel, 19482

FAKTA

Menurut sejarah, bangsa Yahudi bukanlah penduduk pertama Palestina, pun mereka tidak memerintah di sana selama masa pemerintahan bangsa-bangsa lain. Para ahli arkeologi modern kini secara umum sepakat bahwa bangsa Mesir dan bangsa Kanaan telah mendiami Palestina sejak masa-masa paling kuno yang dapat dicatat, sekitar 3000 SM hingga sekitar 1700 SM.3 Selanjutnya datanglah penguasa-penguasa lain seperti bangsa-bangsa Hyokos, Hittit, dan Filistin. Periode pemerintahan Yahudi baru dimulai pada 1020 SM dan berlangsung hingga 587 SM. Orang-orang Israel kemudian diserbu oleh bangsa-bangsa Assyria, Babylonia, Yunani, Mesir, dan Syria hingga Hebrew Maccabeans meraih kembali sebagian kendali pemerintahan pada 164 SM. Tetapi, pada 63 SM Kekaisaran Romawi menaklukkan Jerusalem dan pada 70 M menghancurkan Kuil Kedua dan menyebarkan orang-orang Yahudi ke negeri-negeri lain. Ringkasnya, bangsa Yahudi kuno menguasai Palestina atau sebagian besar darinya selama kurang dari enam ratus tahun dalam kurun waktu lima ribu tahun sejarah Palestina yang dapat dicatat --lebih singkat dibanding bangsa-bangsa Kanaan, Mesir, Muslim, atau Romawi.4 Komisi King-Crane AS menyimpulkan pada 1919 bahwa suatu klaim "yang didasarkan atas pendudukan pada masa dua ribu tahun yang lalu tidak dapat dipertimbangkan secara serius."5

Pada 14 Mei 1948, sekitar tiga puluh tujuh orang menghadiri pertemuan Tel Aviv di mana kemerdekaan Israel dinyatakan sebagai "hak alamiah dan historis." Namun para kritikus menuduh bahwa aksi mereka tidak mempunyai kekuatan yang mengikat dalam hukum internasional sebab mereka tidak mewakili mayoritas penduduk pada waktu itu. Sesungguhnya, hanya satu orang di antara mereka yang dilahirkan di Palestina; tiga puluh lima orang berasal dari Eropa dan seorang dari Yaman. Tegas sarjana Palestina Issa Nakhleh: "Minoritas Yahudi tidak berhak untuk menyatakan kemerdekaan suatu negara di atas wilayah yang dimiliki oleh bangsa Arab Palestina."6

OMONG KOSONG

"'Sertifikat kelahiran' internasional Israel disahkan oleh janji dalam Kitab Injil." --AIPAC,*) 19927

FAKTA

Klaim-klaim tentang dukungan ilahiah atas ambisi-ambisi kesukuan maupun kebangsaan sangat lazim ditemukan di masa kuno. Bangsa-bangsa Sumeria, Mesir, Yunani, dan Romawi semuanya menyitir wahyu-wahyu ilahi untuk penaklukan-penaklukan mereka. Sebagaimana dicatat oleh ahli sejarah Frank Epp: "Setiap fenomena dan proses kehidupan dianggap sebagai hasil campur tangan dewa atau dewa-dewa... bahwa sebuah negeri yang baik telah dijanjikan kepada bangsa yang lebih baik oleh dewa-dewa yang lebih tinggi."8 Tidak ada pengadilan atau badan dunia di masa sekarang ini yang akan menganggap sah suatu hak pemilikan yang didasarkan atas klaim yang dinyatakan berasal dari Tuhan.9 Bahkan bagi mereka yang mengartikan restu Injil secara harfiah sebagai restu dari Tuhan, para ahli Injil seperti Dr. Dewey Beegle dari Wesley Theological Seminary menyatakan bahwa bangsa Yahudi kuno tidak berhasil mematuhi perintah-perintah Tuhan dan karenanya kehilangan janji itu.10

OMONG KOSONG

"Hak [bangsa Yahudi untuk melakukan restorasi nasional di Palestina diakui oleh Deklarasi Balfour." --Deklarasi Kemerdekaan Israel, 194811

FAKTA

Deklarasi Balfour secara sengaja tidak mendukung pendirian suatu bangsa Yahudi. Deklarasi itu termuat dalam sebuah surat yang dikirimkan oleh Menteri Luar Negeri Inggris Arthur James Balfour kepada Lord Rothschild, presiden Federasi Zionis Inggris, pada 2 November 1917. Deklarasi itu telah disetujui oleh kabinet Inggris dan dikatakan: "Pemerintah menyetujui didirikannya sebuah tanah air bagi bangsa Yahudi di Palestina, dan berusaha sebaik-baiknya untuk melancarkan pencapaian tujuan ini, setelah dipahami secara jelas bahwa tidak akan dilakukan sesuatu yang dapat merugikan hak-hak sipil dan hak-hak keagamaan komunitas non-Yahudi yang ada di Palestina, atau hak-hak dan status politik yang dinikmati oleh bangsa Yahudi di setiap negeri lain."12 Pada 1939 British White Paper secara khusus menyatakan bahwa Inggris "tidak bermaksud mengubah Palestina menjadi sebuah Negara Yahudi yang bertentangan dengan kehendak penduduk Arab di negeri itu."13

OMONG KOSONG

"[Palestina adalah] tanah air tanpa rakyat bagi rakyat [Yahudi) yang tidak bertanah air." --Israel Zangwill, Zionis senior, c. 189714

FAKTA

Ketika Deklarasi Balfour diumumkan pada 1917 ada kira-kira 600.000 orang Arab di Palestina dan kira-kira 60.000 orang Yahudi.15 Lebih dari tiga puluh tahun selanjutnya rasio itu menyempit ketika imigrasi Yahudi bertambah, terutama akibat adanya kebijaksanaan anti-Semit Adolf Hitler. Namun, menjelang akhir 1947 ketika PBB berencana untuk membagi Palestina, bangsa Arab masih merupakan penduduk mayoritas, dengan jumlah orang Yahudi mencapai hanya sepertiganya --608.225 orang Yahudi berbanding 1.237.332 orang Arab.16 Ketika Max Nordau, seorang Zionis senior dan sahabat Zangwill, mengetahui pada 1897 bahwa ada penduduk asli Arab di Palestina, dia berseru: "Aku tidak tahu itu! Kita tengah melakukan suatu kezaliman!"17

Penduduk Palestina bukan hanya sudah ada di sana, mereka bahkan telah menjadi masyarakat mapan yang diakui oleh bangsa-bangsa Arab lainnya sebagai "bangsa Palestina." Bangsa itu terdiri atas golongan-golongan intelektual dan profesional terhormat, organisasi-organisasi politik, dengan ekonomi agraria yang tengah tumbuh dan berkembang menjadi cikal bakal industri modern.18 Kata ilmuwan John Quigley: "Penduduk Arab telah mapan selama beratus-ratus tahun. Tidak ada migrasi masuk yang berarti dalam abad kesembilan belas."19

OMONG KOSONG

"Atas dasar... resolusi Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa dengan ini [kami] memproklamasikan berdirinya sebuah Negara Yahudi di Tanah Israel --Negara Israel." --Deklarasi Kemerdekaan Israel, 194820

FAKTA

Hanya karena tekanan kuat dari pemerintahan Truman sajalah maka Rencana Pembagian PBB diluluskan oleh Majelis Umum pada 29 November 1947, dengan perolehan suara 33 lawan 13 dan dengan 10 abstain dan 1 absen. Di antara bangsa-bangsa yang mengalah pada tekanan AS adalah Prancis, Ethiopia, Haiti, Liberia, Luksemburg, Paraguay, dan Filipina.21 Mantan Wakil Menteri Luar Negeri Sumner Welles menulis: "Melalui perintah langsung dari Gedung Putih setiap bentuk tekanan, langsung maupun tak langsung, dibawa untuk disampaikan oleh para pejabat Amerika kepada negara-negara di luar dunia Muslim yang diketahui belum menentukan sikap atau menentang pembagian itu. Para wakil dan perantara dikerahkan oleh Gedung Putih untuk memastikan bahwa suara mayoritas akan terus dipertahankan."22

Rencana pembagian, yang dinamakan Resolusi 181, membagi Palestina antara "negara-negara Arab dan Yahudi yang merdeka dan Rezim Internasional Istimewa untuk Kota Jerusalem."23 Calon Menteri Luar Negeri Israel Moshe Sharett mengatakan bahwa resolusi itu mempunyai "kekuatan mengikat," dan Deklarasi Kemerdekaan Israel mengutipnya tiga kali sebagai dasar kebenaran yang sah bagi berdirinya negara itu.24 Namun Majelis Umum, tidak seperti Dewan Keamanan, tidak mempunyai kuasa lebih dari membuat rekomendasi. Ia tidak dapat mendesakkan rekomendasi-rekomendasinya, pun rekomendasi-rekomendasi itu tidak mengikat secara hukum kecuali untuk masalah-masalah internal PBB.25

Bangsa Palestina, yang memang berhak, menolak rencana pembagian itu sebab rencana tersebut memberikan pada bangsa Yahudi lebih dari separuh Palestina, meskipun dalam kenyataannya mereka itu hanyalah sepertiga penduduk dan hanya memiliki 6,59 persen tanah.26 Di samping itu, bangsa Palestina berkeras bahwa Perserikatan Bangsa-Bangsa tidak mempunyai hak yang sah untuk merekomendasikan pembagian jika mayoritas penduduk Palestina menantangnya. Sekalipun demikian, dengan menolak pembagian tidak berarti bangsa Palestina menolak klaim mereka sendiri sebagai suatu bangsa merdeka. Yang mereka tentang adalah negara Yahudi yang didirikan di atas tanah Palestina, bukan hak orang-orang Yahudi sebagai suatu bangsa.

Pemimpin Yahudi David Ben-Gurion menasihati para koleganya untuk menerima pembagian itu sebab, katanya pada mereka, "dalam sejarah tidak pernah ada suatu persetujuan final --baik yang berkaitan dengan rezim, dengan perbatasan-perbatasan, dan dengan persetujuan-persetujuan internasional."27

Salah seorang perintis Zionis besar, Nahum Goldmann, mengungkapkan sikap pragmatis dengan cara berbeda: "Tidak ada harapan bagi sebuah negara Yahudi yang harus menghadapi 50 tahun lagi untuk berjuang melawan musuh-musuh Arab."28

OMONG KOSONG

"Aslinya Palestina mencakup Yordania." Ariel Sharon, Menteri Perdagangan Israel, 198929

FAKTA

Dalam sejarah panjang Imperium Islam/Usmaniah, Palestina tidak pernah berdiri sebagai suatu unit geopolitik atau administratif yang terpisah. Ketika daerah di Laut Tengah bagian timur antara Lebanon dan Mesir diambil alih oleh Inggris Raya dari Turki pada akhir Perang Dunia I, bagian-bagian tertentu dari apa yang disebut Palestina berada di bawah wilayah administrasi Beirut sementara Jerusalem menjadi sanjak, sebuah distrik otonom.30 Daerah di sebelah timur sungai Yordan --Transyordan-- adalah, dalam kata-kata sarjana Universitas Tel Aviv Aaron Klieman, "sesungguhnya merupakan terra nullius di bawah kekuasaan bangsa Turki dan dibiarkan tanpa kepastian dalam pembagian Imperium Usmaniah."31

Dalam memulai mandat di Palestina atas nama Liga Bangsa-bangsa pada 1922, Inggris mendapatkan Palestina dan Transyordan ke arah timur hingga Mesopotamia, yang menjadi Irak. Sekarang wilayah yang sama berarti mencakup Israel, Yordania, Tepi Barat, Jalur Gaza, dan Jerusalem. Pada Desember 1922, Inggris menyatakan pengakuannya atas "eksistensi suatu Pemerintahan konstitusional yang merdeka di Transyordan." Dan pada 1928 dinyatakan secara khusus bahwa Palestina adalah daerah di sebelah barat sungai Yordan.32 Hanya di Palestina sajalah Inggris beranggapan bahwa janjinya dalam Deklarasi Balfour dapat diterapkan untuk membantu mendirikan suatu tanah air Yahudi.

Catatan kaki:

1 Lihat, misalnya, Kitab Kejadian 15:18, 'Pada hari itu Tuhan membuat perjanjian dengan Ibrahim melalui firman, 'Untuk keturunanmu Aku berikan tanah ini, dari sungai Mesir hingga sungai besar, sungai Efrat.'"

2 Ben-Gurion, Israel, 80. Teks deklarasi itu dicetak kembali di hlm. 79-81.

3 Bright, A History of Israel, 17-18. Lihat juga Nakhleh, Encyclopedia of the Palestine Problem, 953-70.

4 Epp, Whose land is Palestine?, 39-40. Juga lihat The New Oxford Annotated Bible, 1549-50; Beatty, Arab and Jew in the Land of Canaan, 85.

5 Grose, Israel in the Mind of America, 88-89. Kutipan-kutipan dari laporan Komisi King-Crane terdapat dalam Khalidi, From Haven to Conquest, 213-18, dan Laqueur dan Rubin, The Israel-Arab Reader, 34-42.

6 Nakhleh, Encyclopedia of the Palestine Problem, 4.

*) AIPAC adalah American Israel Public Affairs Committe, lobi utama yang mendukung Israel di Amerika Serikat

7 Bard dan Himelfarb, Myths and Facts, 1.

8 Epp, Whose Land Is Palestine?, 38, 41.

9 Guillaume, Zionists and the Bible, 25-30, dicetak ulang dalam Khalidi, From Haven to Conquest. Lihat juga Nakhleh, Encyclopedia of the Palestine Problem, 953-70.

10 Dewey Beegle, wawancara dengan penulis, 12 Januari 1984.

11 Ben-Gurion, Israel, 80.

12 Sanders, The High Walls of Jerusalem, 612-13.

13 Sachar, A History of Israel, 222.

14 Dikutip dalam Elon, The Israelis, 149.

15 Palestine: Blue Book, 1937 (Jerusalem: Government Printer, 1937), dikutip dalam Epp, Whose Land Is Palestine?, 144. Lihat juga Khalidi, From Haven to Conquest, Lampiran 1.

16 Perserikatan Bangsa-Bangsa, laporan subkomite kepada Komite Khusus untuk Palestina, A/AC al/32, dicetak ulang dalam Khalidi, From Haven to Conquest, 675.

17 Sachar, A History of Israel,163.

18 Said et al., "A Profile of the Palestinian People," dalam Said dan Hitchens, Blaming the Victimis,135-37.

19 Quigley, Palestine and Israel, 73. Lihat juga Khalidi, Before Their Diaspora; Nakhleh, Encyclopedia of the Palestine Problem, terutama Bab 1 dan Bab 2.

20 Ben-Gurion, Israel, 80.

21 Sheldon L. Richman, "'Ancient History': U.S. Conduct in the Middle East since World War II and the Folly of intervention," pamflet Cato Institute, 16 Agustus 1991.

22 Welles, We Need Not Fail, dikutip dalam ibid. Lihat juga Muhammad Zafrulla Khan, "Thanksgiving Day at Lake Success, November 17, 1947;" Carlos P. Romulo, "The Philippines Changes Its Vote;" dan Kermit Roosevelt, "The Partition of Palestine: A Lesson in Pressure Politics," semuanya dalam Khalidi, From Haven to Conquest, 709-22, 723-26, 727-30, secara berturut- turut.

23 Teks Resolusi 181 (II) terdapat dalam Tomeh, United Nations Resolutions on Palestine and the Arab-Israeli Conflict, 1: 4-14.

24 Mallison dan Mallison, The Palestine Problem in International Law and World Order, 171.

25 Quigley, Palestine and Israel, 47.

26 Cattan, Palestine, the Arabs, and Israel, 29; John Ruedy, "Dinamics of Land Alienation," dalam Abu-Lughod, Transformation of Palestine, 125, 134; Said, The Question of Palestine, 98.

27 David Ben-Gurion, War Diaries, dikutip dalam Flapan, The Birth of Israel, 13.

28 Findley, They Dare to Speak Out, 273.

29 Sharon, Warrior, 246.

30 Ibrahim Abu-Lughod, "Territorially-based Nationalism and the Politics of Negation" dalam Said dan Hitchens, Blaming the Victims, 195.

31 Klieman, Foundations of British Policy in the Arab World, 68.

32 Ibid., 234-35. Lihat juga Fromkin, A Peace to End All Peace, 560.

________________________

Diplomasi Munafik ala Yahudi -
Mengungkap Fakta Hubungan AS-Israel oleh Paul Findley

Judul Asli: Deliberate Deceptions:
Facing the Facts about the U.S. - Israeli Relationship by Paul Findley

Terbitan Lawrence Hill Brooks, Brooklyn, New York 1993
Penterjemah: Rahmani Astuti, Penyunting: Yuliani L.
Penerbit Mizan, Jln. Yodkali No. 16, Bandung 40124


Sumber: http://media.isnet.org/v01/index.html


Rabu, 14 Januari 2009

Suara dari Neraka


Mereka adalah saksi mata kekerasan Israel di Gaza. Di tengah udara dingin, mereka menuturkan pengalamannya kepada Tempo.

Dua pekan lebih agresi Israel meluluhlantakkan Gaza. Ratusan orang meregang nyawa di ujung mesin-mesin perang Israel. Ribuan lainnya meringkuk kedinginan, mengerang kesakitan di rumah sakit, barak pengungsian, dan bangunan yang cukup mujur terhindar dari bombardir.

Lewat percakapan telepon, dengan latar belakang jeritan anak kecil dan hiruk-pikuk pengungsi Gaza, Angela Dewi dari Tempo merekam sejumlah kesaksian mereka yang selamat dari serangan. Ada wartawan dan dosen, pekerja kemanusiaan, serta ibu rumah tangga yang menyaksikan penembakan seluruh keluarga sepupunya.

Rami Almeghari
34 tahun
Dosen paruh waktu di Islamic University of Gaza; pemimpin redaksi pusat media internasional Biro Informasi Palestina; ayah empat anak


Sabtu, 27 Desember itu, saya berada tak jauh dari rumah, di kamp pengungsi Maghazi di tengah-tengah Jalur Gaza yang menampung 45 ribu warga Palestina. Hari itu saya hendak memperbaiki radio mobil saya di toko reparasi alat elektronik. Maghazi termasuk kamp pengungsi terbesar di Palestina, dibangun pada 1949 di kawasan Deir al-Balah, di atas tanah seluas 5,6 kilometer persegi. Udara dingin meski matahari bersinar cerah. Saya ingat waktu itu pukul 11.30.

Tiba-tiba terdengar ledakan amat keras, disusul asap hitam membubung ke langit. Apa yang terjadi? Saya langsung teringat kepada anak-anak di rumah, terutama putra bungsu saya, Muhammad, yang selalu mengikuti ke mana pun saya pergi di akhir pekan. Saya segera menelepon ke kantor untuk mengecek apa yang terjadi, lalu menelepon istri untuk memastikan anak-anak aman dan semuanya berada di dalam rumah.

Tanpa pikir panjang, saya menyetir mobil memasuki Kota Gaza. Kota itu benar-benar hancur. Dalam sekejap, di tengah hujan bom, puluhan sasaran—kantor polisi, bangunan penting, dan tempat layanan umum—rata dengan tanah.

Setelah itu, saya dengar Israel mengumumkan target serangan mereka: infrastruktur Hamas dan pelontar roket milik Hamas. Nyatanya, di hari pertama saja korban yang bergelimpangan justru warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak.

Seraya berkendara dengan hati galau, pikiran saya pepat oleh bayangan anak-anak saya. Perasaan saya serupa diaduk-aduk: antara menjadi wartawan, ayah empat anak, dan pengungsi Palestina. Ketika itu, saya berpikir untuk menyelamatkan dulu anak-anak. Saya berpikir untuk segera menimbun cadangan makanan dan membeli bahan bakar buat mobil dan generator. Selama 19 bulan dalam cengkeraman isolasi yang diberlakukan Israel, bahan bakar sulit didapat. Harga bahan bakar yang diselundupkan dari terowongan-terowong an di perbatasan Mesir-Gaza menjadi mahal sekali.

Sejak Israel membumihanguskan Gaza, sanak-keluarga saya tinggal menumpang di rumah. Mereka ada 10 orang, enam di antaranya anak-anak. Untunglah istri saya amat paham pada kondisi ini. Anak-anak saya—Aseel, Nadine, Munir, dan Muhammad—pun mulai terbiasa dengan suara tembakan. Bahkan Munir, yang berusia 9 tahun, rajin mengabari saya berita-berita terbaru di televisi.

Di tengah serangan Israel, saya terus bertugas: mengunjungi kamp pengungsi dan rumah sakit, menemui pejabat dan tokoh Palestina, di tengah suasana mencekam. Kadang-kadang mobil saya mati karena bensin habis, dan peralatan rekaman rusak. Belum lagi harus berlari menyelamatkan diri ketika mendengar bunyi tembakan dan hujan bom.

Saya berusaha untuk terus berpikir waras di tengah situasi mengerikan ini. Banyak wartawan luar negeri yang tak mendapat akses di Gaza dan saya harus membantu mereka. Kadang, ketika hati saya tak bisa lagi menahan kemarahan melihat mayat anak-anak diangkut ke rumah sakit, saya menjadi emosional. Dalam hati, saya terus bertanya mengapa Israel menyebut ini perang melawan Hamas. Manusia waras mana pun pasti akan berpikir, ini perang melawan warga sipil.

Eva Bartlett
28 tahun
Anggota tim advokasi sukarelawan kemanusiaan dari Kanada. Pada 2007, Bartlett menghabiskan waktu delapan bulan di tengah warga Tepi Barat dan perbatasan Rafah. Ia kembali ke Palestina pada November lalu, menumpang kapal aktivis asing Free Gaza Movement yang mengangkut bantuan makanan dan obat-obatan untuk warga Gaza yang terisolasi. Ia termasuk sedikit di antara sukarelawan asing yang bertahan di Jalur Gaza.


Selama Israel menggempur Gaza, kesibukan saya praktis meningkat. Tadinya lebih banyak mondar-mandir ke Jabaliya untuk mengantar buku-buku dan peralatan sekolah, kini saya harus berhadapan dengan korban serangan Israel.

Sepanjang hari dalam sepekan serangan, saya hampir kehilangan kekuatan yang saya andalkan selama ini. Saya tak bisa menahan tangis. Saya ikut ambulans, menjemput dan mengangkut korban cedera. Kondisi mereka sangat memilukan: anak-anak dengan luka parah di sekujur tubuh, belum lagi mayat dengan bagian tubuh yang sudah tidak utuh yang harus dikubur buru-buru.

Yang membuat saya amat terpukul adalah ketika ambulans yang membawa paramedis dan korban serangan ikut dibombardir Israel di kawasan Beit Lahiyah. Seorang teman saya, dokter Palestina bernama Arafa Hani Abed al-Dayem, tewas di tempat. Dia dokter yang baik dan sangat membantu tugas saya selama berada di Gaza. Kematian Arafa dan korban-korban tak berdosa lain membuat saya tak paham apa yang sesungguhnya diinginkan Israel.

Zehwa Suliman al-Nabahin
30 tahun
Istri seorang pegawai tata usaha di kantor Otoritas Palestina; ibu rumah tangga dengan dua anak; tinggal di Johr al-Dik di Distrik Deir al-Balah, Kota Gaza


Selama Israel membombardir Gaza, banyak sekali serangan yang dilancarkan ke kawasan tempat tinggal kami. Rumah-rumah tetangga kami sudah hancur dan rata dengan tanah. Suami saya memutuskan kami harus meninggalkan rumah. Selama 10 hari belakangan kami mengungsi di rumah adik saya yang tinggal berdekatan dengan sepupu kami.

Di rumah yang lumayan besar itu sudah ada ipar-ipar lain yang ikut mengungsi. Kondisinya berdesakan dan riuh oleh suara anak-anak. Perempuan dan anak-anak dilarang ke luar rumah. Para laki-laki berbelanja kebutuhan makanan dan bahan bakar. Udara dingin sangat menyiksa karena tak ada listrik untuk menyalakan mesin penghangat.

Selasa, 6 Januari, adalah saat paling mencekam dalam hidup saya. Rumah sepupu saya yang terletak 300 meter dari rumah adik saya terkena serangan. Dari suaranya, saya bisa menduga itu serangan yang dilancarkan dari pesawat tempur F-16 bikinan Amerika. Ketika itu, hari sudah mulai gelap dan kami tak tahu bagaimana nasib mereka. Di rumah itu ada sepupu saya dan istrinya, mertuanya, serta lima anak laki-laki mereka. Saya tak berani mengintip atau keluar dari rumah setelah serangan terjadi. Malam itu waktu seolah membeku. Saya tak sabar menunggu pagi tiba.

Paginya, ketika suasana telah sedikit tenang, saya mendengar jeritan dari arah rumah sepupu saya. Rupanya, suami adik saya sudah melihat kondisi rumah sepupu yang hancur. Suami saya dan sejumlah pria lain berlarian untuk melihat kondisi para korban. Di antara reruntuhan itu, kami kemudian menemukan jasad sepupu saya dan keluarganya. Kondisi mereka sungguh mengerikan. Bagian-bagian tubuhnya terpisah karena dihantam bom berdaya ledak tinggi. Hanya dua orang yang selamat, dua anak laki-lakinya yang masih remaja. Itu pun dengan kondisi mengenaskan, dengan kaki yang harus diamputasi karena terimpit reruntuhan bangunan.

Kami memakamkan para korban dengan tergesa-gesa di tengah udara dingin karena khawatir serangan berikutnya datang lagi. Saya tak kuasa menahan marah dan sedih. Mengapa keluarga kami harus menjadi korban? Apa salah kami? Di tengah keputusasaan dan ketakutan, saya yakin Israel akan menerima balasan atas semua kekejaman yang dilakukan terhadap rakyat Palestina.

-------
Artikel ini dapat anda baca juga di http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/01/12/LU/mbm.20090112.LU129251.id.html



KUTUKAN TANAH SUCI



Dentuman suara ledakan bergema di seluruh penjuru kota. Darah mengalir, mayat bergelimpangan. Air mata terurai, kepiluan tak terelakkan. Melihat Gaza sekarang ini, tak ubahnya seperti masa ribuan tahun yang lalu dimana peradaban manusia belum seperti sekarang. Tidak ada batasan kemanusiaan, rasa keadilan, ataupun belas kasihan laksana binatang buas yang sedang menerkam mangsanya. Bedanya kini menggunakan peralatan yang lebih canggih sehingga kebrutalan tidak akan terlalu terlihat secara vulgar seperti di masa lalu.

Hingga kini hari ke-20 invasi israel ke Palestina, jumlah korban tewas akibat kekejaman Israel sudah hampir 1000 orang. Sebagian besar adalah anak-anak dan kaum wanita. Angka ini akan terus bertambah mengingat besarnya jumlah korban luka-luka yang parah sedangkan sarana prasarana perawatan medis sangat minim akibat blokade Israel.

Israel menjadikan Hamas sebagai alasan mereka membantai seluruh Palestina. Hamas pun tidak mau mengalah dengan terus mengirimkan roket-roket ke wilayah israel. Hasilnya, 4 orang terluka di pihak Israel dan ribuan terbunuh di Palestina. Hamas yang sudah terbakar kebencian yang mendalam semenjak lama sepertinya sudah tidak dapat bertindak rasional lagi. Tidak lagi memikirkan korban di pihak saudara mereka sendiri yang terus berjatuhan. Israel pun nampaknya tidak berniat memberi ampun kepada Hamas ataupun kepada Palestina seumumnya yang sedari awal menjadi duri dalam renacananya menguasai kembali Tanah Yang Dijanjikan Tuhan (The Promised Land). Sehingga pemandangannya sekarang persis seperti seekor kucing yang sedang mempermainkan tikus yang sudah tidak berdaya.

Jika ini terjadi ribuan tahun yang lalu, kita akan faham karena waktu itu belum ada hukum internasional yang mengikat semua bangsa-bangsa di dunia. Belum ada Perserikatan Bangsa Bangsa seperti sekarang ini yang bertujuan menjaga perdamaian dunia. Lalu apa yang salah?? Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Kenapa kekejian seperti ini masih saja berlangsung.

Masalah politik dan permainan kotornya dari dulu memang bukan termasuk hal yang dapat ku cerna. Mungkin aku terlalu naif untuk bisa mengerti hal seperti itu. Tapi setidaknya semua setuju dengan azas kemanusiaan. Agama manapun di dunia ini pasti memberikan perhatian pada kemanusiaan ini tanpa terkecuali. Manusia harusnya memang banyak belajar tentang kemanusiaan dari pengalaman sejarah berabad-abad. Cukup sudah peperangan, pertumpahan darah, kekerasan, dan ketidakadilan.
Namun mungkin kehendak Tuhan lain. Selalu kita memikirkan apa yang menjadi kehendak kita tanpa memperhatikan kehendak Tuhan. Tuhan selalu memberikan jalan untuk kebaikan umat manusia. Namun semikian manusia tanpa malu menolak semua yang terbaik itu dan memilih jalannya sendiri. Kebaikan hanyalah bila manusia kembali ke jalan Tuhan. Namun kebanyakan manusia tidak lagi memperhatikan jalan hidup yang sedang dilaluinya. Terlalu asyik dengan ambisi dirinya serta mengabaikan seruan Tuhan untuk kembali ke jalan-Nya.

Masing-masing merasa benar dengan arah yang sedang dituju tanpa mau memeriksa dengan benar navigasi Ilahi yang diberikan. Tanda-tanda diabaikan dan dianggap tidak dijadikan panduan untuk mencari arah. Semakin lama manusia makin kehilangan arah dan tujuan hidupnya. Hingga langit baru dan dunia baru akan mustahil terwujud tanpa adanya revolusi mendasar dalam kehidupan setiap orang yang dapat membangkitkan kembali kesadaran akan adanya keinginan Tuhan yang sebenarnya.

Mungkin banyak yang belum menyadari betapa genting keadaan dunia sekarang ini. Diawali dengan turun naiknya harga minyak dunia, lalu jatuhnya ekonomi Amerika dalam krisis yang mengakibatkan krisis global, lalu kini tiba-tiba Israel menyerang Gaza membabi buta. Dengan alasan untuk memberangus Hamas. Aku sama sekali tidak pernah mengharapkan PD-3 (Perang Dunia 3) akan terjadi. Tapi melihat gelagat dinamika politik dan ekonomi dunia saat ini semuanya jadi terasa semakin dekat. Gaza mungkin hanyalah sebuah momentum awal. Selanjutnya entah apa yang akan terjadi.. wallahu a’lam.

Abunaweed, Jakarta 15 Jan '09

Darah Untuk Palestina

SEGERA
Siaran Pers
Rabu, 14 Januari 2009

PMI Kembali Buka Rekening untuk Bantu Penduduk Gaza-Palestina


Palang Merah Indonesia (PMI) kembali membuka rekening bank untuk menggalang dana kemanusiaan untuk membantu penduduk Gaza-Palestina. Aksi penggalangan dana PMI yang kedua ini adalah melalui rekening Bank Central Asia (BCA) Kantor Cabang Utama Thamrin dengan nomor rekening 206 300 6688 atas nama Palang Merah Indonesia.

“Tujuan kami membuka kembali rekening penggalangan dana untuk Gaza-Palestina ini adalah untuk lebih memudahkan masyarakat yang ingin menyalurkan bantuan mereka, sehingga akan lebih banyak bantuan dana yang bisa disalurkan,” kata Ketua Umum PMI Mar’ie Muhammad di Markas Pusat PMI, pada Selasa (13/1). “Dengan adanya rekening yang kedua ini, maka masyarakat yang ingin membantu bisa mengirimkan bantuan dananya ke BRI atau BCA,” tambah Mar’ie.

Sebelumnya pada Senin (3/1), PMI telah membuka rekening penggalangan dana untuk penduduk Gaza-Palestina melalui rekening Bank Rakyat Indonesia (BRI) Kantor Cabang Pancoran dengan Nomor Rekening 0390-01-000030-30-3 atas nama Palang Merah Indonesia. Hingga hari ini, bantuan dana yang telah terkumpul dari masyarakat melalui rekening BRI adalah sejumlah Rp. 102.453.758.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada masyarakat yang telah menyalurkan bantuannya. Kita berharap bersama agar malapetaka kemanusiaan yang dialami warga Gaza-Palestina bisa segera selesai,” kata Mar’ie Muhammad.

Direncanakan seluruh bantuan dana yang terkumpul melalui kedua rekening ini akan disalurkan melalui Bulan Sabit Merah Palestina (PRCS) bekerjasama dengan Komite Internasional Palang Merah (ICRC).

Aksi kemanusiaan ini sebagai bagian dari simpati seluruh jajaran PMI bagi masyarakat di Gaza yang meninggal, terluka, kehilangan harta benda, serta keluarganya, termasuk para korban di kalangan anak-anak.

“Bantuan ini semata-mata adalah untuk kemanusiaan. Dan selama untuk kemanusiaan, PMI akan membantu masyarakat yang menderita, baik di luar maupun di dalam negeri,” tegas Mar’ie Muhammad.


Untuk informasi lebih lanjut, dapat menghubungi: MR. Aswi Reksaningtyas, Kepala Divisi Komunikasi Markas Pusat PMI, Tlp. 021-799 2325, ext. 222 atau Ria Thahir, Kepala Sub Divisi Humas Markas Pusat PMI, Tlp. 021-799 2325, ext. 201. Kontak Media: Aulia Arriani, Hp. 0816 795 379. E-mail. pmi@palangmerah.org

Related Post

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...