Rabu, 11 Agustus 2010

Refleksi Bulan Ramadlan

Pada suatu pagi yang dingin, dengan mata yang masih berat, seseorang dengan wajah penuh kekesalan bercampur kebingungan berkata geram, “Dimana sandal saya??!!” Pikirannya kalut dan perasaannya kesal teramat sangat. Dia berfikir keras, “Bagaimana saya akan pergi ke mesjid jika sandal saya tidak ada. Masa sih saya mesti nyeker.” Rupanya seseorang telah “meminjam” sandalnya yang hanya satu-satunya dengan sama sekali tidak meminta izin darinya. Jangankan minta izin, ngomong sepatah katapun tidak. Lalu mulailah berbagai macam umpatan, makian, sumpah serapah serta kutukan-kutukan [bahkan do’a-do’a yang kurang baik] ditumpahkannya atas orang yang telah mengambil sandalnya, siapapun itu. Setelah itu dengan enggan dan terpaksa ia pun mengambil inisiatif untuk memakai sepatu yang juga hanya satu-satunya.

Sepenggal pragmen diatas merupakan sebuah contoh kecil dalam keseharian kita. Dimanapun dan kapanpun, disadari ataupun tidak, peristiwa seperti diatas memang kerapkali terjadi di sekitar kita. Baik itu di masjid, dirumah ataupun di tempat lain. Mungkin setiap kita pernah mengalami hal seperti itu. Dan sebagaimana contoh di atas, kita pun tentu akan merasa kesal dan bahkan mungkin marah. Tapi demikian sering hal seperti itu terjadi membuat kita menjadi terbiasa. Dan kita pun seakan sudah menganggap hal seperti itu sebagai suatu hal yang kecil saja. Namun sebenarnya tidak demikian. Jika saja kita perhatikan dengan lebih seksama, maka kita akan melihat bahwa betapa rentan persoalan ini. Dari peristiwa seperti diatas, tampak kepada kita beberapa hal, diantaranya:
• Pertama: kita seringkali seenaknya dalam bertindak dan berfikir dangkal.
• Kedua: Kita sering kali mengabaikan perasaan orang lain ketika kita akan melakukan sesuatu.
• Ketiga: kita kurang peka terhadap berbagai masalah yang terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari.

Jika kita mau berfikir sebelum bertindak, tentu kita tidak akan sembarangan mengambil begitu saja barang orang lain. Tentunya kita akan berfikir, misalnya:“Jika saya pakai sandal ini, tentu pemiliknya akan kesulitan. Karena sekarang adalah saat dimana semua orang memerlukan sendal untuk pergi ke mesjid.” Jika berfikir seperti itupun tidak, maka itu artinya ketiga indikasi diatas mengena kepada anda.
Penomena seperti diatas memang bukanlah suatu yang baru lagi. Dimana-mana hal seperti diatas selalu terjadi. Orang-orangpun cenderung maganggapnya sebagai suatu hal yang biasa. Demikian terbiasanya kita hingga kita tidak merasa aneh bila di mesjid-mesjid kita menemui tempat penitipan sandal. Padahal jika kita pikirkan itu justru merupakan suatu tanda tanya besar. Mengapa sampai demikian? Apakah di mesjid pun kita tidak dapat meninggalkan sandal kita dengan perasaan aman. Jika Rosulullah Saw. dahulu pernah menegur sahabahnya supaya mengikat dahulu kendaraannya sebelum ia tinggalkan, maka itu adalah agar tunggangannya tidak hilang karena pergi kemana-mana tak tentu arah. Namun sekarang ini lain masalahnya. Dengan menitipkan sendal, itu berarti bahwa betapa rentannya keamanan serta ketentraman hidup kita. Betapa tidak, setiap saat bahaya selalu mengancam. Sedikit saja kita lengah, maka sandal kita akan hilang.
Sandal hanyalah sebuah contoh kecil saja. Coba anda bayangkan, jika itu terjadi dengan barang anda yang lain. Dan ini bukan hanya berandai-andai saja. Suatu penelitian mengatakan bahwa saat ini dalam setiap menitnya ratusan sepeda motor, mobil dlsb., raib dibawa lari dari tangan pemiliknya. Jika anda tinggalkan mobil anda 5 menit saja tanpa pengamanan yang memadai (dalam arti hanya dikunci pintunya saja) maka dijamin akan ghaib. Itu mobil…., bagaimana dengan sepeda motor, apalagi hanya sekedar sandal.
Inipun patut kita untuk pikirkan bahwa dalam setiap langkah kita yang selamanya bertumpu pada Quran dan sunnah, bagaimana mungkin kit dapat berasumsi bahwa “meminjam” tanpa izin itu diperbolehkan. Jikapun perbuatan itu bukanlah termasuk dosa, tapi toh kita harus ingat akan dampak yang akan ditimbulkan dari perbuatan tersebut. Coba bayangkan, jika seandainya tatkala orang yang kehilangan sandalnya itu mulai meluapkan semua kekesalannya dan kemarahannya yang berupa berbagai jenis makian, umpatan dan hingga do’a-do’a yang buruk . Dan itu semua tumpah kepada kita yang telah melakukannya. Bayangkan jika pada saat itu kita berdiri dihadapannya dan mendengarkan semuanya. Dijamin anda akan merasa ngeri. Betapa tidak, jika seandainya satu saja dari sekian do’a-do’a buruk itu didengar Tuhan, apa jadinya kita. Dan itupun bukannya mustahil terjadi. Karena, orang tersebut termasuk orang sedang dizhalimi. Kita tahu bagaimana do’a orang-orang yang terzalimi.
Belum lagi apabila setiap orang yang kehilangan kemudian memutuskan untuk mengambil sandal yang ada di depannya –yang tidak tahu milik siapa. Maka akan terjadi mata rantai panjang dari peminjaman ilegal dan kehilangan. Tidak sampai di situ saja, ini pun dapat menimbulkan sebuah lingkaran setan –dimana orang-orang saling mengambil sandal yang bukan miliknya, yang pada saat yang sama juga satu sama lain saling mengumpat dan saling mengutuk [meskipun tidak secara langsung]. Tak dapat dibayangkan betapa banyaknya nanti do’a-do’a buruk yang keluar.
Masalahnya memang tidak sesederhana itu. Kebanyakan pelaku mempunyai motif yang serupa dalam perbuatannya, yaitu mereka tidak punya sandal. Namun itupun tidaklah cukup untuk melegalisasi tindakan “meminjam” itu. Justru dari sana timbul suatu pertanyaan lain, misalnya: “Mengapa ia tidak mempunyai sandal?” apakah ia tidak mampu untuk membeli sandal? Lalu bagaimana yang lain dapat mempunyai sandal?
Lalu inipun jadi pertanyaan bahwa, kalau mereka memang benar-benar meminjam tentunya mereka harus bertanggung jawab. Misalnya dengan mengembalikannya ketempat semula ia mengambil. Namun dalam kebanyakan kasus, inipun tidak dilakukannya. Ini mengindikasikan bahwa pelaku adalah juga seorang yang tidak bertanggung jawab.
Ramadhan merupakan suatu moment yang sangat tepat bagi kita untuk melakukan instropeksi diri dan islah. Karena dalam bulan ini Allah ta’ala sedang membukakan pintu rahmat, berkah, serta maghfirah dengan selebar-lebarnya. Jangan sampai hanya karena sandal kita menjadi mahrum dari keberkatan bulan Ramadlan ini. Bagi pelaku maupun korban hendaknya memperhatikan. Sandal memang sepele. Tetapi yang sepele bukannya tidak perlu diperhatikan. Kata orang, gunung yang tinggi pun tersusun dari kerikil-kerikil kecil dan samudera yang luas terkumpul dari tetesan-tetesan mata air kecil. Lagi pula, orang yang tersandung bukanlah oleh batu-batu yang besar, melainkan selalu oleh yang kecil-kecil.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih untuk komentar anda yang bertanggung jawab.

Related Post

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...