Belakangan ini berkembang opini kafir mengkafirkan di kalangan umat islam. Semua merasa benar dan bahkan paling benar. Dengan tanpa menggali dan mengkaji lebih dalam, semua diputuskan dengan tidak merujuk kepada sumber ajaran yang utama, Quran dan Sunnah.
Kelompok muslim minoritas seperti Ahmadiyah misalnya, adalah salah satu korbannya. Hanya karena berbeda penafsiran dengan mayoritas, mereka lantas dicap keluar dari islam dan bahkan dilarang menyatakan diri sebagai islam. Gilanya, bahkan semua kegiatan peribadahannya pun dapat dianggap sebagai penodaan Agama!! Membuat agama baru adalah pilihannya. Jika tidak, maka kelompok-kelompok radikal dan suka berbuat anarkhis siap untuk berbuat huru-hara. Dan jika hal seperti itu sampai terjadi, maka justru kesalahan ditimpakan kepada kelompok minoritas. Karena merekalah masyarakat menjadi resah. Pemerintah lalu didesak untuk menindak kelompok yang dianggap telah meresahkan tersebut. Sungguh sebuah ironi. Bagaimanapun juga hal tersebut sangat bertentangan dengan logika akal serta hati nurani.
Padahal berkenaan dengan keislaman seseorang, tidak ada hak bagi siapapun untuk mengaturnya. Seseorang yang mengaku dirinya sebagai orang islam dan mengamalkan semua rukun iman serta rukun islam, maka tiada hak bagi siapapun untuk mengeluarkannya dari islam. Berikut ini adalah salah satu dalil yang menerangkan bagaimana Yang Mulia Rasulullah saw memberi batasan yang terang dan tanpa perlu perumusan yang berbelit-belit dari para ulama mengenai ke-muslim-an seseorang:
Wednesday, August 11, 2010
Refleksi Bulan Ramadlan
Pada suatu pagi yang dingin, dengan mata yang masih berat, seseorang dengan wajah penuh kekesalan bercampur kebingungan berkata geram, “Dimana sandal saya??!!” Pikirannya kalut dan perasaannya kesal teramat sangat. Dia berfikir keras, “Bagaimana saya akan pergi ke mesjid jika sandal saya tidak ada. Masa sih saya mesti nyeker.” Rupanya seseorang telah “meminjam” sandalnya yang hanya satu-satunya dengan sama sekali tidak meminta izin darinya. Jangankan minta izin, ngomong sepatah katapun tidak. Lalu mulailah berbagai macam umpatan, makian, sumpah serapah serta kutukan-kutukan [bahkan do’a-do’a yang kurang baik] ditumpahkannya atas orang yang telah mengambil sandalnya, siapapun itu. Setelah itu dengan enggan dan terpaksa ia pun mengambil inisiatif untuk memakai sepatu yang juga hanya satu-satunya.
Subscribe to:
Posts (Atom)
























