Oleh: Abdul Majid
Salah satu dari banyak masalah yang dihadapi oleh dunia Kristen adalah persoalan poligami dan perceraian yang adalah terlarang menurut ajaran agama Kristen. Walaupun pada kenyataannya banyak nabi dalam Al-Kitab (Bibel), khususnya para nabi yang masyhur seperti Ibrahim (Abraham), Yakub, Daud, Sulaiman, mengamalkan poligami, keberatan utama atas ajaran-ajaran Islam oleh kaum Kristen adalah terhadap poligami; dan meskipun Al-Kitab (Perjanjian Lama) mengizinkan perceraian, [namun] Perjanjian Baru tidak mengizinkan. Satu-satunya dasar yang dengan itu perceraian diizinkan oleh Perjanjian Baru adalah Zina (Matius 19:9). Tetapi, selain zina, penyakit/kerusakan mental dan fisik juga telah dimasukkan dan diakui oleh hukum di banyak Negara Kristen, sebagai dasar yang sah untuk perceraian, dengan hasil bahwa peristiwa-peristiwa perceraian telah terjadi melampaui batas-batas kewajaran.
Manakala doktrin perceraian telah diakui (diadopsi) oleh kaum Kristen [dalam hukum negara mereka], poligami masih sangat terlarang sehingga bahkan para penganut agama-agama lain, misalnya Islam, yang mengizinkan poligami, tidak dapat menikahi lebih dari satu istri.
Tak ada yang dapat mengingkari kenyataan bahwa keadaan-keadaan dapat timbul dimana pernikahan yang kedua menjadi satu kebutuhan (hajat) hidup. Misalnya, jika seorang wanita tak produktif (mandul) dan tak mampu melahirkan anak karena beberapa kelemahan bawaan (alami), yang karenanya wanita itu tidak dapat disalahkan atau dimintai tanggung jawabnya, atau menderita beberapa kelemahan fisik sehingga dia tidak mampu untuk melaksanakan kewajibannya [sebagai istri], satu-satunya jalan keluar untuk suami adalah menikahi istri kedua dengan maksud untuk mempunyai anak dan memenuhi kebutuhan biologisnya tanpa berbuat tindakan-tindakan jahat dan tak bermoral.
Sebagai hasil dari pelarangan poligami, pasangan-pasangan yang telah menikah, yang tidak punya anak karena istrinya mandul, menempuh pilihan dengan cara mengambil ibu-ibu sewaan (pinjaman) yang tak wajar. Di bawah perjanjian ini, seorang wanita lain (yang bukan istrinya), sudah nikah atau masih lajang, disewa dengan harga tertentu dan diinseminasi (disuntik) dengan sperma (air mani) dari suami yang menyewa melalui cara mekanis, sebagai ganti hubungan [kelamin] langsung yang akan menjadi perbuatan zina di luar nikah. Pertentangan-pertentangan mengkhawatirkan timbul seperti misalnya pada satu perjanjian yang telah dibuktikan pada kasus ibu pinjaman itu, Mary Beth Whitehead, dilaporkan dalam surat kabar the Democrat dan Chronicle tanggal 5 dan 7 Januari 1987 yang disewa oleh William dan Elizabeth Stern dengan kontrak 10.000 dollar, dan disuntik dengan sperma dari William Stern. Sang ibu sewaan itu menolak untuk menyerahkan bayinya sesudah lahir dan masalah ini sedang disidangkan di sebuah Pengadilan Tinggi di New Jersey.
Sehubungan dengan keadaan ini, ajaran-ajaran Islam, yang mengizinkan poligami dalam keadaan-keadaan tertentu, secara nyata akan tampak sesuai dengan hal-hal yang sering dijumpai dalam kebutuhan-kebutuhan hidup manusia. Sungguh merupakan paradoks bahwa sebagian orang yang mencela ajaran-ajaran Islam sehubungan dengan poligami dan perceraian dan mereka terpaksa mengamalkannya dalam satu atau lain bentuk. Cerai, yang tidak diizinkan dalam ajaran agama Kristen, kecuali lantaran zina, telah diadopsi dan diamalkan demikian seringnya sehingga banyak pernikahan [di negeri mereka] berakhir dengan perceraian. Karena halangan-halangan ditetapkan pada perceraian dan poligami [maka] banjir perzinaan sedang dibiarkan, jika bukan disetujui, sebagaimana dinyatakan dalam the New Encyclopaedia Britannica:
“Monogami yang kaku diperkenalkan kepada umum dan secara luas membiarkan praktek-praktek zina, yang Gereja Katolik Roma menganggap sebagai yang lebih dapat ditoleransi dari pada perceraian.” (AWAKE – November 8, 1985 – page 10).
Akan halnya poligami, yang secara resmi belum diakui, seperti halnya perceraian, sedang diamalkan dalam bentuk ibu-ibu sewaan yang berisi pengakuan-pengakuan pada kenyataan bahwa ajaran-ajaran Islam mengenai poligami dan cerai adalah benar-benar sesuai dengan fitrat manusia dan merupakan satu jalan untuk memenuhi keperluan-keperluan manusia. Al-Qur’an mengatakan: “Orang-orang yang kafir itu sering kali (dengan perbuatan mereka) menginginkan kiranya mereka menjadi muslim.” (QS 15:3). Yang secara nyata bermakna bahwa dengan cara apapun juga orang-orang kafir mencela ajaran-ajaran Islam, mereka akan terpaksa (oleh keadaan) untuk mengikutinya.
Sumber: The Review Of Religions, August 1987, hal. 12-13.
Selasa, 29 Juli 2008
Senin, 28 Juli 2008
MEMPERINGATI HARI ANAK NASIONAL
Universal Children’s Day

Sidang Umum PBB pada tahun 1954 (resolusi 836-IX) telah merekomendasikan bahwa semua negara agar melembagakan Hari Anak Universal, yang akan dipandang sebagai bentuk persaudaraan dunia dan saling pengertian diantara para anak dan sebagai kegiatan promosi kesejahteraan anak di dunia. Adapun mengenai kapan hari itu ditetapkan, diserahkan kepada masing-masing negara untuk menentukan sesuai pertimbangan masing-masing.
Tanggal 20 November menjadi tanda dimana Sidang telah mengadopsi Deklarasi dari Hak-hak Anak, pada tahun 1959, dan konvensi Hak-hak anak pada tahun 1989. Ini sering menjadi rujukan yang dipilih oleh banyak negara untuk menetapkan tanggal peringatan hari anak ini. (lihat Wikipedia)
Di Indonesia sendiri hari anak ini ditetapkan diperingati pada tanggal 23 Juli. Entah apa yang mendasarinya dan mulai kapan diperingatinya (mohon sahabat netter yang lain dapat membantu saya carikan datanya :) ). Tahun ini diperingati dengan serangkaian kegiatan berupa kongres dua hari (21-22 juli) yang diadakan di Bogor, diakhiri acara semacam pagelaran atau apalah (saya sendiri tidak sempat melihat acaranya) yang diadakan di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) dan dihadiri oleh Presiden.
Rekomendasi Anak-anak Indonesia
Ada yang menarik dari kongres anak di Bogor ini yaitu berupa 6 butir rekomendasi yang dibacakan pada acara puncak tanggal 23 juli, yaitu:
1. Kami anak Indonesia bercita-cita menjadi anak yang kreatif, cerdas, berkualitas, dan terlindungi darisegala bentuk kekerasan, eksploitasi, penelantaran, dan diskriminasi.
2. Kami anak Indonesia membutuhkan perlindungan dari bahaya tembakau agar kami dapat tumbuh berkembang secara wajar.
3. Kami anak Indonesia bertekad untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran cara hidup sehat, hak kesehatan reproduksi, agar kami terhindar dari bahaya penyakit menular, HIV dan Aids serta penggunaan NAPZA.
4. Kami anak Indonesia bertekad mempersatukan anak bangsa yang berada di daerah terpencil, daerah perbatasan, daerah terisolir, dengan adanya dukungan sarana prasarana yang memadai.
5. Kami anak Indonesia bertekad untuk menyuarakan aspirasi kami melalui forum anak daerah yang akan ditindak lanjuti melalui kongres Anak Indonesia secara berkelanjutan, sebagai wadah saling berbagi informasi dan pendidikan demokrasi santun sejak dini untuk membangun solidaritas anak bangsa dan keutuhan negara kesatuan RI.
6. Kami anak Indonesia menyuarakan perlunya dibentuk kementrian anak untuk merespon kebutuhan anak di Indonesia.
Jika diperhatikan hasil kongres ini rasanya terlalu bagus untuk menjadi bahasa anak-anak. Meskipun peserta kongres adalah anak-anak yang terbilang sudah cukup dewasa (usia 12-16), namun tetap saja nuansanya anak-anak hampir tidak kentara sama sekali. Padahal judulnya kan kongres anak-anak. Atau apakah memang anak-anak sekarang ini pemikirannya sudah sangat dewasa ya? Wah, saya jadi lupa bagaimana ketika masih anak-anak dulu. Maklum saja ya, sekarang kakek sudah tua cu.. :D
Realitas Kehidupan Anak Indonesia
Saat ini memang kehidupan belum begitu menguntungkan bagi anak-anak. Terlepas apakah mereka sadar ataupun tidak. Masalah kesejahteraan terus mengancaman kelangsungan hidup anak-anak. Coba saja kita perhatikan mulai dari dalam kandungan hingga usia beranjak dewasa, kasus demi kasus yang melibatkan nyawa anak-anak muncul seolah tiada habisnya.
Contoh ancaman ketika anak masih dalam kandungan adalah aborsi. Aborsi atau pengguguran kandungan secara illegal diakibatkan kehamilan yang tidak diinginkan merupakan kasus yang sangat banyak terjadi belakangan ini. Si ibu boleh saja merasa berhak menentukan nasibnya sendiri, tapi ia tidak berhak menentukan nasib janin yang ada dalam perutnya. Ketika janin tumbuh dalam perutnya, bagaimanapun latar belakangnya, tetap berhak untuk hidup. Agama islam mengajarkan bahwa setiap kelahiran itu adalah suci tanpa dosa. Yang salah dan berdosa adalah ibunya karena perbuatannya. Adapun si anak, sama sekali tidak dapat dipersalahkan atas perbuatan ibunya. Jadi apapun alasannya, perbuatan seperti itu jelas tidak dapat dibenarkan.
Ketika anak lahir, ancaman kehidupan bukannya berkurang malah semakin bertambah. Persoalan kehidupan yang kian berat, baru-baru ini, telah merengut korban dari anak-anak yang tidak kurang banyaknya. Ibu yang depresi, ayah yang gelap mata, ataupun sanak keluarga lainnya yang punya dendam kesumat, tidak melihat sosok didepannya yang masih anak-anak.
Jikapun kita mengesampingkan kasus-kasus luarbiasa seperti itu, toh secara umum kehidupan masyarakat kita sedemikiannya beratnya hingga banyak anak-anak yang terpaksa harus hidup di jalanan. Mahalnya biaya pendidikan sudah bukan hal aneh di negeri yang merdeka lebih dari setengah abad ini. Rencana sekolah gratis hanya ramai ketika kampanye pemilu mulai mendekat.

Negara kita benar-benar tertinggal dari yang lain. Malaysia yang tumbuh berkembang bersama kita saja, sudah lama menerapkan sistem pendidikan gratis untuk anak-anak bangsanya. Negara kita jangankan pendidikan gratis, beras pun masih harus impor dari negara lain. Sungguh mengenaskan untuk negara yang luas daratannya berkali-kali lipat dari berbagai negara lain, tapi kehidupannya jauh lebih makmur. Bagaimana anak-anak negeri ini akan cerdas bila untuk sekolah saja sampai setengah mati. Kalaupun ada sekolah yang murah (tetap tidak gratis), tapi kondisinya sangat tragis. Sekolah maupun gurunya seolah tidak pernah lagi ditengok oleh pemerintah. Sangat pasti untuk tidak lulus ujian nasional. Jika sudah demikian apa lagi artinya bersekolah?
Narkoba
Narkoba adalah masalah lain yang juga menjadi ancaman. Pergaulan yang tidak tepat menjadi factor yang sangat mungkin menyebabkan seorang anak dari kalangan manapun untuk masuk dan terjebak dalam lingkaran setan penggunaan narkoba. Anak-anak jalanan yang untuk makanpun kesulitan sama rentannya terhadap narkoba seperti anak-anak orang kaya yang kekurangan perhatian dan kasih sayang orangtua mereka. Pergaulan merupakan salah satu faktor kunci untuk menyebabkan terlibat narkoba. Permasalahan kehidupan adalah pasti ada, namun sejauh mana daya tahan kita terhadap pengaruh negatif pergaulan akan sangat menentukan kearah mana langkah kita selanjutnya.
Anak-anak yang daya tahan mental-spiritualnya lemah akan mudah terjerumus dalam lingkungan yang merugikan. Jika sudah terjadi demikian maka akibatnya akan sangat fatal. Kalaupun berhasil diselamatkan, dampaknya pasti akan tinggal untuk waktu yang sangat lama atau selama akhir masa hidupnya.
Anak-anak adalah harapan masa depan. Setiap orang tua pasti bahagia melihat anaknya yang sukses. Kesuksesan dalam arti yang luas mencakup bidang materil dan spiritual. Setiap kesuksesan yang diraih oleh seorang anak, bukan saja merupakan kesuksesan pribadi dan keluarganya namun juga merupakan kemajuan untuk bangsa. Siapakah nanti yang akan menjadi tulang punggung bangsa ini kalau bukan anak-anak kita?

Sidang Umum PBB pada tahun 1954 (resolusi 836-IX) telah merekomendasikan bahwa semua negara agar melembagakan Hari Anak Universal, yang akan dipandang sebagai bentuk persaudaraan dunia dan saling pengertian diantara para anak dan sebagai kegiatan promosi kesejahteraan anak di dunia. Adapun mengenai kapan hari itu ditetapkan, diserahkan kepada masing-masing negara untuk menentukan sesuai pertimbangan masing-masing.
Tanggal 20 November menjadi tanda dimana Sidang telah mengadopsi Deklarasi dari Hak-hak Anak, pada tahun 1959, dan konvensi Hak-hak anak pada tahun 1989. Ini sering menjadi rujukan yang dipilih oleh banyak negara untuk menetapkan tanggal peringatan hari anak ini. (lihat Wikipedia)
Di Indonesia sendiri hari anak ini ditetapkan diperingati pada tanggal 23 Juli. Entah apa yang mendasarinya dan mulai kapan diperingatinya (mohon sahabat netter yang lain dapat membantu saya carikan datanya :) ). Tahun ini diperingati dengan serangkaian kegiatan berupa kongres dua hari (21-22 juli) yang diadakan di Bogor, diakhiri acara semacam pagelaran atau apalah (saya sendiri tidak sempat melihat acaranya) yang diadakan di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) dan dihadiri oleh Presiden.
Rekomendasi Anak-anak Indonesia
Ada yang menarik dari kongres anak di Bogor ini yaitu berupa 6 butir rekomendasi yang dibacakan pada acara puncak tanggal 23 juli, yaitu:
1. Kami anak Indonesia bercita-cita menjadi anak yang kreatif, cerdas, berkualitas, dan terlindungi darisegala bentuk kekerasan, eksploitasi, penelantaran, dan diskriminasi.
2. Kami anak Indonesia membutuhkan perlindungan dari bahaya tembakau agar kami dapat tumbuh berkembang secara wajar.
3. Kami anak Indonesia bertekad untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran cara hidup sehat, hak kesehatan reproduksi, agar kami terhindar dari bahaya penyakit menular, HIV dan Aids serta penggunaan NAPZA.
4. Kami anak Indonesia bertekad mempersatukan anak bangsa yang berada di daerah terpencil, daerah perbatasan, daerah terisolir, dengan adanya dukungan sarana prasarana yang memadai.
5. Kami anak Indonesia bertekad untuk menyuarakan aspirasi kami melalui forum anak daerah yang akan ditindak lanjuti melalui kongres Anak Indonesia secara berkelanjutan, sebagai wadah saling berbagi informasi dan pendidikan demokrasi santun sejak dini untuk membangun solidaritas anak bangsa dan keutuhan negara kesatuan RI.
6. Kami anak Indonesia menyuarakan perlunya dibentuk kementrian anak untuk merespon kebutuhan anak di Indonesia.
Jika diperhatikan hasil kongres ini rasanya terlalu bagus untuk menjadi bahasa anak-anak. Meskipun peserta kongres adalah anak-anak yang terbilang sudah cukup dewasa (usia 12-16), namun tetap saja nuansanya anak-anak hampir tidak kentara sama sekali. Padahal judulnya kan kongres anak-anak. Atau apakah memang anak-anak sekarang ini pemikirannya sudah sangat dewasa ya? Wah, saya jadi lupa bagaimana ketika masih anak-anak dulu. Maklum saja ya, sekarang kakek sudah tua cu.. :D
Realitas Kehidupan Anak Indonesia
Saat ini memang kehidupan belum begitu menguntungkan bagi anak-anak. Terlepas apakah mereka sadar ataupun tidak. Masalah kesejahteraan terus mengancaman kelangsungan hidup anak-anak. Coba saja kita perhatikan mulai dari dalam kandungan hingga usia beranjak dewasa, kasus demi kasus yang melibatkan nyawa anak-anak muncul seolah tiada habisnya.Contoh ancaman ketika anak masih dalam kandungan adalah aborsi. Aborsi atau pengguguran kandungan secara illegal diakibatkan kehamilan yang tidak diinginkan merupakan kasus yang sangat banyak terjadi belakangan ini. Si ibu boleh saja merasa berhak menentukan nasibnya sendiri, tapi ia tidak berhak menentukan nasib janin yang ada dalam perutnya. Ketika janin tumbuh dalam perutnya, bagaimanapun latar belakangnya, tetap berhak untuk hidup. Agama islam mengajarkan bahwa setiap kelahiran itu adalah suci tanpa dosa. Yang salah dan berdosa adalah ibunya karena perbuatannya. Adapun si anak, sama sekali tidak dapat dipersalahkan atas perbuatan ibunya. Jadi apapun alasannya, perbuatan seperti itu jelas tidak dapat dibenarkan.
Ketika anak lahir, ancaman kehidupan bukannya berkurang malah semakin bertambah. Persoalan kehidupan yang kian berat, baru-baru ini, telah merengut korban dari anak-anak yang tidak kurang banyaknya. Ibu yang depresi, ayah yang gelap mata, ataupun sanak keluarga lainnya yang punya dendam kesumat, tidak melihat sosok didepannya yang masih anak-anak.
Jikapun kita mengesampingkan kasus-kasus luarbiasa seperti itu, toh secara umum kehidupan masyarakat kita sedemikiannya beratnya hingga banyak anak-anak yang terpaksa harus hidup di jalanan. Mahalnya biaya pendidikan sudah bukan hal aneh di negeri yang merdeka lebih dari setengah abad ini. Rencana sekolah gratis hanya ramai ketika kampanye pemilu mulai mendekat.

Negara kita benar-benar tertinggal dari yang lain. Malaysia yang tumbuh berkembang bersama kita saja, sudah lama menerapkan sistem pendidikan gratis untuk anak-anak bangsanya. Negara kita jangankan pendidikan gratis, beras pun masih harus impor dari negara lain. Sungguh mengenaskan untuk negara yang luas daratannya berkali-kali lipat dari berbagai negara lain, tapi kehidupannya jauh lebih makmur. Bagaimana anak-anak negeri ini akan cerdas bila untuk sekolah saja sampai setengah mati. Kalaupun ada sekolah yang murah (tetap tidak gratis), tapi kondisinya sangat tragis. Sekolah maupun gurunya seolah tidak pernah lagi ditengok oleh pemerintah. Sangat pasti untuk tidak lulus ujian nasional. Jika sudah demikian apa lagi artinya bersekolah?
Narkoba
Narkoba adalah masalah lain yang juga menjadi ancaman. Pergaulan yang tidak tepat menjadi factor yang sangat mungkin menyebabkan seorang anak dari kalangan manapun untuk masuk dan terjebak dalam lingkaran setan penggunaan narkoba. Anak-anak jalanan yang untuk makanpun kesulitan sama rentannya terhadap narkoba seperti anak-anak orang kaya yang kekurangan perhatian dan kasih sayang orangtua mereka. Pergaulan merupakan salah satu faktor kunci untuk menyebabkan terlibat narkoba. Permasalahan kehidupan adalah pasti ada, namun sejauh mana daya tahan kita terhadap pengaruh negatif pergaulan akan sangat menentukan kearah mana langkah kita selanjutnya.
Anak-anak yang daya tahan mental-spiritualnya lemah akan mudah terjerumus dalam lingkungan yang merugikan. Jika sudah terjadi demikian maka akibatnya akan sangat fatal. Kalaupun berhasil diselamatkan, dampaknya pasti akan tinggal untuk waktu yang sangat lama atau selama akhir masa hidupnya.
Anak-anak adalah harapan masa depan. Setiap orang tua pasti bahagia melihat anaknya yang sukses. Kesuksesan dalam arti yang luas mencakup bidang materil dan spiritual. Setiap kesuksesan yang diraih oleh seorang anak, bukan saja merupakan kesuksesan pribadi dan keluarganya namun juga merupakan kemajuan untuk bangsa. Siapakah nanti yang akan menjadi tulang punggung bangsa ini kalau bukan anak-anak kita?
Selasa, 22 Juli 2008
Rahasia Sukses Menghadapi Tes Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS)
Sekarang ini, kesempatan kerja yang paling banyak diminati angkatan kerja di Indonesia adalah PNS (Pegawai Negeri Sipil).Kalau Anda lihat, ratusan ribu pencari kerja berebut untuk mendapatkan kursi menjadi PNS.Memang, saat ini status PNS di masyarakat masih mendapat penghargaan yang cukup tinggi,bahkan di kalangan tertentu dapat meningkatkan status sosial mereka.
Banyak keuntungan yang Anda dapatkan ketika bekerja di Pemerintahan sebagai PNS, di antaranya adalah :
• Jaminan keamanan kerja dan posisi yang kuat,
karena PNS diangkat melalui SK Menteri, Gubernur atau Walikota/Bupati.
• Kepastian dan standar gaji yang cukup tinggi.
Sebagai PNS disamping gaji pokok, ada banyak tunjangan fungsional dan tunjangan jabatan.
• PHK?
sampai saat ini pemerintah telah menjamin tidak akan ada PHK bagi PNS, kecuali bagi mereka dengan alasan tertentu.
• Karier yang jelas.
Di lingkungan Pemerintahan sebagai PNS, golongan dan jenjang kepangkatan telah diatur dengan jelas oleh Undang-undang.
• Seabrek jabatan.
Banyak peluang promosi jabatan dari kepala seksi hingga Dirjen yang tersedia dan bisa diraih.
Bahkan Walikota/Bupati, Gubernur, dan Menteri sebagian besar diisi oleh PNS.
• Peluang peningkatan SDM.
Banyak sekali kesempatan yang bisa diraih untuk meningkatkan kemampuan PNS,
baik diklat/training/pelatihan hingga pendidikan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
• Pensiun?
Jadi PNS ada jaminan pensiun di hari tua.
*******
Berikut ini adalah kumpulan soal-soal Tes CPNS. Bagi anda yang berminat silahkan unduh saja.
*******
Bahasa Indonesia
http://rapidshare.com/files/85324694..._Indonesia.zip
Bahasa Inggris
http://rapidshare.com/files/85324958/Bahasa_Inggris.zip
Pengetahuan Umum
http://rapidshare.com/files/85325773...ahuan_Umum.zip
Test Bakat Skolastik
http://rapidshare.com/files/85326601..._Skolastik.zip
UUD 45 Amandemen
http://rapidshare.com/files/85326877..._Amandemen.zip
Falsafah Ideologi
http://rapidshare.com/files/85325224...__Ideologi.zip
Sejarah Nasional Indonesia
http://rapidshare.com/files/85326027..._Indonesia.zip
Tata Negara
http://rapidshare.com/files/85326314/Tata_Negara.zip
Kebijakan Pemerintah
http://rapidshare.com/files/85325506...Pemerintah.zip
MENJADI PROAKTIF
PENDAHULUAN
Salah satu kebiasaan yang efektif adalah menjadi proaktif, dengan memiliki prinsip visi pribadi. Kebiasaan yang paling mendasar dari manusia yang sangat efektif pada lingkungan apapun. Anda diharapkan memiliki kebebasan untuk memilih sebagai awal dari sikap proaktif.
Proses menjadi proaktif yang harus dilalui oleh individu dalam mendapatkan prinsip visi pribadi atau kemenangan pribadi adalah hanya dengan memproyaksikan dirinya melalui visi yang berbeda dari biasanya.
Untuk memahami bagaimana menjadi proaktif dan penuh inisiatif, sebaiknya pertama-tama mencoba melihat diri anda sendiri pada keadaan-keadaan yang berbeda, namun bukan berupa khayalan.
TUJUAN
1. Menjadi pribadi yang mampu melontarkan ide-ide orisinil, kreatif dan peka terhadap lingkunga, serta mempunyai inisiatif, sehingga tercapai kemenangan pribadi.
2. Mampu berpikir secara logis dengan visi yang berbeda dari biasanya. Dalam memproyeksikan diri, Anda dituntut untuk sesaat lepas dari diri Anda sendiri lewat sudut lain. Sehingga terbentuk sikap yang proaktif bukan menjadi reaktif, karena sikap reaktif mulai terjadi pada saat Anda merespon hal-hal yang terjadi pada diri Anda.
3. Kemampuan untuk menomorduakan impuls sesudah nilai. Nilai-nilai yang sudah dipikirkan secara cermat, diseksi dan dihayati.
Langkah-Langkah Yang diambil untuk menjadi proaktif.
Adapun langkah-langkah yang perlu diambil untuk menjadi proaktif adalah :
1. Mengambil Inisiatif, yaitu : melakukan hal-hal yang dirasa perlu untk kepentingan public tanpa harus menunggu instruksi orang lain. Anda mencari tahu sendiri tentang hal-hal yang dirasa perlu demi kepentingan pribadi maupun public.
2. Bertindaklah atau menjadi sasaran tindakan, yaitu: meningkatkan inisiatif Anda pada situasi-situasi tertentu, dan menjadi orang yang memiliki peluang.
3. Mendengarkan bahasa Anda sendiri, yaitu: merespon hal-hal yang terjadi, selalu dengan sikap optimis.
Dari ketiga langkah tersebut, langkah yang paling penting dan utama adalah langkah inisiatif, karena dari langkah inilah maka langkah-langkah selanjudnya dapat dengan mudah diambil dan dilaksanakan.
Mengambil insiatif bersifat individual dengan tujuan untuk kepentingan yang berbeda, bias untuk pribadi ataupun public. Inisiatif yang diperlukan dalam lingkungan kerja adalah yang mempunyai tujuan kepentingan seimbang public dan pribadi, sehingga tercipta win-win situstion. Dalam setiap lingkungan akan selalu ada orang yang memiliki inisiatif. Setiap inisiatif yang diambil senantiasa penuh perencanaan yang matang dan membutuhkan kemandirian bersikap.
HAL-HAL UNTUK LEBIH MENINGKATKAN PROAKTIVITAS
Selain ketiga langkah-langkah diatas, ada beberapa hal lagi yang sangat mempengaruhi Anda dalam upaya meningkatkan proaktivitas.
1. Ciptakan Lingkaran Kepedulian dan Lingkaran Pengaruh, yaitu: Anda dapat melihat dimana Anda memfokuskan waktu dan energi Anda. Dengan menentukan mana dari kedua lingkaran ini yang merupakan focus dari sebagian besar waktu dan energi, Anda dapat menemukan banyak hal tentang tingkat proaktivitas Anda.
Orang proaktif memfokuskan upaya mereka dalam lingkaran pengaruhnya. Mereka memiliki lingkaran lingkaran kepedulian yang setidaknya sama besar dengan lingkaran pengaruhnya, menerima tanggungjawab untuk menggunakan pengaruh mereka secara efektif.
2. Tentukan langkah pertama dalam solusi untuk tiga jenis masalah, yang bersifat langsung, tak langsung dan tanpa control. Masalah-masalah terkontrol langsung (masalah yang melibatkan perilaku Anda sendiri), Anda atasi dengan memperbaiki kebiasaan Anda sendiri. Masalah-masalah terkontrol secara tak langsung (masalah melibatkan perilaku orang lain), Anda atasi dengan mengubah metode pengaruh Anda.
Sedangkan masalah-masalah tanpa control (masalah yang Anda tidak dapat berbuat langsung terhadapnya, misalnya masa lalu Anda atau realitas situasi), Anda atasi dengan senyum, menerima dengan tulus dan tenang meskipun Anda tidak menyukainya. Belajarlah hidup dengan perasaan tersebut.
3. Luaskan Lingkaran pengaruh, yaitu: mengatisipasi, berempati, dan membaca situai. Tindakan Anda digerakkan dengan nilai, bukan perasaan. Memberikan lebih dari yang orang minta kepada Anda bukanlah semata-mata mencari pujian, tetapi Anda mengantisipasi untuk hal-hal yang tidak orang lain minta, namun mungkin akan mereka butuhkan. Dengan demikian Anda telah meluaskan Lingkaran Pengaruh Anda pada kondisi dan orang-orang di sekitar Anda.
4. “Mempunyai” dan “Menjadi”. Salah satu cara untuk emnentukan di lingkaran mana perhatian Anda berada adalah dengan membedakan antara “mempunyai” dan “menjadi”. Pendekatan proaktif adalah berubah dari dalam ke luar dengan bahasa “menjadi” yang memperlihatkan sisi optimis dan berpeluang. Anda dapat menjadi sama optimisnya dan berpeluang, dengan menanamkan bahasa proaktif dalam cara berpikir Anda
5. Menyadari dan mempertimbangkan konsekuensi dan kesalahan. Perilaku hidup kita diatur oleh prinsip. Hidup selaras dengan prinsip tersebut membawa konsekuensi positif. Anda bebas memilih respon Anda terhadap situasi apapun, tetapi dalam melakukannya Anda memilih konsekuensi yang menyertainya.
6. Pendekatan proaktif terhadap suatu kesalahan adalah dengan langsung mengakuinya, memperbaikinya dan mengambil pelajaran dari kesalahan tersebut.
7. Membuat dan memenuhi, yaitu: bagian paling inti dari LIngkaran Pengaruh Anda. Kekuatan untuk membuat dan memenuhi komitmen pada diri sendiri adalah inti dari pengembangan kebiasaan dasar yang efektif. Dengan membuat dan memenuhi janji pada diri sendiri dan orang lain, sedikit demi sedikit kehormatan Anda menjadi lebih besar dibandingkan suasana hati Anda sendiri.
PROAKTIFITAS: UJI TIGA PULUH HARI
Kembangkan kapasitas proaktivitas Anda dalam keseharian untuk menangani tekanan yang luar biasa dari kehidupan.
1. Perlunya melakukan pengujian pada diri sendiri untuk mengetahui sikap yang dimiliki, dan mempunyai prinsip visi pribadi dengan sudut pandang yang berbeda
2. Difokuskan hanya pada Lingkaran Pengaruh Anda. Perlunya membuat komitmen kecil dan memenuhinya.
3. Orang yang melatih embrio kebebasan mereka hari-demi hari akan memperluas kebebasan itu sedikit demi sedikit
4. Orang proaktif jika berbuat kesalahan akan segera diakuinya, diperbaiki dan belajar dari kesalahan tersebut, tanpa harus berargumen untuk kelemahan orang lain dan diri sendiri. Menjadi proaktik adalah mengerjakan hal-hal yang dapat Anda control. Latihlah diri anda dan berusahalah untuk “menjadi” apa yang sudah menjadi komitmen Anda.
Terwujudnya sikap proaktif di diri Anda menunjukkan kemenangan pribadi Anda pada lingkungan. Kebiasaan yang efektif yang pertama ini akan terus berkaitan dengan kebiasaan yang efektif lainnya sampai terbentuk seorang pemimpin yang dapat diandalkan oleh perusahaan.
Salah satu kebiasaan yang efektif adalah menjadi proaktif, dengan memiliki prinsip visi pribadi. Kebiasaan yang paling mendasar dari manusia yang sangat efektif pada lingkungan apapun. Anda diharapkan memiliki kebebasan untuk memilih sebagai awal dari sikap proaktif.
Proses menjadi proaktif yang harus dilalui oleh individu dalam mendapatkan prinsip visi pribadi atau kemenangan pribadi adalah hanya dengan memproyaksikan dirinya melalui visi yang berbeda dari biasanya.
Untuk memahami bagaimana menjadi proaktif dan penuh inisiatif, sebaiknya pertama-tama mencoba melihat diri anda sendiri pada keadaan-keadaan yang berbeda, namun bukan berupa khayalan.
TUJUAN
1. Menjadi pribadi yang mampu melontarkan ide-ide orisinil, kreatif dan peka terhadap lingkunga, serta mempunyai inisiatif, sehingga tercapai kemenangan pribadi.
2. Mampu berpikir secara logis dengan visi yang berbeda dari biasanya. Dalam memproyeksikan diri, Anda dituntut untuk sesaat lepas dari diri Anda sendiri lewat sudut lain. Sehingga terbentuk sikap yang proaktif bukan menjadi reaktif, karena sikap reaktif mulai terjadi pada saat Anda merespon hal-hal yang terjadi pada diri Anda.
3. Kemampuan untuk menomorduakan impuls sesudah nilai. Nilai-nilai yang sudah dipikirkan secara cermat, diseksi dan dihayati.
Langkah-Langkah Yang diambil untuk menjadi proaktif.
Adapun langkah-langkah yang perlu diambil untuk menjadi proaktif adalah :
1. Mengambil Inisiatif, yaitu : melakukan hal-hal yang dirasa perlu untk kepentingan public tanpa harus menunggu instruksi orang lain. Anda mencari tahu sendiri tentang hal-hal yang dirasa perlu demi kepentingan pribadi maupun public.
2. Bertindaklah atau menjadi sasaran tindakan, yaitu: meningkatkan inisiatif Anda pada situasi-situasi tertentu, dan menjadi orang yang memiliki peluang.
3. Mendengarkan bahasa Anda sendiri, yaitu: merespon hal-hal yang terjadi, selalu dengan sikap optimis.
Dari ketiga langkah tersebut, langkah yang paling penting dan utama adalah langkah inisiatif, karena dari langkah inilah maka langkah-langkah selanjudnya dapat dengan mudah diambil dan dilaksanakan.
Mengambil insiatif bersifat individual dengan tujuan untuk kepentingan yang berbeda, bias untuk pribadi ataupun public. Inisiatif yang diperlukan dalam lingkungan kerja adalah yang mempunyai tujuan kepentingan seimbang public dan pribadi, sehingga tercipta win-win situstion. Dalam setiap lingkungan akan selalu ada orang yang memiliki inisiatif. Setiap inisiatif yang diambil senantiasa penuh perencanaan yang matang dan membutuhkan kemandirian bersikap.
HAL-HAL UNTUK LEBIH MENINGKATKAN PROAKTIVITAS
Selain ketiga langkah-langkah diatas, ada beberapa hal lagi yang sangat mempengaruhi Anda dalam upaya meningkatkan proaktivitas.
1. Ciptakan Lingkaran Kepedulian dan Lingkaran Pengaruh, yaitu: Anda dapat melihat dimana Anda memfokuskan waktu dan energi Anda. Dengan menentukan mana dari kedua lingkaran ini yang merupakan focus dari sebagian besar waktu dan energi, Anda dapat menemukan banyak hal tentang tingkat proaktivitas Anda.
Orang proaktif memfokuskan upaya mereka dalam lingkaran pengaruhnya. Mereka memiliki lingkaran lingkaran kepedulian yang setidaknya sama besar dengan lingkaran pengaruhnya, menerima tanggungjawab untuk menggunakan pengaruh mereka secara efektif.
2. Tentukan langkah pertama dalam solusi untuk tiga jenis masalah, yang bersifat langsung, tak langsung dan tanpa control. Masalah-masalah terkontrol langsung (masalah yang melibatkan perilaku Anda sendiri), Anda atasi dengan memperbaiki kebiasaan Anda sendiri. Masalah-masalah terkontrol secara tak langsung (masalah melibatkan perilaku orang lain), Anda atasi dengan mengubah metode pengaruh Anda.
Sedangkan masalah-masalah tanpa control (masalah yang Anda tidak dapat berbuat langsung terhadapnya, misalnya masa lalu Anda atau realitas situasi), Anda atasi dengan senyum, menerima dengan tulus dan tenang meskipun Anda tidak menyukainya. Belajarlah hidup dengan perasaan tersebut.
3. Luaskan Lingkaran pengaruh, yaitu: mengatisipasi, berempati, dan membaca situai. Tindakan Anda digerakkan dengan nilai, bukan perasaan. Memberikan lebih dari yang orang minta kepada Anda bukanlah semata-mata mencari pujian, tetapi Anda mengantisipasi untuk hal-hal yang tidak orang lain minta, namun mungkin akan mereka butuhkan. Dengan demikian Anda telah meluaskan Lingkaran Pengaruh Anda pada kondisi dan orang-orang di sekitar Anda.
4. “Mempunyai” dan “Menjadi”. Salah satu cara untuk emnentukan di lingkaran mana perhatian Anda berada adalah dengan membedakan antara “mempunyai” dan “menjadi”. Pendekatan proaktif adalah berubah dari dalam ke luar dengan bahasa “menjadi” yang memperlihatkan sisi optimis dan berpeluang. Anda dapat menjadi sama optimisnya dan berpeluang, dengan menanamkan bahasa proaktif dalam cara berpikir Anda
5. Menyadari dan mempertimbangkan konsekuensi dan kesalahan. Perilaku hidup kita diatur oleh prinsip. Hidup selaras dengan prinsip tersebut membawa konsekuensi positif. Anda bebas memilih respon Anda terhadap situasi apapun, tetapi dalam melakukannya Anda memilih konsekuensi yang menyertainya.
6. Pendekatan proaktif terhadap suatu kesalahan adalah dengan langsung mengakuinya, memperbaikinya dan mengambil pelajaran dari kesalahan tersebut.
7. Membuat dan memenuhi, yaitu: bagian paling inti dari LIngkaran Pengaruh Anda. Kekuatan untuk membuat dan memenuhi komitmen pada diri sendiri adalah inti dari pengembangan kebiasaan dasar yang efektif. Dengan membuat dan memenuhi janji pada diri sendiri dan orang lain, sedikit demi sedikit kehormatan Anda menjadi lebih besar dibandingkan suasana hati Anda sendiri.
PROAKTIFITAS: UJI TIGA PULUH HARI
Kembangkan kapasitas proaktivitas Anda dalam keseharian untuk menangani tekanan yang luar biasa dari kehidupan.
1. Perlunya melakukan pengujian pada diri sendiri untuk mengetahui sikap yang dimiliki, dan mempunyai prinsip visi pribadi dengan sudut pandang yang berbeda
2. Difokuskan hanya pada Lingkaran Pengaruh Anda. Perlunya membuat komitmen kecil dan memenuhinya.
3. Orang yang melatih embrio kebebasan mereka hari-demi hari akan memperluas kebebasan itu sedikit demi sedikit
4. Orang proaktif jika berbuat kesalahan akan segera diakuinya, diperbaiki dan belajar dari kesalahan tersebut, tanpa harus berargumen untuk kelemahan orang lain dan diri sendiri. Menjadi proaktik adalah mengerjakan hal-hal yang dapat Anda control. Latihlah diri anda dan berusahalah untuk “menjadi” apa yang sudah menjadi komitmen Anda.
Terwujudnya sikap proaktif di diri Anda menunjukkan kemenangan pribadi Anda pada lingkungan. Kebiasaan yang efektif yang pertama ini akan terus berkaitan dengan kebiasaan yang efektif lainnya sampai terbentuk seorang pemimpin yang dapat diandalkan oleh perusahaan.
Rabu, 09 Juli 2008
Kenaikan BBM dan Kemacetan Jakarta...

Isyu kenaikan BBM baru-baru ini cukup membuat ramai media massa. Terlebih setelah jatuhnya korban dari pihak mahasiswa yang berdemo maupun dari pihak aparat. Pro kontra pun tidak terhindarkan. Banyak pihak yang mengecam kenaikan, namun banyak juga yang coba memberi dukungan. Diantara yang member dukungan adalah beberapa fraksi DPR yang terlihat ketika voting hak angket. Selain itu, kita juga jangan melupakan masyarakat kecil yang selama ini telah menikmati dana BLT. Meskipun tidak bersuara sehebat anggota DPR, namun mereka jelas memperlihatkan wajah kebahagiaan yang lebih murni atas naiknya BBM ini.
Kalau kita renungkan, siapa sebenarnya yang tidak keberatan bila beban-nya ditambahi?? Kenaikan BBM jelas sudah menambah beban pengeluaran siapapun, baik yang termasuk konsumen BBM maupun tidak. Para pengguna kendaraan bermotor, pasti merasakan dampak kenaikan ini. Sedangkan masyarakat yang tidak punya kendaraan, pun pasti mengalami dampak kenaikan BBM ini melalui naiknya harga bahan-bahan pokok di pasar.
Ironis memang, sebagai negara penghasil minyak, kita malah berdarah-darah memperebutkan harga minyak agar tidak tertinggal harga minyak dunia. Ahh.. rasanya terlalu rumit bagi nalar awam ini untuk memahami kenapa kiranya negara dengan sumber daya alam dan juga manusia yang melimpah ini, masih saja berkutat dengan masalah kesejahteraan masyarakat yang kian lama kian bertambah peka untuk disentuh.
Masyarakat kita begitu kekuarangannya, hingga dengan bantuan beberapa ratus ribu saja perbulan (tentunya setelah dikurangi aparat), mereka sudah kegirangan dan lupa dengan konsekuensi kenaikan BBM yang sebenarnya siap mencekik melebihi hari-hari sebelum kenaikan.
Disisi lain para pihak yang menentang, sejauh mana kesungguhan mereka dalam beraspirasi pun sesungguhnya masih penuh tanda-tanya. Mahasiswa yang beraksi anarkis pada saat berdemo, benar-benar tidak mencerminkan sikap seorang mahasiswa. Mereka lebih terlihat sebagai sekelompok massa yang di manfaat oleh pihak tertentu untuk memperkeruh suasana. Apalagi anggota DPR yang jelas-jelas adalah merupakan politikus murni dengan kedok pembela kepentingan rakyat.
Jadi siapa sebenarnya mendukung dan siapa yang menentang?
Satu hal yang membuat tertegun terus-menerus adalah fakta bahwa setelah naiknya harga BBM ini Jakarta masih saja macet, bukti bahwa masih begitu banyaknya kendaraan yang mampu dibiayai pemiliknya untuk beroperasi…
Selasa, 01 Juli 2008
Comparing the Ahmadiyah and the Hizbut Tahrir

Comparing the Ahmadiyah and the Hizbut Tahrir
Bramantyo Prijosusilo , Ngawi, East Java | Wed, 04/16/2008 12:31 PM | Opinion
Followers of Ahmadiyah believe their leaders are rightly guided Caliphs and their congregations of faithfuls constitute a Caliphate. The Hizb ut Tahrir al Islami (the Islamic Party of Liberation, HT for short) is also preoccupied with the idea of a Caliphate, a State with its own constitution, armed forces and geographical boundaries.
Where as the Ahmadiyah seek to convert people into believing in the Ahmadi version of Islam, which maintains Mirza Gulam Ahmad was the promised Messiah, the HT also attempts to convert people into believing their own version of Islam, which prescribes the struggle to establish a physical Caliphate as a wajib, or fundamental obligation, for Muslims.
Both peculiarities are unique to their groups and represent a 'deviation' from the traditional mainstream Islamic thought. HT was founded in 1953 in Jerusalem by Taqiuddin al-Nabhani, and is banned in many Islamic countries but has supporters in high places in Jakarta. Ahmadiyah is also banned in many countries and has no open supporters among the elite in Indonesia.
Although Islamic traditions state the Messiah will descend sometime before the end of the world, not many Muslims believe he has already arrived and departed in the form of Mirza Gulam Ahmad in India before its partition.
Similarly, although Islamic tradition does note early Muslims after the death of the Prophet were organized under the banner of a Caliphate, most Muslims also believe the establishing of a Caliphate is not a religious duty, and that any form of State is fine as long as it promotes justice and allows the practices of Islam and doesn't prosecute Muslims because of their faith.
Most modern Muslims believe secular democracy is better than any form of government yet invented and refer to the process of electing Abu Bakar as the first Caliph after the Prophet's death as the precedence for democracy in Islam.
Of course, there are some fundamental differences between the Ahmadiyah and the HT. The main difference is the HT aims to establish a political Caliphate.
Everywhere the HT is active, it denounces democracy as a Western vice. A glance through HT websites impresses upon the reader a hatred for Jews and the West, who are portrayed as evil controllers of the world that can only be dealt with through the establishment of a Caliphate. In contrast, the Ahmadiyah websites proclaim their motto "Love for all, hatred for none" and do not aim to overthrow any government or form any State whatsoever.
Both the Ahmadiyah and the HT are prosecuted and banned in many countries, but for different reasons. The HT is banned in many Middle Eastern countries because it is hostile toward the governments and aims to overthrow the State. In some European Union countries, the HT is banned because it breeds anti-Semitic and extremist views, and several European terrorists were found to have links to the HT and to possess substantial amounts of HT literature. The Ahmadiyah are banned in some Islamic countries because they are judged as deviating from 'true' Islam, especially in their faith in Mirza Gulam Ahmad being the promised Messiah.
In Indonesia, the MUI organization of clerics has called for the Ahmadiyah to be banned, and several Islamic organizations have viciously attacked and closed down Ahmadiyah mosques. The Indonesian chapter of the HT, in contrast, enjoys tacit support from some ministers and overt support from hard organizations.
One might be tempted to ask, if Ahmadiyah preaches love for all and hatred for no one, and HT preaches hatred for democracy and calls for the overthrow of existing States, why is it that in Indonesia, the establishment is more worried about Ahmadiyah than it is concerned about the anti-democracy ideology of the HT? Why are there cabinet ministers who overtly and tacitly support the anti-democracy, theocratic, ideology that aims to overthrow the State to replace it with their version of a Caliphate? Does that not sound like hypocrisy?
Further more, one might want to examine whether HT's version of establishing a Caliphate is truly as Islamic as they claim. Though HT activists are taught their strategy is to follow the example of the Prophet, many ex-activists, such as the British writer Ed Husain have pointed out that HT has a lot to thank Lenin and Trotsky for. While Muhammad taught a religion, HT seeks political power using Leninist methods. The HT goes on and adopts a Trotskyist, internationalist vision.
Maybe because Lenin's thoughts have for decades been banned here, no one has actually pointed out the Leninism in HT's methods, because no one is sure what Leninism is. The HT seeks, just like the Bolsheviks, to firstly develop a core of firm believers that communicate clear and simple slogans to the masses, and when the time ripens, one day seize power and establish their Caliphate (Soviet).
Then from that Caliphate, like falling dominoes, their ideology will spread throughout Islamdom. Eventually the Caliphate will convert the whole world through jihad and da'wah. Just because they wrap their Leninist ideas in Islamic jargon it doesn't mean that Leninism isn't there. The rank and file of the HT is unlikely to be aware of their debt to Lenin but a debt there certainly is.
Both the Ahmadiyah and HT seek to convert people to believing their version of Islam, but while the first is concerned with the spiritual aspect of life, the second is concerned with the political aspect. One would be happy to see the Republic of Indonesia prosper and flourish, while the other would succeed only once it had overthrown the Republic and established a Caliphate in its place. Which is more dangerous for the nation?
>>Lihat halaman asli>>
Langganan:
Postingan (Atom)