Senin, 23 Juni 2008

Komnas Perempuan Menemukan Bahwa Kaum Perempuan Ahmadiyah Mengalami Diskriminasi Berlapis



Dalam pemantauan tersebut Komnas Perempuan menemukan bahwa perempuan Ahmadiyah mengalami diskriminasi berlapis, baik karena dia perempuan juga karena ia adalah anggota kelompok minoritas


Merespon pengaduan dari perwakilan Komunitas Ahmadiyah pada tanggal 27 September 2005 yang lalu, dan sesuai dengan mandat yang diemban Komnas Perempuan yakni untuk melakukan pemantauan dan pencarian fakta tentang pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) perempuan dan menciptakan kondisi yang kondusif bagi pemenuhan hak-hak perempuan di Indonesia, maka Komnas Perempuan merasa sangat perlu menindaklanjuti pengaduan tersebut. Salah satu tindak lanjut tersebut adalah pemantauan HAM terhadap kondisi perempuan Ahmadiyah di Cianjur dan Nusa Tenggara Barat (NTB) pada bulan Mei-Agustus 2006. Laporan ini akan diteruskan ke Presiden, Pelapor Khusus PBB dan elemen-elemen terkait.

Dalam pemantauan tersebut Komnas Perempuan menemukan bahwa perempuan Ahmadiyah mengalami diskriminasi berlapis, baik karena dia perempuan juga karena ia adalah anggota kelompok minoritas yang sedang menjadi sasaran penyerangan. Perempuan Ahmadiyah mengalami pelanggaran-pelanggaran HAM berbasis jender selain pelanggaran-pelanggaran yang sama-sama dialami juga oleh warga laki-laki dari komunitas Ahmadiyah. Pelanggaran-pelanggaran tambahan yang dialami oleh perempuan Ahmadiyah merupakan pelanggaran terhadap hak untuk bebas dari kekerasan berbasis jender, hak untuk berkeluarga dan melanjutkan keturunan, hak atas penghidupan yang layak, dan hak atas kesehatan reproduksi. Anak Ahmadiyah juga mengalami diskriminasi berlapis, khususnya hak anak untuk bebas dari diskriminasi dan hak anak atas pendidikan. Komnas Perempuan menegaskan bahwa komunitas Ahmadiyah secara keseluruhan adalah korban pelanggaran HAM yang mencakup pelanggaran terhadap hak atas kebebasan beragama, hak untuk bebas dari penyiksaan dan perlakuan yang tidak manusiawi, serta hak atas perlindungan.

Komnas Perempuan mencatat 23 produk kebijakan yang dikeluarkan oleh lembaga-lembaga Negara dan Pemerintahan, 8 di tingkat nasional dan 15 di tingkat lokal, yang menjadi acuan bagi masyarakat untuk melakukan tindakan-tindakan kekerasan dan diskriminasi terhadap perempuan, anak dan komunitas Ahmadiyah. Isi maupun dampak dari kebijakan-kebijakan ini melanggar hak-hak asasi perempuan, anak dan komunitas Ahmadiyah sebagai manusia dan sebagai warga negara Indonesia.

Tercatat Kabupaten Kuningan, Jawa Barat pada 3 November 2002, mengeluarkan SKB pelarangan aliran/ajaran komunitas Ahmadiyah Indonesia wilayah Kabupaten Kuningan yang ditandatangani oleh MUSPIDA, Pimpinan DPRD, MUI dan pimpinan pondok pesantren dan ormas Islam Kabupaten Kuningan. Selain itu di Kabupaten Bogor, Jawa Barat pada 20 Juli 2005 juga mengeluarkan pernyataan bersama tentang pelarangan kegiatan Komunitas Ahmadiyah di wilayah tersebut. Beberapa Surat Keputusan Bersama (SKB) kemudian muncul disejumlah daerah lain seperti di Garut dan Sukabumi.

Puncaknya, pada tanggal 9 Juni 2008 Pemerintah mengeluarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) yang ditandatangani Menteri Dalam Negeri, Menteri Agama dan Jaksa Agung bernomor KEP-033/A/JA/6/2008 Tentang Peringatan dan Perintah kepada Penganut, Anggota dan/atau Aggota Pengurus Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) dan Warga Masyarakat. Saat tulisan ini dibuat, pro kontra munculnya SKB ini terus berlanjut, bahkan pada satu 1 Juni lalu puluhan masa anti SKB luka-luka diserang sekelompok masa pro SKB.

Padahal, dari pantauan Komnas Perempuan saat penyerangan terhadap komunitas Ahmadiyah berlangsung ditemukan banyak pelanggaran Hak Asasi Manusia. Di antaranya hak atas kebebasan beragama yang telah menjadi semangat UUD 1945 pasal 28E ayat 1, hak untuk bebas dari penyiksaan dan perlakuan yang tidak manusiawi (pasal 28G ayat 2, UUD 1945) dan hak atas perlindungan yang juga telah menjadi ruh bangsa yang tertuang dalam UUD 1945 pasal 28D ayat 1.

Pada perempuan dan anak Ahmadiyah ditemukan fakta diskriminasi berlapis dalam berbagai bentuk dan contonhya. Pertama; Hak perempuan untuk bebas dari kekerasan berbasis jender. Pada saat penyerangan terjadi ancaman dan bahkan perlakuan kekerasan seksual dialami oleh banyak perempuan komunitas Ahmadiyah, sebagaimana terjadi di Desa Sukadan, Cianjur-Jawa Barat, Desa Gegerung-Lombok Barat dan Desa Prapen-Lombok Tengah. Kedua; Hak perempuan untuk berkeluarga dan melanjutkan ketururunan. Di Lombok Tengah, pasangan suami istri dianggap berzina ketika melakukan hubungan seksual lantaran perempuan yang dinikahi seorang Ahmadiyah, dan anak yang dilahirkan dicap sebagai anak haram. Ketiga; Hak perempuan atas kehidupan yang layak juga tidak terpenuhi. Banyak perempuan Ahmadiyah terpaksa berhenti berjualan karena warga melarang non Ahmadiyah berbelanja barang pada orang Ahmadiyah. Keempat; Hak perempuan atas kesehatan reproduksi. Beberapa perempuan Ahmadiyah harus rela kehilangan calon bayinya (keguguran) karena berlari menyelamatkan diri saat terjadi penyerangan.

Lebih dari itu, tidak adanya layanan khusus untuk kebutuhan kesehatan reproduksi, termasuk dalam melahirkan dan pengobatan gangguan fungsi reproduksi akibat tekanan konflik yang mereka alami menambah daftar panjang kekerasan yang mereka alami. Padahal Pelayanan kesehatan merupakan hak konstitusional yang telah dijamin oleh Undang Undang Dasar 1945 pasal 28H ayat 1. Selain itu anak-anak pun tidak kalah mendapat diskriminasi. Ketika proses belajar anak Ahmadiyah dipisahkan tempat duduknya dengan anak-anak yang lain. Dalam raport-pun ada stempel Ahmadiyah, sehingga mereka kesulitan meneruskan sekolah. Secara psikologis anak-anak ini merasa tidak diterima dalam lingkungannya, akibatnya mereka enggan untuk berangkat sekolah.

Atas dasar fakta-fakta di atas, Komnas Perempuan mendesak agar Pemerintah memberikan penegasan yang efektif tentang hak atas kebebasan beragama bagi setiap anggota komunitas Ahmadiyah, termasuk kaum perempuan dan anak-anak Ahmadiyah, sebagaimana dijamin dalam UUD 1945 bagi seluruh warga negara Indonesia, dan mengambil langkah nyata untuk mencabut semua produk kebijakan negara terkait komunitas Ahmadiyah yang bertentangan dengan UU 1945.

Lihat di halaman asli
Unduh laporan resmi lengkap (pdf)


SKB Ahmadiyah: Permainan Politik yang Memperalat Agama dan Mengorbankan Kelompok Minoritas, Perempuan, Anak dan Pembela HAM



Pernyataan Pers Komnas Perempuan

SKB Ahmadiyah:
Permainan Politik yang Memperalat Agama
dan Mengorbankan Kelompok Minoritas, Perempuan, Anak dan Pembela HAM
Jakarta, 12 Juni 2008

SKB tentang Peringatan dan Perintah kepada Penganut, Anggota dan/atau Anggota Pengurus Jemaat Ahmadiyah Indonesia dan Warga Masyarakat yang dikeluarkan Menteri Agama, Jaksa Agung dan Menteri Dalam Negeri pada tanggal 9 Juni 2008 menunjukkan bagaimana agama digunakan sebagai alat permainan politik dalam pertarungan untuk memperebutkan atau mempertahankan kuasa. SKB yang sesungguhnya tidak mempunyai kekuatan hukum yang berarti ini membuktikan bahwa Pemerintah RI pun larut memainkan politisasi agama untuk kepentingan jangka pendek – dalam hal ini, untuk ‘mendamaikan’ kekuatan-kekuatan sosial yang sedang saling berseteru – sambil mengingkari salah satu prinsip dasar kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia: bhineka tunggal ika. Walaupun hak atas kebebasan beragama disebutkan sebagai salah satu pertimbangan SKB, sejak pasal 1, hak konstitusional ini justru dinafikan melalui ‘peringatan’ dan perintah yang diberikan kepada warga masyarakat untuk tidak melakukan penafsiran yang ‘menyimpang’ dari apa yang dianggap sebagai ‘pokok-pokok’ ajaran agama. Pasal 1 ini juga merupakan sebuah pembatasan yang diskriminatif oleh penyelenggara Pemerintah yang melanggar hak asasi manusia, selain menanam bibit konflik yang berkepanjangan dalam kehidupan berbangsa dan bermasyarakat. SKB ini menunjukkan bahwa Pemerintah telah lalai dalam menjalankan perannya mengelola kehidupan beragama di Indonesia dan memberi rasa aman bagi semua warga negara Indonesia.

Komnas Perempuan berpendapat bahwa SKB yang mendua – bahkan kontradiktif – ini adalah sebuah kemunduran serius dalam proses reformasi di Indonesia karena justru memunculkan kerancuan dan ketidakpastian tentang komitmen lembaga-lembaga penyelenggara Pemerintah dan institusi ketidakpastian tentang komitmen lembaga-lembaga penyelenggara Pemerintah dan institusi penegakan hukum untuk menjamin kebebasan setiap warga negara dalam beragama dan beribadat, sesuai UUD Negara RI Tahun 1945. SKB ini menunjukkan betapa rentannya Pemerintah RI terhadap intimidasi oleh golongan ekstrim yang menggunakan simbol-simbol agama dalam berpolitik. SKB ini telah menciptakan sebuah preseden buruk dalam cara Pemerintah berpolitik dan dalam penegakan HAM di Indonesia. Komnas Perempuan khawatir bahwa komunitas Ahmadiyah hanyalah korban pertama dari pola berpolitik ini dan akan berpotensi muncul korban-korban lain dari berbagai ragam kelompok minoritas yang sama-sama hidup di bumi Indonesia dari generasi ke generasi.

Pemantauan Komnas Perempuan di Jawa Barat dan NTB menunjukkan bahwa kaum perempuan menanggung beban tersendiri akibat persekusi sistematik terhadap komunitas Ahmadiyah. Mereka mengalami diskriminasi yang berlapis, baik sebagai anggota komunitasnya maupun sebagai perempuan. Secara spesifik, hak-hak perempuan Ahmadiyah yang dilanggar mencakup hak untuk bebas dari kekerasan berbasis gender, hak untuk berkeluarga dan melanjutkan keturunan, hak atas penghidupan yang layak, dan hak atas kesehatan reproduksi. Anak-anak Ahmadiyah juga mengalami pelanggaran HAM, khususnya hak untuk bebas dari diskriminasi dan hak atas pendidikan. Bahkan para pembela hak atas kebebasan beragama yang tidak berasal dari komunitas Ahmadiyah juga menjadi sasaran intimidasi dan kekerasan karena perjuangannya. (Lihat Laporan Komans Perempuan, "Perempuan dan Anak Ahmadiyah: Korban Diskriminasi Berlapis," 2008).

Komnas Perempuan menghimbau agar lembaga-lembaga negara dan segenap masyarakat – termasuk media – bersikap tegas untuk menolak segala bentuk permainan politik yang memperalat agama untuk kepentingan pertarungan kekuasaan oleh golongan-golongan tertentu. Dalam konteks inilah Komnas Perempuan meminta kepada Presiden RI untuk mencabut kembali SKB Ahmadiyah.


Lihat di halaman asli

Rabu, 18 Juni 2008

Pendapat Para Tokoh Indonesia Tentang "Peristiwa Monas"


SBY, Presiden:

* “Pemerintah akan menindak tegas ormas yang bersikap anarkistis.”

Sonny T Danaparamita, Sekjen Presidium GMNI:

* “Ormas-ormas yang dimaksud itu adalah ormas-ormas berlabel agama seperti Front Pembela Islam (FPI), Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) dan Forum Betawi Rempug (FBR).”

Widodo AS, Menko Polhukam:

* “Pemerintah tidak akan membiarkan atau memberi toleransi sedikit pun terhadap tindakan anarkis yang dilakukan individu maupun kelompok. Proses hukum akan dilakukan tanpa pandang bulu”
* “Tindakan-tindakan anarkis, tindakan-tindakan kekerasan, termasuk di dalam kualifikasi tindak pidana yang harus diproses secara hukum dalam sistem peradilan pidana,”


Ramli Hubarat, Staf Ahli MenkumHam:
* “Sesuai UU Nomor 8 Tahun 1985 tentang Organisasi Massa, pemerintah dapat membekukan pengurus organisasi termasuk organisasinya, jika organisasi tersebut melakukan tindakan-tindakan yang mengganggu ketertiban umum secara terus-menerus.”

Jusuf Kalla, Wapres:
* “Ormas apa saja selama tindakannya merusak akan ditindak tegas. “
* “Semua cara radikal yang merusak, itu kita larang karena melanggar hukum. Jadi, ini persoalannya, melanggar hukum. Mau berpikiran yang keras silakan asal, jangan melanggar hukum”
* “Orang yang bakar-bakar, lempar-lempar, itu semua terlarang berdasarkan hukum karena kita negara hukum”

Agung Laksono, Ketua DPR:
* “Sejumlah organisasi kemasyarakatan (Ormas) sudah ‘kebablasan’.”
* “Bangsa ini tidak menghendaki adanya ormas ekstrim.”

Maftuh Basuni, Menteri Agama:
* “Kalau ormas Islam kemudian anarkis itu perlu dipertanyakan. Itu jelas orang yang tidak mengerti Islam.”
* “Ormas mana saja yang berbuat tidak benar harus ditindak.”

Gus Dur, Mantan Presiden:
* “Tindakan anarkis merugikan semua pihak, karena itu akan lebih baik jika dibubarkan.”
* “Ormas tidak memiliki kewenangan menertibkan tempat-tempat yang menurut mereka melanggar norma agama.”
* “Ternyata ini dibiarkan saja oleh aparat. Heran saya.”

Tarwanto, Kapuspen Depdagri:
* “Ormas maupun LSM yang mengancam integritas bangsa dan menumbuhkan permusuhan berbau SARA, dapat dibubarkan oleh kepala daerah.”

KH Maman Imanullah, pengasuh Pondok Pesantren Al Mizan, Majalengka:
* “FPI, MMI maupun HTI tidak memperlihatkan wajah islam yang sebenarnya. Wajah Islam adalah wajah yang damai. Bukan wajah yang mereka perlihatkan sekarang ini, seperti wajah wuka-wuka.”

Habibie, Mantan Presiden:
* “Kehadiran Islam di dunia adalah untuk memberikan kesejukan. Sayangnya, banyak umat Islam yang terpancing dalam aksi kekerasan.”

Arbi Sanit, Pengamat Politik UI:
* “Apabila negara ingin berfungsi sesuai koridor hukum, maka ormas Islam garis keras yang ada di Indonesia harus segera dibubarkan.”
* “SBY harus secepatnya mengeluarkan Keppres untuk membubarkan mereka”

Sumber-sumber: Rakyat Merdeka, Kompas, Media Indonesia, Detik.com, Harian SIB, Sriwijaya Pos, dll

Selasa, 17 Juni 2008

Sifat Al-Razzaq Allah Swt (II)

Ikhtisar Khutbah Jumah Hazrat Khalifatul Masih V Atba
13 Juni 2008, di Masjid Agung Baitul Futuh, London, UK.

================================

Huzur melanjutkan pembahasan topik Ar-Rizq (Maha Penyedia/Pemelihara) dan sifat Al Razzaq (Maha Penyedia) Allah Taala pada Khutbah Jumah beliau hari ini. Huzur bersabda, sebagaimana beliau telah kemukakan pada Jumah lalu, bahwa Allah Swt menyatakan, hanya Dia-lah yang Maha Pemberi bagi semua makhluk; termasuk manusia; namun sebagai makhluk ciptaan-Nya yang paling sempurna, Allah menyediakan bagi mereka rizqi rohani maupun rizqi jasmani. Dan bila kaum mukminin yaqin sepenuhnya kepada-Nya, maka Allah pun akan menyediakan dari berbagai sumber penghasilan, yang bagi orang kafirin tidak mempunyai konsep tentang hal itu.
Huzur bersabda, banyak orang Ahmadi di berbagai negara yang menulis kepada beliau betapa Allah Taala telah mengaruniai usahanya dengan istimewa. Sehingga hal ini menambah keimanannya. Ini merupakan salah satu ciri orang yang beriman, yakni manakala ia menerima berkat dari Allah Taala, maka ia pun segera bersyukur kepada-Nya. Menerangkan perkara ini lebih lanjut, Huzur membacakan ayat 13 Surah Luqman (31:13):
وَلَقَدْ آتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ وَمَن يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ دٌ 31:13

‘Dan kami limpahkan hikmah atas Luqman, yang kemudian berkata, 'Bersyukurlah kepada Allah: barang siapa yang bersyukur, sesungguhnya ia bersyukur untuk kebaikan rohaninya sendiri. Dan barang siapa yang tidak bersyukur, sesungguhnya Allah Maha Kaya dan Maha Terpuji.
Huzur bersabda, ketika Hadhrat Ibrahim a.s. berdoa untuk anak keturunan beliau, beliau pun mendoakan mereka agar menjadi orang-orang yang senantiasa bersyukur :

رَّبَّنَا إِنِّي أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُواْ الصَّلاَةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُم مِّنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ 14:38


'Ya Tuhan kami, aku telah tempatkan sebagian keturunanku di padang tandus dekat Baitullah, Ya Allah jadikanlah mereka sebagai orang-orang yang suka mendirikan Salat. Sehingga qalbu manusia condong kepada mereka dan mendatangkan berbagai macam buah-buahan, sehingga menjadikan mereka sebagai orang-orang yang bersyukur (Surah Ibrahim ayat 38).

Bekerja keras, Belanja di jalan Allah dan Berdoa.
Huzur bersabda, manakala seorang mukminin memeriksa diri betapa Allah Swt telah mengaruniai mereka, maka ketakwaan mereka pun meningkat. Dan demikianlah hendaknya sikap mereka, agar Allah Swt mengarunia mereka lebih banyak lagi. Allah meningkatkan rizqi-Nya bagi mereka. Dia telah membuktikan hal ini atas mereka yang meningkatkan derajat keimanan mereka, atau yang berupaya untuk itu. Meningkatnya rizqi seorang mukminin bukanlah faktor kebetulan, melainkan sesuai dengan janji-Nya:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ 14:8


‘Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman: 'Bila kamu bersyukur, Aku pun sungguh akan menambahkan karuniaKu. Dan bila kamu tak bersyukur, azabKu sungguh pedih'. (Surah Ibrahim ayat 8).
Huzur bersabda, bagi orang yang tak beriman boleh jadi ia akan menukas, sesuai dengan hukum alam, mereka yang bekerja keraslah yang akan memetik hasilnya, itulah ganjaran bagi mereka. Akan tetapi, bagi orang yang beriman, bekerja keras yang diiringi dengan iman dan taqwa akan memperoleh ganjaran pahala yang berlipat ganda. Bahkan bila pun ada sesuatu ketidak-sempurnaan dalam ikhtiarnya, Allah Swt akan berkenan untuk menutupinya.
Hadhrat Masih Mau'ud a.s. bersabda, Allah berfrman, Dia adalah Razzaq bagi mereka yang menjalani hidup taqwa. Huzur bersabda, adalah pengalaman pribadi beliau maupun para petani Ahmadi yang menulis kepada beliau, manakala hasil panen mereka lebih banyak dibandingkan dengan mereka yang ghair-Ahmadi, mereka bertanya-tanya upaya extra apa yang telah mereka lakukan ? Mereka menjawab, ini hanya dikarenakan 1/10 atau 1/16 dari keuntungan yang diperoleh, mereka belanjakan di jalan Allah. Inilah sedikit kerja extra yang akhirnya membawa berkah itu.
Membacakan ayat 4 Surah Al Talaq (65:4) Huzur bersabda, Allah memberi ganjaran pahala kepada orang mutaqin dari arah yang tak disangka-sangka. Namun karunia istimewa ini bersyarat; yakni manakala Allah Swt sudah bersifat Al Razzaq bagi hamba-hamba-Nya yang sejati, maka hamba-Nya pun harus berupaya untuk menjalani hidup taqwa.

Hanya Dari Rizqi Yang Thayyib.
Hadhrat Masih Mau'ud a.s. bersabda, seseorang yang berusaha menjauhi perbuatan dosa yang sekecil-kecilnya karena takut akan Allah, maka Allah pun akan menjauhinya dari kesulitan. Atas dasar ini, Huzur bersabda, pelajarilah tunjangan sosial yang diberikan di dalam sistem pemerintahan negara-negara Barat. Tunjangan ini diberikan untuk mereka yang dikarenakan sesuatu hal menjadi penganggur atau penghasilannya di bawah standar kelayakan hidup. Bahkan beberapa negara Barat ini memberikan tunjangan sosial tersebut dalam jumlah yang mencukupi, termasuk negara Inggris ini. Namun disayangkan, kata Huzur, ditengarai ada beberapa orang yang mengklaim tunjangan sosial tersebut hingga mereka memperolehnya meskipun sebetulnya mereka mempunyai usaha kecil, atau pekerjaan tidak resmi. Atau mereka sambil menyupir taxi. Huzur bersabda, semua ini perbuatan yang jauh dari standar taqwa. Dengan tidak berterus terang penghasilan yang diperolehnya, orang-orang semacam ini mengelabui sistem pajak pemerintahan mereka. Artinya mereka pun berbuat curang terhadap mereka yang taat pajak. Dengan demikian jauh dari ketakwaan; mereka berbuat munkar. Tak peduli segelintir apapun jumlahnya, orang-orang semacam itu bukan saja menjauhkan diri mereka dari Allah, tetapi juga menjatuhkan nama baik Jamaat.
Huzur bersabda, dengan memberi informasi yang tidak benar, mereka berhasil memperoleh beberapa pound-sterling, akan tetapi pada hakekatnya perbuatan mereka tersebut sama halnya dengan menafi'kan Allah sebagai Al-Razzaq. Pemerintah sudah mengantisipasi hal ini. Cepat atau lambat, perbuatan mereka akan diketahui. Dan pemerintah pun mengetahui, bahwa orang-orang Ahmadi tidak mengelabui fasilitas tunjangan sosial ini. Jika mereka [pejabat pemerintahan] berubah pikiran, tentulah mereka pun tidak mempercayai Jamaat lagi. Huzur bersabda, beliau telah memerntahkan tuan Amir Jamaat, agar mewaspadai orang-orang semacam ini. Jika kedapatan, harap jangan terima Chandah mereka. Penolakan Chandah mereka tidak akan berdampak apapun terhadap Jamaat. Malah akan membersihkan berbagai iuran yang masuk, yang didasari oleh ketakwaan.
Bila orang tidak mengindahkan Allah sebagai Al Razzaq, maka dinullah-Nya pun tidak memerlukan harta benda mereka. Huzur menasehati, bila mereka yakin sepenuhnya kepada Allah Al-Razzaq, maka berbagai karunia-Nya pun melimpah, dan akan terus membuat generasi muda mereka merasa berkecukupan, tidak akan iri terhadap harta benda orang lain. Hal inilah yang membawa mereka ke ketaqwaan. Huzur bersabda, adalah doa beliau untuk semua orang, semoga Allah menyelamatkan kita semua dari sifat tamak.
Hadhrat Masih Mau'ud a.s. bersabda, menurut Alquran, salah satu ciri orang yang mutaqi adalah Allah Taala menjauhkan dirinya dari hal-hal yang mudharat, dan Allah sendiri yang menjadi penjaminnya. Mereka tetap beristiqamah ketika sedang diterpa kesulitan agar memperoleh keridhaan Tuhan. Maka jika ia menjadi yaqin sepenuhnya kepada Allah, maka Allah pun serta merta akan memberikan pertolongan-Nya. Dia itulah Yang Maha Pemurah. Namun Dia itu pula yang senantiasa menyuruh kita agar selalu berada di atas jalan yang lurus dan mensucikan diri mereka, agar Dia berkenan menambahi rizqi kita:

وَمَا آتَيْتُم مِّن زَكَاةٍ تُرِيدُونَ وَجْهَ اللَّهِ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُضْعِفُونَ 30:40


'...apapun yang kamu Zakatkan, jika semata-mata karena Allah – itulah yang akan melipat-gandakan harta benda mereka.’ (Surah Al Rum ayat 40).
Boleh jadi ada setengah orang yang mencoba berkelit, tak apalah memperoleh klaim tunjangan sosial tersebut (padahal berpenghasilan), kan nantinya membayar Chandah. Huzur bersabda, Allah tidak menginginkan uang yang berasal dari semacam itu dibelanjakan di jalan-Nya. Dia telah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَنفِقُواْ مِن طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُم مِّنَ الأَرْضِ وَلاَ تَيَمَّمُواْ الْخَبِيثَ مِنْهُ تُنفِقُونَ


‘Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah dari bagian yang suci dari penghasilanmu, dan juga dari segala apa yang Kami hasilkan dari muka bumi; jangan sekali-kali membelanjakan dari hal yang buruk …’ ( 2:268).
Huzur mengingatkan, harta yang dihasilkan dari yang tidak thayyib (suci) tidak akan mendatangkan kesucian. Kalaupun diperoleh karena ketidak-fahaman, harus cepat-cepat meninggalkannya. Sesungguhnya, Allah telah menyatakan, salah satu ciri orang yang beriman/taqwa di dalam Alquran, ialah rizqinya akan tersucikan, ini dikarenakan mereka: '...wa mimma razaqna hum yunfiqun, ialah, membelanjakan apapun yang kami telah rizqikan kepada mereka’ (2:4).
Huzur bersabda, pencuri, perampok dan penyamun pun bisa hidup dengan cara mereka itu. Akan tetapi dapatkah dikatakan penghasilan mereka itu dari Tuhan ? Di Pakistan ada orang-orang yang memperoleh penghasilan dengan cara-cara yang tidak sah, namun mereka katakan Allah-lah yang memberinya, padahal jelas-jelas berasal dari sumber-sumber syaitani. Bahkan mereka yang mendulang bisnis besar dengan cara yang salah tersebut memasang plakat di atas pintu-pintu rumah mereka: ‘Haza min Fazli Rabbi’ (berkat karunia Tuhan kami): “Inna lillahi...! (sungguh ironis). Para politisi pun ikut-ikutan membangkrutkan negara.

Tingkatkan Pengorbanan, dan Yakinlah.
Mengingatkan kembali topik utama Khutbah, Huzur bersabda, setiap Ahmadi hendaknya memastikan penghasilan mereka berasal dari sumber-sumber yang halal. Bila mereka berkeinginan untuk menambah penghasilan, cobalah belanjakan di jalan Allah semata-mata karena-Nya. Kemudian, lihatlah hasilnya. Ada setengah Ahmadi yang menyurat, mereka tak dapat menentukan jumlah Chandah mereka sepersekian dari penghasilan dikarenakan penghasilannya tidak tetap, atau mengalami sesuatu kesulitan dalam pekerjaannya. Untuk orang-orang semacam ini silakan meninjau kembali pembayaran Chandah mereka, tetapi harus berdasarkan ketaqwaan (takut akan Tuhan). Membacakan ayat 216 Surah Al-Baqarah (2:216) Huzur bersabda, seorang mukmin yang sempurna akan selalu berusaha membelanjakan harta benda mereka di jalan Allah dengan sebesar-besarnya. Memang ada sebagian orang yang mengalami kesulitan hidup, tetapi tidak mengurangi pembayaran Chandah mereka.
Huzur mengingatkan doa maqbuliat ajaran Hadhrat Rasulullah Saw yang sangat penting untuk zaman sekarang ini, ialah, Allahumma as'aluka ilman nafian, wa rizqan thayyiban, wa amalan mutaqabalan, yang artinya, ‘Ya Allah, berilah hamba ilmu yang bermanfaat, rizqi yang thayyib, dan amal pekerjaan yang makbul.’

Menolak Rizqi Rohani Mengais Fulus Syaitani.
Huzur bersabda, pada Khutbah Jumah yang lalu beliau telah menerangkan, salah satu arti Rizqi adalah bagian (atau andil, share); dan bagian ini dapat mengandung arti baik maupun buruk. Membacakan ayat 83 Surah Al Waqi’ah (56:83), wa taj'aluna rizqakum annakum tukadzibun ? yang artinya: “Dan engkau menyangkali kebenaran hanya dikarenakan demi mata pencaharianmu ?'
Huzur bersabda, Surah ini mengemukakan nasib orang-orang yang bersyukur dan yang tidak bersyukur di zaman 'kaum awalin' maupun di zaman 'kaum akhirin' kini. Ayat tersebut mengemukakan, barang siapa mencari kehidupannya dengan cara-cara yang tidak halal berarti menjauhkan dirinya dari ketaqwaan. Dan dikarenakan sikap khawatir mereka terhadap hal-hal duniawi, maka mereka pun akhirnya jatuh ke dalam perangkap Syaitan. Setengah orang semacam ini, yakni yang takut akan nasib duniawi mereka, sebagian dari mereka ini adalah kaum mullah/ulama yang tidak mau menerima kebenaran disebabkan mereka takut kehilangan kekuasaan atas pengikut/massa mereka berdasarkan keyakinan mereka itu. Pendek kata, para politisi dan kaum mullah tersebut memahrumkan diri mereka sendiri dari rizqi rohani yang Allah Taala telah kirimkan untuk zaman ini dikarenakan demi mempertahankan penghasilan mereka yang tidak thayyib. Sehingga pekerjaan mereka itulah menolak kebenaran. Inilah yang kini tengah terjadi, dimanapun ada penentangan terhadap Jamaat Ahmadiyah, hal ini disebabkan kolaborasi para politisi dengan kaum mullah. Dan tasyakur Seabad Khilafat kita telah menyulut lagi sikap hasad (dengki) mereka. Bagaimanapun juga politikus tidak berminat terhadap masalah agama. Namun, bila mereka tidak mendengar keinginan kaum mullah, mereka pun takut kehilangan suara pendukung. Artinya, mereka takut kehilangan rizqi mereka yang tidak thayyib itu. Sementara itu kaum mullah pun takut kehilangan penghasilan mereka dari dukungan dana untuk berbagai madrasah / pesantren yang mereka atas namakan untuk itu. Walhasil, rizqi mereka sangat tergantung kepada aktivitas penolakan mereka terhadap kebenaran. Inilah mengapa sebabnya mereka gigih menolak kebenaran; yakni agar mereka memperoleh penghasilan. Namun, nasib mereka akan berakhir sebagaimana telah dinyatakan di dalam Alquran, wa tashliyatu jahiim, terbakar di dalam gejolak api Jahanam' (56:95). Di Pakistan dan di Indonesia terjadi berbagai aksi anti-Ahmadiyah hanya dikarenakan kolaborasi para politisi dan kaum mullah. Mereka berupaya membodohi publik dengan isue “penodaan terhadap agama” demi “kemuliaan” agama mereka.
Oleh karena itu kepada kaum Ahmadi, Huzur menasehati agar tetap beristiqamah, sabar dan terus menerus berdoa. Kita telah menerima kebenaran Hadhrat Imam Mahdi a.s., maka jadikanlah diri kita lebih dekat kepada Allah Swt; yang telah memberi kabar suka bagi siapa yang telah berhasil memperoleh qurb-Nya. Huzur bersabda, seorang tokoh besar di Pakistan suatu hari telah bersumpah akan menyusahkan Jamaat sehingga menjadi miskin. Namun apa yang terjadi atas nasib dirinya telah diketahui semua orang. Sementara itu Jamaat ini memperoleh karunia semakin bertambahnya perbendaharaan harta mereka, baik secara Jamaah maupun perorangan. Seorang tokoh besar lainnya bertekad akan menghabisi Jamaat dengan berbagai cara. Namun dunia menyaksikan akhir tragedi kehidupannya. Sementara itu, dengan karunia Allah Taala, berbagai fasilitas dan cara telah semakin terbuka luas bagi kemajuan Jemaat. Allah Swt telah menunjukkan berbagai jalan kemudahan yang menunjukkan bahwa Dia-lah Yang Maha Pemberi dan Al-Malik, sebagaimana dinyatakannya di dalam Alquran (51:59), 'innallaha huwa razzaqu dzulquwwatil matin; Seungguhnya Allah-lah Ar-Razzaq, Yang Maha Kuat dan Maha Perkasa.’

Sabar, Istiqamah &Doa (Ke Amerika Serikat & Canada).
Huzur bersabda, pasca [tasyakur Seabad Khilafat] 27 Mei 2008 terjadi peningkatan anti-Ahmadi di Pakistan. Para mahasiswa kedokteran Ahmadi – bahkan sebagian di antaranya sudah di tingkat akhir – telah dikeluarkan dari Universitas mereka di Faisalabad. Para penganiaya itu berpikir, dengan ancaman terhadap 'rizqi' [studi] mereka itu, mereka akan menyangkali kebenaran Hadhrat Masih Mau'ud a.s. Di beberapa kota beberapa rumah milik orang Ahmadi dibakar. Mereka berpikir, kita akan menukar keimanan kita. Mereka tidak mengetahui, bahwa kita beriman kepada Allah, dzulquwwatil matin; Yang Maha Kuat dan Maha Perkasa.’
Kepada kaum Ahmadi di Indonesia, Huzur bersabda, meskipun mereka [pejabat pemerintahan] tidak melarang Jamaat Ahmadiyah secara terang-terangan, namun mereka telah membuat situasi sedemikian rupa yang akan menjurus kepada pelarangan. Maka kaum Ahmadi Indonesia hendaknya lebih khusyu dalam peribadatan dan doa-doa mereka. Betapa Allah Swt telah meningkatkan keadaan Jemaat di Pakistan [meskipun penganiayaan tiada henti]; maka hal ini pun akan terjadi di Indonesia. Huzur bersabda, saatnya tidak akan lama, siasat mereka itu akan berbalik kepada diri mereka sendiri. Huzur memaklumatkan kepada seluruh kaum Ahmadi agar mendoakan saudara Ahmadi mereka di Pakistan dan juga di Indonesia.
Huzur bersabda, minggu yang akan datang beliau akan bermuhibah ke Amerika Serikat dan Canada. Berbagai persiapan telah dibuat untuk menyelenggarakan [perayaan] Seabad Khilafat yang dikaitkan dengan Jalsah mereka. Kaum Ahmadi di kedua negara tersebut telah menyampaikan dambaan mereka agar Huzur berkenan datang. Bertemu muka secara langsung memang memberi banyak hikmah kebaikan. Rencana kunjungan ke Amerika Serikat ini merupakan yang pertama kali, oleh karena itu, semoga Allah memperlihatkan bantuan dan pertolongan-Nya yang khas. Semoga kunjungan muhibah ini diberkati Allah dalam setiap seginya. Dan semoga pula tujuan hakikinya dapat terpenuhi. Huzur bersabda, kita semua telah memperbaharui janji setia kita kepada Khilafat di awal abad kedua-nya ini, semoga Allah menghembuskan ruh semangat baru kepada kita sekalian. Akhirnya Huzur berdoa, semoga Allah Swt menghilangkan segala kesulitan dalam perjalan muhibah tersebut.

transltByMMA/LA061608
Please note: Department of Tarbiyyat, Majlis Ansarullah USA takes full responsibility of anything that is not communicated properly in this message.


=============================
Synopsis of Friday Sermon (13-Jun-08) prepared by Sister Shermeen Butt



Huzur continued with the subject of Rizq (provision/sustenance) and Divine attribute of Al Razzaq (The Provider) in his Friday Sermon today. Huzur said as he had mentioned last week Allah declares that He alone is the Provider of all creation and for man, who is the most eminent of all creation, Allah provides material as well as spiritual sustenance. Allah states that if the believers put their trust in Him He provides from sources that those who do not believe have no concept of.

Huzur said Ahmadis write to him from various countries of the world about their experiences of how Allah has blessed their business and is bestowing them beyond their hopes. This increases their faith. Fact is that it is a sign of a true believer that when he/she receive a blessing his/her attention is promptly drawn to Allah in thankfulness. Explaining further, Huzur cited verse 13 of Surah Luqman (31:13) – ‘And We bestowed wisdom on Luqman, saying, 'Be grateful to Allah: and whoso is grateful, is grateful only for the good of his own soul. And whoso is ungrateful, then, surely, Allah is Self-Sufficient, Praiseworthy.’ Huzur said when Hadhrat Ibrahim (on whom be peace) had prayed for his progeny he had also supplicated for them to be grateful:

'Our Lord, I have settled some of my children in an uncultivated valley near Thy Sacred House - Our Lord, - that they may observe Prayer. So make men's heart incline towards them and provide them with fruits that they may be thankful.’ Surah Ibrahim verse 38. Huzur said when a believer observes Allah’s blessings he is grateful and this causes an increase in his taqwa (righteousness) and indeed it should. Allah then bestows further blessings, with His grace He increases their Rizq. He has this dealing with those who have enhanced belief or those who endeavor to enhance their belief. The increase in the Rizq of a believer is not accidental but is in accordance with Divine promise: ‘And remember also the time when your Lord declared: 'If you are grateful, I will surely bestow more favors on you; but if you are ungrateful, then know that My punishment is severe indeed.' Surah Ibrahim verse 8. Huzur said it may be said about those who do not believe that in accordance with the law of nature their hard work bears fruit and they are thus rewarded, however, for a believer, when along with hard work there is belief and taqwa then the reward is much greater and even if there is some lapse in the effort made, Allah makes up the deficiency.

The Promised Messiah (on whom be peace) said that Allah has declared that He is the Razzaq of one who adopts taqwa. Huzur said it was his personal experience as well as Ahmadis write to him that when their harvest is greater than the non-Ahmadis they are asked what extra effort did they make to get a greater yield. Their answer is that the one tenth or the one sixteenths of their income that they give in the cause of Allah is their ‘extra’ bit and it is this that brings the blessings.

Citing verse 4 of Surah Al Talaq (65:4) Huzur said Allah provides for those who are righteous from unexpected means. This extraordinary blessing has a condition; when Allah manifests His attribute of Al Razzaq for His servant then His servant too should make effort in adopting and adhering to taqwa.

The Promised Messiah (on whom be peace) said that one who will shun the smallest of sins for fear of Allah will be saved from trouble by Allah. With reference to this Huzur said he wished to draw attention towards the social benefits system that some Western governments provide to the unemployed or those on low income to bring their standard of living to an acceptable level. Some Western countries are most generous with these benefits and the British government is also commendable in this respect. However, Huzur said there are some who claim these ‘benefits’ despite having a small business or an employment which is perhaps not obvious. There are some who drive taxi-cabs but take the ‘benefit’. Huzur said this is outside the parameters of taqwa. By not declaring their income these people are thieving the government of its tax revenue. They also usurp the tax paid by the law-abiding citizens and of course far from taqwa, they commit falsehood. No matter how few people do this, not only they distance themselves from Allah they also bring down the repute of the Community. Huzur said by giving wrong information they gain a few pounds [sterling] but by their actions they state that God is not their provider. The government is aware of these things and sooner or later gets of know about these people and it closes in on them. Huzur said the government is aware that Ahmadis do not defraud the benefits system. If they change their mind then their trust in the Community will come to an end. Huzur said he has told Ameer sahib that if he finds out about anyone who indulges in this deception then their chanda should not be taken. The cessation of their chanda will not make any difference to the Community at all and at least whatever funds we offer in the cause of Allah will be pure. Huzur said if one does not consider Allah as Razzaq then Allah’s religion is in no need of one’s money. Huzur enjoined that if one fully believes in Allah as the Provider then His blessings are great and this in turn generates contentment and once one is content one does not eye the wealth of another and this fosters taqwa. Huzur said it was his prayer for everyone that may Allah save us from all kinds of greed.

The Promised Messiah (on whom be peace) said that one sign of the righteous as stated in the Holy Qur’an is that Allah frees him/her from what is disagreeable in the world and Himself becomes his/her Guarantor. Huzur added that one should be steadfast during adversity to attain God. If trust is put in Allah then He will certainly provide help. He is so Gracious that He repeatedly draws our attention to ways and means of purifying and thus enhancing our Rizq: ‘…whatever you give in Zakat, seeking the favor of Allah - it is these who will increase their wealth manifold.’ Surah Al Rum verse 40. Huzur said one may say that even if one claims some benefits money [inappropriately] at least one pays chanda on it, so it does not matter. Huzur said Allah does not wish such money spent in His cause. He states: ‘O ye who believe! Spend of the good things that you have earned, and of what We produce for you from the earth; and seek not what is bad to spend out of it…’ 2:268. Huzur reiterated that money earned by wrong means cannot be pure. He said if one is taking benefit due to any misunderstanding one must desist. Indeed Allah states a sign of believer in the Holy Qur’an that his/her Rizq would be pure by declaring that they: ‘spend out of what we have provided for them;’ (2:4) Huzur said thieves, robbers and hoarders all make a living, can they say their livelihood comes from Allah? In Pakistan people make money through unwarrantable means and then say Allah has granted them, whereas their wealth is made from satanic sources. In Pakistan big business people have the words ‘Haza min Fazle Rabbi’ (with the grace of my Lord) written in front of their houses. Huzur said Inna lillahe. The politicians are also looting the country. Reiterating his earlier point Huzur said each Ahmadi should ensure that their income is through pure means. If they wish to increase their income they should try giving in the name of God and then observe what results it brings. Huzur said some people write to him that they pledged chanda not able to foresee their income or have employment difficulties, such people can review their chanda with taqwa. Citing 2:216 Huzur said a believer always tries to spend as much as possible in the way of Allah. Certainly there are some who bear hardship but do not lessen their chanda.

Huzur drew attention towards a prayer of the Holy Prophet (peace and blessings of Allah be on him which he said is most significant in the current age. Its translation reads: ‘O Allah I seek from You knowledge that is beneficent/beneficial, provision (Rizq) that is pure and deeds that are worthy of acceptance.’

Huzur said in his last Friday Sermon he had said that one meaning of Rizq is share and a share can be good and bad both. Citing verse 83 of Surah Al Waqi’ah ‘And do you make the denial thereof your means of livelihood?’ Huzur said this Surah mentions that fortunate and the unfortunate people from the ‘earlier ones’ and the ‘latter ones’. The aforementioned verse cites those who make a living out of rejection [of the truth], they are devoid of any fear of God and only have fear of the world and they end up in the embrace of Satan. Some of these people have fear of the world and others who deem themselves to be religious scholars do not wish to believe the truth because they fear that by doing so they will lose the power they have over the masses through their ‘religious’ platform. In short the politician and the mullah deprive themselves of the spiritual sustenance that Allah has sent in this age due to their impure earnings. Their task remains only to reject the truth. Today wherever in the world there is opposition to Ahmadiyyat the politician and the mullah are together. The completion of a hundred years of our Khilafat has flared sentiments of jealously and malice among them. The politicians are not interested in religion however, if they do not listen to the mullah, they fear losing votes and losing Rizq that is not pure. On the other hand the mullah only fears loss of his earnings that he makes in the name of Madrassas and such like. Their Rizq is dependent on denying the truth and that is the reason why they reject the truth and make their living. Their end is as the Qur’an states in 56:95. In Pakistan as well as in Indonesia opposition against us is because of the alliance of the politicians and the mullah. They make fools out of the masses by inciting them to rise for their religious ‘honor’.

To the Ahmadis Huzur said be steadfast and patient and be prayerful. We have accepted the Promised Messiah (on whom be peace) and this makes us close to Allah and He gives glad tidings to those who are close to Him. Huzur said one despot in Pakistan had once proclaimed that he would reduce us to holding a beggar bowl. What happened to him is known to all, while the Community was granted financial extensiveness both on individual as well as communal level. Another despot tried to immobilize us in every sense of the word and indeed the world saw his end as well. Meanwhile, with the grace of God, ways and means of our progress and advancement were open wide. Allah has manifested in every possible way to be our Provider and our Master just as He states in 51:59 ‘Surely, it is Allah Himself Who is the Great Sustainer, the Powerful, the Strong.’

Huzur said post 27th May ’08 there has a rise in persecution against the Ahmadis in Pakistan. Ahmadi medical students, some of them in their final years, were expelled from a college in Faisalabad. The persecutors assumed that with their Rizq threatened these students might reject the Promised Messiah (on whom be peace). In other cities Ahmadi houses are burnt. They assumed we would barter our faith. Little did they know we believe in the Powerful, Strong God.

To the Ahmadis in Indonesia Huzur said although they have not had a ban but a situation has been created which is tantamount to a ban. Ahmadis in Indonesia should focus on prayer. Allah’s grace has increased in Pakistan (despite the persecutions) and this will be replicated in Indonesia. Huzur said the time is not far when their cunning will rebound on them. Huzur asked all Ahmadis to pray for Ahmadis in Pakistan and Indonesia.

Huzur said next week he is going on a visit of USA and Canada. Keen preparations are being made there for the Khilafat Centenary and both countries will also hold their respective Jalsas. Huzur said people in the two countries have expressed their intense desire for Huzur to visit them. He said meeting in person does have many advantages. Huzur said this is his first visit to USA, may Allah manifest His help and succor during this visit and may the trip be blessed in every way and may all the objectives of the trip be fulfilled. Huzur said we are pledging new pledges for the new Century [of Khilafat] may Allah also infuse a new spirit in us. Huzur prayed that may Allah ease any difficulty of the journey.


Archives of Friday sermons/summaries can be found at http://www.alislam.org/archives/index.html


Selebaran Kampanye Sesat: Bukti Provokasi Anti Pemerintah




Selambaran kampanye sesat yg sedang beredar di jakarta hingga ke departemen-departemen pemerintahan. Tak ada yang bertanggung jawab atas hal ini, tapi jika diliat dari isinya, selembaran ini diduga disebar olah orang-orang garis keras pendukung FPI dan anti Ahmadiyah. Ternyata selain Ahmadiyah target mereka jelas akan mendirikan negara islam secara politik dan menjegal semua lawan-lawan politiknya dengan mengeluarkan isu-isu sesat dari selembaran ini.

Memang tidak dipungkiri dibalik FPI memang ada beberapa parpol yg mendukung cara berfikir mereka agar tercapai maksud politiknya.

Untuk di ketahui, bersamaan dengan ditangkapnya Rizieq Sihab ditemukan pula 10 rim (5000 lembar) selembaran anti pemerintahan SBY dan menjelek-jelekkan pemerintahan sekarang.

Url: http://antimui.wordpress.com/2008/06/13/selambaran-kampanye-sesat-yg-sedang-beredar-di-jakarta/

Paska SKB Ahmadiyah, Kekerasan tidak kunjung reda..

SKB yang diterbitkan pemerintah menyusul maraknya desakan kelompok-kelompok anti ahmadiyah, diklaim sebagai upaya solusi damai atas konflik horizontal yang tengah berkembang. Di satu sisi tuntutan konstitusi atas kebebasan berkumpul dan berserikat begitu tegasnya dan mutlak tanpa dapat ditawar. Di pihak lain massa yang mengatas-namakan mayoritas umat islam, dengan mengusung isu agama diperkuat dengan UU PNPS 1965 tentang penodaan agama, tidak kurang desakannya kepada pemerintah untuk segera membubarkan Ahmadiyah. Bukan hanya mendesak, bahkan juga sampai mengancam.



Isyu kekerasan dikesampingkan begitu saja. Ancaman hukum pidana dianggap sepi. Bahkan mereka balik menuding pihak lain, ahmadiyah, juga telah melakukan kekerasan. Fakta berbicara sebaliknya, ahmadiyah adalah justru korban kekerasan, bukan pelaku. Hingga hari ini pun warga Ahmadiyah masih kerap mengalami intimidasi dan ancaman dari pihak-pihak yang benci. Salah satu kasus adalah seperti yang menimpa warga ahmadiyah di Parakansalak-Sukabumi. Setelah mesjidnya dibakar, hingga kini warga ahmadiyah disana belum lagi mendapatkan kembali ketenangan hidupnya. Teror masih kerap diterima. Berikut ini saya kutip berita dari kompas online. Kasus yang lain, tentunya masih sangat banyak, bahkan terlalu banyak untuk dimuat di surat kabar..


Rabu, 11 Juni 2008 | 17:53 WIB

SUKABUMI, RABU - Bupati Sukabumi, Jawa Barat, Sukmawijaya, memerintahkan jajarannya dan masyarakat Desa Parakansalak untuk mencopot stiker 'Non Ahmadiyah'. Menurut Bupati, penempelan stiker tersebut akan memperkeruh suasana di Parakansalak. "Stiker itu harus secepatnya dilepas. Di tengah kondisi seperti ini, pengkotak-kotakan harus dihindari," kata Sukmawijaya, Rabu (11/6).

Stiker berbunyi 'Keluarga besar Muslim Ahlu Sunah Wal Jamaah, Non Ahmadiyah' tertempel di seluruh rumah penduduk Parakansalak yang bukan merupakan anggota Jamaah Ahmadiyah Indoensia (JAI) usai keluarnya surat keputusan bersama. "Stiker itu ternyata tidak jelas dari mana sumbernya. Kita takut, jangan-jangan orang lain yang memasang dengan mengatasnamakan warga, tetapi tujuannya untuk memperkeruh suasana," kata Sukmawijaya.

Warga Ahmadiyah dan bukan Ahmadiyah hidup membaur dalam satu kompleks di pemukiman Parakansalak. Selama ini, mereka hidup bersama tanpa ada masalah.

Agustinus Handoko
Sent from my BlackBerry © Wireless device from XL GPRS/EDGE/3G Network

Source: www.kompas.com

Dakwah Sayap Kanan: Trend Baru Cara Dakwah di Kalangan Akar Rumput

Tulisan yang sangat mewakili apa yang ada dalam kepala ini. Karena tidak mampu bikin tulisan yang lebih bagus, akhirnya diputuskan untuk memuat saja tulisan ini. Moga dapat bermanfaat bagi insan yang sedang dilanda kehausan jiwa.. Dengan segala hormat kepada penulis, tanpa maksud menjiplak apalagi mencuri, berikut ini adalah kutipan lengkapnya yang saya ambil dari situs www.unisodem.org.
============================


Dakwah Sayap Kanan
Oleh: Zacky Khairul Umam

Banyak orang mengutuk kekerasan 1 Juni di Monas, Jakarta. Atas nama apa pun, kekerasan dilarang. Apalagi atas nama agama dan Tuhan yang disembah. Demikian halnya, doktrin amar makruf nahi munkar (memerintah yang baik dan melarang yang buruk) tidak serta-merta digunakan sebagai kilah untuk berbuat sesuatu yang merusak dan merugikan orang lain. Kekerasan yang dianggap sebagai "iman paling kuat" (dan "iman yang lemah" itu adalah diam) salah kaprah sejak dari niat dan pemikirannya. Apa pun dalihnya, kekerasan merupakan tindakan kriminal.

Namun, ada polemik yang beredar di masyarakat. Kemudian ada sebagian orang atau pihak yang tidak prihatin dengan korban kekerasan, justru malah berpaling secara simpatik kepada pelaku kekerasan. Ternyata isu Ahmadiyah, yang dibawa dalam aksi damai Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) itu, yang menyulut sumbu "emosi keberagamaan". Para pelaku kekerasan menyebutnya sebagai "provokasi", sementara mereka sendiri hendak merebut massa umat Islam yang tidak sama keyakinannya dengan Ahmadiyah. Lalu tindakan kekerasan yang dilakukan untuk membela akidah Islam dianggap benar. Pertanyaannya, apakah benar sesuatu yang bertujuan baik tapi dilaksanakan dengan tindakan yang tidak baik?

Nah, para pelaku kekerasan itu juga mendapat dukungan yang melimpah dari beberapa tokoh, partai politik, dan lembaga keagamaan. Belakangan, pentolan Front Pembela Islam (FPI), yang sedang menjalani proses hukum, dikunjungi dan dibela oleh banyak tokoh keagamaan dan politik nasional. Di sisi lain, simpati terus membubung bersamaan dengan maraknya "demo tandingan" anti-Ahmadiyah hingga beleid pemerintah, yakni surat keputusan bersama (SKB), keluar sebagai barter dengan kelompok kekerasan. Munarman secara heroik menyerahkan diri setelah SKB keluar, seolah-olah dia kartu truf atas sikap pemerintah itu, yang sebelumnya hilang entah ke mana.

Rentetan peristiwa tersebut memberi ruang yang cukup luas bagi kelompok radikal yang sebetulnya secuil jumlahnya. Hanya, mereka bersuara sangat vokal dan pintar untuk menggugah emosi keagamaan. Kendati mereka tetap menjalani proses hukum, kehadirannya cukup terasa di hati umat Islam yang, terutama, anti terhadap ajaran-ajaran Ahmadiyah. Di sela-sela simpati atas mereka, datanglah para tokoh politik dan keagamaan yang memanfaatkan isu ini sebagai umpan untuk meraih dukungan suara di masa mendatang. Untuk meraih massa, tokoh-tokoh yang memberi dukungan dan bantuan advokasi hukum itu tidak seratus persen demi membela akidah agamanya. Bagi pihak ini, yang ada adalah kepentingan untuk memulai mencari celah baru dalam merebut massa. Pihak tersebut berupaya mendulang emas dan mencuri kesempatan di atas tindak kekerasan yang sebetulnya cacat niatnya dan inkonsitusional.

Politik dakwah
Jika diperhatikan, dakwah yang menjadi tren belakangan ini dibungkus dengan penyederhanaan masalah agama. Untuk menjadi penganut agama yang baik, umat yang patuh tidak membutuhkan kesadaran yang tinggi dan penalaran yang berliku-liku. Cukup dengan praktis melaksanakan ritual, membela agama, sekaligus menggunakan simbol-simbol berbau agama, otomatis akan dianggap saleh. Termasuk, misalnya, memilih partai yang berafiliasi dengan simbol keagamaan. Dakwah semacam ini terus menguat dengan munculnya pemeriahan yang berbunga-bunga atas "syariahisasi".

Bangunan dakwah mereka didirikan dengan upaya meraih massa. Penyederhanaan terjadi dalam praktek keagamaan, yaitu meraih surga dan menghindari neraka, sekaligus tetap bahagia di dunia dan akhirat. Karena itu, metode yang berkembang ialah jauh dari intelektualisasi yang membutuhkan nalar dan jam terbang pemahaman yang tinggi. Aktor-aktor intelektual dakwah semacam ini bergerak dengan mengerucutkan permasalahan dan doktrin-doktrin agama menjadi nilai yang sangat praktis dilakukan, memberikan manfaat, dan menyebarkan efek plasebo yang menyuntikkan imajinasi kebenaran dan kejahatan dalam diri mereka. Secara sederhana mereka, misalnya, menyuntikkan pemahaman "membela agama dan menolak kejahatan"--baca: membela Islam dan mengutuk kekafiran--untuk digunakan sebagai pemantik bagi eksistensi kelompoknya. Di sini, Islam digunakan sebagai simbol dalam cara dakwah mereka. Padahal, siapa yang tahu Islam sebagai ajaran Tuhan berpihak kepada mereka? Mereka hanya berpikir bahwa mereka bagian dari “jihadis” dan tentara Tuhan, karena itu, wajar mendirikan gerakan paramiliter beserta susunan komando yang ada. Kekerasan bahkan bisa dibenarkan.

Dalam pengaruh suntikan ini, massa digiring ke arah "kebenaran" dan pemihakan terhadap radikalisme dan fundamentalisme. Metode penyederhanaan dakwah merupakan cara yang ampuh untuk menggaet massa demi penyebarluasan ajaran-ajaran Islam praktis, menggugah simpati dan emosi, sekaligus bisa menggerakkan dorongan atau motif politik. Kini, penyederhanaan itu bahkan telah mencapai akar rumput persoalan, yakni berusaha meyakinkan masyarakat untuk membangun masyarakat yang bersih, ekonomi yang adil, sekaligus sejahtera. Karena itu, banyak tokoh dan lembaga yang memanfaatkan isu seputar kejadian Monas itu sebagai umpan yang baik untuk mendapatkan partisipan. Kapitalisasi dan politisasi rentan mengikat hal ini dan umat banyak yang tidak menyadarinya sebagai manuver dan manipulasi.

Nah, pemerintah, yang setengah hati ingin bersikap moderat dengan keluarnya SKB, ternyata jatuh pada sikap yang medioker. Bagaimana? Bukannya mendapat berkah dukungan, pemerintah juga akan kebingungan menghadapi tuntutan konstitusional dan hasutan massa. Sementara kelompok Islam tertentu sedang membangun kekuatan massa melalui metode dakwah yang ampuh, pemerintah masih berpikir pada simpul ideologis Islam yang sebetulnya gagap untuk meraih simpatisan. Rakyat butuh kenyamanan, perlindungan, dan kesejahteraan, sekaligus ketegasan. Di sini, pemerintah (Yudhoyono-Kalla) kalah memetakan kekuatan. Kelompok Islam politik semakin besar. Fokus pemerintah memperbaiki kesejahteraan pun tak kunjung membaik. Jelas sudah bahwa ayat-ayat keyakinan lebih penting bagi pemerintah ketimbang ayat-ayat konstitusi.

Zacky Khairul Umam
Penulis, tinggal di Jakarta

URL Source: http://www.korantempo.com/korantempo/2008/06/13/Opini/krn,20080613,51.id.ht
http://www.unisosdem.org/article_detail.php?aid=10286&coid=1&caid=34&gid=2




Rabu, 11 Juni 2008

Keyakinan Ahmadiyah Tidak Pernah Menyimpang dari Keyakinan Ahlus-sunnah

Pada dasarnya Ahmadiyah tidak pernah menyimpang dari akidah mainstream. Selama ini yang menjadi pangkal keyakinan Ahmadiyah adalah datangnya nabi Isa as. kedua kali yamg sama-sama diyakini oleh mainstream ahlus-sunnah. Perbedaannya adalah hanya pada masalah pemahaman mengenai person dan waktu. Siapa dan kapan..

Berikut ini saya tuliskan beberapa kutipan pendapat yang dirangkum dari berbagai sumber tentang akidah kedatangan kembali nabi Isa as kedua kalinya. Semoga bermanfaat:

1. Pendapat NU yang termaktub dalam Mukatamr ke III di Surabaya tanggal 28 September 1928 :

“ Kita wajib meyakini Isa bin Maryam as. akan datang di akhir zaman nanti sebagai nabi/rasul yang melaksanakan Syariat nabi Muhammad saw. hal itu tidak berarti menghalangi nabi Muhammad saw. sebagai nabi terakhir (pembawa Syariat) sebab nabi Isa bin Maryam as. hanya akan melaksanakan Syariat Nabi Muhammad saw. (Ahkamul Fuqaha).
Kemudian ada disebutkan juga bahwa Mahzab empat pada waktu itu hapus (tidak berlaku).

Al-Qurtubi, Mufassir terkemuka, juga mempunyai pendapat yang mirip dengan NU memberikan rumusan: “bahwa yang benar (al-shahih) adalah, sebenarnya Allah mengangkat Nabi Isa ke langit tanpa diwafatkan terlebih dahulu dan bukan dalam keadaan tidur. Kelak, Ia akan benar-benar diturunkan ke bumi untuk membasmi kemungkaran.”

2. Pendapat Ayahanda Hamka Dr. Abdul Karim Amrullah (Haji Rasul)
"....yaitu bahwasanya Isa al Masih yang akan datang itu tidaklah diketahui oleh seorang juga, apakah hakikatnya....Dan siapakah dia? Dan kapankah? Dimanakah? Maka iman dengan dia itu ialah wajib, sedang mengetahui hakikatnya itu wajib pula diserahkan kepada Allah Taala saja...."dst.... (Al-Qaulush Shahih, halaman 134).

3. Pendapat Prof. Hamka (Haji Abdul Malik Karim Amrullah)1956, "Peladjaran Agama Islam," Penerbit "Bulan-Bintang," Djakarta, Tjetakan Pertama.
“Ulama tafsirpun berbincang hebat tentang turunnya Nabi Isa.
Lebih-lebih telah tersebut pula dalam satu hadis, bahwa
"Mahdi itu tidak lain adalah Isa." Mereka perbincangkan
apakah Isa itu masih hidup, lalu diangkat Tuhan kelangit,
ataukah dia telah meninggal dunia sebagaimana kebanyakan”

“ Orang yang memegang kepercayaan bahwa Nabi Isa belum mati,
dan hanya menguatkan bahwa Nabi Isa diangkat ke langit
dengan tubuhnya, terpaksa mesti mencari arti yang lain dari
kata "wafat" itu. Tetapi yang berpendapat bahwa Nabi Isa
mati, langsung saja mengartikan ayat itu menurut zahir
bunyinya. Mula-mula beliau wafat, setelah itu beliau
diangkat ke hadirat Tuhan, sebagaimana setiap insan yang
mulia. Sebab itu ke-angkat-an itu tidak mesti ke langit, melainkan ke hadirat Tuhan.”

“Adapun dasar kepercayaan kita dengan berpegang kepada ayat
yang tertulis di atas tadi nyatalah bahwa Nabi Isa telah
wafat. Nabi Isa telah wafat, dengan berdasarkan kepada
"mutawaffika" tadi. Dan dia telah diangkat ke hadirat
Allah, (wa rafi'uka ilayya), sebagaimana setiap roh yang
suci senantiasa diangkat menghadap ke hadirat Allah.”

“Adapun tentang turunnya kembali beliau ke dunia, sebelum
hari kiamat datang, adalah hadis yang bernama "Al-Uhad."
Tidak termasuk kedalam hadis yang mutawatir. Maka menurut
pertimbangan ahli-ahli hadis, kalau sekiranya tidak kita
jadikan menjadi pokok kepercayaan, sebagaimana pokok
kepercayaan yang enam perkara (rukun iman), tidaklah kita
keluar dari Agama Islam.”

“Meskipun demikian tidaklah boleh kita menolak kekuasaan
Tuhan. Turunnya Nabi Isa kembali ke dunia, tidaklah hal
yang mustahil, walaupun tulangnya telah hancur. Bukanlah
didalam Al-Quran ada tersebut cerita burung-burung yang
telah dicincang lumat oleh Nabi Ibrahim atas perintah Tuhan.
Burung itu empat ekor banyaknya. Lalu dihantarkan ke puncak
empat buah bukit. Tuhan memerintahkan kepada Ibrahim supaya
empat burung itu dipanggil kembali. Maka datanglah keempat
burung itu, dengan izin Allah!”

“Dipandang dari segi kepercayaan ini, datangnya Nabi Isa
kembali ke dunia setelah beribu tahun beliau wafat, hanyalah
permulaan saja dari kebangkitan mahluk Tuhan yang lain.
Seluruh insan dihari kemudian akan dibangkitkan. Hanya Isa
Al-Masih didahulukan. Hal ini biasa saja bagi Tuhan.”

4. Pendapat Ulama Kontemporer

Atau bisa saja Nabi Isa as. diturunkan ke bumi, tapi turun dengan pengertian “semangat”, “ruh”, bukan dengan pengertian hakikat; raga dan bentuknya. Maka, era Isa adalah masa kebangkitan semangat menghidupkan kembali syariat Islam yang telah lama tercabik-cabik. Dan Dajjal bukanlah makhluk raksasa 'setengah dewa' yang sebelah matanya buta, dengan membawa surga dan neraka di genggamannya, yang menjadi musuh bebuyutan Nabi Isa, tetapi ia tak lebih dari simbol kemungkaran, ikon kejahatan yang dikalahkan oleh 'ruh Isa'. Pendekatan hermeneutika seperti ini dihembuskan oleh Imam al-Razi, Rasyid Ridla, Muhammad Abu Zahrah, Muhammad Abduh, Alusi, al- Maraghi, serta beberapa pemikir kontemporer lainnya.



Selasa, 10 Juni 2008

Siapa Yang Benar Gusdur atau Rizieq?? Ayo Buktikan dengan Perang Do'a (Mubahalah) Bukan dengan Perang Pisik alias Kekerasan..




Ini merupakan perkembangan baru. Habib Rizieq yang biasanya berkoar-koar mempertunjukkan kekuatan untuk menyampaikan aspirasinya, kini mulai mencoba cara baru. MUBAHALAH!! Yaitu perang do'a yang sungguh-sungguh antara dua pihak yang berseteru atau beda pendapat. Tujuannya, agar Allah menjatuhkan hukuman kepada pihak yang berdusta dan memperlihatkan kepada halayak siapa yang benar.




Seyogyanya inilah cara yang ditempuh oleh Rasulullah saw. ketika menghadapi jalan buntu dalam perdebatannya dengan rombongan pendeta nasrani dari Najran. Beliau saw. tidak lantas ambil pedang untuk menyerang rombongan itu secara membabi buta, atau mengeluarkan ultimatum kepada rombongan itu agar segara merobah keyakinan mereka. Sungguh jauh dari praktek-praktek para pembela Islam zaman sekarang. Sekarang ini segala perbedaan harus selalu berujung kekerasan. Dimana watak islam yang damai itu???

********

10/06/2008 15:34 WIB
Habib Rizieq Tantang Gus Dur Perang Sumpah
Nala Edwin - detikcom

Jakarta - Perseteruan antara Ketua Umum Front Pembela Islam Habib Rizieq Shihab dengan KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur semakin memanas. Habib Rizieq menantang Gus Dur untuk melakukan mubahalah atau perang sumpah.

"Saya tantang Gus Dur untuk mubahalah. Gus Dur silakan bawa anak dan istrinya, saya juga demikian. Kita bersumpah di hadapan Allah, siapa yang benar diberkati. Siapa yang salah dikutuk dan dilaknat, mati dalam keadaan hina. Kalau Gus Dur berani dan merasa benar, ayo kita mubahalah," kata Habib Rizieq lantang.

Hal itu dia sampaikan usai menjalani pemeriksaan di Ruang Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Jl Sudirman, Jakarta, Selasa (10/6/2008) sekitar pukul 15.00 WIB.

Habib mengungkapkan, dirinya tidak bersedia diperiksa lagi sebelum Gus Dur cs diperiksa. "Saya minta Gus Dur, Adnan Buyung Nasution dan Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) diperiksa," ujarnya.

Pria yang mengenakan jubah dan sorban putih itu juga merasa kecewa surat keputusan bersama (SKB) Ahmadiyah. "Saya sesalkan itu bukan SKB pembubaran. Itu SKB yang melindungi penodaan agama. SKB banci!" tandasnya.

Mubahalah adalah doa yang bersungguh-sungguh di antara dua pihak yang berbeda pendapat. Tujuannya, agar Allah menjatuhkan kutukan berupa laknat kepada pihak yang berdusta. ( fiq / aba )



Rabu, 04 Juni 2008

Korban Monas: K.H. Maman Gelar Istigasah

Inilah Kyai contoh yang benar-benar menerapkan prilaku nabi dalam kehidupannya. Bagaimana dengan FPI?? Coba pikir...

===========================================
K.H. Maman Gelar Istigasah
http://www2. pikiran-rakyat. co.id/prprint. php?mib=beritade tail&id=16256

BANDUNG, (PR).-
Pimpinan Pondok Pesantren Al Mizan, Jatiwangi, K.H. Maman Imanulhaq, salah seorang korban aksi pemukulan Front Pembela Islam (FPI) di Monas Jakarta, Selasa (3/6) pagi dijemput oleh sejumlah santri dan simpatisannya. Malam harinya, bersama Pimpinan Pondok Pesantren Buntet, K.H. Abas dan 10.000 umat Islam bertempat di Desa Buyut, Gunungjati, Cirebon dilakukan doa istigasah untuk keselamatan umat Islam.

Dalam kondisi masih sulit berbicara, Pimpinan Pondok Pesantren Al Mizan Jatiwangi, K.H. Maman Imanulhaq, memaksakan diri untuk pulang ke Cirebon. "Selain untuk menemui sesepuh saya di Pontren Buntet, juga untuk meredam amarah masyarakat Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan (Ciayumajakuning) yang berencana berangkat ke Jakarta untuk menuntut balas," ujar K.H. Maman, saat memberikan keterangan kepada sejumlah media cetak dan elektronik, bertempat di rumah makan Bale Gazebo, Bandung, Selasa (3/6) kemarin.

Dikatakan K.H. Maman, peristiwa yang menimpa dirinya dan sejumlah aktivis Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AK-KBB) yang terdiri dari 72 elemen, oleh FPI, merupakan tindakan terhadap pencorengan agama. Aksi yang dilakukan sudah bukan lagi berdasarkan akidah agama Islam, tetapi cenderung sebagai bentuk premanisme dan anarkisme.

Karenanya, baik pihaknya maupun korban aksi FPI menuntut agar tindakan yang dilakukan oleh FPI diproses sesuai hukum yang berlaku. "Kami tidak akan menuntut balas, hanya kami berharap masalah ini harus tuntas dan diselesaikan sesuai hukum yang berlaku," ujar K.H. Maman.

Akibat pemukulan yang dilakukan sejumlah anggota FPI, K.H. Maman mengalami sejumlah luka di tubuhnya. Selain luka parah di bagian kepalanya dan leher, dirinya juga mengalami sejumlah luka pada bagian wajah (hidung dan pelipis), serta di bagian rusuk.

Pada hari nahas tersebut dirinya berhasil diselamatkan setelah ditinggal pergi oleh para pelakunya dalam kondisi tidak sadarkan diri. Setelah sedikit siuman dan dibantu beberapa warga dirinya naik taksi dan meminta diantar ke RS Mitra Internasional, Jatinegara, Jakarta Timur.

Karena khawatir terhadap kondisi psikologis dirinya dan di luar rumah sakit berkeliaran anggota FPI yang berniat mendatangi dirinya untuk berdialog, beberapa orang santri dan anggota ormas Sundawani yang bersimpati menjemputnya dari rumah sakit. "Pihak rumah sakit memberikan izin pulang selain agar saya bisa istirahat di rumah juga untuk menghindari kedatangan perwakilan FPI ke rumah sakit yang dikhawatirkan akan menimbulkan keributan kembali," ujar K.H. Maman.

Upaya untuk keluar rumah sakit menurut K.H. Maman, bukan merupakan perkara yang mudah meski sudah mendapatkan izin dari pihak rumah sakit. Setelah ada upaya dari sejumlah santrinya dan anggota ormas Sundawani, melalui lantai dasar K.H. Maman dapat dikeluarkan dari kompleks rumah sakit yang juga mendapat pengamanan petugas kepolisian maupun FPI.

"Alhamdulillah, saya dibawa pulang oleh rekan-rekan pagi tadi, melalui jalan belakang gedung dapat keluar dari rumah sakit. Saat ini saya akan langsung ke Cirebon untuk menenangkan santri dan massa simpatisan saya yang hendak bertolak ke Jakarta," ujarnya.

Dikatakan K.H. Maman, berdasarkan informasi santrinya yang turut menjemput, ada 1.000 santri dan massa dari Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan akan datang ke Jakarta. Selain untuk melakukan aksi menuntut para pelaku diproses hukum, mereka juga menuntut agar FPI dibubarkan.

Menurut K.H. Maman, pihaknya secepat mungkin akan bertolak ke Pesantren Al Mizan pimpinannya dan sejumlah ormas Islam di Cirebon untuk menenangkan dan memperlihatkan bahwa dirinya dalam kondisi sudah sehat. "Karena, selain mau datang ke Jakarta, sejumlah simpatisan akan melakukan pembalasan terhadap FPI di Cirebon," ujar K.H. Maman.

Malam harinya, bertempat di Desa Buyut, Gunungjati, Cirebon, bersama K.H. Abas pimpinan Pontren Buntet dan sekitar 10.000 santri serta masyarakat setempat, K.H. Maman melakukan doa istigasah. "Doa kami lakukan bukan hanya untuk kesehatan kami yang menjadi korban, tetapi untuk bangsa ini yang tengah sakit dan dirundung masalah," ujar K.H. Maman, saat dihubungi via telefon, semalam.

Setelah doa, K.H. Maman meminta agar umat Islam Ciayumajakuning, untuk tidak terpancing dan melakukan aksi yang dapat memperkeruh masalah dan menambah masalah baru.

K.H. Maman menegaskan bahwa sebelum insiden, AK-KBB yang terdiri dari 72 elemen, murni akan melakukan peringatan 100 Tahun Kebangkitan Nasional di Monas, karena sudah mendapat izin dari aparat kepolisian. (A-87/A-156) ***

Senin, 02 Juni 2008

Penganiayaan FPI Terhadap AKKBB: Peristiwa Memilukan yang Memalukan

Opini: Peristiwa Memilukan yang Memalukan

Minggu, 1 Juni 2008 di sekitar Monumen Nasional memang lebih ramai dari biasanya. Dari pagi sudah banyak massa yang berkumpul di sekitar Monas. Massa terdiri dari beberapa kelompok dengan acara yang berbeda, mulai dari yang jalan santai sampai yang berdemo BBM.

Sesuai dengan jadwal dari pihak kepolisian, Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) seyogyanya akan memulai aksi damai siang hari sekitar pukul 13.00 wib. Hal ini untuk mencegah bentrok dengan massa yang lain. Selain itu, aparat juga mengatur rute masing-masing aksi agar tidak ada pertemuan massa yang tidak diinginkan.

Siang itu AKKBB yang terdiri dari berbagai elemen masyarakat sedang bersiap memulai aksi. Massa baru mulai berdatangan dari berbagai tempat untuk berkumpul. Agendanya adalah dalam rangka memperingati hari Pancasila ingin mengingatkan kembali pemerintah akan pentingnya menjaga kebhinekaan di Indonesia. Suatu hal yang belakangan ini nampak agak dilupakan oleh pemerintah terkait berbagai kasus yang menimpa kelompok-kelompok minoritas, termasuk Ahmadiyah.

Aksi belum lagi dimulai, tiba-tiba sekelompok masa beratribut FPI (Front Pembela Islam), dengan berbagai senjata di tangan, datang dan menyerang kerumunan secara membabi-buta. Gerombolan FPI itu bukan saja hanya melukai kaum pria, tapi juga menyerang kaum wanita dan anak-anak. (Video berita terkait bisa dilihat di youtube: http://www.youtube.com/watch?v=WmGsR6bviO0)

Suatu pemandangan yang sangat mengerikan untuk dilihat. Dan itu akan menjadi luka amat dalam bagi jiwa, khususnya anak-anak yang masih polos itu. Bahwa demikianlah islam itu, jika ingin dikatakan islam yang benar, tidak sesat, itulah yang harus dilakukan. SUNGGUH MEMILUKAN SEKALIGUS MEMALUKAN.!!!

Negara Indonesia adalah Negara yang berlandaskan Pancasila dengan semboyan BHINEKA TUNGGAL IKA (Berbeda-beda tapi satu). Dari sejak dahulu kala bangsa ini memang demikian beragamnya. Namun dengan semangat persatuan demi mencapai cita-cita kemerdekaan, akhirnya bangsa ini menjadi kuat. Bangsa penjajah yang jauh lebih kuat pun mampu dikalahkan.

Kekuatan kita adalah persatuan itu. Persatuan diatas segala perbedaan yang ada. Toleransi yang tinggi, tenggang rasa, tepo seliro, berat sama dipikul ringan sama dijinjing, bersatu kita teguh bercerai kita runtuh… Itulah nilai-nilai yang sejak lama ditanamkan para pendahulu kita agar kita para penerus tidak menyia-nyiakan perjuangan mereka merebut kemerdekaan dengan meruntuhkan sendi-sendi persatuan bangsa.

Perbedaan seharusnya tidak menjadi masalah. Tidak untuk islam, tidak untuk agama manapun. Tidak ada secuilpun ajaran dalam islam yang menjadikan penganutnya menjadi tidak toleran terhadap perbedaan. Kita mengenal hadis nabi “al-ikhtilaafu ummati rohmatun” perbedaan dalam umatku adalah rahmat. Sejarah membuktikan bahwa perbedaan tidak akan pernah hilang. Dan itu akan terus menjadi bagian tak terpisahkan dalam kehidupan manusia. Bangsa yang bisa menyikapi perbedaan dengan arif, maka bangsa itu akan maju. Bila tidak, tunggulah saatnya hingga kehancuran datang. Sejarah memberikan pelajaran yang lebih dari cukup mengenai hal itu. Tinggal bagaimana sikap kita, apakah kita mau belajar? Ataukah tidak?






Related Post

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...