Kamis, 27 Desember 2007
JIKA SEANDAINYA AHMADIYAH DIBUBARKAN
Selasa, 25 Desember 2007
dari detikcom
25/12/2007 14:55 WIB
Ba'asyir: Bubarkan Ahmadiyah!
Ramdhan Muhaimin - detikcom
Jakarta - Pemerintah diminta bersikap tegas membubarkan organisasi
Ahmadiyah, karena dinilai telah merusak Islam lewat ajaran-ajarannya.
Bila tidak, masyarakat akan semakin membabi buta lewat perusakan rumah
ibadah milik organisasi tersebut.
"Ahmadiyah itu sesat. Itu harus dibubarkan. Karena itu merusak Islam,"
kata Amir Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) Abu Bakar Ba'asyir, usai
tabligh akbar di Masjid Baituraahman, Jl Kampung Pulo, Pinang Ranti,
Makassar, Jakarta Timur, Selasa (25/12/2007) .
Menurut Ba'asyir, tekanan dan kekerasan itu dinilai belum cukup untuk
menggusur Ahmadiyah jika pemerintah belum membubarkan organisasi
tersebut. Warga akan semakin emosional karena tiadanya sikap tegas
pemerintah.
"Pemerintah harus membubarkan, atau warga bertindak sendiri-sendiri, "
seloroh ulama yang sempat dituding sebagai teroris itu.
Disinggung soal tabligh akbar yang ia lakukan bertepatan di hari
Natal, ia mengelak berkomentar. Hanya saja ia menegaskan kembali umat
Muslim dilarang memberi ucapan selamat Natal kepada umat Kristiani.
"Ucapan Natal tidak boleh. Juga tidak boleh mengganggu perayaan
mereka. Kita bisa menghormati keyakinan masing-masing tapi jangan
ucapkan Natal," tegas Baasyir. ( Ari / fay )
__._,_.___
Dimana batas kemanusiaan.... ??
Sifat Al-Hakim Allah Swt (II)

===============================
Ikhtisar Khutbah Jumah Hazrat Khalifatul Masih V Atba
21 Desember 2007, di Masjid Agung Baitul Futuh, London, UK
===============================
Huzur menyampaikan Khutbah Jumah tentang sifat Al Hakim Allah Swt berdasarkan ayat 130 Surah Al Baqarah, yang terjemahannya sebagai berikut:
'And our Lord, raise among them a Messenger from among themselves, who may recite to them Thy Signs and teach them the Book and Wisdom and may purify them; surely, Thou art the Mighty, the Wise.' (2:130)
Huzur bersabda, beliau telah menyinggung ayat ini pada Khutbah Id (Idul Adha) kemarin, berkaitan dengan semangat pengorbanan yang tinggi dari Hadhrat Ibrahim a.s., yang telah memanjatkan doa ini kepada Allah, dalam upaya memohon agar Allah Swt memberi karunia seorang nabi besar, dari antara anak cucu keturunan beliau a.s.
Huzur bersabda, doa Hadrat Ibrahim a.s. tersebut adalah permohonan datangnya seorang nabi yang mampu menanamkan 4 (empat) aspek keluhuran rohani, yang sebelumnya belum pernah ada, ataupun jika sudah ada, tidak cukup memadai untuk skala yang luas. Hal ini dikarenakan otak dan rohani manusia pada saat itu belum mencapai taraf yang istimewa, sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah Swt. Namun Hadhrat Ibrahim a.s. memiliki pandangan jauh ke depan dan kedalaman rohani - sudah berdoa - bahwa manakala Allah telah berkehendak agar intelektual dan spiritual manusia maju demi kesempurnaan kemanusiaannya, maka untuk itulah diperlukan seorang utusan Tuhan yang datang dari antara kaum beliau, yang akan menyajikan berbagai aspek keimanan yang baru untuk memenuhi dahaga rohani mereka. Sehingga menyadarkan mereka akan keberadaan Allah yang memberi mereka ajaran Shariat terakhir.
4 (empat) aspek keluhuran rohani yang dibawa oleh nabi besar tersebut adalah: (1) membacakan atau memperlihatkan Tanda-tanda keberadaan Allah; (2) mengajarkan Kitabullah, (3) sekaligus dengan hikmahnya, yang mampu (4) mensucikan kaum di mana nabi tersebut di utus dan juga generasi-generasi yang akan datang sesudahnya (kaum Akhirin) hingga Hari Kiamat; Lihatlah, betapa ayat ini menegaskan, bahwa Allah Yang Maha Perkasa dan Maha Bijaksana, mampu menciptakan seorang manusia yang paling sempurna dan memberinya hikmah ilmu rohani yang tinggi.
Hadhrat Ibrahim a.s. berdoa, pengabulan atas pengorbanannya hendaknya berupa seorang nabi besar yang dilahirkan dari keturunan anak cucu beliau (dari garis Ismail a.s., dengan 4 (empat) sifat utama tersebut, sekaligus dengan contoh nyatanya yang istimewa. Permohonan doa beliau tersebut dinyatakan di dalam ayat Surah Al Baqarah, yang pengabulannya pun di dalam Surah yang sama, ayat 152, bahwa nabi yang dimaksud tersebut niscaya segera akan datang.
Namun, di dalam ayat 3 Surah Al Jummah (62:3) diulang kembali topik masalah di dalam (Surah Al Baqarah) 2:130, tersebut. Akan tetapi ke-empat macam aspek yang diminta di dalam Surah 2:130 dan Surah 2:152 tampak seperti tidak berurutan. Inilah kehendak Allah Swt. Para pengritik mengajukan keberatan, bahwa Alquran menyajikan sesuatu yang tidak beraturan. Padahal, justru mereka-lah yang tidak mampu mendalami ilmu Alquran, yang tidak dapat diperoleh tanpa adanya kesucian hati. Hadhrat Ibrahim a.s. berdoa kepada Allah agar diberi seorang nabi yang akan membacakan Tanda-tanda Allah, mengajar [Kitabullah], memberi hikmah, dan mensucikan. Akan tetapi, ketika Allah Swt mengabulkan doa tersebut, Dia menyatakan, (di dalam 2:152) bahwa Dia mengutus Nabi tersebut sesuai dengan doa yang diminta. Yakni, pertama-pertama adalah membacakan Tanda-tanda Allah. Akan tetapi, aspek daya mensucikannya menjadi lebih awal dibandingkan dengan doa yang diajukan di dalam Surah 2:130. Perubahan urutan ini menunjukkan hikmah yang sangat mendalam, yang akan beliau jelaskan di lain kesempatan. Untuk sekarang ini, beliau akan menjelaskan 4 (empat) macam aspek yang dikehendaki dari Nabi tersebut.
Pertama, adalah membacakan Tanda-tanda (Ayah) Allah kepada manusia. Menurut berbagai kamus Bahasa Arab (lexicons) "Ayah" artinya 'Tanda-tanda', 'mukjizat', peringatan', dan 'potongan/bagian'. Maksudnya, ajaran nabi tersebut akan menunjukkan Tanda-tanda dan atau mukjizat yang akan menimbulkan kembali keimanan manusia kepada Allah.
Dalam kaitannya dengan arti "Ayah" sebagai 'bagian' atau bentuk jamaknya 'bagian-bagian atau potongan-potongan'; maksudnya ajaran nabi tersebut akan turun sebagian demi sebagian (berdikit-dikit). Hal ini telah dijelaskan di dalam Surah 2:152; sehingga hal ini saja sudah menunjukkan salah satu Tanda kebenaran-Nya.
Hadhrat Masih Mau'ud a.s. telah mengemukakan turunnya wahyu Alqur'an yang berdikit-dikit (di dalam Surah 17:107 dan Surah 25:33) sebagai Tanda khas Allah Swt. Kitabullah Alqur'an diwahyukan dalam rentang waktu selama 23 (dua puluh tiga) tahun sebagai tanda bukti kebenarannya. Karena dalam rentang waktu tersebut itulah justru Nabi tersebut (Rasulullah Saw) mengalami berbagai penganiayaan berat, berperang untuk mempertahankan diri, menyelamatkan jiwa beliau. Hingga akhirnya Alquran selesai diwahyukan, dan Allah telah menyatakan bahwa ajaran Shariat ini sudah sempurna (Surah 5:4), tak ada satu pun berbagai usaha untuk membunuh beliau itu berhasil. Beliau wafat secara wajar.
Tambahan lagi, prasarana yang dimiliki generasi pada waktu tersebut belum memungkinkan untuk menerima wahyu Alquran sekaligus, melainkan harus berdikit-dikit. Akan tetapi, keimanan mereka sungguh telah menjadi sempurna, meskipun proses belajar-mengajar mereka masih terus dalam proses jalan yang panjang untuk mencapai ilmu dan pengetahuan yang modern. Akan tetapi kini, otak manusia telah jauh berkembang berkat adanya perkembangan ilmu dan pengetahuan. Contohnya adalah Dr. Abdus Salam almarhum, (seorang Ahmadi peraih Hadiah Nobel) yang selalu mengatakan, bahwa semua keberhasilan riset-experimen yang dilakukannya adalah berdasarkan ilham petunjuk dari ayat-ayat Alquran. Dengan meluasnya ilmu pengetahuan, manusia kini hendaknya dapat memahami keberadaan Tuhan dengan lebih baik, lebih berakal-budi. Pada zaman ketika Rasulullah Saw diutus, berbagai agama yang ada telah bercampur dengan kemusyrikan. Apa yang tampak seperti ajaran agama, kenyataannya telah melupakan Tuhan. Namun, keadaan zaman sekarang ini pun sama seperti itu, yang akan beliau bahas dalam beberapa Khutbah Jumah yang akan datang.
Ketika Hadhrat Ibrahim a.s. berdoa untuk maksud tersebut, beliau faham bahwa zaman itu niscaya akan datang; zaman yang lebih cemerlang dibandingkan zaman beliau. Oleh karena itu beliau pun memohon agar nabi tersebut datang dari kalangan anak keturunan beliau a.s. dengan berbagai bukti dan akal pikiran.
Membacakan ayat 70 Surah Al Ankabut (29:70) Huzur menerangkan, adalah Rasulullah Saw yang telah berhasil menunjukkan jalan lurus untuk mencapai Allah Swt. Hadhrat Masih Mau'ud a.s. bersabda, hal ini mengingatkan kita, untuk menghindari kekusutan rohani dengan pengetahuan, diperlukan daya upaya; yang untuk itu kita dikaruniai satu contoh model Rasulullah Saw, yang perlu kita ikuti. Bukan mengikuti apa yang disebut orang sebagai 'orang suci' ('Pirzada') yang nyatanya tidak menjalankan Syariat sesuai aturan, melainkan hanya membuat berbagai pendakwaan untuk memperkuat status mereka. Huzur bersabda, manakala Allah Swt telah memberi kita segala apa yang dibutuhkan, Dia pun telah menyertainya dengan berbagai bukti dan akal sehat. Maka selanjutnya kewajiban kita-lah untuk berdaya upaya meningkatkan taraf kerohanian diri – yang untuk itu tidak akan pernah bisa dicapai melalui apa yang disebut 'wali' atau 'orang suci'. Melainkan hanya dengan cara mengikuti jalan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Saw, lengkap dengan berbagai mukjizat dan Tanda-tanda yang beliau perlihatkan selama hidup. Para 'Pirzada' tidak mampu mengarahkan orang menuju kepada Tuhan. Justru Allah Taala sendirilah yang akan mendatangi orang yang menuju kepada-Nya, melalui Tanda-tanda dan petunjuk yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Saw.
Menurut kamus lexicon, kata 'Ayah' pun dapat berarti pula hukuman. Hadhrat Muslih Mau'ud r.a. menerangkan hal ini dengan merujuk kepada ayat di awal Khutbah ini, bahwa dengan kata 'ayah' ini Rasulullah Saw akan memberikan peringatan kepada kaumnya melalui kabar takut dan ancaman hukuman. Inilah mengapa sebabnya Alquran banyak mengemukakan berbagai peristiwa yang terkait dengan para rasul Allah terdahulu; sebagai peringatan bagi seluruh dunia, khususnya mereka yang beriman kepada Alquran. Hukuman Ilahi akan mendera mereka yang ikut campur dalam urusan Kehendak Ilahi. Menolak seorang Utusan Allah meskipun merupakan suatu kerugian besar boleh jadi tidak serta merta mengundang hukuman Tuhan; terkecuali apabila sudah melampaui batas dalam kata-kata maupun tindakannya. Semoga Allah memberi petunjuk kepada dunia seumumnya, dan semoga pula Dia mengaruniai kita pandangan dan kedalaman rohani yang benar terhadap ajaran Rasulullah Saw., sehingga kita dapat mencapai taraf yang disyaratkan untuk dapat bertemu dengan Allah Swt. Kemudian Huzur bersabda, akan menerangkan sisa topik masalah ini pada kesempatan yang akan datang.
transltByMMA/LA122207; Edited byMP.BudiR/MarkazJAI
Please note: Department of Tarbiyyat, Majlis Ansarullah USA takes full responsibility of anything that is not communicated properly in this message.
Manifestasi Sifat Al-Hakim Allah Swt.
----------------------------------Ikhtisar Khutbah Jumah Hazrat Khalifatul Masih V Atba
14 Desember 2007, di Masjid Agung Baitul Futuh, London, UK
----------------------------------
Huzur memfokuskan Khutbah Jumah beliau hari ini kepada masalah perwujudan sifat Al Hakim Allah Swt pada diri Rasulullah Saw.
Rasulullah Saw adalah wujud yang paling paripurna dalam mewujudkan berbagai sifat Allah. Beliau-lah pribadi yang telah berhasil menanamkan berbagai sifat Allah disertai dengan contoh nyata pelaksanaannya.
Beliau adalah kekasih Allah, yang untuk itu Dia menciptakan bumi dan langit; segala perkataan beliau yang berberkat senyatanya membuat seorang mukminin senantiasa memperhatikannya agar dapat mensucikan diri. Huzur membacakan ayat 152 Surah Al Baqarah kemudian menerangkan, ajaran Rasulullah Saw mencakup berbagai nasehat untuk kehidupan dasar sehari-hari manusia hingga solusi untuk berbagai masalah nasional; setiap kata-katanya mengandung hikmah kebaikan. Semua perkataan dan contoh pelaksanaannya tiada lain adalah merupakan penafsiran ayat-ayat Alquran. Contoh model yang telah beliau tunjukkan untuk dapat kita ikuti baik dalam langkah maupun kata-kata. Ayat di dalam Surah Baqarah tadi menyatakan, bahwa segala sesuatu yang beliau telah ajarkan atau laksanakan tiada yang percuma. Karena beliau tidak hanya memerintahkan, melainkan memberikan contoh pelaksanaan semua yang beliau ajarkan. Inilah mengapa sebabnya Allah memerintahkan kita agar mentaati beliau, berusaha mendalami dan memahaminya; yang bahkan seandainya belum memahaminya pun, hendaklah yakin, bahwa semuanya mengandung hikmah kebaikan, yang diperuntukan bagi kebaikan hidup kita juga.
Hadhrat Rasulullah Saw bersabda: "Semua pengetahuan yang membawa hikmah kebaikan adalah khazanah kaum mukminin yang hilang, maka di manapun engkau temukan, ambillah karena kamu mempunyai hak atasnya."
Huzur bersabda, maka dari manapun pengetahuan atau nasehat bijak berasal, baik itu dari orang yang berlainan agama, tua, muda, kaya, miskin ataupun dianggap awam, terimalah. Jangan sombong menolaknya. Rasulullah Saw bersabda, 'Ada dua jenis manusia yang akan mendapat kemuliaan. Pertama, adalah mereka yang dikaruniai harta lalu membelanjakannya di jalan Allah. Yang kedua, mereka yang dikaruniai pengetahuan lalu digunakannya untuk membuat berbagai keputusan yang baik, atau mengajarkan pengetahuannya kepada orang lain. Huzur bersabda, maka kewajiban orang yang beriman untuk menyebar-luaskan nasehat kebaikan yang mereka miliki.
Rasulullah Saw memuliakan sesuatu pertemuan atau majlis yang membahas perkara kebaikan (na'imul majlis, majlis istimewa); Dan melarang kaum mukminin untuk menghadiri sesuatu pertemuan yang tidak ada hikmah kebaikannya, atau untuk mengolok-olok sesuatu keyakinan agama. Kecuali untuk menjelaskannya. Akan tetapi jika situasinya cenderung tidak baik, tinggalkanlah.
Rasulullah Saw senantiasa berupaya menelaah dan mencari berbagai sumber ilmu pengetahuan bagi kaum mukminin. Sampai-sampai menginstruksikan: Bagi tawanan perang yang dapat mengajari baca tulis 10 orang anak kaum Ansar, akan dibebaskan. Betapa hal ini berlawanan dengan tuduhan [bahwa Islam mengajarkan agresif], nyatanya, beliau tidak memerintahkan agar tawanan perang mengajarkan keahlian mereka berperang kepada pemuda Ansar; melainkan orang yang berilmu manfaatlah yang beliau cari.
Huzur bersabda, hendaklah senantiasa diingat, kini pun berbagai cara dan daya upaya kita untuk memenangkan Islam adalah dengan ilmu dan kebaikan. Maka segala sumber daya yang ada hendaknya ditujukan untuk kegiatan Pertablighan, untuk menebar pengetahuan dan kebaikan, sebagaimana dianjurkan di dalam Surah Al Nahl ayat 126 (16:126). Huzur bersabda, berbagai dialog diskusi hendaknya dilakukan dengan hikmah pengetahuan yang menghargai pendapat pihak lain. Tidak terjebak ke dalam perdebatan yang bersikap mencela. Jika mereka sudah bersikap keras kepala atau tidak menggunakan akal, melainkan emosional belaka, tinggalkanlah. Serahkanlah kepada Allah untuk membimbing mereka.
Hadhrat Safiyya rha, salah seorang istri Rasulullah Saw meriwayatkan, suatu kali Rasulullah Saw menjalani I'tikaf, dan beliau datang ke masjid untuk membicarakan sesuatu hal penting. Setelah selesai, beliau Saw mengantarnya hingga ke depan pintu. Pada saat yang bersamaan, lewatlah dua orang sahabah yang setelah mengucapkan salam, bergegas meninggalkan beliau. Maka Rasulullah Saw segera memanggil mereka untuk menjelaskan bahwa wanita itu adalah Safiyya, istri beliau. Kedua sahabah berkata, Subhanallah ! Mereka percaya kepada Rasulullah Saw, tidak perlu memberikan penjelasan. Tetapi Rasulullah Saw menjawab, untuk menghindari upaya Syetan menyelinap ke dalam hati manusia agar bersyak-wasangka. Sehingga beliau Saw perlu menjelaskannya. Huzur bersabda, adalah jaiz orang berusaha mencegah orang lain agat tidak menjadi berprasangka. Maka pengurus Jemaat pun, sabda Huzur, perlu mengingat hal ini. Seringkali bukan karena perkara-perkara besar orang terjebak ke dalam pertikaian yang tidak perlu, melainkan disebabkan masalah yang tampak sepele. Oleh karena itu penting untuk segera membicarakan sesuatu perkara sensitif dan menjelaskannya dengan cara baik-baik.
Membacakan ayat 28 Surah Al Nur (24:28), Huzur menghubungkannya dengan sebuah Hadith yang mengisahkan seorang sahabah yang mengaku pernah mengintip dari kejauhan Rasulullah Saw yang sedang menyisir . Rasulullah Saw bersabda, seandainya pada waktu itu beliau tahu, serta merta akan mencolok mata orang itu dengan sisir. Kemudian beliau menjelaskan, berdasarkan ayat Quran 24:28 tersebut, dilarang mengintip rumah orang lain tanpa hak.
Menerangkan pentingnya membuat perencanaan (planning) dan persiapan (arrangements), Huzur mengutip sebuah Hadith: Seorang sahabah bertanya kepada Rasulullah Saw, apakah ia harus mengikat unta tunggangannya baik-baik atau membiarkannya berkeliaran karena percaya kepada Allah yang akan menjaganya. Rasulullah Saw menjawab, ikatlah terlebih dahulu untamu baik-baik, baru kemudian percayakan kepada Allah untuk menjaganya.
Diantara beberapa contoh perilaku bijak bestari Rasulullah Saw adalah pada peristiwa Perang Khandak, dimana kemenangan yang sudah ada di tangan berbalik menjadi nyaris kalah dikarenakan kaum Muslimin tidak mengindahkan perintah Rasulullah Saw. Namun kemudian kemenangan itu dapat diraih kembali berkat keputusan yang tepat dan berhikmah dari beliau Saw.
Huzur bersabda, dikarenakan diutusnya Rasulullah Saw adalah untuk seluruh dunia, Allah Swt telah mengaruniai beliau wibawa dan pemikiran bijak bahkan sejak sebelum diangkat menjadi nabi. Contohnya adalah peristiwa penempatan kembali Hajar Aswad (batu hitam yang berada di Ka'bah) setelah selesai dipugar. Peristiwa yang diniatkan sakral-seremonial tersebut nyaris menjadi pertumpahan darah manakala mereka saling bertengkar: Suku mana yang paling berhak melakukannya. Untunglah seorang tokoh di antara mereka mengusulkan: 'Kita serahkan saja kepada orang pertama yang akan lewat di Ka'bah sini nanti'. Sesuai takdir Ilahi, beberapa saat kemudian lewatlah beliau di muka pintu Kabah. Maka mereka pun mempecayakannya kepada beliau untuk membuat keputusan, karena mereka semua sudah maklum kepada pribadi Al-Amin ini. Beliaupun meminta sebuah jubah mantel, kemudian meletakkan batu suci Hajar Aswad itu di atasnya, lalu meminta perwakilan empat suku utama yang saling bertikai untuk memegangnya di tiap ujung, dan membawanya bersama-sama ke dekat Ka'bah. Lalu beliau sendirilah yang menempelkannya ke dinding. Lihatlah, untuk mendinginkan saat genting yang memerlukan keputusan tepat dan cepat, sungguh diperlukan buah pikiran yang bijak bestari sebagaimana contoh yang beliau telah perlihatkan.
Satu contoh kebaikan Rasulullah Saw lainnya, Huzur menyampaikan, suatu kali Rasulullah Saw mengirim pasukan ke Najad, dan berhasil menawan salah seorang tokoh dari Banu Hanifa yang bernama Thumamah bin Athal [penjahat perang] sebagai tahanan. Para sahabah mengikatnya di tiang Masjid Nabawi. Rasulullah Saw berkenan menemuinya, dan bertanya: 'O Thumamah, sampaikanlah kepadaku sesuatu yang dapat meringankan hukumanmu ?' Ia menjawab: 'Aku berharap; jika tuan menghukum mati diriku, begitulah adanya, tuan telah menghukum seorang pembunuh. Namun jika tuan berkenan memberiku sedikit harapan, berarti tuan membahagiakan orang yang akan memuliakan kebaikan. Jika tuan menginginkan sesuatu harta benda sebagai tebusannya, tuan akan memperolehnya sebanyak yang tuan inginkan (kaumnya akan memberikan). Rasulullah meninggalkannya. Keesokan harinya beliau Saw menemui dan menanyai Thumamah kembali. Ia menjawab, ia telah menyampaikannya kemarin; 'Jika tuan berkenan mengampuni hamba, berarti tuan membebaskan seseorang yang akan memuliakan kebaikan yang diberikan kepadanya'. Rasulullah Saw membiarkannya terikat di situ. Pada hari ketiga, beliau Saw mendatanginya lagi, dan bertanya lagi: 'O Thumamah, apa kemauanmu sekarang ?'. Ia menjawab, ia telah menyampaikannya sebagaimana kemarin. Maka Rasulullah Saw pun membebaskannya.
Thumamah kemudian pergi ke sebuah kebun kurma. Berwudhu dan mandi membersihkan diri, lalu masuk ke masjid untuk berbaiat mengucapkan Dua Kalimah Syahadat. Setelah selesai, ia berujar: 'O Muhammad [Saw], demi tuhan, aku pernah membenci wajah tuan sebagai yang paling kubenci di dunia. Tetapi kini, hanya wajah tuanlah yang paling hamba cintai. Demi tuhan, aku pernah membenci agama tuan. Namun kini, missi agama yang tuan bawa-lah yang paling hamba yakini. Demi tuhan, aku pernah tidak suka kepada tempat tuan bermukim, namun sekarang, inilah tempat berberkat yang paling hamba cintai. Kini, hamba ingin ber-Umrah, namun para pengawal tuan agaknya akan menahan hamba. Bagaimana tuan ?'. Maka Rasulullah Saw pun mengucapkan selamat kepadanya yang telah masuk Islam, lalu memerintahkan penjaga untuk membiarkannya pergi ber-Umrah sambil meyakinkan dirinya, bahwa Allah akan menerima amal ibadahnya. Ketika ia sampai di Mekkah, orang-orang bertanya kepadanya apakah ia kini sudah menjadi orang Sabii ?. Ia menjawab: 'Tidak, aku telah beriman kepada Muhammad, sebagai Rasul Allah.
Huzur kemudian menyampaikan kisah yang berkaitan dengan peristiwa Fatah Mekkah. Setelah Mekkah jatuh ke tangan kekuasaan Rasulullah Saw, para sahabah membawa Abu Sufyan sebagai tahanan ke hadapan Rasulullah Saw, yang kemudian bertanya, apa pengharapannya. Ia menjawab, kemuliannya kini telah hilang sirna di mata kaum Mekkah. Khususnya lagi karena ia adalah kerabat keluarga Rasulullah Saw, dan telah masuk Islam. Maka Rasulullah Saw pun [setelah ia baiat] memerintahkannya untuk mengumumkan kepada kaum Mekkah, barang siapa yang datang berlindung di rumah Abu Sufyan akan diampuni. Abu Sufyan menjawab: tetapi rumahnya terlalu kecil. Rasulullah Saw segera memerintahkan barang siapa yang datang ke Ka'bah dijamin akan memperoleh keamanan. Abu Sufyan berkilah lagi, Ka'bah pun masih tidak cukup lapang untuk menampung seluruh kaumnya yang akan bertobat. Rasulullah Saw menjawab, mereka yang berlindung di rumahnya masing-masing dan mengunci semua pintu jendelanya akan dikategorikan pengungsi [yang akan diampuni]. Abu Sufyan masih juga berkilah: Bagaimana halnya mereka yang tunawisma ?. Maka Rasulullah Saw meminta sebuah tiang bendera. Mengikatkan bendera Islam di atasnya, lalu menamakannya sebagai pataka Bilal, kemudian memberikannya kepada Abu Ruwaiha yang telah mengikat tali persaudaraannya dengan Bilal. Rasulullah Saw mengumumkan: 'Barang siapa yang berada di bawah bendera pataka Bilal akan diampuni. Maka Abu Sufyan sebagai pemuka Mekkah mengumumkan kepada kaumnya agar menutup seluruh pintu jendela rumah mereka, lalu datang berbaris sambil membawa seluruh persenjataan mereka ke Ka'bah, dan melemparkan nya ke bawah pataka Bilal [sebagai tanda menyerah].
Hikmah mulia di balik peristiwa pengampunan massal ini adalah pilihan Rasulullah Saw untuk menamai panji bendera Islam tersebut sebagai Pataka Bilal. Bukan nama beliau sendiri, bukan nama Hadhrat Abu Bakar, tidak nama Hadhrat Umar, tidak Hadhrat Utsman maupun nama Hadhrat Ali r.a., ataupun sesuatu nama pemimpin besar Islam lainnya. Hikmah yang mendalam di balik keputusan beliau Saw ini adalah, semua kaum Mekkah mempunyai tali kekeluargaan satu sama lain. Meskipun mereka [yang telah menjadi Muslim] sudah meminta Rasulullah Saw untuk membalas dendam terhadap kejahiliyahan kaum Mekkah yang tiada tara itu, tetap saja mereka akan merasa was-was terhadap nasib sana-keluarga mereka masing-masing. Hanya satu orang yang tidak memiliki hubungan kekeluargaan adalah Hadhrat Bilal r.a.. Dan beliau ini jugalah yang mengalami berbagai penganiayaan paling berat di tangan kaum Mekkah. Namun, ketika Fatah Mekkah, Rasulullah Saw memutuskan, barang siapa yang berada di bawah Pataka Bilal akan mendapat keamanan. Maka para tokoh Mekkah sekalipun – yang pernah menyiksa Hadhrat Bilal r.a. (sewaktu menjadi budak belian) – bergegas berdiri bersama seluruh keluarga mereka, di bawah Pataka Bilal untuk memohon perlindungan. Peristiwa ini merupakan contoh pengampunan yang paling istimewa dalam sejarah kemanusiaan. Huzur mengingatkan, hal ini karena ketawakalan dan kesabaran Hadhrat Bilal r.a. yang tinggi. Dan keputusan beliau Saw itu pun sekaligus menunjukkan, bahwa tiada yang perkasa dan bijaksana selain Tuhannya Muhammad Saw dan Bilal r.a., yang adalah Tuhan Yang Maha Perkasa dan Maha Bijaksana. Keputusan ini membawa pesan abadi bahwa hanya Allah-lah Tuhan Yang Maha Perkasa dan Maha Bijaksana, sekaligus deklarasi global yang efektif, bahwa sejak itu Rasulullah Saw menghapuskan perbudakan. Hal ini pun membawa pesan hikmah kepada figur Hadhrat Bilal r.a., meskipun awalnya beliau orang yang tampak lemah dari segi duniawi, namun setelah menerima kebenaran Islam, beliau berkesempatan untuk meneguhkan keimanannya, dan mengajak manusia kepada Islam. Dan mereka yang mengalami penderitaan seperti beliau sebagai konsekwensinya, hendaknya bertawakal kepada Allah sebagaimana contoh beliau. Dengan karunia Allah Swt, demikianlah yang telah terjadi.
Huzur bersabda, kaum Ahmadi hendaknya menyadari bahwa InshaAllah peristiwa semacam ini akan terulang kembali. Kita tidak akan melayani berbagai penganiayaan dengan kekerasan yang sama. Melainkan justru kita akan mengulangi keberkatan sebagaimana dicontohkan Rasulullah Saw. Para penentang bepikir mereka dapat terus berulah. Namun waktu akan menunjukkan, pihak mana yang benar dan mana yang bathil. Kita sudah menyampaikan kepada para penentang, agar menahan diri. Kembalikanlah perkaranya kepada Allah Swt. Mintalah petunjuk kepada-Nya. Penganiayaan mereka tidak akan berlangsung lama. Justru berbagai peristiwa berberkat semacam dulu itulah yang akan akan kembali berulang. InshaAllah waktunya tidak akan lama lagi.
Huzur menutup Khutbah beliau dengan berita duka sehubungan dengan disyahidkannya seorang pemuda Ahmadi di Sheikupura, Pakistan, yang bernama Humayun Waqqas Sahib. Almarhum telah disyahidkan oleh seseorang yang tak dikenal. Almarhum adalah seorang anggota Jama'at yang aktif. Tak diragukan lagi, darahnya yang telah membasahi tanah kelahirannya akan menyuburkan perubahan besar. Namun, para penentang hendaknya ingat untuk mengambil pelajaran, agar mereka terhindar dari kehinaan. Huzur mendoakan semoga Allah meninggikan derajat maqom Jannah almarhum, dan memberikan kesabaran dan ketawakalan kepada keluarga yang ditinggalkan. Huzur akan mengimami shalat jenazah gaib, bada shalat Jumah.
transltByMMA/LA121607; Edited byMP.BudiR/MarkazJAI
Please note: Department of Tarbiyyat, Majlis Ansarullah USA takes full responsibility of anything that is not communicated properly in this message.
Senin, 17 Desember 2007
dari Manislor (pics inculded)
Ini beberapa photo hasil dokumentasi lapangan seorang kru mta indonesia..
- Anak-anak sedang menjaga sekolah mereka di Manislor agar tidak dibongkar.
- Pa Ketua berusaha memberi pengertian kepada ibu-ibu agar memberi jalan kepada satpol PP yang akan menjalankan tugasnya..
- Ibu-ibu bersedih ketika pada akhirnya mesjid mereka harus disegel kembali.
- Mesjid Alhidayah-pun dsiegel.
- Giliran Mesjid Attaqwa tak ketinggalan.
Jumat, 14 Desember 2007
HABIB PALSU, KEJAR "NABI PALSU"
HABIB PALSU, KEJAR "NABI PALSU"
Jumat, 7 Desember 2007 Pk. 13.30 waktu Bogor, Mesjid Al-Fadl (Mesjid Ahmadiyah) di Jl. Perintis Kemerdekaan 34 Kebon Jahe Bogor, di datangi Habib Abdurrahman Assegaf ALIAS ABDUL HARIS UMARELLA bin ISMAIL UMARELLA Putera TULEHU Pulau AMBON

ICRP info. 5 orang bersorban mendatangi halaman mesjid Al-Fadl di pinggir Jalan Perintis Kemerdekaan, di komandani oleh "Habib" Abdurrahman Assegaf alias Abdul Haris Umarella bin Ismail Umarella. Sementara puluhan anggotanya yang mengaku GUII tertahan oleh barisan polisi anti huru hara yang berjarak 200 meter dari lokasi Mesjid. Abdul Haris Umarella meminta ijin kepada polisi untuk mendatangi Mesjid Al-Fadl dengan alasan mau berdialog, polisi mengijinkan hanya 5 orang saja yang mewakili dan boleh memasuki wilayah Mesjid. Dengan berjalan gagah, Abdul Haris Umarella datang mendekati pagar Mesjid yang disambut dengan orasi Mahasiswa Ciputat yang menamakan FORMACI anti kekerasan.

Selama 30 menit, Haris CS di depan pintu pagar Mesjid, sempat pula Haris CS menginjak-injak Buku (yang mereka meng-infokan adalah kitab yang di imani oleh Jemaat Ahmadiyah) yang sebenarnya Kitab tersebut adalah kumpulan cerita dan mimpi dari Mirza Ghulam Ahmad. Namun para Jemaat Ahmadiyah yang sebagian berada di dalam Mesjid, tidak terpancing, bahkan menertawakan aksi tersebut.
Ini kali ke 2 Abdul Haris Umarella tidak berhasil untuk menutup dan merusak Mesjid Ahmadiyah, sebelumnya terjadi di Jl. Balik Papan I No. 10 pada tanggal 23 Nopember 2007 yang lalu. Kekecewaan Abdul Haris semakin bertambah ketika seorang Jemaat Ahmadiyah menyebut dengan lantang nama ASLInya "Abdul Haris Umarella.... umarellla. ...umarella. .." dengan melunak Haris bertanya "Bapak dari
mana?" di Jawab "Saya?....Ahmadiyah " "oh.....bapak Ahmadiyah?" Lalu Haris kembali bicara "mana nich orang Ahmadiyah, saya datang untuk berdialog... .kok pagar dikunci, ini apa ini, saya datang kesini untuk mengajak bertaubat, tidak ada Nabi selain Nabi Muhammad SAW, selain itu PALSU, kami mengejar nabi palsu...?" sambil terbengong-bengong tangannya memegang pagar besi Mesjid.

Diiringi rintikan hujan, Abdul Haris Umarella akhirnya pergi dengan kekesalan dan kekecewaan, kembali bergabung dengan anggotanya yang terdiri dari anak-anak usia 13 tahun keatas. Sempat melakukan orasi dan kembali berputar disekitar Mesjid dengan kendaraannya Opel Blazer(kendaraan yang sama yang dia gunakan saat mendatangi Mesjid Al-Hidayah di Jl. Balik Papan I) dengan meneriakkan nama
Tuhan.
Abdul Haris Umarella meninggalka mesjid disambut rintikan air hujan, alam sepertinya memahami bisikan hatinya, bersedih karena malu identitasnya diketahui, marah karena misinya yang ke 2 kalinya gagal. Kali ini Haris berhadapan dengan sekelompok mahasiswa yang mendukung kebebasan beragama dan berkeyakinan, menolak kekerasan dan itimidasi dan AKKBB (Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan)
Aneh sekali, nama Tuhan di kumandangkan untuk melakukan tindak kekerasan??? ?.....
Salam,
Ilma
============ ========= ========= ========= ==
Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP)
Jl Cempaka Putih Barat XXI No. 34
Jakarta Pusat 10520
Telp. 021 4280 2349/ 42802350
Fax. 021-422 7243
HP. 0852-81481413
Email: icrp@...
www.icrp-online. org
Kamis, 13 Desember 2007
Khutbah Huzur V Atba, 7 Des 2007
Ikhtisar Khutbah Jumah Hazrat Khalifatul Masih V Atba
7 Desember 2007, di Masjid Agung Baitul Futuh, London, UK
Huzur menerangkan sifat Al Hakim (The Wise, Maha Bijaksana) Allah Swt pada Khutbah Jumah beliau ini. Huzur bersabda, beliau telah menyampaikan Khutbah pada beberapa kali Jumah lalu yang berkaitan dengan sifat Al Aziz (Maha Gagah Perkasa), bahwa separuh dari semua ayat Alquran yang mengemukakan sifat Al Aziz senantiasa terkait dengan sifat Al Hakim. Oleh karena itu, manakala membahas sifat Al Aziz, sifat Al Hakim pun sedikit-banyak sudah termasuk.
Menurut kamus Arab lexicon, Al Hakim adalah Wujud yang memiliki hikmah kebijaksanaan, yang mengandung arti bermaksud ke arah yang paling afdhol, didasari ilmu-Nya yang terbaik, baik dari segi penciptaannya, sifat-sifatnya maupun statusnya, dlsb..
Di dalam sebuah Hadith, Alqur'an pun disebut Hakim (Yang Mengadili); artinya, Kitab yang memutuskan. Akan tetapi dikarenakan taqwa (mutaqin) adalah prasyarat untuk memahami petunjuk di dalamnya, maka orang yang mencari hikmah petunjuk di dalam Alquran perlu memiliki sifat "hakim".
Hadhrat Masih Mau'ud a.s. bersabda, ada perbedaan yang sangat besar dalam mencari ilmu lahiriah dengan ilmu Alquran. Karena faktor taqwa tidak dipentingkan dalam mencari ilmu duniawi; Tak perlu pula memeriksa ucapan dan perbuatan diri apakah sudah selaras dengan perintah Allah atau tidak, dalam mencari ilmu duniawi. Sehingga, semakin mereka menguasai ilmu duniawi, boleh jadi semakin atheis-lah mereka. Tengoklah Eropa dan Amerika yang telah banyak menghasilkan berbagai penemuan baru dalam pengetahuan duniawi; namun keadaan rohani mereka sungguh rapuh. Sebaliknya, untuk mencari ilmu agama, manusia dituntut untuk memilki sikap tawadhu (rendah hati). Alqur'an adalah Kitabullah, yang ilmu hikmahnya berada di tangan Allah. Dan taqwa adalah tangga untuk dapat meraih ilmu-Nya ini. Nyata kini, dunia terus bergelimang pada pengetahuan duniawi yang dicirikan dengan adanya berbagai penemuan baru yang mencengangkan bagi kehidupan modern. Sementara kaum Muslim yang terpaku pada ilmu tarekat mereka yang kolot, terjebak ke dalam polemik masalah grammatika dan cara pengucapan beberapa ayat Quran tertentu.
Hadhrat Imam Raghib mendefinisikan Hikmah' atau kebijaksanaan dengan: 'mencapai tahap kebenaran melalui ilmu dan akal. Dan penerapannya yang berkaitan dengan Allah, adalah penelaahan mendalam mengenai hakekat wujud-Nya, sesuai pemahaman orang per-orang. Manakala Allah dirujuk kepada kata hakim, tidak serta merta sama demikian artinya secara harfiah. Melainkan sebagaimana yang tercantum di dalam Surah Al Tin,
(..alaysallaahu bi ahkamil haakimiin..),
yakni jauh lebih mulia, ialah 'Tidakkah Allah adalah Hakim Yang Maha Adil ?', (95:9).
Hadhrat Muslih Mau'ud r.a. bersabda, salah satu arti kata Hakim adalah 'berpengetahuan (sarjana)'; Arti lainnya adalah adil/bijaksana. Yakni, orang yang melaksanakan segala pekerjaannya dengan sempurna. Tak ada yang mampu mengacaunya.
Membacakan ayat 31 hingga 33 Surah Al Baqarah, Huzur menerangkan, ayat-ayat ini menjelaskan kepada kita, bahwa para malaikat mengakui imu mereka hanya apa yang diajarkan Allah saja; tak dapat melampaui-Nya, karena hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui dan Bijaksana. Mereka menyadari, pertanyaan yang mereka ajukan sehubungan dengan rencana Tuhan akan menjadikan khalifah di muka bumi hanya akan menimbulkan keonaran. Huzur bersabda, mengamati berbagai peristiwa di dunia saat ini, pertanyaan para malaikat tersebut ada benarnya sesuai pandangan mereka. Akan tetapi, naudzubillah, pengetahuan mereka bukan berarti melebihi Allah. Karena Allah kemudian menukas, bahwa wakil/khalifah-Nya di bumi bukanlah penyebab kekacauan tersebut. Tanggung jawab terjadinya pertumpahan darah di kalangan manusia yang dirisaukan para malaikat, tidak berada di pihak Adam. Melainkan pengaruh luar atau kesalahan yang berada di dalam diri manusia itu sendiri. Seorang Khalifatullah hanya mengajarkan amar ma'ruf. Tetapi pengaruh buruk dari luar ataupun dari dalam diri manusia-lah yang menyebabkan timbulnya pertikaian. Semua rasul Allah harus menghadapi tantangan yang sama. Karena Adam adalah wakil Tuhan di muka bumi, meskipun keonaran timbul, berbagai karunia sifat Allah pun ada besertanya.
Adam pun menyatakan bahwa orang yang mutaqin tak mungkin ada jika tanpa ujian keburukan. Skenario ini menyajikan adanya pilihan kepada kebaikan atau keburukan; suatu kemampuan yang tak diberikan kepada malaikat. Kemudian Huzur mengutip sebuah syair Urdu, yang artinya: "Lebih afdhol jadi insan daripada malaikat; namun diperlukan usaha yang gigih"
Huzur bersabda, para malaikat berseru pada setiap rasul Allah diutus, bahwa ilmu mereka terbatas, sedangkan Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.
Huzur bersabda, mereka yang kini pun mengajukan berbagai keberatan dan menolak fakta yang sudah nyata, bahwa Allah telah mengutus seorang hamba pilihan-Nya pada setiap abad untuk menebar amar ma'ruf, pada hakekatnya mereka itu berkeberatan terhadap Sunatullah yang sudah berlangsung sejak dahulu kala.
Huzur bersabda, jika ayat-ayat Quran ini ditelaah lebih mendalam, maka orang akan menyadari, kaum malaikat memiliki ilmu yang terbatas, sedangkan manusia dapat meningkat terus sesuai dengan kapasitas yang Allah berikan.
Menerangkan lebih lanjut topik pembahasan, Huzur bersabda, seseorang yang telah memperoleh ilmu dan hikmah dari Allah Swt, adalah hakim, meskipun ia tak sekuat seperti yang dibayangkan pandangan duniawi. Manusia tak dapat mencapai ilmu ma'rifat yang sempurna sebagaimana Allah Swt. Inilah yang membedakan sifat Allah dengan sifat manusia.
Membacakan ayat 261 Surah Al Baqarah, Huzur bersabda, para mufasirin pada umumnya menafsirkan ayat ini secara harfiah. Sedangkan Hadhrat Muslih Maud r.a. menerangkan, ketika Hadhrat Ibrahim a.s. bertanya kepada Allah mengenai 'menghidupkan yang mati', Allah berfirman kepada beliau: 'Ambillah 4 (empat) ekor burung, lalu jinakanlah mereka"; Hal ini mengandung arti: Didiklah dengan akhlakul karimah ke-empat anak cucu beliau, yakni Ismail, Ishak, Jakub dan Jusuf. Dua di antara mereka (Ismail dan Ishak) mendapat didikan langsung dari Hadhrat Ibrahim a.s., sedangkan dua lainnya secara tidak langsung. Adapun bukit di dalam ayat ini merujuk kepada tingkatan rohani yang tinggi. Tambahan lagi, ayat ini pun mengandung hikmah, 'Kebangunan Rohani" akan terjadi dalam 4 (empat) masa. Yakni, Pertama, melalui seruan Nabi Musa a.s.; Kedua, melalui kedatangan Isa a.s.; Ketiga, dengan diutusnya Rasulullah Muhammad Saw; dan Ke-empat adalah dengan diutusnya Hadhrat Masih Mau'ud a.s. beserta dengan jamaahnya, Jemaat Ahmadiyah, yang niscaya akan membuat Hadhrat Ibrahim a.s bersuka-cita. Karena inilah gambaran perwujudan sifat Allah Yang Maha Perkasa dan Maha Bijaksana.
Maka semua ini menempatkan kita ke dalam suatu tanggung jawab besar untuk senantiasa lekat dengan ajaran mulia ini, yang dapat dicapai dengan cara menjalani hidup taqwa. Sehingga kita menjadi saksi adanya kehidupan rohani setelah mengalami kematian.
Membacakan ayat 115 Surah Al An'am (6:115) Huzur bersabda, adalah harus menjadi tanggung jawab beban setiap orang yang beriman, tak peduli penderitaan apapun yang mereka alami. Kita tidak memerlukan bantuan duniawi dari seorang pun, karena Allah adalah Hakim yang paling afdhol; Maha Bijaksana. Yang telah memberikan pesan tabligh yang sempurna kepada kita. Oleh karena itu, jika keputusan makruf Allah berada di pihak kita, maka kita tak peduli apakah sesuatu pemerintahan atau badan legislatif mereka akan memaksakan sesuatu undang-undang yang buruk. Sebaliknya, apabila Tuhan kita telah memutuskan sesuatu yang baik bagi kita, maka kita pun tidak memerlukan suatu penengah kekuatan duniawi (arbitrator).
Kini, kita semakin haqul-yaqin, bahwa Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad Qadiani adalah Imam Mahdi yang sejati – Kitabullah sudah menegaskan, bahwa Al-Masih Akhir Zaman akan berasal dari kalangan ummah [Islam]; maka apa haknya sesuatu badan legislatif suatu pemerintahan ingin menyamai dekrit Allah Taala, Hakim Yang Terbaik ? Sesungguhnya, berbagai macam penderitaan kita-lah yang akan sirna, tergantikan oleh kemenangan yang nyata. Kita tak peduli dengan berbagai fatwa mereka yang mubazir, yang hanya mejauhkan manusia dari jalan taqwa. Allah adalah sungguh Hakim Yang Maha Adil, yang berdasarkan keputusann-Nya, kita yakin dengan seyakin-yakinnya kepada segala amanat yang dibawa oleh Hadhrat Rasulullah Saw; yang akan terus berlangsung hingga hari kiamat.
Huzur bersabda, akhir-akhir ini MTA (Muslim Television Ahmadiyya) terus menerus menyiarkan seri tayangan perbincangan dengan Maulana Dost Muhammad Syahid Sahib, ahli sejarah Ahmadiyah, yang mengupas berbagai fakta dibalik Peristiwa 1974 di Pakistan. Senyatanya, mereka pihak lawan tidak memiliki dasar [untuk mengajukan keberatan terhadap Islam Ahmadiyah]. Mereka tidak dapat menjawab, dan selamanya tidak akan mampu.
InshaAllah, hanya Jemaat Ahmadiyah-lah yang senantiasa berjalan menapaki 'shiratal-mustaqim', yang akan menjadi saksi nyata perwujudan berbagai sifat Allah Swt, yang akan terus menyebar ke seluruh dunia. Amin !
transltByMMA/LA121207; Edited byMP.BudiR/MarkazJAI
Please note: Department of Tarbiyyat, Majlis Ansarullah USA takes full responsibility of anything that is not communicated properly in this message.
Minggu, 09 Desember 2007
BOGOR RICUH LAGI SOAL AHMADIYAH
BOGOR RICUH LAGI SOAL AHMADIYAH
BOGOR – Kehadiran Ahmadiyah di Bogor kembali ditentang. Gerakan Umat Islam Indosesia (GUII) Indonesia pimpinan Habib Abdurahman Assegaf mendatangi Ahmadiyah Cabang Bogor di Jalan Perintis Kemerdekaan Bogor, kemarin. Massa menolak kehadiran Ahmadiyah di daerah ini.
Sebelumnya, pada 15 Juli 2005, GUII menyerang kampus Mubarak Sekretariat Pengurus Besar Jemaat Ahmadiyah Indonesia di Desa Pondok Udik Kemang Bogor. Massa melempari kampus dengan botol, kayu, bambu dan bata. GUII menilai Ahmadiyah sebagai aliran sesat karena memiliki nabi tersendiri setelah Nabi Muhammad SAW, meskipun pihak Ahmadiyah menolak dikatakan sesat. Namun akibat peristiwa ini, ratusan jemaat Ahmadiyah dievakuasi.
Habib Abdurrahman Assegaf menyatakan ajaran Ahmadiyah termasuk sesat. Menurut dia, dalam kitabnya yang bernama Tazkiroh, ditulis jika Mirza Ghulam Ahmad merupakan nabi setelah Nabi Muhammad SAW.
"Aliran yang mereka anut sudah sesat karena dalam kitab mereka buat, mereka tidak mengakui jika Nabi Muhammad sebagai nabi terakhir, dan itu sudah menyesatkan," ujar Asegaf kepada Radar Bogor kemarin.
Situasi pun sempat ricuh, perwakilan lima anggota GUII termasuk Assegaf yang ingin berdialog dengan pimpinan Ahmadiyah tidak diizinkan masuk. Alasan mereka, pimpinan Ahmadiyah sudah berdialog dan tidak ingin ada dialog kedua. Situasi sempat memanas setelah mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah yang mengatasnamakan Forum Mahasiswa Ciputat (FORMACI) menghalang-halangi para anggota GUII untuk berdialog. Mereka menganggap Ahmadiyah merupakan aliran yang sah dan berhak untuk melaksanakan ajarannya.
"Kami atas nama Ahmadiyah berani mati untuk menjaga keutuhan Ahmadiyah," ujar Koordinator Formaci Said Hilman.
Sementara itu, untuk menghindari bentrokan lebih lebih keras, satu SSK dari Polresta Bogor bersiaga penuh. Petugas memblokade jalan keluar dari kelurahan Kebonkelapa Kecamatan Bogor Tengah. Polisi juga menyiagakan kendaraan water canon di lokasi unjuk rasa.
Kesal tidak bisa masuk, massa GUII menginjak-nginjak kitab ajaran Ahmadiyah. Menurut Assegaf , kitab itu sudah menyesatkan karena di dalamnya hanya berisi kumpulan ilham-ilham dan banyak penambahan wahyu.
Setelah dialog buntu, Assegaf mendatangi Mapolwil Bogor pada pukul 15:00 WIB. Dia melaporkan aliran Ahmadiyah yang dianggap sesat dan langsung diterima Kapolwil Bogor Kombes Pol Sabar Rahardjo.
Setelah itu, sekitar pukul 15:30 WIB ratusan anggota GUII meninggalkan Mapolwil Bogor dan kembali ke tempat asalnya di Parung Kabupaten Bogor.
"Kapolwil menyambut baik kedatangan kita, dan beliau akan menanggapi laporan kami ke Mapolri," terang Assegaf.
Sementara itu, ketua Dewan Pimpinan Cabang Ahmadiyah kota Bogor, Erick Achmad Mubarikh mengatakan, yang diinjak-injak oleh GUII bukanlah kitab suci Jemaat Ahmadiyah. Itu hanya kumpulan wahyu pendiri Jemaat Ahmadiyah, yaitu Mirza Ghulam Ahmad.
Ia juga mengatakan, reaksi yang dilakukan GUII merupakan reaksi bersifat lokal. Sedangkan reaksi di tingkat nasional, pengurus besar Ahmaiyah Indonesia sudah berdialog dengan Departemen Agama, termasuk melibatkan Majelis Ulama Indonesia (MUI).
"Dalam dialog tersebut ada persamaan, yaitu tata cara peribadatan. Hanya satu yang berbeda adalah Imam Mahdi atau Nabi Isa AlMasih yang turun setelah nabi terakhir Nabi Muhammad SAW," jelasnya.
"Penyebaran Jemaat Amadiyah telah go internasional. Bahkan sejak didirikan tahun 1925, jauh sebelum berdirinya MUI, jemaat Ahmadiyah sudah ada di 188 negara di seluruh dunia," pungkasnya. (dkw/miq)
Sumber: Radar Bogor, 8 Desember 2007/ 28 Dzulqaidah 1428 H
MARKAS AHMADIYAH GAGAL DISERBU
MARKAS AHMADIYAH GAGAL DISERBU
BOGOR, Warta Kota
Marks Pimpinan Cabang Ahmadiyah Indonesia di Jalan Perintis Kemerdekaan No 34, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, Jum'at (7/12) gagal diserbu oleh massa yang tergabung dlam Gerakan Umat Islam Indonesia (GUII) yang dikoordinir Habib Abdurahman Assegaf.
Selain karena dijaga ratusan petugas dari Polresta Bogor, puluhan Jemaat Ahmadiyah juga ikut berjaga-jaga. Namun situasi tetap mencekam dan memacetkan arus lalu lintas di kawasan tersebut.
Usai salat Jumat, puluhan orang yang tergabung dalam GUII mendatangi markas yang dijaga oleh aparat Polresta Bogor sejak pagi tersebut. Habib Abdurahman Assegaf dan empat anggotanya berhasil mendekati pintu gerbang yang saat itu sudah dijaga oleh petugas polresta Bogor. Ternyata di markas itu juga sudah berkumpul jemaat Ahmadiyah.
Habib yang berhasil memberangus markas besar Ahmadyah di Kemang, Parung itu minta izin kepada petugas untuk masuk karena ingin dsikusi tentang agama kepada pihak ahmadiyah.permintaan itu ditolak oleh Jemaat Ahmadiyah, lalu Abdurrahman pun segera meninggalkan markas itu. Di depan markas itu dipasangi poster oleh Jemaat Ahmadiyah, diantaranya bertuliskan 'Bubarkan FPI' dan 'Preman Berjubah'.
Kedatangan GUII tersebut sebagai bentuk realisasi setelah seminggu sebelumnya meminta agar jemaat Ahmadiyah segera bertobat. Namun ternyata ultimatum itu tidak diindahkan oleh para anggota jemaat Ahmadiyah.
Pada minggu lalu pimpinan Lasykar Jundullah, Zulkifli Muharam, menuntut agar jemaat Ahmadiyah bertobat dalam waktu tujuh hari. Kalau tidak, maka pihaknya akan bergabung dengan GUII untuk membubarkan segala kegiatan yang masih berlangsung di markas Jemaat Ahmadiyah tersebut. Mereka menganggap Ahmadiyah merupakan aliran sesat berdasarkan keputusan MUI, tetapi hingga kini organisasi keagamaan yang berpusat di London, Inggris tersebut masih beraktifitas seperti biasa.
Tetapi hal itu dibantah keras oleh pihak Ahmadiyah. Ketua Jemaat Ahmadiyah Kota Bogor, Erik Mubarik Ahmad, mengaku bahwa pihaknya sudah mendapatkan keputusan dari pemerintah yang menyatakan kelompoknya tidak termasuk sebagai aliran sesat. "Perlu diketahui, Jemaah Ahmadiyah sudah mendapatkan keputusan dari pemerintah bahwa aliran kami bukan termasuk aliran sesat," katanya pada Jumat (30/11) lalu.
Namun kemarin, untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan Polresta Bogor mengerahkan hamper seluruh kekuatan yang ada. Dipimpin Kabagops Polresta Bogor AKP Udin Zainudin, satu kompi personel bersiaga penuh di sekitar lokasi. Kendaraan taktis anti-massa water canon juga disiapkan di sekitar markas Ahmadiyah itu. ( akn)
Sumber: Warta Kota, 8 Desember 2007