Kamis, 31 Januari 2008

Iktisar Khutbah 25 Januari 2008

Ada sabda statement tentang Indonesia inside........

Sifat Quwwat Qudsiyah
-----------------------------------------------------------------------------------
Ikhtisar Khutbah Jumah Hazrat Khalifatul Masih V Atba
25 Januari 2008, di Masjid Agung Baitul Futuh, London, UK
-----------------------------------------------------------------------------------


Melanjutkan uraian beliau mengenai ayat 130 Surah Al Baqarah, pada Jumah ini Huzur menerangkan aspek ke-Empat dari doa Hadhrat Ibrahim a.s. berkenaan dengan keistimewaan Nabi Besar yang hendaknya dikaruniakan Allah Taala kepada keturunan beliau, ialah berupa seorang Nabi yang Al-Khatam hingga hari Qiamat, yang Alquran sudah menyempurnakan doa ini di dalam Surah Al-Jumah (62:3).
Setiap rasul Allah membawa ajaran yang dapat menarik ridha Ilahi dan mensucikan pengikutnya. Namun kekhususan daya mensucikan (quwwat qudsiyah) yang dirujuk oleh ayat Alquran yang 'nasikh' ini tampak belum pernah diwahyukan sebelumnya.
Ajaran Alquran dipenuhi dengan hikmah kebaikan. Setiap perintahnya selalu disertai alasan yang tepat dibaliknya. Setiap patah-katanya mengandung Tanda yang dapat mensucikan manusia sedemikian rupa. Oleh karena itu, daya pensucian Kitabullah ini akan terus berlaku hingga hari Qiamat, ajarannya tidak memansukh-kan satu pun ayat lainnya, sehingga tidak dapat dikatakan ada yang diperkecualikan. Rasulullah Saw adalah sosok pribadi yang memiliki daya mensucikan setiap insan, hingga hari Qiamat.
Menerangkan arti kata (Arabic) ‘tazkia’ (pensucian) Huzur bersabda hal ini mengandung arti sesuatu yang menjadi kuat, bangkit, menyebabkan, sesuatu yang tumbuh atau berkembang menjadi murni. Bukti adanya 'pertumbuhan' tersebut merujuk kepada dua kenyataan, yakni tumbuh atau berkembang dari asalnya, dan juga dari segi jumlah maupun perangkat/sumber-dayanya. Pensucian itu pun kepada dua arah, yakni segi jasmani dan juga rohani. Hadhrat Muslih Mau'ud r.a. bersabda, nabi besar yang dirujuk oleh ayat (2:130) ini tidak hanya akan mensucikan pikiran manusia, namun juga qalbunya, yang akan diisi dengan kecintaan kepada tauhid Ilahi sedemikian rupa, sehingga orang lain menyaksikan bahwa orang ini sudah menjadi seorang hamba Allah yang sejati (ubaidillah).

Arti 'Muzakki' dan 'Tazkia'
Huzur bersabda, kepada hal inilah kita hendaknya bermaksud dan bertujuan. Senantiasa beristiqamah untuk mencapainya, karena dengan cara inilah kita menjadi berhak untuk memperoleh keberkatan dari falsafah ajaran Muzakki (pensucian). Huzur menerangkan, para sahabah Rasulullah Saw telah berhasil mengikuti contoh jalan kehidupan yang telah diperlihatkan oleh Rasulullah Saw. Mengingat kembali keberadaan mereka pada masa lalu itu, hal itu merupakan salah satu Tanda istimewa dari Allah yang merupakan suatu mukjizat. Huzur kemudian membacakan satu ikhtisar tulisan Hadhrat Masih Mau'ud a.s. yang menerangkan revolusi rohani yang terjadi pada para Sahabah, segera setelah mereka beriman kepada Rasulullah Saw.; dari keadaan jahiliyah menjadi insan-insan paripurna. Inqilabi haqiqi ini terjadi dikarenakan mereka mengambil berkat dari keberadaan wujud suci yang memiliki quwwat qudsiah. Segala sifat mereka yang tidak dapat membedakan lagi antara perbuatan dosa dengan kekhilafan berubah menjadi insan-insan yang senantiasa berjuang hanya untuk kebaikan. Mereka tidak hanya mensucikan qalbu mereka karena sudah berada di lingkungan sahabi Rasulullah Saw, namun juga menablighkannya dan memperlihatkan kepada orang lain bahwa Allah ada beserta mereka, lengkap dengan berbagai buktinya yang cemerlang.
Sebagaimana telah diterangkan, salah satu arti kata ‘tazkia’ adalah sesuatu yang jumlahnya terus bertambah. Oleh karena itu, sabda Huzur, manusia akan terus menerus beriman kepada ajaran Islam, hingga akan tiba saatnya ketika agama ini unggul atas semua agama lainnya. Revolusi rohani generasi awal itu memang tidak terjadi dalam satu malam. Namun, sesuai dengan doa yang dipanjatkan oleh Hadhrat Ibrahim a.s. itu, kejahiliyahan yang sudah terjadi selama beberapa generasi itu dapat berubah dengan cara yang luar biasa. Dan untuk zaman sekarang kita menyaksikan adanya Janji Ilahi untuk menyempurnakan missi pertablighan Hadhrat Masih Mau'ud a.s.; Timbulnya berbagai penentangan tidak membuat mereka menjadi putus asa. Karena sejarah menunjukkan, selama para pengikutnya lekat dengan ajaran 'quwwat qudsiyah', maka mereka pun dapat memikat qalbu para penentang. Kita menyaksikan hal ini sejak zaman Hadhrat Masih Mau'ud a.s..

Situasi di Indonesia
Untuk mensucikan diri, kita perlu mempraktekkan berbagai ajaran Rasulullah Saw. Jika kita sudah melaksanakan hal ini dengan sebaik-baiknya, tak akan ada satu pun kekuatan duniawi yang dapat menghentikan keunggulan kita. Apakah berbagai keputusan yang mereka kenakan terhadap Jemaat di Pakistan dapat menghalangi kemajuan kita ? Sebaliknya, justru kemajuan pertablighan kita menjadi lebih cepat, yang sebelumnya tidak pernah terjadi. Huzur menasehati semua Ahmadi di seluruh dunia, bila menghadapi masalah jangan langsung berprihatin sedemikian rupa. Di Indonesia, dikarenakan adanya tekanan dari kaum ulama, pihak pemerintah bersikap kasar dan memaksakan sesuatu yang sedikitpun tidak kita yakini. Huzur bersabda, sebagaimana sudah disampaikan kepada Jama’at Indonesia, bila memang pemerintah mereka menunjukkan sikap pengecut (cowardice) sehingga mengeluarkan berbagai keputusan yang membatasi Jamaat, lakukanlah. Semua itu pada akhirnya hanya akan menarik orang-orang yang berfitrat suci. Sejarah Jamaat menyaksikan kebenaran ini, yakni, setiap pembatasan dilakukan, sama sekali tidak menghalangi kemajuan Jamaat ke tingkat yang lebih baik. Sungguh jelas, kita mendakwakan bahwa, Mirza Ghulam Ahmad Qadiani adalah Al-Masih dan Imam Mahdi sebagaimana telah dijanjikan kedatangannya oleh Nabi Muhammad Rasulullah Saw. Dikarenakan beliau telah menjadi hamba sejati Rasulullah Saw sedemikian rupa, maka Allah Swt pun memberi status kepada beliau sebagai nabi yang tidak membawa syariat. Jamaat ini akan terus berkembang. Terus tumbuh, tak ada satu pun kekuatan dunia yang dapat menghentikannya. Hal ini karena Jamaat adalah pengkhidmat sejati dari wujud 'quwwat qudsiyah' tersebut. Semakin kita mensucikan diri, maka akan semakin besar pula pertolongan dan bantuan dari Ruhul Qudus datang. (58:23)
Lebih lanjut Huzur menerangkan, adalah kewajiban orang yang beriman untuk senantiasa merujuk kepada Alquran, Sunnah dan Hadiths Rasulullah Saw.
Rasululllah Saw bersabda, 'Jauhilah kezaliman, karena perbuatan zalim hanya akan menuai kegelapan di Hari Kemudian. Jauhilah ketamakan, rakus, dan niat buruk. Karena, hal itu semua-lah yang telah memusnahkan berbagai kaum terdahulu.’
Rasulullah Saw pun menggambarkan ‘orang-orang yang merugi'’, yang mengaku berasal dari ummah beliau; mereka mengaku menampilkan citra beliau di Hari Kemudian melalui praktek ibadah Salat dan puasa mereka; namun tindakan mereka menganiaya dan merampas hak orang lain. Maka pahala amal ibadah (salat dan puasa) mereka pun dialihkan kepada orang-orang yang mereka aniaya. Itulah nasib orang-orang yang merugi'.
Huzur bersabda, ada pula mereka yang melakukan ibadah dan banyak menyumbang harta. Akan tetapi, mereka suka merampas hak orang lain. Huzur bersabda, kesucian bukanlah hanya yang tampak di permukaan, melainkan keadaan qalbunya. Berkorban harta benda hanyalah sebagai sarana untuk mensucikan diri bagi orang-orang yang dikaruniai harta.

Ekonomi Islam
Membacakan ayat 103 dan 60 Surah Taubah, Huzur bersabda, berkorban harta benda tidaklah semata dianjurkan di dalam Alquran, melainkan diuraikan pula pemanfaatannya. Pertama, adalah untuk membantu fakir miskin yang betul-betul memerlukan pertolongan. Kedua, adalah untuk mereka yang memerlukan bantuan untuk memulai usaha bisnisnya tetapi tidak memiliki modal. Ketiga, untuk membantu kesejahteraan pegawai pemerintah. Dan, Keempat adalah untuk membantu ‘mualaf (mereka yang merubah qalbunya menjadi Muslim) ’. Huzur bersabda, pada masa awal kebangkitan Islam, kategori 'mualaf' ini adalah mereka yang sudah berniat akan masuk Islam tetapi terhalang oleh berbagai keterbatasan. Juga bagi para mubayin baru yang baru masuk Islam. Akan tetapi, hal ini sama sekali tidak berarti Islam memberi bayaran kepada mereka yang masuk kepadanya. Huzur bersabda, untuk zaman sekarang ini, untuk keperluan syiar tabligh-pun dapat dimasukkan pula ke dalam kategorinya. Tujuan lainnya yang dimaksudkan ayat Alquran ini adalah untuk membebaskan perbudakan. Huzur bersabda, meskipun hal ini tampak tidak berlaku lagi, namun di berbagai negara, seperti Pakistan, ada yang memberikan pinjaman kepada pembantu rumah tangga (PRT) mereka sedemikian rupa sehingga mereka terikat ke dalam perbudakan. Kepada praktek semacam inilah kini orang bersuara keras. Pihak pemerintah berkewajiban memberi solusi yang baik bagi kedua-belah pihak. Tidak berpihak kepada salah satu pihak.
Huzur menerangkan, dana amanah tersebut dapat juga digunakan untuk menolong orang yang menderita kerugian dalam menjalankan bisnis mereka; dan juga untuk dibelanjakan kepada berbagai hal jaiz lainnya. Tidak dilupakan juga untuk membantu musafirin (orang yang sedang dalam berperjalanan) yang terhambat perjalanan mereka dikarenakan kehabisan perongkosan. Juga untuk para pelajar dan mahasiswa yang memerlukan untuk kelanjutan studi mereka. Huzur bersabda, seandainya berbagai pemerintahan Islam dapat menjalankan perintah ini dengan niat dan pengelolaan sebaik-baiknya, niscaya citra Islam yang baik pun akan muncul di dunia. Tidak tersaingi oleh sistem lainnya; dan berbagai keberatan terhadap Islam pun sirna.
Huzur bersabda, Jamaat, meskipun dengan jumlah dana yang terbatas, berusaha melaksanakan sistem ekonomi Islami; yang bagi pemerintahan Islam dapat mempraktekkannya dengan cara yang lebih baik. Seperti di Pakistan misalnya, sebetulnya mereka memiliki berbagai sumber dana yang dapat mengatasi kemiskinan. Huzur bersabda, sistem ekonomi Islam ini tidak hanya untuk kemanfaatan kaum Muslimin, melainkan mereka yang non-Muslims pun dapat memanfaatkannya.

Berbagai Ajaran Islam
Menerangkan lebih lanjut mengenai perkara kesucian, Huzur membacakan Surah Al-Baqarah ayat 223, kemudian bersabda, Allah menyukai kebersihan. Dan sesungguhnya, di dalam ajaran Islam terdapat perintah khusus yang berkenaan dengan kesehatan mulut dan gigi, kesehatan diri pribadi, dan kesehatan lingkungan. Untuk yang berkaitan dengan perkara ibadat, ada persyaratan berwudhu yang baik. Ada perintah mandi yang baik menjelang Salat Jumah. Larangan masuk ke masjid sehabis memakan sesuatu yang menimbulkan bau menyengat. Pendek kata, standar kebersihan bagi kaum Muslimin demikian tingginya, sehingga mereka pun sangat dianjurkan untuk melaksanakannya.
Dalam perkara kesehatan lingkungan, Huzur bersabda, ada setengah orang bersalah-faham bahwa kemiskinan terkait dengan kejorokan. Namun Rasulullah Saw menekankan bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman. Huzur membacakan beberapa Hadith untuk menerangkan perkara ini lebih lanjut. Kemudian menyampaikan, dalam suatu jalan pagi, beliau bertemu dengan anak-anak yang masih tampak kusut-masai baru bangun tidur, pergi ke sekolah. Huzur bersabda, hendaknya para orang tua memperhatikan hal ini. Manakala cuaca panas dan banyak mengeluarkan keringat; di beberapa tempat, masih dijumpai kekurangan air. Maka harus diupayakan, agar tersedia fasilitas untuk mandi paling kurang satu kali dalam sehari.
Huzur bersabda, kebersihan hati adalah segala-galanya. Ada tiga perkara yang menghalangi kesucian manusia. Pertama, adalah sifat iri hati, yang dapat menimbulkan berbagai masalah. Oleh karena itu, ketika kita berdoa mohon perlindungan dari pengaruh buruk sifat cemburu sebagaimana disebutkan di dalam Surah Al Falaq (113:4). Perlu berupaya untuk menghilangkan sifat iri hati terhadap kelebihan [harta] orang lain. Rasulullah Saw bersabda, 'Hindarilah sifat iri hati, karena hal itu laksana api yang membakar rumput kering.’ Huzur bersabda, bila orang mengindahkan kewajiban menunaikan hak orang lain (haququl ibad), maka niscaya tidak akan ada sifat iri hati ataupun dengki. Bila ada setengah orang yang membelanjakan hartanya untuk hal-hal yang konsumtif alih-alih untuk hal-hal yang baik, maka mereka pun akan saling bersaing.
Perkara lainnya adalah dusta. Huzur bersabda, adalah penting untuk menghindari segala bentuk kedustaan. Karena kedustaan mengerah kepada perbuatan syirik. Rasulullah Saw sangat menganjurkan selalu berkata-kata benar, karena akan mengarahkan manusia kepada Surganya. Sedangkan kedustaan mengarahkan manusia kepada kesusahan dan Jahanam. Semoga Allah senantiasa menjauhkan kita semua dari prakek keburukan ini.
Perkara ketiga yang menimbulkan banyak masalah adalah kebiasaan buruk meminjam uang dan tidak mengembalikannya. Ada setengah orang yang berkilah dengan berbagai alasan untuk tidak mengembalikan pinjaman dengan menuduh si pemberi pinjaman dengan hal-hal yang tidak benar. Huzur bersabda, hal ini bukanlah citra orang yang bersih hati. Sesungguhnya kita harus memperlihatkan sikap dan perbuatan dari wujud 'quwwat qudsiyah'. Huzur bersabda, jika keadaan si peminjam memang belum memungkinkan mengembalikan pinjamannya, maka harus diberi tangguh. Dan perlu memberikan jaminan kepada si pemberi pinjaman.
Akhirnya, Huzur mendoakan semoga Allah memudahkan kita semua untuk melaksanakan ajaran Rasulullah Saw, dan dimasukkan ke dalam golongan yang Allah firmankan:
‘Qad aflaha, man tajakkaa....; Sesungguhnya, mereka yang sejahtera adalah yang mensucikan dirinya,’ (87:15)
Semoga Allah senantiasa memasukkan kita semua ke dalam golongan mereka yang suci murni.


-------------------------------------------------------------
transltByMMA/LA012908; Edited byMP.BudiR/MarkazJAI
Please note: Department of Tarbiyyat, Majlis Ansarullah USA takes full responsibility of anything that is not communicated properly in this message.






Senin, 28 Januari 2008

Ikhtisar khutbah 18 Jan 2008

Arti Kata 'Hikmah'
(Yu'alimul Kitaba wal Hikmah)
---------------------------------------------------
Ikhtisar Khutbah Jumah Hadhrat Khalifatul Masih V Atba
18 Januari 2008 di Masjid Agung Baitul Futuh, London - UK

----------------------------------------------------
Huzur melanjutkan topik pembahasan ayat 130 Surah Al Baqarah pada Khutbah Jumah beliau ini. Terjemahan ayat tersebut adalah sebagai berikut:

'And, Our Lord, raise up among them a Messenger from among themselves, who may recite to them Thy Signs and teach them the Book and Wisdom and may purify them; surely, Thou art the Mighty, the Wise'.

Huzur bersabda, pada Jumah ini beliau akan menerangkan aspek ke-3 doa Hadhrat Ibrahim a.s. sebagaimana tercantum pada ayat di atas. Aspek ke-3 doa yang beliau panjatkan untuk kedatangan nabi besar tersebut, ialah hendaknya mengajarkan juga hikmah (tafsir) dari Kitabullah tersebut. Huzur bersabda, beliau telah menerangkan maksud arti kata 'hikmah' pada beberapa Khutbah Jumah yang lalu; yakni berkaitan dengan bersikap 'fair', berbuat adil sedemikian rupa (absolute justice), ilmu pengetahuan, cerdas, dan menggunakan sesuatu dengan tepat pada tempat dan waktunya. Pada Jumah ini Huzur menerangkan arti kata 'hikmah' yang merujuk kepada Rasulullah Saw dan Alquran yang diwahyukan kepada beliau.
Huzur bersabda, kata 'hikmah' pada ayat yang telah dibacakan tadi mengandung arti bahwa Rasul Allah tersebut akan menegakkan keadilan. Dan Alqur’an di beberapa tempat telah menunjukkan dikabulkannya doa ini sesuai dengan contoh amal perbuatan beliau. Juga, ajaran syariat Islam ini akan terus berlangsung selamanya, disertai dengan contoh pengamalannya dari Rasulullah Saw yang tiada lain adalah citra pelaksanaan nash-nash Alquran. Dialah Hakaman Adalan. Huzur bersabda, memang sangat musykil untuk mencapai derajat rohani yang sama dengan Rasulullah Saw. Akan tetapi, setiap orang mukmin hendaknya berusaha sekuat tenaga sesuai dengan kemampuan masing-masing untuk mengikuti jejak langkah beliau yang berberkat itu.

Membahas hikmah yang diperlihatkan oleh Rasulullah Saw dalam kaitannya dengan berbuat adil (absolute justice), Huzur membacakan beberapa peristiwa dalam kehidupan beliau.
Ba'da Perang Hunain, Rasulullah Saw membagikan 'ghonimah' (harta sitaan perang) dengan memberi kelebihan kepada beberapa orang sahabah tertentu. Maka seorang sahabah yang lain pun datang menghampiri dan bertanya, ‘Demi Allah, pada pembagian ghonimah ini aku tidak melihat adanya keadilan. Bukankah Allah pun tidak akan meridhoinya. Rasulullah Saw menjawab, 'Bila Allah dan Rasul-Nya tidak berbuat adil, siapa lagi yang akan menegakkannya. Kemudian beliau menjelaskan hikmah perbuatan beliau tersebut, bahwa beliau tidak bermaksud menafikkan hak sahabah lainnya; melainkan, yang beliau bagikan tersebut adalah hak pribadi beliau sebanyak 1/5-nya. Kemudian menambahkan, hal ini dikarenakan beliau melihat [melalui pandangan rohani beliau], adanya kelemahan iman dan tamak di antara mereka.
Huzur menerangkan satu peristiwa lainnya: Ketika Surah Al Nasr diwahyukan, para sahabah pun menyadari kemangkatan Rasullah Saw sudah kian mendekat. Dan Rasulullah Saw pun menyinggung masalah ini dalam salah satu Khutbah, yang tentu saja ditanggapi oleh para sahabah dengan penuh keharuan. Terlebih lagi ketika beliau Saw mengumumkan tawaran: Barangsiapa yang akan menuntut sesuatu balas silakan sekaranglah saatnya. Seorang sahabah yang berusia lanjut bernama Ukasha berdiri, lalu berkata: 'Dalam suatu peperangan, ketika aku turun dari onta, punggungku terkena pukulan tongkat pemacu onta Rasulullah. Entah itu disengaja atau tidak, sekarang aku menuntut balas. Rasulullah Saw menjawab: Sudah barang tentu, seorang Rasul Allah pasti melakukannya tak sengaja. Namun beliau meminta agar Hadhrat Bilal r.a membawa tongkat itu dan memberikannya kepada Ukasha untuk melakukan aksi pembalasannya. Hadhrat Abu Bakr, Hadhrat Umar dan Hadhrat Ali r.a. yang menjadi gusar atas “kelancangan” Ukasha segera berdiri dan meminta agar diri beliau-beliau saja yang dipukul. Terlebih lagi Hadhrat Hassan dan Hadhrat Hussein r.a., para cucu pertama Rasulullah Saw. Namun Ukasha tetap bersikukuh, ia menuntut balas dari Rasulullah Saw, sambil menambahkan, waktu terkena pukulan itu punggungnya terbuka. Maka Rasulullah Saw pun membuka kemeja belakang beliau sambil mempersilakan Ukasha untuk memukulnya. Tentu saja para sahabah naik pitam dan siap menangkapnya. Namun Ukasha tetap mendekat dan langsung memeluk dan menciumi punggung Rasulullah Saw sambil berkata haru, 'Tak akan ada seorang pun yang terlintas di pikirannya untuk menuntut balas kepada wujud yang mempraktekkan berbagai falsafah keadilan dengan seadil-adilnya ini. Dalihku hanyalah untuk mencari kesempatan untuk menunjukkan kecintaanku kepada pribadi yang sungguh mulia ini. Namun Rasulullah Saw bersabda, Oo..Ukasha apakah tuan mau membalas atau memaafkan ? Ukasha menjawab, 'Ya Rasulullah, hamba memaafkan tuan, karena hamba berharap dengan mengampuni tuan, Allah pun akan mengampuni segala dosa hamba di Akhirat. Maka Rasulullah Saw pun bersabda, 'Barang siapa yang ingin melihat sahabahku di Surga, lihatlah Ukasha. Para sahabah pun segera memeluk Ukasha berganti-gantian, tak mengira akal cerdiknya.

Selanjutnya Huzur membacakan beberapa ayat Alquran yang merujuk kepada kewajiban untuk berbuat adil (absolute justice). Membacakan ayat 91 Surah Al Nahl (16:91): “Innalaaha ya'muru bil'adli wal-ihsan wa itaa'idzil qurba. Wa yanhaa anil fahsyaa'i wal munkar wal baghyi. Ya'idhukum la'allakum tadzakaruun.”
Huzur bersabda, ayat ini merupakan ajaran yang sangat ber-nash untuk mengatasi berbagai masalah sosial maupun yang terkait dengan masalah hubungan internasional. Yakni, manakala keburukan berhasil dihilangkan, maka berbagai tingkat amar-maruf yang berkeadilan pun dapat ditegakkan. Berbuat ita'idzil-qurba (absoute justice) lebih mulia dibandingkan dengan keberpihakan dan kebaikan, karena ditegakkan atas dasar takut kepada Allah (taqwa). Bukan pula sesederhana menghukum atau mengampuni, sebab seringkali tidak merubah perilaku. Melainkan amal salih yang berkeadilan yang disesuaikan dengan situasi dan kondisinya. Hadhrat Masih Mau'ud a.s. bersabda, berbuat baik pada waktu yang tidak tepat adalah keliru. Begitupun tidak melakukan amal salih pada saat yang diperlukan. Lihatlah contoh seorang ibu yang memperlihatkan kasih sayangnya kepada anaknya. Orang melakukan amal salih ada 3 (tiga) tingkatannya: Pertama, adil, ialah melakukan kebaikan dengan harapan mendapat ganjaran yang setara. Kedua, ihsan, ialah melakukan kebaikan dengan ikhlas, semata-mata demi untuk membantu meringankan orang lain. Dan yang Ketiga, ita'idzil qurba, yakni berbuat baik dengan tidak mengharapkan sesuatu balasan ataupun ucapan terimakasih, sebagaimana seorang ibu terhadap anaknya. Maka berbuat baik dan adil tetapi tidak disertai dengan hikmah kebaikan di dalamnya adalah bukan amalan-shalihan.

Huzur membacakan ayat 9 Surah Al Maidah (5:9) kemudian bersabda, bila seseorang mengaku beriman, maka ia berkewajiban untuk mendukung keadilan. Orang yang senantiasa berpikiran untuk melakukan amal seperti itu maka ia pun ber-naluriah untuk selalu beramal ita-idzil qurba itu.

Kemudian Huzur melanjutkan, arti kata 'hikmah' pun dapat berarti juga berarti pengetahuan yang sempurna, sebagaimana beliau sudah sampaikan pada Khutbah yang lalu, bahwa melalui Islam dan Alquran, Allah telah menyempurnakan ajaran agama-Nya. Kitabullah yang berberkat ini mengandung banyak nubuatan yang sebagian besar di antaranya sudah sempurna. Padahal, bentuk penggenapan berbagai nubuatan tersebut belum terpikir oleh manusia pada 1.400 tahun yang lampau. Bahkan oleh mereka yang hidup beberapa ratus tahun yang lalu.

Huzur membacakan ayat 20 hingga 24 Surah Al Rahman (55:20-24) kemudian menerangkan maksud nubuatan ayat ini adalah akan bersatunya dua lautan yang mengacu kepada Laut Merah dan Laut Tengah dalam bentuk Terusan Suez. Juga Terusan Panama yang menyatukan Lautan Atlantic dengan Lautan Pacific. Huzur bersabda, nubuatan ini telah disampaikan ketika manusia belum mempunyai ilmu tentang hal itu.

Sedangkan ayat 31 Surah Al Anbiya (21:31) jelas mengemukakan konsep ilmyiah dunia astronomi yang kini dikenal dengan konsep the Big Bang (Ledakan Besar terciptanya alam semesta). Menerangkan ayat 48 Surah Al Dhariyat (51:48) Huzur bersabda, seiring dengan semakin meningkatnya ilmu pengetahuan dan teknologi manusia saat ini, maka ayat ini pun dapat ditafsirkan dengan mudah. Hadhrat Khalifatul Masih rh.a menerjemahkan ayat ini sebagai berikut: 'And We have built the heaven with might and We continue to expand it indeed’. Dengan ditemukannya teleskop elektronik oleh Edwin Hubble, terbukti bahwa alam semesta ini memang terus berkembang (expanding). Huzur mengingatkan, ketika ayat ini diwahyukan, tak ada seorang pun yang berpikiran bahwa alam semesta ini berkembang terus. Bahkan beberapa bulan yang lalu, sebuah Jurnal iptek melaporkan, alam semesta ini telah berkembang lebih cepat dibandingkan waktu-waktu sebelumnya.

Huzur bersabda, para ahli iptek Muslim, khususnya para saintist Ahmadi tidak hanya akan ber-ephoria terhadap Alquran setelah membuat berbagai pernyataan penemuannya berdasarkan ayat-ayat Quran. Melainkan akan terus melakukan berbagai riset ilmiyah lainnya berdasarkan Alquran; seperti yang telah dilakukan oleh Dr. Abdus Salam. Huzur bersabda, Alquran Karim dipenuhi berbagai khazanah ilmu pengetahuan yang akan terus dibukakan rahasianya hingga hari Qiamat. Sebagaimana hikmah lainnya dalam berbagai perintah Syariat di dalam Alquran, Huzur membacakan ayat 46 Surah Al Ankabut (29:46) yang mengemukakan pentingnya mendirikan ibadah Salat. Huzur bersabda, perintah ini untuk seluruh umat, yang menunjukkan jalan bagaimana caranya membina tali hubungan dengan Allah Swt. Hadhrat Masih Mau'ud a.s. bersabda, Salat adalah perangkat untuk melindungi diri pribadi, dan merupakan sumber keberkatan yang sangat penting.
Selanjutnya Huzur membacakan ayat 31 Surah Al Hajj (22:31) kemudian bersabda, di dalam ayat ini berkata dusta dihubungkan dengan penyembahan berhala untuk menunjukkan betapa seriusnya perkara ini. Orang yang berdusta berarti menganggap 'berhala kedustaannya' itu dapat membantunya. Padahal, hanya kebenaran sejatilah yang akan unggul. Hadhrat Masih Mau'ud a.s. bersabda, tak ada yang lebih dicela selain kedustaan. Beliau mengemukakan pernah menghadapi tujuh kali persidangan pengadilan, dan tidak pernah sekalipun berkata dusta. Ternyata beliau memenangkan semua perkara itu.
Kemudian Huzur membacakan ayat 35 Surah Al Ahzab, (33:35) yang terjemahannya sebagai berikut:
‘And remember what is rehearsed in your houses of the Signs of Allah and of wisdom. Verily Allah is the Knower of subtleties, All-Aware’.
Huzur menerangkan, memang berpahala manakala membaca Alquran. Tetapi maksud utamanya adalah menjalankannya dalam kehidupan sehari-hari dengan mengikuti contoh Rasulullah Saw. Huzur bersabda, pernyataan sifat Al Latif (Yang Maha Mengetahui hal-hal yang halus) di dalam ayat tersebut menunjukkan bahwa Allah mengetahui yang tampak maupun yang ghaib. Dan sebelum kita dapat melaksanakan contoh ajaran mulia Rasulullah Saw dalam kehidupan sehari-hari, belumlah dianggap sebagai mukmin sejati. Semoga Allah memudahkan kita semua untuk memahami dan melaksanakan ajaran yang amat mulia ini.

----------------------------------------
transltByMMA/LA012108; Edited byMP.BudiR/Bdg
Please note: Department of Tarbiyyat, Majlis Ansarullah USA takes full responsibility of anything that is not communicated properly in this message




Jumat, 25 Januari 2008

Ahmadiyah Tidak Termasuk Aliran Sesat

Tanggapan Atas Sepuluh Kriteria Aliran Sesat dari MUI


Rapat Kerja Nasional (Rakernas) 4-6 November 2007 lalu di Hotel Sari Pan Pacifik, Majlis Ulama Indonesia (MUI) telah menetapkan sepuluh kriteria aliran sesat.

Dalam dialog yang diprakarsai Balitbang Departemen Agama November 2007, pihak Ahmadiyah telah mengemukakan tanggapan atas kesepuluh kriteria MUI tersebut. Pada kesempatan itu Amir Jemaat Ahmadiyah Indonesia mengemukakan satu persatu tanggapan atas kesepuluh kriteria tersebut dan membuktikan bahwa Ahmadiyah tidak tergolong aliran sesat sesuai dengan sepuluh kriteria yang ditetapkan MUI tersebut. Dibawah ini tanggapan yang dikemukakan pihak Ahmadiyah.

1. Mengingkari salah satu rukun Iman dan rukun Islam,

Tanggapan: Ahmadiyah berpegang teguh kepada rukun Iman dan rukun Islam sebagaimana pernyataan pendiri Jemaat Ahmadiyah, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, “Sesungguhnya kami orang-orang Islam yang beriman kepada Allah yang Tunggal, yang segala sesuatu bergantung pada-Nya, yang MahaEsa, dengan pengakuan ‘tidak ada Tuhan kecuali Dia’; kami beriman kepada kitabullah Al Qur’an dan Rasul-Nya, paduka kita Muhammad Khataamun Nabiyyin; kami beriman kepada Malaikat, Hari Kebangkitan, Surga dan Neraka . . . dan kami menerima setiap yang dibawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik kami mengerti maupun kami tidak mengerti rahasianya serta kami tidak mengerti hakikatnya; dan berkat karunia Allah, aku termasuk orang-orang mukmin yang meng-esakan Tuhan dan berserah diri.” (Nurul Haq, Juz I, halaman 5)

2. Meyakini atau mengikuti akidah yang tidak sesuai dengan dalil syar’i (Al Qur’an dan As Sunnah),

Tanggapan: Ahmadiyah tidak meyakini atau mengikuti akidah yang tidak sesuai dengan Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW. Pendiri Ahmadiyah menyatakan dengan tegas: “Tidak masuk kedalam Jemaat kami kecuali orang yang telah masuk ke dalam Islam dan mengikuti Kitab Allah dan Sunnah-sunnah pemimpin kita sebaik-baik manusia (Muhammad Rasulullah SAW) dan beriman kepada Allah, Rasul-Nya yang MahaMulia yang Maha Pengasih dan beriman kepada khasyr dan nasyr, surga dan neraka jahiim; dan berjanji dan berikrar bahwa ia tidak akan memilih agama selain agama Islam dan akan mati diatas agama ini, agama fitrah, dengan berpegang teguh kepada kitab Allah yang Maha Tahu; dan mengamalkan setiap yang telah ditetapkan dari Sunnah, Al Qur’an dan Ijma’ para sahabat yang mulia; siapa yang mengabaikan tiga perkara ini sungguh ia telah membiarkan jiwanya dalam api neraka. (Lihat buku Ruhani Khazain jilid XIX, hal.315 dan Mawahibur-Rahman, hal 96).

3. Meyakini turunnya wahyu sesudah Al Qur’an,

Tanggapan: Ahmadiyah meyakini Al Qur’an itu wahyu Allah yang mengandung syariat yang lengkap dan terakhir, karena itu tidak akan turun lagi wahyu sesudah Nabi Muhammad SAW yang mengandung syariat yang mengganti atau merubah syariat Al Qur’an.

Keyakinan Ahmadiyah tentang wahyu didasarkan pada surah Asy Syura, 42:52 yang artinya, “Dan tidaklah mungkin bagi manusia agar Allah berfirman kepadanya, kecuali dengan wahyu langsung atau dari belakang tabir atau dengan mengirimkan seorang Rasul guna mewahyukan apa yang dikehendaki-Nya dengan izin-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Luhur, Maha Bijaksana.”

Kalimat ‘yukallimahullahu’ dalam ayat ini berbentuk fi’il mudhori yang menunjukkan waktu sekarang, dan akan datang. Ini menunjukkan bahwa adanya wahyu adalah kekal sebagaimana kekalnya Dzat Allah Taala sebab ia terbit dari sifat mutakallim Allah Yang Maha Kekal.

Sedangkan wahyu yang diturunkan hanya untuk menjelaskan dan menjunjung tinggi Al Qur’an akan tetap ada dan tetap diperlukan sampai kiamat dan wahyu-wahyu semacam itu pernah diterima para Sahabat Nabi Muhammad SAW. Sesudah Rasulullah Muhammad SAW wafat, para sahabat yang akan memandikan jenazah nabi Muhammad SAW menerima wahyu tentang bagaimana hendaknya jenazah Rasulullah Muhammad SAW , “Mandikanlah Nabi SAW sedang padanya ada pakaiannya.” (Hadits Al Baihaqi dari Siti Aisyah r.a. dalam Tarikhul Kamil jil. 2 halaman 16 dan Misykatus Syarif, jil. 3 babul Kiromat hal. 196-197). Imam Syafi’i, Imam Ahmad bin Hambal, Muhyiddin Ibnu Arabi dan lain-lain, juga pernah menerima wahyu jenis ini. (tentang hal ini dapat dibaca pada buku Muzhatul-Majalis, jil. 1 hal. 107, babul-khilmi washfchi; Al Mathalibul Jamaliyah, Cetakan Mesir tahun 1344 halaman 23; dan Al futuhatul Makiyyah, jilid III, halaman 35).

Pendapat yang mengatakan bahwa sama sekali tidak ada wahyu dalam bentuk apapun setelah kewafatan Rasulullah Muhammad SAW sama saja dengan mengatakan bahwa sifat mutakallim Allah Taala telah terhenti, dengan kata lain Allah telah mengalami pengurangan dalam sifat-sifat-Nya. Bila salah satu sifatnya dinyatakan telah tidak berlaku lagi maka tidak tertutup kemungkinan bagi sifat-sifat-Nya yang lain akan berkurang dan ini akhirnya merusak keimanan seseorang kepada Allah.

4. Mengingkari autentisitas dan kebenaran Al Qur’an,

Tanggapan: Ahmadiyah meyakini Al Qur’an yang kita warisi sekarang ini asli sebagaimana diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dulu, dan Ahmadiyah menerimanya secara utuh. Pendiri Ahmadiyah menyatakan: “Siapa yang menambah atau menguranginya maka mereka itu tergolong setan.” (lihat, Mawahibur Rahman, halaman 285) ”…. Kami tidak menambah sesuatu dan tidak pula mengurangi sesuatu dari Al Qur’an dan diatasnya kami hidup dan mati. Siapa yang menambah pada syariat Al Qur’an ini seberat dzarroh (atom) atau menguranginya atau menolak akidah ijma’iyah. Maka baginya kutukan Allah, malaikat dan manusia semuanya.” (Anjami Atham, halaman 144) ; “…Al Qur’an itu sesudah Rasulullah SAW (wafat) terpelihara dari perubahan orang-orang yang merubah dan kesalahan dari orang-orang yang menyalahkan; dan Al Qur’an itu tidak akan dimanshukhkan dan tidak akan bertambah dan berkurang sesudah Rasulullah (wafat).” (lihat, Ainah Kamalati Islam, halaman 21).

5. Menafsirkan Al Qur’an yang tidak berdasar kaidah-kaidah tafsir,

Tanggapan: Ahmadiyah menafsirkan Al Qur’an berdasarkan 7 kaidah penafsiran yang satu dengan lainnya tidak boleh saling bertentangan, yaitu:

(A) Dengan Al Qur’an sendiri. Tafsir suatu ayat tidak boleh bertentangan dengan ayat yang lain,

(B) Dengan tafsir Rasulullah SAW. Jika satu arti dari ayat Al Quran terbukti telah diartikan oleh Rasulullah SAW maka kewajiban seluruh orang Islam untuk menerima itu tanpa keraguan dan keseganan sedikitpun,

(C) Dengan tafsir para Sahabat Rasulullah SAW. Sebab mereka adalah pewaris utama dan pertama dari nur ilmu-ilmu nubuwat Rasulullah SAW,

(D) Dengan merenungkan isi Al Quran dengan jiwa yang disucikan,

(E) Dengan Bahasa Arab,

(F). Dengan hukum Alam, sebab tidak ada pertentangan antara tatanan rohani dengan tatanan alam semesta,

(G) Dengan tafsir yang diperoleh melalui bimbingan langsung dari Allah seperti wahyu, mimpi, dan kasyaf. (disarikan dari buku ‘Barakatud do’a’, karya Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad).

6. Mengingkari kedudukan hadist Nabi sebagai sumber ajaran Islam,

Tanggapan: Ahmadiyah tidak pernah mengingkari kedudukan Hadits sebagai sumber ajaran Islam. Pendiri Jemaat Ahmadiyah menegaskan, “Sarana petunjuk ketiga adalah Hadits, sebab banyak sekali soal-soal yang berhubungan dengan sejarah Islam, budi pekerti, fiqh dengan jelas dibentangkan di dalamnya. Faedah besar daripada Hadits selain itu ialah, Hadits merupakan khadim (abdi) Al Qur’an.” (Bahtera Nuh, bahasa Indonesia, edisi kelima, halaman 87-8 8)

7. Menghina, melecehkan dan atau merendahkan Nabi dan Rasul,

Tanggapan: Ahmadiyah tidak pernah menghina, melecehkan atau merendahkan Nabi dan Rasul. Ahmadiyah menghormati dan mengimani semua Nabi dan Rasul Allah sebagaimana Al Qur’an mengajarkan kepada kaum Muslim, “Kami tidak membeda-bedakan di antara seorangpun dari Rasul-Rasul-Nya yang satu terhadap yang lain.” (Al Baqarah: 286).

8. Mengingkari Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rasul terakhir,

Tanggapan: Ahmadiyah tidak mengingkari Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rasul terakhir yang membawa syari’at. Nabi Muhammad SAW sendiri memberitakan bahwa di akhir zaman akan turun Isa Ibnu Maryam yang kedudukannya adalah Nabi, (Hadits Bukhari, Kitabul Anbiya’, bab Nuzul Isa Ibnu Maryam), namun tidak membawa syari’at baru melainkan menegakkan syari’at Islam.

9. Mengubah, menambah, dan mengurangi pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan syariat,

Tanggapan: Ahmadiyah tidak pernah mengubah, menambah dan atau mengurangi pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan syariat, bahkan Ahmadiyah berupaya melaksanakan semua sunnah Rasulullah SAW dan Ijma’ sahabatnya Yang Mulia. Pendiri Ahmadiyah menyatakan : “Kami berlepas diri dari semua kenyataan yang tidak disaksikan syariat Islam.” (Tuhfah Baghdad, halaman 35)

10. Mengafirkan sesama Muslim tanpa dalil syar’i,

Tanggapan: Ahmadiyah tidak pernah dan tidak akan mengafirkan seorangpun yang mengaku Islam atau mengucapkan dua Kalimah Syahadah.

Perlu diingat dan dipedomani bahwa Nabi Besar Muhammad SAW telah membuat definisi seorang dikatakan Muslim yang didasarkan atas amal seseorang dan bukan atas niat atau pikiran yang ada dalam benaknya. Misalnya, “Siapa saja yang shalat sebagaimana shalat kami, menghadap kepada kiblat kami dan memakan sesembelihan kurban kami, maka itu petunjuk bagimu (bahwa ia adalah) seorang muslim. Ia menjadi tanggungan Allah dan Rasul-Nya. Oleh karena itu, janganlah kamu merusak tentang tanggungan Allah itu.” (Bukhari dan An Nasaai dan Kanzul Umal juz 1/398).

Dengan demikian Ahmadiyah sama sekali tidak termasuk kedalam aliran sesat. (Jakarta, 8 November 2007, P.B. Jemaat Ahmadiyah Indonesia) []


Kamis, 24 Januari 2008

Klarifikasi Ahmadiyah: The Jakarta Pos.com

Jamaah Ahmadiyah tidak pernah berubah keyakinan.. Tidak pula bertaqiyah.. Ahmadiyah dari dulu memang tidak pernah sesat
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
AMJ's clarification

The Ahmadiyya Muslim Jama'at (AMJ) responded to an article printed in The Jakarta Post, which made a number of false claims about the community.

The article titled "Govt spares Ahmadiyah with no ban" (Jan. 16, p. 1) said the Indonesian Government had chosen not to ban the Ahmadiyya Jama'at due to an apparent reversal, by the Ahmadiyya Jama'at, regarding the status of its founder, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad of Qadian.

Speaking about the article and clarifying the position of the Ahmadiyya Jama'at, the central Press Secretary, Abid Khan said: "On behalf of the Ahmadiyya Jama'at I would like to state that we are very disappointed by the aforementioned article printed in the Post.

This article suggested that our Community had, God forbid, changed its position regarding the status of Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad of Qadian.

To clarify, it is an inherent part of our faith and belief that Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad of Qadian is the Promised Messiah and Mahdi (Guided One).

Every true Ahmadi Muslim shares the same belief that the Founder of the Community is the same Messiah and Mahdi whose advent was foretold by the Holy Prophet of Islam.

The Holy Prophet Muhammad (peace and blessings be upon him) was the final law-bearing Prophet and he brought a complete and perfect teaching.

Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad was the true Promised Messiah and Mahdi, who came to rejuvenate the message of Islam and therefore we most certainly recognize and accept him as a true Prophet of God Almighty.

It is hoped the Post recognizes and rectifies the mistakes it made in the aforementioned article."

ABID KHAN

Press Secretary

Ahmadiyya Muslim Association

London

Selasa, 15 Januari 2008

12 Butir Penjelasan Jemaat Ahmadiyah Indonesia

PENJELASAN
PENGURUS BESAR JEMAAT AHMADIYAH INDONESIA

( P B J A I )

TENTANG POKOK-POKOK KEYAKINAN DAN KEMASYARAKATAN WARGA JEMAAT AHMADIYAH INDONESIA



  1. Kami warga Jemaat Ahmadiyah sejak semula meyakini dan mengucapkan dua kalimah syahadat sebagaimana yang diajarkan oleh Yang Mulia Nabi Muhammad Rasulullah SAW yaitu, Asyhadu anlaa-ilaaha illallahu wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah, artinya: aku bersaksi bahwa sesungguhnya tiada tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa sesungguhnya Muhammad adalah Rasulullah.

  1. Sejak semula kami warga Jemaat Ahmadiyah meyakini bahwa Muhammad Rasulullah adalah Khatamun Nabiyyin (nabi penutup).

  1. Di antara keyakinan kami bahwa Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad adalah seorang guru, mursyid, pembawa berita gembira dan peringatan serta pengemban mubasysyirat, pendiri dan pemimpin Jemaat Ahmadiyah yang bertugas memperkuat dakwah dan syiar Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW.

  1. Untuk memperjelas bahwa kata Rasulullah dalam 10 syarat bai'at yang harus dibaca oleh setiap calon anggota Jemaat Ahmadiyah bahwa yang dimaksud adalah Nabi Muhammad SAW, maka kami mencantumkan kata Muhammad di depan kata Rasulullah.

  1. Kami warga Jemaat Ahmadiyah meyakini bahwa:

a. Tidak ada wahyu syariat setelah Al-Quranul Karim yang diturun-kan kepada Nabi Muhammad SAW;

b. Al-Quran dan sunnah Nabi Muhammad Rasulullah SAW adalah sumber ajaran Islam yang kami pedomani.

  1. Buku Tadzkirah bukanlah kitab suci Ahmadiyah, melainkan catatan pengalaman rohani Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad yang dikumpulkan dan dibukukan serta diberi nama Tadzkirah oleh pengikutnya pada tahun 1935, yakni 27 tahun setelah beliau wafat (1908).

  1. Kami warga Jemaat Ahmadiyah tidak pernah dan tidak akan mengkafirkan orang Islam di luar Ahmadiyah, baik dengan kata-kata maupun perbuatan.

  1. Kami warga Jemaat Ahmadiyah tidak pernah dan tidak akan menyebut masjid yang kami bangun dengan nama Masjid Ahmadiyah.

  1. Kami menyatakan bahwa setiap masjid yang dibangun dan dikelola oleh Jemaat Ahmadiyah selalu terbuka untuk seluruh umat Islam dari golongan manapun.

  1. Kami warga Jemaat Ahmadiyah sebagai Muslim selalu melakukan pencatatan perkawinan di Kantor Urusan Agama dan mendaftarkan perkara perceraian dan perkara-perkara lainnya berkenaan dengan itu ke kantor Pengadilan Agama sesuai dengan peraturan-perundang -undangan.

  1. Kami warga Jemaat Ahmadiyah akan terus meningkatkan silaturrahim dan bekerjasama dengan seluruh kelompok/golongan umat Islam dan masyarakat dalam perkhidmatan sosial kemasyarakatan untuk kemajuan Islam, bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

  1. Dengan penjelasan ini, kami Pengurus Besar Jemaat Ahmadiyah Indonesia (PB JAI) mengharapkan agar warga Jemaat Ahmadiyah khususnya dan umat Islam umumnya serta masyarakat Indonesia dapat memahaminya dengan semangat ukhuwah Islamiyah, serta persatuan dan kesatuan bangsa.

Jakarta, 14 Januari 2008

PB Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI),

Ttd.

H. Abdul Basit

Amir



Mengetahui:

  1. Prof. Dr. H.M. Atho Mudzhar (Kabalitbang dan Diklat Depag RI)
  2. Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA (Dirjen Bimas Islam Depag RI)
  3. Prof. Dr. H. Azyumardi Azra, MA (Deputi Seswapres Bidang Kesra)
  4. Drs. Denty Ierdan, MM (Ditjen Kesbangpol Depdagri)
  5. Ir. H. Muslich Zainal Asikin, MBA, MT (Ketua II Pedoman Besar Gerakan Ahmadiyah Indonesia-GAI)
  6. KH. Agus Miftah (Tokoh Masyarakat)
  7. Irjen Pol. Drs. H. Saleh Saaf (Kaba Intelkam Polri)
  8. Prof. Dr. H.M. Ridwan Lubis (Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)
  9. Ir. H. Anis Ahmad Ayyub (Anggota Pengurus Besar JAI)
  10. Drs. Abdul Rozzaq (Anggota Pengurus Besar JAI)

Alquran Karim, Kitabullah Yang Sejati

Alquran Karim, Kitabullah Yang Sejati
-------------------------------------------------------------------------------------------
Ikhtisar Khutbah Jumah Hadhrat Khalifatul Masih V Atba
11 Januari 2008 di Masjid Agung Baitul Futuh, London - UK
-----------------------------------------------------------------

Pada Khutbah Jumah kali ini Huzur melanjutkan pembahasan ayat 130 Surah Al Baqarah, yang terjemahannya sebagai berikut:

'And, Our Lord, raise up among them a Messenger from among themselves, who may recite to them Thy Signs and teach them the Book and Wisdom and may purify them; surely, Thou art the Mighty, the Wise'.

Inilah doa Hadhrat Ibrahim a.s. kepada Allah Swt agar dikaruniai seorang Nabi Besar yang akan menjalankan 4 (empat) tugas besar, yang salah satunya 'membacakan' Kitab dan Hikmahnya, sudah saya terangkan pada Khutbah Jumah yang lalu. Yakni, beliau a.s. berdoa tugas pekerjaan Nabi Besar yang hendaknya bangkit dari keturunan Hadhrat Ismail tersebut bukan hanya membacakannya pada zaman beliau saja, melainkan akan terus dilakukan untuk manfaat berbagai generasi mendatang, hingga hari Kiamat]. Tafsir tentang hal ini sudah cukup dijelaskan.

Huzur bersabda, di dalam ayat 4 Surah Al Maidah (5:4) ada satu tanda telah dikabulkannya doa (2:130) Hadhrat Ibrahim a.s. ini.
Allah pun menjanjikan untuk sekaligus melindungi Al-Kitab (Qur’an) tersebut (15:10), karena melaluinya-lah syariat terakhir Allah Swt disampaikan. Dan sungguh menjadi kenyataan sejak zaman kehidupan Rasulullah Saw - dan para Sahabah beliau yang hafiz – Alquran Karim terjaga kesuciannya, yang kemudian dituliskan ke dalam berbagai bentuk naskah atas perintah Rasulullah Saw.
Huzur bersabda, Dajjal senantiasa menebar berbagai siasat halus untuk menginterpolasi Kitab Alquran ini, yang sudah barang tentu tidak akan pernah berhasil. Pada tahun 1999 beberapa gereja Kristen Evangelis di Amerika Serikat menerbitkan terjemahan Alquran dengan 'versi baru', yang mereka namakan Furqan'ul Haq, yang berisi Kedatangan Kembali Isa Al-Masih menurut versi mereka.
Upaya negatif mereka lainnya adalah melalui beberapa orang Muslim munafik yang anti ‘Syariat’. Mereka bermaksud menghapus ayat-ayat Quran mengenai perkara berperang. Huzur bersabda, inilah puncak usaha usaha licik mereka untuk menyenangkan pihak Kristen dan mengadu-domba antar kaum Muslimin. Siapapun yang berada di balik semua upaya ini, tidak akan berhasil. Penglihatan dan niat mereka untuk mengubah Alquran terbentur kepada berbagai penghalang, tidak sebebas seperti yang mereka dapat lakukan terhadap Bible. Ini dikarenakan tidak ada jaminan Ilahi, Bible akan dijaga keasliannya.
Huzur bersabda, pengabulan doa Hadhrat Ibrahim a.s. ini telah terjadi, yang seluruh dunia menyaksikan kesempurnaannya. Ajaran agama telah disempurnakan Tuhan dalam bentuk syariat Islam melalui wujud seorang Khataman Nabiyyin. Tak akan ada lagi sesuatu ajaran agama baru. Tak pula akan datang seorang nabi yang bukan merupakan nabi tabi'i dari Rasul Islam Saw. Namun demikian, rasa permusuhan berbagai pihak terhadap Islam telah diprakira dan dinubuatkan Allah Yang Maha Mengetahui, Maha Waspada.
Huzur bersabda, maka kaum Muslimin yang terikat dengan berbagai petunjuk ajaran Alquran hendaknya berusaha memahami sabda-sabda nasehat Imam Zamannya.

Huzur bersabda, ajaran Alquran mudah difahami. Berbagai kewajiban dan perintahnya ada yang bersifat fardhu ain (individual) dan ada juga yang fardhu kifayah (komunal). Berbagai perintahnya tampak berubah-ubah dinamis sesuai dengan berbagai situasi yang dihadapi. Salah satu perintah fardhu kifayahnya adalah berperang, yang bagi setengah kaum tampak membebani. Pertama, pihak luar yang menyebabkan beban di kalangan Muslimin memiliki sejarahnya sendiri yang dipenuhi dengan peperangan. Bahkan hingga saat ini mereka dalam keadaan terus berperang di mana-mana. Padahal, manakala Alquran memerintahkan berperang, selalu disertai dengan berbagai persyaratannya; yakni hanya memerangi si penyerang atau pihak yang menganiaya. Inipun dibatasi dengan berbagai aturan agar pertempuran berlangsung 'fair play'. Akan tetapi, Hakaman Adalan atau Imam Zaman telah memfatwakan, bahwa untuk zaman sekarang ini – sehubungan dengan kedatangan beliau – peperangan atau jihad agama telah dibatalkan. Perjuangan untuk memenangkan agama hanya menggunakan cara-cara sebagaimana yang digunakan oleh pihak lawan; yakni dengan tulisan. Untuk zaman sekarang ini, Jihad dilakukan dengan pena dan akidah. Tidak dengan senjata ataupun kekerasan. Rasulullah Saw dan para Sahabah pun tidak pernah mereferensikan Jihad dengan senjata atau kekerasan. Huzur menambahkan, kalau pun Jihad terpaksa harus diperbolehkan, ialah manakala suatu negara menyerang negara lainnya. Jihad tidak dilakukan oleh sesuatu organisasi.

Selanjutnya Huzur membacakan beberapa tulisan para penulis intelektual Barat seperti John Barton, Sir H. A. R. Gibb, Sir William Muir, Maurice Bucaille, Noldeke, dlsb yang memberikan kesaksian bahwa mushaf Alquran yang sekarang ini memang otentik. Tidak mengalami perubahan, sebagaimana pertama kali diwahyukan kepada Rasulullah Saw.

Kemudian Huzur membacakan beberapa bagian penting tulisan Hadhrat Masih Mau'ud a.s.:
‘Inilah Kitab yang sempurna. Yakni, kitab yang tiada bandingannya, karena berasal dari Kalam Ilahi. Kitab ini senantiasa terpelihara karena merupakan sumber petunjuk bagi dahaga rohani dari Dzat Yang Baqa, Al-Hakim. Maksud 'inilah Kitab itu', Allah Swt telah menyatakan bahwa Kitab ini berasal dari Dzat yang memiliki berbagai sifat agung, Tiada sekutu bagi-Nya, ilmu-Nya sempurna, namun tersembunyi dari penglihatan jasmaniah manusia yang terbatas.
Kemudian dinyatakan, bahwa bentuk penyajian Alquran ini sedemikian masuk akal, sehingga tidak menyisakan sedikitpun celah untuk meragukannya. Tidak seperti kitab lainnya, Kitabullah ini tidak sekedar menyajikan hikayat ataupun sejarah. Melainkan, argumen dan alasan lengkap dibalik berbagai bukti nyata, maksud dan tujuannya. Laksana sebuah pedang mukjizat yang akan menebas setiap keraguan dan syak wasangka. Tidak menyisakan sedikitpun ketidak-pastian untuk mengenali wujud Tuhan. Melainkan, membawa kepada haqul-yakin akan keberadaan-Nya.
Meskipun maksud dan tujuan utama tersebut sangat tergantung kepada efek dan perubahannya, namun hal ini tetap mengarah kepada 4 (empat) tujuan utamanya yang dapat memberi petunjuk bagi orang yang bertaqwa. Sebagaimana firman-Nya, Alquran ini diwahyukan untuk digunakan sebagai sumber petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa, yang berfitrat suci, berpikir waras, cerdas, mencari kebenaran dan berniat baik, niscaya akan mencapai derajat keimanan yang tinggi, dapat mengenali Tuhannya dan menjadi mutaqi yang sempurna. Dengan kata lain mereka yang berfitrat sesuai dengan ke-empat prasyarat tersebut akan memperoleh petunjuk dan kemajuan dalam penglihatan mereka. Alquran akan terus menyertainya dan memudahkannya untuk terus berada di dalam jalan yang lurus sebelum menemui ajalnya. Allah Swt telah menyatakan, mereka yang berada di dalam jangkauan ilmu-Nya, patut untuk memperoleh petunjuk dan berfitrat mutaqi, niscaya akan memperoleh petunjuk Alquran.'
(Brahin e Ahmadiyya, Ruhani Khaza’in – terjemahan Englishnya dari buku ‘The Essence of Islam’ Vol. pp 398-399)

Huzur bersabda, kaki tangan Dajjal yang terus berdaya upaya untuk merubah atau menyelewengkan Alquran akan kecewa dan gagal. Sedangkan mereka yang berhati bersih akan memperoleh perubahan revolusioner dalam diri mereka.

Selanjutnya Huzur membacakan beberapa bagian penting tulisan Hadhrat Masih Mau'ud lainnya dari buku 'Jhang Muqqadas’, pada mana beliau mengemukakan kemuliaan Alquranul Karim merujuk kepada Surah Ibrahim. (14: 25-27). Pertama, beliau mengemukan bahwa, ciri pertama sebuah Kitabullah yang suci adalah fakta ajarannya terpelihara, menyeluruh dan dapat diterima oleh fitrat manusia. Ciri kedua adalah, kandungan hikmahnya terbuka kepada siapa saja yang merenungkan tanda-tanda alam. Ciri ketiga, ia akan senantiasa segar, dan membuahkan insan-insan unggulan di sepanjang waktu.
Hadhrat Masih Mau'ud a.s. lebih lanjut menguraikan ciri ketiga di atas, yakni membuahkan insan-insan paripurna menunjukkan bahwa Tuhan memang berkenan kepada insan pilihan-Nya dan menunjukan berbagai mukjizat-Nya sebagaimana dinyatakan beberapa ayat di dalam Surah Ha Mim Al Sajdah (41:31-33). Hadhrat Masih Mau'ud a.s pun menunjukkan keindahan ajaran moderat Alquran dibandingkan ajaran yang mengandung kekerasan Musa a.s., dan serba halus ajaran Jesus Kristus a.s. berdasarkan ayat 42 Surah Al Shura (42:41). Ajaran Qurani ini diperkuat di dalam ayat 91 Surah Al Nahl (16:91) dalam perkara memperlakukan orang lain sebagaimana kepada saudaranya sendiri.
Huzur akhirnya menyimpulkan, ajaran indah ini diwahyukan kepada Rasul yang mulia Saw, yang kemudian memberikannya kepada kita. Semoga Allah memudahkan kita untuk memahami hal ini, dan melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari, dan menyebar-luaskannya ke seluruh dunia.

transltByMMA/LA011408; Edited byMP.BudiR/Bdg
Please note: Department of Tarbiyyat, Majlis Ansarullah USA takes full responsibility of anything that is not communicated properly in this message



Kamis, 10 Januari 2008

Khutbah Huzur, 4 Januari 2008: Infaq Fii-Sabilillah: Pengorbanan Waqfi Jadid

Infaq Fii-Sabilillah: Pengorbanan Waqfi Jadid
-------------------------------------------------------------
Ikhtisar Khutbah Jumah Hazrat Khalifatul Masih V Atba 4 Januari 2008, di Masjid Agung Baitul Futuh, London, UK
-------------------------------------------------------------------------------------


Huzur menyampaikan topik Khutbah pengorbanan harta di jalan Allah, terkait dengan tahun perjanjian baru Waqfi Jadid. Huzur membacakan ayat 263 Surah Al Baqarah, yang terjemahannya sebagai berikut :




' They spend their wealth for the cause of Allah, then follow not up what they have spent with taunt or injury, for them is their reward with their Lord, and they shall have no fear, nor shall they grieve.'


Huzur mengingatkan, siapakah yang dimaksud dengan mereka atau kaum yang mengorbankan harta benda mereka dengan ikhlas tersebut ? Huzur menerangkan, mereka itulah, Jamaah kaum mukminin yang senantiasa membelanjakan harta benda mereka semata-mata demi untuk meraih keridhaan Allah Swt.

Allah Swt berfirman di dalam ayat 273 Surah Al Baqarah '…belanjakanlah semata-mata hanya untuk menarik ridha Ilahi…'; kemudian Huzur bersabda, inilah derajat kemuliaan orang yang beriman. Begitulah hendaknya mereka bersikap dalam pengorbanan. Seorang yang beriman tidak akan pernah menghendaki pengorbanan mereka untuk dipuji. Beruntunglah mereka yang mengorbankan harta bendanya semata-mata untuk meraih keridhaan Allah; Yakni, seketika itu pula mereka melupakannya, tidak menggembar-gemborkannya kepada orang lain. Pada zaman kini, jika direnungkan, hanya Jemaat Hadhrat Masih Mau'ud a.s. ini sajalah yang terus menerus mengorbankan harta benda mereka demi keridhaan Allah Swt; tidak untuk dilihat ataupun dipuji orang. Jika ada orang yang menyimpang dari sikap jaiz tersebut, berarti mereka bukan dari Jemaat ini. Dan meninggalkan kehidupan yang aman dan tenteram di dalam Jemaat adalah laksana menceburkan diri ke dalam kancah berbagai kesulitan.

Adalah karunia Allah yang besar dengan dimasukannya kita ke dalam Jamaah Imam Mahdi a.s., Allah mengkategorikan kita sebagai kaum yang senantiasa mengorbankan harta benda mereka tanpa ragu dan khawatir. Karena mereka merasakan adanya ganjaran pahala yang berlipat ganda.


Ganjaran Pahala Berlipat Ganda Bersyarat.

Allah menyatakan di dalam ayat 8 Surah Al Hadid (57:8) 'dan bagi mereka yang beriman dan membelanjakan harta benda mereka di jalan Allah, ada ganjaran pahala yang besar. Huzur bersabda, nyatanya, mereka bahkan tidak dapat menghitung-hitung betapa jauh lebih besar pahala Allah yang telah dikaruniakan kepada mereka. Inilah yang dimaksud dengan ganjaran yang besar. Sungguh beruntunglah mereka yang dapat memenuhi pengorbanan ini, dan sungguh beruntunglah para Ahmadi yang telah menerima kedatangan Hadhrat Masih Mau'ud a.s. dan mengindahkan sabda beliau ini:

'Cinta duniawi sedemikian rupa tidaklah jaiz. Karena Allah menyatakan: 'Kamu tak akan pernah mencapai derajat ketakwaan yang sempurna sebelum kamu mengorbankan apa-apa yang kamu cintai...' 3:93

'Bahkan kamu tak akan pernah dapat meraih keridhaan Ilahi sebelum kamu mengabaikan keinginan pribadimu, mengorbankan kesenanganmu, mengorbankan kehormatanmu, hartamu dan jiwamu. Bertawakal-lah menanggung beban kesulitan di jalan Allah sedemikan rupa laksana maut; sekali kamu mampu menanggung beban ini, maka kamu pun akan diraih-Nya, laksana kanak-kanak yang disayangi-Nya. '

'Bila kamu benar-benar menjalani kehidupan laksana maut atas diri pribadimu, maka kamu pun tampil di haribaan-Nya dan Dia senantiasa menyertaimu. Rumah tempat tinggalmu akan diberkati; karunia-Nya akan melingkupi setiap dinding rumahmu; dan kampung halamanmu akan disucikan .'


Penting ! Berpartisipasi Dalam Waqfi Jadid.

Huzur bersabda, betapa beruntungnya kita, Imam Zaman telah menerangi jalan menuju Tuhan. Allah telah berfirman, pengorbanan harta benda adalah untuk memperoleh keridhaan-Nya, dan Hadhrat Masih Mau'ud a.s. telah menjelaskan perkara ini kepada kita. Begitu pun para Khalifah beliau, telah menyerukan agar memperhatikan hal ini, karena berbagai jenis pengorbanan terkait dengan ibadah kepada Allah, yang salah satunya adalah membelanjakan harta benda di jalan Allah.

Huzur bersabda, selama kurun waktu 52 tahun masa Khilafat beliau, Hadhrat Muslih Mau'ud r.a. telah berhasil mengorganisasi nizam Jemaat untuk memfasilitasi kemajuan Jemaat, sesuai tujuan hakiki kedatangan Hadhrat Masih Mau'ud a.s. Untuk memajukan program Tarbiyat dan Tabligh, gerakan Waqfi Jadid telah beliau canangkan pada tahun 1957. Berarti, saat ini Gerakan tersebut telah mencapai usianya yang ke-50 tahun. Pada awalnya, gerakan ini terbatas untuk negara Pakistan , India dan Bangladesh. Namun, boleh dikatakan hampir semua Ahmadi di Pakistan ikut serta dalam pengorbanan ini. Gerakan ini menunjang program kerja Waqfin Zindigi (wakaf diri) dan Mu'alimin (tenaga pengajar). Pada tahun 1985, Hadhrat Khalifatul Masih IV rh.a memutuskan gerakan ini untuk seluruh dunia, agar seluruh Ahmadi, khususnya yang berada di benua Europa dan Amerika dapat membantu saudaranya yang berada di wilayah jazirah Hindustan (Pakistan, India dan Bangladesh) yang sebelumnya bersusah payah berusaha memenuhi kebutuhan mereka sendiri. Maka sejak itulah dana Waqfi Jadid dibelanjakan di sana, tetapi meluas hingga ke berbagai negara Afrika.

Sebagaimana biasa, pada setiap awal tahun perjanjian pengorbanan baru Waqfi Jadid, Huzur berkenan menyampaikan laporannya, khususnya lagi dikarenakan hari ini adalah hari Jumat pertama di tahun 2008.


Penting ! Mengikut Sertakan Anak-anak Pada Waqfi Jadid.

Khalifatul Masih III rh.a pun menganjurkan agar anak-anak tidak ketinggalan untuk ikut berpartisipasi. Sebagai hasilnya, dengan karunia Allah, setengah dari seluruh pengorbanan Waqfi Jadid Jemaat Pakistan berasal dari kalangan anak-anak. Sungguh membanggakan, Jemaat kita memiliki anak-anak yang bersemangat tinggi dalam pengorbanan. Sungguh karunia nyata adanya keberkatan bagi generasi yang akan datang. Huzur menyerukan agar para orang tua Ahmadi di seluruh dunia memperhatikan hal ini. Beliau minta agar para Sekretaris Waqfi Jadid, Nasirat dan Atfal pun memperhatikan hal ini. Kesadaran untuk ikut berpartisipasi dalam pengorbanan harta dalam Waqfi Jadid harus ditimbulkan di kalangan anak-anak. Karena bagi mereka yang hidupnya tumbuh dengan kesadaran ikut serta dalam pengorbanan Waqfi Jadid di tengah-tengah kehidupan duniawi yang serba materialistis, niscaya bukan hanya akan menjadi asset penting bagi Jemaat, bahkan kehidupan pribadi mereka pun akan diberkati.

Huzur bersabda, hendaknya diingat, suatu gerakan revolusi rohani hanya dapat terjadi jika disertai dengan berbagai pengorbanan semacam ini. Dalam kehidupan serba hedonistis seperti sekarang, untuk menghilangkan sifat mementingkan diri sendiri, diperlukan berbagai kiat gemblengan Tarbiyyat; dan mengorbankan harta benda adalah salah satu Jihad Akbar di zamannya.


Ikut Sertakan Mubayin Baru & 10 Tahun Terakhir.

Huzur mengingatkan, para mubayyin baru dan juga yang membaiatkannya, jika mereka memperhatikan pengorbanan harta benda di dalam Jemaat, ikatan batin mereka di dalam Jemaat pun akan semakin menguat. Bahkan sebagian di antara mereka yang ikut berkorban dalam jumlah besar menyurat kepada Huzur, menyesali mengapa mereka terlambat bergabung dalam Jemaat. Mereka itulah laksana intan mutiara yang dikaruniakan kepada Hadhrat Masih Mau'ud a.s..

Huzur bersabda, bagi mereka yang malas berkorban, baik mubayin baru maupun lama, hendaknya ingat derajat kerohanian tiap orang dapat terpelihara dengan cara beribadah dan berkorban dengan dawam. Adalah kewajiban pengurus untuk senantiasa mengingatkan anggota, pentingnya berkorban harta benda di dalam Jemaat. Ada pula orang-orang yang yang berkhidmat kepada Jemaat dengan kecintaan sedemikian rupa hingga melupakan keluarganya. Kepada mereka pun perlu diingatkan hak keluarga serta diri mereka sendiri.

Berkaitan dengan pencapaian berbagai pengorbanan Tahrik, Huzur bersabda, ternyata sebagian besar adalah orang-orang lama, meskipun pengurus sudah diingatkan agar mengikut sertakan mubayin baru sebanyak-banyaknya. Seandainya para pengurus di Bidang Tarbiyyat, Maal dan Waqfi Jadid bekerja sama dengan sebaik-baiknya, perolehan yang lebih besar niscaya dapat diperoleh. Dan bagi para anggota yang tidak sepenuhnya berpartisipasi, tugas para pengurus pula-lah untuk mendekati mereka dan mendoakannya. Adalah jaiz untuk mengikut-sertakan mereka yang boleh jadi lemah dibandingkan saudaranya yang lain dalam menjalankan kewajibannya.

Huzur meminta agar pengurus membuat berbagai program khusus yang terkait dengan Peringatan Seabad Khilafat Ahmadiyah, yang dapat meningkatkan pengorbanan harta benda, yakni meningkatkan kesadaran segenap anggota untuk mendatangkan keridhaan Allah Swt kepada mereka. Huzur mengingatkan, hal inilah yang dapat menjadi pernyataan istimewa mereka dalam mensyukuri sempurnanya Seabad Khilafat.

Huzur bersabda, Waqfi Jadid adalah Tahrik/Gerakan pengorbanan harta benda terakhir yang dicanangkan oleh Hadhrat Muslih Mau'ud r.a. yang pada tahun ini mencapai usia setengah abad. Tahrik ini penting, karena merupakan Gerakan terakhir yang dicanangkan di dalam abad pertama Khilafat Ahmadiyah.

Huzur kemudian menyampaikan mimpi Jahangir Sahib (mubaligh di London asal dari Mauritius), bahwa Hadhrat Khalifatul Masih IV rh.a menanggapi dan menafsirkan mimpinya pada 14 (empat belas) tahun yang lalu, mendoakan semoga pengorbanan Waqfi Jadid yang melibatkan tiga negara utama (India, Pakistan dan Bangladesh) memperoleh kemajuan. Huzur bersabda, beliaupun akan berupaya agar terjadi percepatan dalam perolehan keberhasilan berbagai proyek Waqfi Jadid (terkait dengan peningkatan pengorbanannya). Oleh karena itu diperlukan suatu perencanaan yang khas. Pengorbanan harta benda adalah bagian penting untuk rencana ini. Semua negara diharapkan ikut membantu dan berpartisipasi. Penting untuk meningkatkan kesadaran terhadap gerakan pengorbanan ini di kalangan anak-anak; juga upaya khusus terhadap seluruh anggota yang Bai'at selama 10 (sepuluh) tahun terakhir ini. Huzur bersabda, jaiz pengurus telah berusaha untuk menghubungi para mubayin baru yang kehilangan kontak, namun beliau telah seringkali menyampaikan agar melibatkan mereka dalam pengorbanan harta benda. Kita perlu meningkatkan derajat ketakwaan dengan ibadah dan membelanjakan harta benda di jalan Allah, sehingga dapat memasuki Abad Kedua Khilafat dengan tuma'ninah. Kesadaran akan pentingnya hal ini akan memberikan berbagai kemajuan Jemaat lebih banyak lagi; dan akan membuat para mubayin baru lebih bersemangat.


Jemaat Indonesia Zindabad; Jemaat Pakistan No.1.

Selanjutnya Huzur menyampaikan jumlah perolehan Waqfi Jadid 2007, sebesar £ 2,427,000 poundsterling (atau k.l. Rp. 45.179.991.332, Empat Puluh Lima Milyar). Terjadi peningkatan sebesar £ 210,000 pondsterling (atau hampir Rp. 4 milyar) dibandingkan tahun lalu. Dengan demikian sempurnalah mimpi Jahangir Sahib (presenter French Q/A di MTA), yakni telah terjadi peningkatan pengorbanan yang bahkan lebih besar dibanding Tahrik Jadid pada tahun yang sama.

(Dari rekaman MTA), Huzur menyampaikan, sepuluh besar konributornya adalah sebagai berikut : Jemaat Pakistan menduduki peringkat pertama, kemudian Jemaat USA (2), Jemaat UK (3), Jemaat Germany (4), Jemaat Canada (5), Jemaat India (6), Jemaat Indonesia (7), Jemaat Belgium (8) Jemaat Australia (9) dan Jemaat Prancis (10).

Huzur bersabda, berbagai surat kabar menyajikan berita, tahun 2007 sebagai tahun [sosial politik] terburuk bagi negara Pakistan. Begitupun dari segi ekonomi keuangannya. Namun, lihatlah, pengorbanan para Ahmadi Pakistan justru No.1 di dunia. Huzur bersabda, bahkan beliau memprakirakan, sehubungan situasi buruk sejak beberapa bulan lalu di Pakistan, khususnya peristiwa Karachi (tewasnya Benazir Bhutto) baru-baru ini, boleh jadi pengorbanan harta benda mereka menjadi turun. Akan tetapi Allah telah memperlihatkan, manakala Dia sudah berkehendak untuk memberi sesuatu kemajuan, maka para malaikat pun bekerja untuk menyempurnakannya. Huzur bersabda, setiap hari menyaksikan kemajuan Jemaat, namun tidak memprakirakan akan adanya peningkatan. Demikianlah semoga Allah memberi karunia lebih banyak lagi.


Jemaat L.A-West Zindabad.

Huzur selanjutnya menyampaikan perincian kontribusi pengorbanan per-orang. Yang terbesar adalah dari para Ahmadi USA, disusul kemudian Ahmadi UK. Ada perbaikan dari para anggota Jemaat Ghana. Adalah pengalaman pribadi Huzur, sebetulnya kaum Ahmadi Ghana memiliki semangat pengorbanan yang besar, maka jika ada kelemahan administrasi, pengurusnya-lah yang lemah. Jumlah seluruh peserta Waqfi Jadid sedunia tahun ini adalah 410.000 orang.

Sedangkan di antara Jama'at UK, kontribusi per-orangan terbesar adalah dari ranting Jemaat London Mosque (Baitul Fazal, tempat Huzur bermukim). Kemudian ranting Jemaat London Tenggara, dan Jemaat New Morden. Sedangkan di USA, para Ahmadi Silicon Valley (San Jose) yang terbesar, kemudian Ahmadi Los Angeles East, Chicago West, Detroit, dan para Ahmadi Los Angeles West . Sedangkan di Pakistan, adalah Jemaat Lahore, kemudian kaum Ahmadi Karachi, lalu Rabwah.

Huzur mendoakan, semoga ganjaran pahala yang abadi dikaruniakan kepada seluruh anggota yangtelah ikut berpartisipasi dalam pengorbanan ini. Suatu kali Khalifatul Masih IV rh.a berkata, Jemaat ini memiliki anggota yang keikhlasannya mengagumkan. Dan kita menyaksikannya kini. Yang dikhawatirkan adalah mereka yang lemah untuk mengendalikan nafs (ego) mereka mengabaikan pengorbanan ini.

Huzur mendoakan semoga Allah - sesuai dengan janji-Nya – memberi pahala kepada seluruh peserta pengorbanan ini dengan pahala yang berlipat ganda. Semoga semangat pengorbanan ini terus meningkat. Tidak mengenal akhir.

Huzur pun mendoakan, semoga kita senantiasa dapat memperlihatkan semangat tinggi pengorbanan ini, sehingga generasi yang akan datang mendoakan kita, karena sudah menunjukkan contoh ketakwaan, sehingga mereka pun lebih meningkatkan lagi semangat pengorbanan mereka. Insya Allah !


transltByMMA/LA010908; Edited byMP.BudiR/MarkazJAI

Please note: Department of Tarbiyyat, Majlis Ansarullah USA takes full responsibility of anything that is not communicated properly in this message.




Himbauan dan Penjelasan Pimpinan Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI)

Himbauan dan Penjelasan Pimpinan Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI
Amir Jemaat Ahmadiyah Indonesia telah membacakan tujuh poin pernyataan Resmi mengenai Penjelasan dan Himbauan. Pernyataan ini ditujukan kepada anggota Jemaat maupun umat Islam pada umumnya. Pernyataan yang dibacakan oleh Amir Nasional JAI itu dilakukan di Mabes POLRI, Kamis (19/12/2007).


(Kiri ke kanan : Kabalitbang Depag Prof. Atho’ Mudhar, Amir Jemaat Ahmadiyah Indonesia H. Abdul Basit dan Ketua Umum Front Persatuan Nasional/Pimpinan Wahdatul Ummah KH. Agus Miftach.


Amir Abdul Basit menyampaikan pernyataan tujuh butir pada malam Idul Adha 1428 H, didampingi kedua tokoh, sebagai langkah rekonsiliasi.) Beberapa poin ini sangat penting untuk diketahui publik, terutama oleh para anggota Jemaat Ahmadiyah sendiri. (Mohon untuk diedarkan)



——————————————————–

Penjelasan dan HimbauanPimpinan Jemaat Ahmadiyah Indonesia(JAI)

  1. Kami warga Jemaat Ahmadiyah sejak semula meyakini dan mengucapkan syahadat sebagaimana yang diajarkan oleh Yang Mulia Nabi Muhammad SAW yaitu, Asyhadu anlaa-ilaaha illallahu wa asyhadu anna muhammadar Rasulullah, artinya: aku bersaksi bahwa sesungguhnya tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa sesungguhnya Muhammad adalah Rasulullah.
  2. Kami warga Jemaat Ahmadiyah tidak pernah dan tidak akan mengkafirkan orang Islam diluar Ahmadiyah, baik dengan kata-kata maupun perbuatan.
  3. Kami warga Jemaat Ahmadiyah tidak pernah dan tidak akan menyebut masjid yang kami bangun dengan nama Masjid Ahmadiyah.
  4. Setiap masjid yang dibangun dan dikelola oleh Jamaat Ahmadiyah selalu terbuka untuk seluruh umat Islam dari golongan manapun.
  5. Kami warga Jemaat Ahmadiyah akan terus meningkatkan silaturahim dengan seluruh kelompok/golongan umat Islam dan masyarakat dalam pengkhidmatan sosial kemasyarakatan untuk kemajuan Islam, bangsa dan negara kesatuan Republik Indonesia.
  6. Kepada warga Jemaat Ahmadiyah di seluruh Indonesia , dihimbau agar dalam melaksanakan perayaan Idul Adha 1428 H, dilakukan dengan khidmat, sederhana tidak memaksakan diri, dan dengan kearifan serta mempertimbangkan situasi dan kondisi setempat guna menghindari terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.
  7. Dengan penjelasan dan himbauan ini, kami pimpinan Jemaat Ahmadiyah Indonesia mengharapkan agar warga Jemaat Ahmadiyah khususnya dan umat Islam pada umumnya serta masyarakat Indonesia dapat memahaminya dengan semangat persatuan dan kesatuan bangsa.

Jakarta, 19 Desember 2007

Pimpinan Jemaat Ahmadiyah Indonesia

(ttd)

H. Abdul Basit

Mengetahui:

1. Prof. Dr. H. M. ATHO MUDZHAR (DEPAG RI)

2. KH. Agus Miftach (TOKOH MASYARAKAT)

3. H. SUPRAPTO, SH (KEJAGUNG RI)

4. Drs. SALEH SAAF (POLRI)

————————— Surat versi cetak: Lihat disini —————————
Sumber: http://persatuan.web.id/?p=266




Senin, 07 Januari 2008

”Yatlu Alaihim Ayatihi; Arti Ayat-ayat Allah”


--------------------------------------------------------
Ikhtisar Khutbah Jumah Hazrat Khalifatul Masih V Atba 28 Desember 2007, di Masjid Agung Baitul Futuh, London, UK
--------------------------------------------------------

Huzur bersabda, Alquran mengemukakan nasib pelajaran yang menimpa berbagai kaum terdahulu bukanlah sebagai kisah belaka. Melainkan, beruntunglah mereka yang dapat mengambil pelajaran daripadanya. Berbagai macam peringatan telah diberikan kepada berbagai kaum. Maka sudah sepatutnya takut kepada Allah timbul di hati setiap orang. Namun, Allah adalah Maha Penyayang, Dia tidak hanya mengirimkan kabar takut, melainkan juga kabar suka. Setengah orang berkeberatan, bahwa Alquran penuh dengan ancaman, padahal rahmat karunia-Nya meliputi segala sesuatu; maka kewajiban manusia-lah untuk ber-Istighfar, memohon ampunan-Nya.


Adalah nasib baik bagi kaum Muslimin, bahwa Allah telah memberikan karunia khas-Nya kepada kita. Memberi tuntunan sebagaimana sunnah Rasulullah Saw. Maka kewajiban setiap orang Muslim untuk memperhatikan hal ini agar mereka dimasukkan sebagai kaum mukmin sejati. Beramal salih, sesuai kabar suka yang mereka terima dari Alquran.


Mereka membuat rencana, tapi Allah ta'ala pun telah menyiapkan rencana-Nya. Sedangkan Allah adalah sebaik-baik pembuat rencana...
====================================================================
”Yatlu Alaihim Ayatihi; Arti Ayat-ayat Allah”
Ikhtisar Khutbah Jumah Hazrat Khalifatul Masih V Atba
28 Desember 2007, di Masjid Agung Baitul Futuh, London, UK

Huzur membacakan ayat 130 Surah Al Baqarah, kemudian menerangkan maksud Tanda-tanda Allah (“Aayah”) pada Khutbah Jumah beliau ini. Huzur bersabda, Jumah yang lalu beliau menerangkan kaitan doa Hadhrat Ibrahim a.s. (pada ayat tersebut di atas) yang merujuk kepada kedatangan Rasulullah Saw yang berberkat. Pada doa tersebut Hadhrat Ibrahim mengemukakan empat aspek utama nabi besar yang dimohonkan itu. Yang Huzur telah bahas adalah aspeknya yang pertama, ialah “yang akan membacakan Tanda-tanda Allah”. Dan juga telah menerangkan berbagai arti kata ‘Ayah’; yang salah satunya adalah peringatan atau ancaman.

Merujuk kepada ayat 60 Surah Bani Israil (17:60)
Artinya: Dan sekali-kali tidak ada yang menghalangi Kami untuk mengirimkan (kepadamu) tanda-tanda (kekuasan Kami), melainkan karena tanda-tanda itu telah didustakan oleh orang-orang dahulu. Dan telah Kami berikan kepada Tsamud unta betina itu (sebagai mukjizat) yang dapat dilihat, tetapi mereka menganiaya unta betina itu. Dan Kami tidak memberi tanda-tanda itu melainkan untuk menakuti.
Huzur bersabda, sesungguhnya Allah mengirim Tanda-tanda untuk memperlihatkan kebenaran para utusan-Nya dan juga kaum beliau. Dia menunjukkan mukjizat-Nya. Allah-lah sesungguhnya sumber segala kekuatan; Dia-lah Al-Aziz (Yang Gagah Perkasa). Manakala ayat-ayat Alquran sejenis ini memberikan peringatan kepada berbagai kaum terdahulu, hal ini berarti pula mengingatkan berbagai kaum zaman sekarang, khususnya bagi kaum Muslimin yang membaca Kitabullah ini (ahli Kitab). Oleh karenanya, hal ini merupakan hikmah pelajaran bagi mereka untuk dimengerti, bahwa Allah berkuasa untuk menunjukkan berbagai macam mukjizat-Nya dan juga mengirimkan hukuman-Nya, tetapi mereka mengabaikannya. Huzur bersabda, kaum Muslimin hendaknya merenungkan berbagai Tanda yang Allah telah berikan berkaitan dengan Abad Ke-empat belas (Hijriah). Janganlah mengabaikannya. Jangan serta merta menolaknya. Sebab, Allah Yang Maha Kuasa tidak pernah menyimpang dari sunnah-Nya. Dia telah menyatakan, bahwa Dia senantiasa mengirimkan Tanda-tanda peringatan untuk mengakhiri kejahiliyahan suatu kaum; Hal ini terus berlanjut, maka hendaknya mereka merenungkan hal ini dengan sebaik-baiknya.

Huzur bersabda, Alquran mengemukakan nasib pelajaran yang menimpa berbagai kaum terdahulu bukanlah sebagai kisah belaka. Melainkan, beruntunglah mereka yang dapat mengambil pelajaran daripadanya. Berbagai macam peringatan telah diberikan kepada berbagai kaum. Maka sudah sepatutnya takut kepada Allah timbul di hati setiap orang. Namun, Allah adalah Maha Penyayang, Dia tidak hanya mengirimkan kabar takut, melainkan juga kabar suka. Setengah orang berkeberatan, bahwa Alquran penuh dengan ancaman, padahal rahmat karunia-Nya meliputi segala sesuatu; maka kewajiban manusia-lah untuk ber-Istighfar, memohon ampunan-Nya.

Adalah nasib baik bagi kaum Muslimin, bahwa Allah telah memberikan karunia khas-Nya kepada kita. Memberi tuntunan sebagaimana sunnah Rasulullah Saw. Maka kewajiban setiap orang Muslim untuk memperhatikan hal ini agar mereka dimasukkan sebagai kaum mukmin sejati. Beramal salih, sesuai kabar suka yang mereka terima dari Alquran.

Membacakan ayat 10 Surah Bani Israil (17:10) Huzur bersabda, orang mukmin sejati adalah mereka yang mau mengambil pelajaran dari Kitabullah yang sempurna (Alquran), yang sarat dengan berbagai Tanda Ilahi. mengenai nasib yang menimpa berbagai kaum terdahulu, sekaligus nubuatan tentang apa yang akan terjadi di hari kemudian. Setelah menyadarinya, mereka pun beramal salih, sehingga meraih pahala yang besar.

Mengacu kepada berbagai tulisan Hadhrat Masih Mau'ud a.s., Huzur bersabda, Tanda-tanda Allah terdiri dari dua macam; pertama adalah peringatan/ancaman, dan yang kedua adalah kabar suka atau berkah kebaikan. Jenis yang pertama (ancaman/peringatan) adalah bagi mereka yang tidak beriman, fasik atau zalim, berlaku seperti Firaun; Aspek ini adalah agar mereka menjadi sadar. Jenis lainnya dari Tanda Allah adalah bagi mereka yang rendah hati dan tawadhu. Tujuannya agar membuat mereka menjadi jera, bukan untuk menakut-nakuti. Seorang mukmin sejati mengembangkan keimanan dan kerohaniannya dengan bantuan berbagai Tanda Ilahi. Kecemasan alami mereka menjadi sirna, tergantikan oleh ketenteraman, sehingga mereka pun dapat terus mengembangkan keimanan dan kerohanian mereka hingga ke taraf haqqul-yaqin. Alquran memiliki berbagai Tanda Ilahi ini banyak ragamnya. Sekaligus janji abadi bagi mereka yang sungguh-sungguh beriman kepada Alquran niscaya akan dapat terus menemukan berbagai Tanda-tanda-Nya ini.

Huzur membacakan ayat 65 Surah Yunus (10:65), kemudian bersabda, menunjukkan berbagai Tanda kebenaran-Nya sudah merupakan keunggulan tersendiri dari ayat-ayat Alquran. Allah telah mengemukakan di berbagai tempat dan rujukannya di dalam Alquran nasib baik mereka yang beriman setelah menyaksikan kebenaran Tanda-tanda Allah.

Di dalam Surah Ibrahim ayat 6 (14:6), saat Musa a.s. dikemukakan mengenai kesabaran dan rasa syukur beliau a.s. atas umatnya. Ini pun mengandung Tanda-tanda Ilahi bagi kaum Muslimin. Sabar dan bersyukur bukan berarti berdiam diri. Melainkan justru proaktif memuliakan berbagai karunia Allah dengan mensyukuri dan menikmatinya. Maka kaum Rasulullah Saw – yang Shariatnya lebih mulia dbanding syariat Musa a.s., dan telah disempurnakan oleh Allah Taala – sepatutnya lebih sabar dan lebih bersyukur dibanding kaum Musa a.s. Mereka diberkati Allah selama mereka bersyukur. Hal ini menunjukkan, sabar dan syukur memerlukan amalnya yang nyata. Konsistensi (istiqamah) diperlukan dalam Jihad Akbar sesuai ajaran Alquran, yakni senantiasa memperbaiki diri sekaligus bertabligh menyampaikan kebenaran kepada yang lain. Pada zaman akhir ini, tiada karunia yang lebih besar selain datangnya Imam Mahdi/Imam Zaman yang tampil di saat Islam sedang berada di dalam segala kelemahannya. Beliau inilah khadim sejati Rasulullah Saw yang telah mengusir kegelapan dengan pendaran cahaya yang lebih berbinar dibanding Musa a.s.. Huzur bersabda, perbaikan atas kerugian besar yang sedang menimpa kaum Muslimin tergantung kepada sikap penghargaan mereka terhadap kedatangan Imam Mahdi/Al-Masih Yang Dijanjikan ini. Semoga Allah memberi kemampuan kepada setiap orang untuk mengindahkan hal ini.

Mengacu kepada ayat 66 Surah Al Nahl (16:66) Huzur bersabda, maksud 'mengirimkan air' di dalam ayat ini adalah bagi mereka yang menerima Tanda-tanda Ilahi. Yakni, sebagaimana air menghidupkan yang mati di bumi, terkait dengan mendengar dan taat – dan ayat ayat Alquran berikutnya – sebagaimana Alquran adalah sumber petunjuk, maka 'air' di sini adalah air kehidupan rohani melalui petunjuk di dalam Alquran. Sesungguhnya, air kehidupan yang tersuci-murni adalah yang dibawakan oleh Rasulullah Saw. Yakni cairan infus Qurani yang menghidupkan. Kaum Muslimin yang menolak kedatangan seorang Khadim sejati Rasulullah Saw berarti menafikkan diri mereka sendiri dari karunia air kehidupan rohani ini.

Membacakan ayat 104 Surah Hud (11:104) Huzur bersabda, kaum mukminin sejati adalah mereka yang manakala dibacakan ayat-ayat Quran yang bernada ancaman dan nasib yang telah menimpa kaum terdahulu, adalah mereka yang jiwanya menjadi gentar, dan berusaha menghindari berbagai pelanggaran batas.

Huzur bersabda, kita menyaksikan dalam contoh kehidupan Rasulullah Saw, betapa beliau berdoa mohon dilindungi dari pengaruh cuaca buruk. Kaum mukminin yang mengambil pelajaran dari hal ini akan bersikap tawadhu dan gentar di dalam qalbu mereka. Semoga hal ini difahami oleh setiap orang umat beliau Saw dengan segenap kesungguhan hati mereka; dan semoga Allah memudahkan setiap Ahmadi untuk besikap lebih daripada yang lain.

Selanjutnya Huzur bersabda, kita senantiasa berdoa untuk negara Pakistan. Sebagaimana tiap orang sudah mahfum, situasi di sana kini sudah tidak karuan. Pemerintahan memang ada, tetapi tinggal nama. Kaum terroris dan extrimis tampak merajalela. Perusakan nama baik telah dilakukan terhadap Islam atas nama Islam. Padahal Rasul Islam Saw telah bersabda, seorang Muslim yang membunuh sesama saudara Muslimnya berarti bukan Muslim. Setiap hari puluhan orang tewas dengan sia-sia. Anak-anak menjadi yatim piatu. Dan kaum wanita menjadi janda. Tetapi mereka tetap tidak sadar. Doakanlah mereka agar Allah Swt menyadarkan mereka. Kaum Ahmadi telah mengorbankan jiwa raganya demi untuk kelahiran dan mempertahankan kemerdekaan negara Pakistan. Maka adalah dikarenakan 'hubbul-wathon' jika kini kaum Ahmadi kembali bersimpuh di hadapan Allah. Karena tiada kekuatan lain selain dari doa. Kaum Ahmadi yang berada di Pakistan maupun di luar negeri seyogyanya mendoakan negara Pakistan. Adalah para Ahmadi Pakistani yang telah membawakan tabligh Islam Ahmadiyah kepada kaum yang lain; menunjuki mereka jalan lurus, dan membawa mereka kepada sumber air kehidupan rohani. Maka sebagai balasannya, hendaknya setiap Ahmadi di seluruh dunia mendoakan kaum Ahmadi di Pakistan.
Namun, kaum Ahmadi di Pakistan pun hendaknya berdaya upaya untuk menyadarkan masyarakat yang berada di lingkungan mereka masing-masing akan berbagai kekeliruan yang telah mereka lakukan. Mengapa mereka tidak menghargai negara yang telah dikaruniakan Tuhan bagi mereka. Huzur bersabda, maka kewajiban para Ahmadi untuk menyampaikan pesan tabligh Islam Ahmadiyah di manapun ada kesempatan.
Untuk itu Huzur menghimbau agar banyak-banyak mendoakan mereka, karena situasi di sana semakin kritis. Alih-alih bereaksi dengan saling membom dan menembak, baiklah mereka mencari solusi untuk menghindari berbagai kekacauan dan pelanggaran hukum. Sudah puluhan orang tewas setiap harinya.
Adalah kewajiban kita untuk mendoakan agar Allah memberi mereka akal sehat. Meskipun dalam situasi kacau balau, pihak-pihak yang keliru janganlah mengambil kesempatan, agar hukuman Ilahi tidak segera mendera mereka. Ini agar orang-orang yang tidak berdosa, terutama anak-anak dapat terselamatkan.
Semoga Allah segera memberi kedamaian kepada negara ini.

transltByMMA/LA010408; Edited byMP.BudiR/MarkazJAI
Please note: Department of Tarbiyyat, Majlis Ansarullah USA takes full responsibility of anything that is not communicated properly in this message.


Minggu, 06 Januari 2008

Press Release ALIANSI KEBANGSAAN UNTUK KEBEBASAN BERAGAMA DAN BERKEYAKINAN (AKKBB)

Press Release
MENJAGA KEBEBASAN BERAGAMA-BERKEYAKINAN:
MENYELAMATKAN MARTABAT BANGSA

Tahun 2007 berakhir dengan catatan kelam dan duka mendalam bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Kekerasan atas nama agama merebak tanpa penyelesaian berarti. Televisi menayangkan secara gegap gempita mesjid dan rumah komunitas Ahmadiyah dibakar sekelompok orang sementara polisi bersiaga tanpa berbuat banyak. Kelompok Al-Qiyadah digelandang ke kantor polisi: ditobatkan dan sebagian dikriminalisasi. Lia Eden menjalani 2 tahun penjara demi keyakinannya. Gereja disatroni dan dipaksa menghentikan aktivitasnya, meninggalkan umatnya kehilangan tempat ibadah. Sementara itu, Majelis Ulama Indonesia terus mendaftar kelompok-kelompok minoritas dan mengidentifikasi mereka sebagai aliran sesat. Kata sesat diproduksi dan dijadikan dasar pembenar untuk menghilangkan keberagaman.


ALIANSI KEBANGSAAN UNTUK KEBEBASAN BERAGAMA DAN BERKEYAKINAN

(AKKBB)

Jl. Cempaka Putih Barat XXI No. 34. Jakarta 10520, Telp 021-42802349, 42802350, Faks 021-4227243

akkbb1@yahoo.com, http://akkbb.wordpress.com/

Press Release
MENJAGA KEBEBASAN BERAGAMA-BERKEYAKINAN:

MENYELAMATKAN MARTABAT BANGSA

Tahun 2007 berakhir dengan catatan kelam dan duka mendalam bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Kekerasan atas nama agama merebak tanpa penyelesaian berarti. Televisi menayangkan secara gegap gempita mesjid dan rumah komunitas Ahmadiyah dibakar sekelompok orang sementara polisi bersiaga tanpa berbuat banyak. Kelompok Al-Qiyadah digelandang ke kantor polisi: ditobatkan dan sebagian dikriminalisasi. Lia Eden menjalani 2 tahun penjara demi keyakinannya. Gereja disatroni dan dipaksa menghentikan aktivitasnya, meninggalkan umatnya kehilangan tempat ibadah. Sementara itu, Majelis Ulama Indonesia terus mendaftar kelompok-kelompok minoritas dan mengidentifikasi mereka sebagai aliran sesat. Kata sesat diproduksi dan dijadikan dasar pembenar untuk menghilangkan keberagaman.

Menafikan keberagaman dalam konteks Indonesia adalah suatu pengkhianatan terhadap cita-cita dan dasar negara. Pancasila dan UUD 1945 dibentuk dengan kesadaran Indonesia sebagai wadah kesatuan bagi segala perbedaan dari Sabang hingga Merauke. Indonesia dibangun dengan kesepakatan tiadanya dominasi satu agama terhadap agama lain karena dominasi tersebut akan menghancurkan kesatuan itu sendiri. Tidak ada pula suprastruktur yang dapat mengendalikan struktur resmi kenegaraan, aturan lazim dalam negara yang percaya hukum dan demokrasi sebagai pagarnya.

Fakta belakangan ini tidak saja memprihatinkan karena menunjukkan kekerasan menjadi jalan keluar bagi masyarakat serta toleransi semakin menipis. Lebih dari itu, kesan tidak berdaya dan membiarkan dari aparat penegak hukum sungguh mengkhawatirkan. Seakan Polisi dan Jaksa tidak bertindak berdasarkan konstitusi dan hukum melainkan desakan sekelompok orang serta n egara membuat keputusan dengan mendengar fatwa sebuah organisasi masyarakat. Bila hal ini dibiarkan maka Indonesia akan dikendalikan oleh kekerasan, hukum akan kehilangan wibawa dan kekuatannya, dan peradaban serta demokrasi akan tinggal kenangan.

Berdasarkan hal-hal di atas kami dari Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) mendukung:

1. Presiden RI :

- Untuk menjaga keutuhan dan martabat bangsa dengan berpegang teguh pada amanat UUD 1945 dan Pancasila serta tidak tunduk kepada intervensi kelompok-kelompok agama tertentu yang menyatakan kelompok lain sesat dan melegitimasi tindak kekerasan atas nama agama.

- Untuk dapat memberikan jaminan kebebasan beragama dan berkeyakinan kepada setiap warga negara sesuai dengan mandat hukum HAM internasional yaitu melindungi (to protect ), menghormati (to respect), dan memenuhi (to fullfil) hak-hak dasar warga.

2. Kejaksaan Agung :

- Untuk berpegang teguh pada prinsip penegakan hukum dan tidak mengkriminalkan, membekukan, dan melarang suatu aliran agama/kepercayaan tertentu berdasarkan Fatwa MUI.

- Untuk tidak melanggar hak-hak konstitusioanal warga negara (hak atas kebebasan beragama dan berkeyakinan) yang berakibat pada merosotnya harkat dan martabat bangsa dalam pergaulan masyarakat internasional.

3. Kepolisian:

- Untuk memberikan perlindungan kepada warga negara dengan melakukan pencegahan terjadinya tindak kekerasan, pelarangan menjalankan agama dan keyakinannya oleh kelompok kelompok agama tertentu/kelompok milisi.

- Untuk menindak tegas pelaku tindak kriminal atas nama agama sesuai dengan hukum yang berlaku.

4. Masyarakat :

- Menghargai perbedaan agama dan keyakinan sesuai dengan prinsip Bhinneka Tunggal Ika.

- Menghindari tindak kekerasan dan mengedepankan dialog jika menganggap ada perbedaan paham keagamaan dan keyakinan.

Jakarta , 7 Januari 2008




Related Post

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...